Monday, September 12, 2022

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah dan makna hidup.

A: Aku tidak ingin menjadi hakim bagimu Ignas, aku ingin menjadi sahabatmu.

I: Tuhan, aku ini sudah melalaikan Engkau dan aku sudah di ambang ketidakpercayaan dan kegelapan. Selesaikanlah ini dengan cepat dan jatuhkan aku ke dalam neraka.

A: Tidak Ignas, kamu sendiri tahu hatimu saat ini, kamu berharap diselamatkan. Kamu mau Aku menyelamatkan kamu dan menuntunmu kembali ke jalan yang benar. Namun saat ini kamu hanya menolak segala jalan dan ingin mengambil jalanmu sendiri.

I: Apa yang harus aku lakukan?

A: Kamu lelah, tapi kamu harus tetap berjalan sampai titik darah penghabisan. Pada dialog diri ini, kita akan berbicara tentang makna hidupmu dan arah hidupmu. Karena itu marilah kita mulai!

Makna Hidup

A: Bukankah makna hidup bagimu adalah Aku?

I: Kenyataannya berkata lain, ya Tuhan. Aku hanya tertarik dengan suatu gambar diri-Mu, dan bukan Engkau yang sesungguhnya. 

I: Pada akhirnya aku ingin sendirian, bahkan tidak bersama Allah, tapi aku ingin menetapkan jalanku sendirian. Aku tidak ingin melaksanakan kehendak Allah, melainkan kehendakku sendiri. Aku hanya ingin bahagia, tapi salib yang Allah berikan kepadaku begitu berat, aku tidak kuasa memanggulnya lagi. Aku ingin beristirahat sepanjang segala masa. Aku ingin mengeksplorasi dunia ini menurut diriku sendiri saja. Aku ingin berada di dalam ruang putih itu bersama Kristus saja.

Monolog

Aku tidak ingin berdialog lagi, aku hanya ingin menulis ini sendirian. 

Perasaan diri begitu berat dan tidak enak. Segala hal terasa bagaikan siksaan. Namun aku harus tetap menulis ini. Sebab makna hidupku adalah Allah, haruslah aku memusatkan diri kepada Allah. Haruslah aku tunduk pada kehendak Allah secara sempurna. Namun faktanya aku lalai dan hendak mengubah kehendakku menjadi kehendakku sendiri saja. Pertanyaannya apakah kehendak Allah bagiku? Aku tahu begitu saja bahwa Allah menghendaki aku untuk mempertahankan kuliah. Namun pada saat yang sama aku tahu bahwa Allah ingin aku untuk memahami dulu segala hal yang harus aku pahami untuk sungguh memahami kehendak-Nya.

A: Sesungguhnya, Aku tidak mewajibkan kamu untuk kuliah. Kamu boleh saja tidak kuliah dan mempercayakan dirimu kepada-Ku untuk terus berjuang di jalan yang seharusnya. Jadi jangan berkata bahwa kehendak-Ku adalah bagimu untuk kuliah. Kamu tidak harus kuliah, bahkan kuliah itu tidak lebih baik dari tidak kuliah kalau sudah di tingkat dirimu. Jadi kamu bukannya melalaikan kehendak-Ku, kamu hanya ingin mengambil jalan yang berbeda, dan itu tidak salah. Sekarang hendaklah kamu mengakhiri dialog ini dan beralih ke penyusunan program luar kuliah.

Sunday, September 11, 2022

Dialog Diri 2

 Dialog ini berfungsi sebagai pengadilan untuk mengadili diriku sendiri karena dosa pornografi dan masturbasi. Pihak yang hadir adalah hakim yaitu Allah sendiri dan aku sebagai terdakwa.

A: Kamu telah didakwa karena telah melanggar perintah-Ku dan berdosa melawan Aku dan terhadap dirimu sendiri. Apakah katamu?

I: Aku mengakui dosaku.

A: Mengapa kamu berdosa?

