Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah dan makna hidup.
A: Aku tidak ingin menjadi hakim bagimu Ignas, aku ingin menjadi sahabatmu.
I: Tuhan, aku ini sudah melalaikan Engkau dan aku sudah di ambang ketidakpercayaan dan kegelapan. Selesaikanlah ini dengan cepat dan jatuhkan aku ke dalam neraka.
A: Tidak Ignas, kamu sendiri tahu hatimu saat ini, kamu berharap diselamatkan. Kamu mau Aku menyelamatkan kamu dan menuntunmu kembali ke jalan yang benar. Namun saat ini kamu hanya menolak segala jalan dan ingin mengambil jalanmu sendiri.
I: Apa yang harus aku lakukan?
A: Kamu lelah, tapi kamu harus tetap berjalan sampai titik darah penghabisan. Pada dialog diri ini, kita akan berbicara tentang makna hidupmu dan arah hidupmu. Karena itu marilah kita mulai!
Makna Hidup
A: Bukankah makna hidup bagimu adalah Aku?
I: Kenyataannya berkata lain, ya Tuhan. Aku hanya tertarik dengan suatu gambar diri-Mu, dan bukan Engkau yang sesungguhnya.
I: Pada akhirnya aku ingin sendirian, bahkan tidak bersama Allah, tapi aku ingin menetapkan jalanku sendirian. Aku tidak ingin melaksanakan kehendak Allah, melainkan kehendakku sendiri. Aku hanya ingin bahagia, tapi salib yang Allah berikan kepadaku begitu berat, aku tidak kuasa memanggulnya lagi. Aku ingin beristirahat sepanjang segala masa. Aku ingin mengeksplorasi dunia ini menurut diriku sendiri saja. Aku ingin berada di dalam ruang putih itu bersama Kristus saja.
Monolog
Aku tidak ingin berdialog lagi, aku hanya ingin menulis ini sendirian.
Perasaan diri begitu berat dan tidak enak. Segala hal terasa bagaikan siksaan. Namun aku harus tetap menulis ini. Sebab makna hidupku adalah Allah, haruslah aku memusatkan diri kepada Allah. Haruslah aku tunduk pada kehendak Allah secara sempurna. Namun faktanya aku lalai dan hendak mengubah kehendakku menjadi kehendakku sendiri saja. Pertanyaannya apakah kehendak Allah bagiku? Aku tahu begitu saja bahwa Allah menghendaki aku untuk mempertahankan kuliah. Namun pada saat yang sama aku tahu bahwa Allah ingin aku untuk memahami dulu segala hal yang harus aku pahami untuk sungguh memahami kehendak-Nya.
A: Sesungguhnya, Aku tidak mewajibkan kamu untuk kuliah. Kamu boleh saja tidak kuliah dan mempercayakan dirimu kepada-Ku untuk terus berjuang di jalan yang seharusnya. Jadi jangan berkata bahwa kehendak-Ku adalah bagimu untuk kuliah. Kamu tidak harus kuliah, bahkan kuliah itu tidak lebih baik dari tidak kuliah kalau sudah di tingkat dirimu. Jadi kamu bukannya melalaikan kehendak-Ku, kamu hanya ingin mengambil jalan yang berbeda, dan itu tidak salah. Sekarang hendaklah kamu mengakhiri dialog ini dan beralih ke penyusunan program luar kuliah.
No comments:
Post a Comment