I: Sebab aku memilih secara sadar untuk tidak mendengarkan Engkau dan menolak Engkau dan untuk memberontak.

A: Mengapa kamu memilih itu?

I: Tidak ada alasan yang jelas.

A: Karena itu Aku akan menetapkan perintah yang harus kamu laksanakan. Kamu harus menetapkan suatu struktur diri untuk melawan dan menanggulangi dosa ini. Struktur ini adalah kesadaran diri yang senantiasa untuk selalu berlindung kepada-Ku dan memanggil dirimu yang lebih tinggi. Setiap kali dosa akan terjadi, maka kamu harus memanggil dirimu yang lebih tinggi dan juga segera berbicara kepada-Ku. Namun kamu sendiri harus membuat keputusan ini untuk senantiasa hidup menurut perintah-Ku. Hal yang harus kamu hindari secara mutlak adalah pornografi. Kamu harus berusaha sekeras mungkin untuk tidak menonton pornografi. Namun jika kamu hendak masturbasi, kamu harus berusaha datang kepada-Ku dan memohon pertolongan untuk melawan dosa itu. Di situ Aku akan memberikan Firman-Ku kepadamu dan kamu harus mengikuti Firman itu. Apakah kamu memahami semua ini?

I: Ya Allah.

A: Sekarang pergilah, dan janganlah kamu berbuat dosa lagi.

Dialog Diri 1

 Maka dimulailah kembali masa kekacauan dengan dialog diri. Sebab dalam sejarah diri, tercatat bahwa setiap kali ada dialog seperti ini, selalu diiringi dengan kekacauan dalam hidup dan keberantakan dalam hidup. Mengapa hal ini disebut sebagai dialog dan bukan monolog? Karena harapannya adalah ada dialog antara aku dan Allah, atau antara diriku dengan bagian diriku yang lain. 

Topik pertama dalam dialog diri ini adalah tentang perkuliahan, apakah kita hendak mengundurkan diri dari kuliah atau kita tetap melanjutkan ke kuliah? Silakan diri-diri yang hadir saling berdialog.

1: Aku adalah diri yang hendak mengundurkan diri dari kuliah.

2: Aku adalah diri yang hendak mempertahankan kuliah.

1: Dari awal kamu sudah merasa lemah pula, apa sebenarnya alasan bagimu untuk mempertahankan kuliah?

2: Ketakutan terhadap papa, orang lain, dan pikiran harus rendah hati. Omong-omong kita punya waktu sekitar 2 jam dan 15 menit untuk menyelesaikan masalah ini.

1: Kerendahan hati apakah harus seperti ini? Coba jelaskan apa makna kerendahan hati

2: Kerendahan hati artinya kita merendahkan diri kita di hadapan Allah.

1: Dan bukan manusia. Apakah kamu memiliki keyakinan bahwa ini adalah kehendak Allah?

2: Sesungguhnya tidak, tapi aku berpikir bahwa kalau kita mengundurkan diri dari kuliah kita hanya memenuhi keinginan kita sendiri dan kita tidak memenuhi kehendak Allah.

1: Apakah kamu tahu bahwa Allah menghendaki kita untuk mempertahankan kuliah?

2: Sesungguhnya tidak, aku hanya takut, tapi lihatlah bukankah kamu ingin mengundurkan diri karena ketakutan akan kesengsaraan yang akan terjadi? Kamu merasa tidak dapat mempertahankan diri dan artinya kamu kurang percaya kepada Allah.

1: Namun apapun dapat ditafsir sebagaimanapun. Setidaknya aku memiliki struktur dan rencana untuk hidup di luar kuliah.

2: Aku pun memiliki rencana untuk mempertahankan kuliah. Rencanaku sesuai perkataan Percy, menemukan makna di dalam kuliah dan mempertahankan makna itu sebagai peganganku dalam kuliah. Rencanaku juga didukung oleh kondisi realistis di mana aku dapat mempertahankan hidupku.

1: Berarti kamu juga tidak percaya dengan Allah bahwa Allah dapat mempertahankan hidupmu di luar kuliah.

2: Benar, karena segala hal dapat ditafsir sebagaimanapun. Pada akhirnya kita berdua sama-sama didasarkan ketakutan akan konsekuensi. Tidak ada yang berbeda.

1: Aku meyakini ada perbedaan yang membuat pilihanku lebih baik dari pilihanmu. Yaitu di luar kuliah aku dapat fokus pada apa yang sungguh aku inginkan dan bukan tunduk pada orang lain.

2: Ya, tapi salah satu wujud kerendahan hati adalah tunduk pada orang lain. Selain itu kalau kamu ingin melayani orang lain, kamu harus berkolaborasi dengan orang lain, bukan mengurung diri di dalam dunia kecilmu sendiri.

1: Hal itu dapat dilakukan tanpa kuliah. Kenyataannya kuliah hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Kuliah menghabiskan uang juga sementara kita dapat saja mencari pekerjaan tanpa harus kuliah. Kita dapat mendalami kembali programming tanpa harus kuliah.

2: Namun dengan kuliah kita mempercayakan diri kita kepada Allah dan juga belajar untuk menghadapi orang lain dan sistem yang sudah berlaku.

1: Itu alasan bodong, di luar kuliah pun kita dapat melakukannya. 

2: Baiklah sejujurnya aku sudah kalah, aku tidak tahu apa alasan yang baik untuk mempertahankan kuliah.

A: Setiap pilihan itu memiliki kebaikan dan konsekuensi tersendirinya. Kamu harus membuat pilihan dengan cepat, karena apapun yang terjadi semua harus terjadi dengan cepat. Namun apapun yang terjadi, apapun yang kamu pilih, aku pasti menyertai kamu sampai akhir zaman. Jadi janganlah kamu takut bahwa aku akan meninggalkanmu kalau kamu membuat pilihan yang kurang baik. Hal yang pasti adalah jika kamu memang memutuskan untuk meninggalkan kuliah kamu membutuhkan rencana yang baik untuk mengisi kehidupanmu. Gagasanmu untuk belajar programming cukup baik, dan tentunya kamu punya hal-hal lain untuk mengerjakan tugasmu yang lain. Kamu juga tetap butuh sumber penghasilan. Namun fakta bahwa kamu adalah pribadi yang berketrampilan menunjukkan bahwa kamu dapat menemukan penghasilan tanpa banyak masalah. Namun kamu harus tetap mengkonsultasikan semua ini kepada dokter dan papamu. Keputusan mereka berdua adalah apa yang harus kamu ikuti. Sekarang dengarkan apa yang harus kamu kerjakan. Kamu harus tetap mengerjakan tugas yang sekarang ada, yaitu tugas pengantar ilmu komunikasi dan tugas bahasa Indonesia. Kerjakan pada pukul 12. Jadi kamu punya waktu bebas selama 2 jam. Lalu besok sore setelah kamu mengikuti state radar, kerjakan tugas pengantar jurnalistik dan juga tugas komunikasi antar pribadi. Setelah itu pada hari selasa konsultasikanlah segalanya kepada Bu Dokter. Lalu sampai papa pulang dari perjalanan bisnisnya, kerjakan dulu semua tugas sebaik mungkin. 

Esh 1 Ruang Putih

 Aku bangun di suatu ruangan putih yang berbentuk kotak sempurna, semua tembok dan lantainya hanya putih murni, dan permukaan ruangan ini terasa begitu mulus dan halus. Di depan aku melihat suatu jalan keluar ke arah suatu balkon yang juga merupakan suatu kotak putih. Di sana berdirilah seorang pria yang menghadap ke arah kegelapan, sehingga aku hanya dapat melihat belakangnya saja. Dia memakai semacam baju satu potong yang putih dan rambutnya coklat gelap mencapai leher dan punggung atasnya, sedikit keriting. 

Aku tidak mengenalnya, dan aku pun menyadari bahwa aku tidak mengingat apapun juga. Awalnya aku takut, tapi entah kenapa aku memberanikan diri untuk menghampiri pria itu sampai aku sedikit saja di belakangnya. Lalu dia berkata,

"Esh."

"Apakah kamu memanggilku?"

"Ya, aku memanggilmu, Esh."

"Apakah itu namaku, Esh?"

"Ya, itu adalah namamu, Esh."

"Bagaimana aku dapat tahu bahwa itu adalah namaku? Aku sendiri tidak tahu siapa atau apa aku ini."

Pada saat yang sama aku mengingat atau mengetahui suatu hal, bahwa nama orang yang berdiri di hadapanku memiliki suatu nama, Yeshua. Sepertinya aku mengingat, karena sosok pria ini begitu mirip dan rasanya aku pernah berjumpa dengannya. Maka aku berkata kepadanya,

"Apakah namamu Yeshua?"

Lalu dia berputar menghadap diriku dan menjawab,

"Benar Esh, namaku adalah Yeshua, tapi kamu boleh juga memanggilku Yeshu. Lalu Esh bukanlah nama aslimu melainkan nama yang kamu idamkan."

"Lalu apakah nama asliku?"

"Kelak kamu akan mengetahui semuanya, baik itu namamu ataupun kenapa kamu di sini."

"Mengapa tidak sekarang Yeshu?"

"Sebab bukan waktunya."

Di saat itu aku merasa sedikit kesal, tapi baiklah aku menerima keanehan ini dulu. Lagipula tidak ada yang dapat aku lakukan. Suatu pikiran untuk menyerang Yeshu terlintas, tapi sesungguhnya aku tidak begitu ingin melakukannya, rasanya ada yang menahan. Kemudian Yeshu berbicara kembali,

"Mari kita berbincang-bincang sejenak, Esh."

"Apa yang hendak kita perbincangkan?"

"Menurutmu, apakah kamu ini? Kamu tahu siapa kamu, tapi apakah kamu ini?"

"Aku tidak- Bukan, aku adalah, manusia?"

"Ya benar, kamu adalah manusia, aku pun adalah manusia."

Aku terdiam sejenak, karena pada awalnya aku tidak mengetahui apakah aku ini, tapi tiba-tiba suatu pengetahuan muncul bahwa aku adalah manusia dan Yeshu juga adalah manusia. Aku pun mulai bingung, tapi aku berpikir Yeshu tidak mengetahui isi pikiranku jadi aku melanjutkan percakapannya.

"Baiklah kita ini manusia, lalu apalagi?"

"Menurutmu, apakah pengalaman ini nyata?"

"Hah? Apa maksudmu Yeshu? Tentu saja ini nyata."

"Apakah makna nyata?"

Aku berpikir sejenak, dan menemui kekosongan pikiran aku berkata,

"Aku tidak tahu."

"Benar, kamu memang tidak tahu, tapi aku tahu. Ini tidak begitu nyata, Esh."

"Apa maksudnya ini tidak nyata?"

"Pengalaman ini adalah pengalaman analogis, atau dalam kata lain, pengalaman simbolik. Ini semua adalah simbol dari suatu kenyataan yang lebih tinggi."

Aku merenung sebentar.

"Jadi kamu tidak benar-benar memiliki tubuh dan aku juga tidak benar-benar memiliki tubuh. Ruangan ini dan balkon ini bukan benar-benar ruangan dan balkon, begitu juga kegelapan ini bukan benar-benar kegelapan. Lalu apakah semua ini?"

"Aku akan menjawab sedikit saja. Ini adalah pengalaman yang diciptakan supaya kamu lebih memahami apa yang terjadi, karena ini menyesuaikan dengan latar belakangmu."

*Latar belakang? Apa lagi yang dia bicarakan?*

"Baiklah, berarti ruangan ini pun tidak fisik? Tubuh kita ini juga tidak fisik, tapi semuanya rohani?"

"Benar, karena sebenarnya ruangan ini dan kita pun tidak mengambil ruang apapun, tidak terletak dalam ruang apapun."

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"

"Seperti yang aku telah katakan, semua ini adalah simbol saja dari kenyataan yang sebenarnya, yang sifatnya tidak fisik dan tidak mengambil ruang."

"Kalau begitu apakah ada waktu di sini?"

"Tidak, Esh. Sebab waktu adalah produk dunia yang fisik. Jika tidak ada yang fisik, maka tidak ada waktu. Namun kita, atau kamu, memang mengalami urutan kejadian."

Lalu aku melihat sekelilingku, termasuk Yeshua.

"Namun bukankah sekalipun semua ini hanya simbol, mereka tetap nyata sampai batas tertentu?"

"Perkataanmu itu benar, tapi untuk menjelaskannya, coba aku tanyakan kepadamu. Berapakah panjang kubus putih yang ada di bawah kita?"

"Cukup mudah, panjangnya sekitar 1-"

*Sebentar, 1 meter? Tapi bagaimana kita tahu bahwa semua ini seperti dunia yang lama? Mengapa aku mengukur ini berdasarkan dunia yang bahkan aku tidak ketahui?*

"Aku tidak tahu."

"Benar, kamu hanya dapat memperkirakan hubungan atau proporsi antara ketinggian kita dengan panjang kubus ini. Semua perhitungan itu relatif, Esh, semua didasarkan pada relasi-relasi antara satu dengan yang lain."

"Ok, kalau begitu bagaimana dengan materi yang membentuk ruangan dan kubus ini?"

"Sentuhlah, menurutmu apa materinya?"

Aku menyentuhnya kembali dan merasakan kemulusan, tapi seketika aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengenali perasaan ini.

"Aku tidak tahu apa ini."

"Benar, karena ini bukan materi yang kamu kenal di masa lalu. Ini adalah materi murni yang belum ditentukan. Warnanya memang putih, dan mungkin wujudnya seperti plastik atau besi atau marmer atau hal lainnya yang kamu kenal, tapi bukan sama sekali."

*Plastik? Besi? Marmer? Apakah hal-hal ini? Aku mengetahui dan memahami apa yang dikatakan Yeshua, tapi aku tidak memahami mengapa aku dapat memahaminya.*

"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"

"Kamu akan belajar, dan aku akan mengajarmu."

Lalu dia beranjak masuk ke ruangan dan duduk di lantai. Sementara aku masih berupaya memahami semuanya ini.

Tuesday, September 6, 2022

Tahun 19

 Tulisan ini adalah rekoleksi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi selama tahun ke-19 hidupku, waktu terjadinya banyak hal yang sangat penting bagi hidupku. Catatan sejarah untuk masa September 2021 sampai Maret 2022 tidak ada, dan catatan sejarah dari April 2022 sampai September 2022 juga tidak akan aku gunakan. Namun aku hanya akan mengandalkan ingatan kasarku semata. Adapula ini adalah hadiah, atau salah satu hadiah dari diriku sendiri kepadaku.

Pada masa September 2021 sampai Desember 2021 aku tersesat dan belum menemukan orientasi diriku yang tepat. Aku mendalami pemrograman dan berusaha mengikuti magang di tempat Om Pratolo. Namun hal ini tidak berhasil sampai akhirnya berhenti total sekitar Maret atau April 2022. Pada Desember 2021, aku menjumpai pranic healing yang mulai mendekatkan diriku kembali kepada Allah. Namun, apakah pranic healing yang sungguh membuka tirai antara aku dan Allah dapat diperdebatkan.

Berdasarkan pemahaman rohani, sakramen tobat yang terjadi pada Januari 2022 memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan pranic, dan hal ini mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam tentang iman Katolik dan mulainya perkembangan iman di dalam Gereja. Setelah itu sekitar Februari sampai Maret 2022, aku mulai bergabung dengan banyak organisasi dan kegiatan di Gereja, yaitu EJR, Legio Maria, dan PDA. 3 program ini terus berlanjut sampai saat ini.

Pada kurun waktu yang kurang lebih sama, Allah mewahyukan kepada diriku tugas universal seorang Kristiani yaitu mewartakan Injil dan bekerja demi kelangsungan hidup Gereja. Namun Allah juga mewahyukan kepadaku secara khusus bahwa tugas universalku lebih berat atau memiliki karakter khusus dibandingkan dengan tugas umat yang lain. Sebab aku memiliki kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. Pada masa ini Allah sering memanggilku rasul-Nya atau nabi-Nya.

Suara batin Ilahi terus berlanjut, dan aku sempat mengikuti Latihan Rohani Pemula yang menjadi dinamika tersendiri. Suatu ketika pada bulan Agustus aku menjumpai server-server baru di discord dan tugas pelayananku dimulai, aku memegang beberapa orang untuk aku bantu dan aku tuntun kepada Allah pelan-pelan. Peristiwa-peristiwa di discord cukup mempengaruhi hidupku ke arah yang lebih baik. Lalu datanglah kuliah yang mempersibuk hidupku sehingga aku sulit untuk merefleksikan hidupku secara mendalam, tapi semuanya tetap aku nikmati dengan baik. Beginilah hal-hal yang terjadi pada tahun 19.

Self Concept, Self Awareness, and Self Esteem

 This post records my self concept, self awareness, and self esteem. The self concept speaks of my strengths and weaknesses, abilities and limitations, aspirations and worldviews. The self awareness speaks about my general view on how aware I am on who I am. The self esteem speaks of my personal assessment of my self esteem.

Self Concept

My most fundamental strength or positive trait is charity or love. I am known as a helper by many people and I know myself to be a loving person observed from how I help a lot of people deeply and how I care for others unconditionally. It is not perfect charity as God has it, but it is adequate on a fundamental level. Next is my intellect, I have a strong intellect which manifests in my capacity to understand things and to explain them well. I often rely on my intellect but I consider myself balanced with my feelings and intuition. I am sensitive and aware on my state of soul or mind or heart and can describe them and express them in a rational manner. I am also accepting of the various conditions of life and am willing to accept failure or fault, this is probably an extension to charity.

My weakness is my pride, where I have in the back of my mind thoughts of self superiority, but I do control this pride from time to time. I am too spread out, I have problems trying to focus my energy on one place. I have some lack of faith in God, or at least a flawed faith which leads to all the problems. It means that my strength, charity, is also my weakness. I don't have a strong enough charity to actually make my life perfect. The lack of charity leads to some laziness on my part and inordinate desires which is the source of all other problems in my life. My other weakness is my incapacity to recognize the truly fundamental flaws of my person.

My aspirations are simple, to fulfill the will of God in my life perfectly in a perfect manner without fail. Part of that will is to convert the entire world into Catholicism, or at least evangelize to the entire world as best as I can. My worldview is simple, it is the Catholic worldview. The summary of the Faith can be found in the Nicene Creed or the Apostles' Creed. Essentially I believe that all things must be submitted and centered to God, particularly Christ. For Christ is the absolute mediator between Man and God. He is the God-Man. The lack of God is the source of all man's problems, and the solution to all man's problems is God.

Self Awareness

I consider myself to have a particularly high self awareness. However I cannot substantiate this claim other than through my self concept. I am aware that each person, not just me, have a massive unknown self. For the self is deeper than the oceans and richer than Bill Gates. Only God knows the fullness of any person, nobody knows themself as well as God does. 

Self Esteem

In terms of self esteem I may have too much self esteem, or simply high self esteem. Cognitively I consider myself to be my ideal self, I think I am the ideal self, not in the sense that I am perfect but I have the necessary tools and personality to have the ideal development of the self. Thus affectively I feel pretty good about myself, I like myself, a lot. This might be the source of pride. In terms of behavior, I judge myself to be confident enough to assert myself in conversations which I value. In other conversations, I simply stay quiet as I think there is not enough value in them for me to speak. That is all.

Sunday, September 4, 2022

OKY 14

 Dalam berpikir, atau dalam melakukan apapun, dibutuhkan suatu peraturan atau rangkaian peraturan yang jelas. Sesuai namanya, peraturan adalah hal yang mengatur suatu hal yang lain, atau tepatnya aturan dari suatu hal. Jika negara memiliki hukum untuk mengatur warganya, maka kenyataan juga memiliki peraturan untuk pikiran kita sehingga kita dapat berpikir secara teratur, prosedural, terstruktur, dan sistematis. Itu adalah konsep dasar dari logika, sehingga dengan logika kita dapat mencapai kebenaran dalam pikiran kita dan menerapkan kebenaran tersebut.

Bagaimana kita menetapkan suatu peraturan atau hukum logika? Penetapan hukum logika dapat ditetapkan dari 2 cara, yaitu cara preseden atau cara a priori. Cara memahaminya dapat menggunakan konsep hukum negara karena konsep dasarnya sama. Ada 2 sistem hukum utama yaitu hukum sipil dan hukum umum. Hukum sipil menggunakan cara a priori, di mana hukum dikembangkan secara independen dari kasus-kasus hukum, maka hukum ditetapkan oleh legislatur dan itu menjadi standar penilaian pelanggaran hukum. Di lain pihak hukum umum atau *common law* adalah sistem di mana hukum ditetapkan setiap kasus, dan satu kasus hukum menjadi pedoman untuk kasus-kasus yang mirip dengannya.

Maka dalam logika pun ada suatu sistem yang sama. Di mana hukum sipil mirip dengan logika a priori dan hukum umum mirip dengan logika preseden. Dalam hukum negara memang ada implikasi lanjutannya tentang pencegahan dan penyerangan dan lain sebagainya, tapi dalam logika tidak ada implikasi semacam itu. Dalam logika, ada suatu alasan praktis mengapa satu pendekatan digunakan dibandingkan dengan pendekatan yang lain. Aku sendiri menggunakan konsep logika preseden untuk perjalanan filsafat ini.

Alasan utama aku menggunakan logika preseden adalah aku tidak tahu apa-apa tentang dunia filsafat. Sementara dalam menetapkan hukum logika sebenarnya didasari oleh prinsip-prinsip metafisik, jadi metafisika harus didahulukan sebelum logika. Pada saat yang sama, logika dan metafisika harus berjalan bersama. Karena itu metafisika dikerjakan dahulu, baru dilakukan perumusan logika preseden berdasarkan metafisika yang ada, dan itu menjadi pedoman dan pagar logis untuk penulisan filsafat berikutnya.

Bagaimana logika preseden dilakukan? Langkahnya sederhana yaitu dengan mengamati bahasa yang digunakan dalam tulisan filsafat dan mengekstraksi peraturan pikiran yang hadir di dalam bahasa filsafat tersebut. Adapula yang dicatat bukan hanya peraturan pikiran secara logis tapi juga secara metafisik, artinya kebenaran-kebenaran metafisik yang ikut membantu memandu pikiran filsafat dan tulisan filsafat sehingga tetap berada pada jalan yang benar. Namun dalam perjalanan filsafat ini tentunya bukan hanya logika preseden yang dilakukan, misalnya dalam tulisan ini logika a priori pun sudah terjadi. Karena aku menulis tentang logika preseden tanpa rujukan kepada tulisan filsafat yang sebelumnya. Hanya saja logika preseden lebih banyak diutamakan daripada logika a priori. Kurang lebih begitulah tulisan yang dapat aku sampaikan pada saat ini.

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...