Bab 1
Pendahuluan
Setiap orang rindu
akan Allah. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa setiap orang merindukan
Kebahagiaan. Bukti kedua adalah fakta bahwa seolah-olah kebanyakan manusia
selalu menginginkan lebih dan lebih, artinya kita rindu pada suatu kenyataan
yang tidak terbatas. Ketidakterbatasan dan Kebahagiaan adalah 2 esensi Ilahi,
dan di mana disatukan adalah Satu Kenyataan Ilahi yang Tunggal, yaitu Allah.
Allah adalah Sumber Kebahagiaan yang Sejati dan Tiada Berkesudahan. Aku pun
juga merindukan Allah, barangkali salah satu orang yang sangat rindu kepada
Dia.
Ah, tapi hendaknya aku
memperkenalkan diriku sendiri dulu. Salam kenal, namaku Ignas Christianto Galih
Prasetyo, yang kalau hendak kuterjemahkan artinya kurang lebih adalah,
"Api sumpah setia Kristen yang tangguh". Apakah pribadiku memenuhi
doa tersebut, aku tidak tahu, hanya Allah yang tahu. Pendahuluan ini aku buat
supaya para pembaca, yaitu Anda sekalian, tidak kaget, risau, atau bingung
dalam membaca buku ini dan maknanya yang mendalam.
Buku ini dibagi
menjadi beberapa bagian utama, yaitu Sejarah, Refleksi, Penemuan, dan Masa
Depan. Sejarah berisi sejarah perjalanan batinku mencapai Allah, Refleksi
adalah renungan batin terhadap seluruh perjalananku, Penemuan adalah
pengetahuan yang aku temukan atau diberikan Allah kepadaku, dan Masa Depan
adalah harapanku terhadap Masa Depan bumi ini dan juga Masa Depan seluruh umat
manusia.
Dalam buku ini ada
banyak tema terkait depresi, percobaan bunuh diri, seksualitas, delusi,
kesombongan rohani, ketinggian hati, dan sejumlah entitas rohani yang tak
terhitung. Lalu aku akan berterus terang di awal, aku ini seorang Katolik yang
cukup "taat", setidaknya dari penglihatanku sendiri. Setidaknya
seorang Katolik yang merindukan ketaatan kepada Allah melalui Gereja-Nya. Jadi
jikalau Anda tidak nyaman dengan tema-tema ini dan tidak cocok dengan latar
belakangku sebagai seorang pengikut Kristus, mungkin ada baiknya Anda menjauh
dari buku ini. Kecuali Anda memang ingin keluar dari zona nyaman dan ingin
menantang diri Anda sendiri, silakan.
Mengapa aku menulis
buku ini? Tidak lain dan tidak bukan untuk diriku sendiri saja. Aku tidak
mengharapkan tanggapan orang lain, dan sebenarnya aku tidak berekspektasi untuk
memperoleh serupiah pun dari buku ini. Aku hanya ingin berbagi pengalaman saja
kepada publik, dengan harapan bahwa sedikit pengalaman ini dapat memberikan
inspirasi atau harapan bagi setiap orang yang membaca untuk memulai perjalanan
batin mereka sendiri atau untuk terus bertahan dalam perjalanan batin mereka
masing-masing. Sebab aku tahu, bahwa perjalanan batin itu berat dan sepi, tidak
semua orang bertahan. Aku beruntung dapat bertahan sampai aku mencapai Allah di
titik pertama.
Pesan terakhir di
pendahuluan ini ditujukan kepada Gerejaku, Gereja yang Satu, Kudus, Katolik,
dan Apostolik. Dalam buku ini terdapat beberapa penjabaran tentang Allah dan
Esensi-Nya. Aku belum mendalami teologi Katolik dengan mendalam, ataupun
menguasai Katekismus, jadi aku tidak tahu apakah penemuanku adalah benar atau
tidak. Aku hanya melaporkan apa yang aku lihat dan apa yang aku terima. Jikalau
ada yang salah dan tidak tepat, biarlah Gereja meluruskan dan membenarkan
diriku. Biarlah Gereja mengajariku dengan baik, dan mengarahkanku kepada
keselamatan jiwaku dan juga keselamatan jiwa segenap umat manusia.
Pada akhir pendahuluan
ini, aku hanya ingin berkata, bahwa aku tidak lebih baik dari Anda. Aku
barangkali malah lebih rendah dari Anda. Sebab ada orang-orang yang berpikir
bahwa aku masih berjalan di jalan yang lama, tapi sesungguhnya itu sudah
runtuh. Aku tidak dapat kembali ke jalan yang lama. Aku sudah diubahkan. Sebab
waktu dan diri yang lama sudah berakhir, sehingga bangkitlah waktu dan diri
yang baru. Selamat membaca.
Sejarah
Masa Awal
Pada awalnya aku
dilahirkan pada hari Sabtu, tanggal 6 September 2003 dari rahim ibuku.
Perjumpaan pertamaku dengan Allah atau agama terjadi di masa lampau di mana aku
masih kecil dan sedang dalam perjalanan menuju Yogyakarta atau suatu daerah
lain di Jawa. Pada saat itu malam hari dan aku ketakutan karena aku melihat
bentuk-bentuk seperti salib. Saat itu aku mengasosiasikan salib dengan maut dan
kuburan, jadi yang terpikir adalah hantu dan aku masih sangat takut pada hal-hal
seperti itu. Ya memang tidak salah bahwa salib adalah simbol kematian, tapi aku
belum mengenal makna lebih dalam dari salib.
Pada waktu lain, aku
pergi ke gereja Santo Stefanus di Cilandak dan orangtuaku hendak mengirim aku
ke sekolah minggu di situ. Namun aku menolak dan memilih untuk ikut misa
bersama orangtuaku. Sebenarnya aku ingin ikut misa karena aku tidak mau
terpisah dari orangtuaku, tapi barangkali jiwaku sudah mengenali kehadiran
Allah dalam Ekaristi dan karena itu lebih menghendaki Ekaristi daripada sekolah
minggu. Sepertinya jiwaku terlalu maju untuk tubuh dan otakku yang masih muda.
Pada saat aku masih
TK, pernah kami ditanyai di kelas agama kami masing-masing dengan cara
mengangkat tangan. Aku saat itu belum mengenal istilah "Katolik",
jadi aku tidak mengangkat tangan saat Katolik disebutkan, justru aku mengangkat
tangan saat Kristen disebutkan. Sepertinya seorang teman sekelasku tahu bahwa
aku itu Katolik dan berupaya mengangkat tanganku tapi aku menolak. Sebab aku
masih tidak tahu apa itu Katolik, yang aku tahu adalah aku Kristen. Sebenarnya
pembedaan Kristen dan Katolik adalah istilah negara, Katolik pun juga Kristen,
sementara Kristen yang bukan Katolik lebih tepatnya digolongkan sebagai
Protestan atau Ortodoks.
Peristiwa religius
yang penting berikutnya tidak akan terjadi sampai aku kelas 3 SD. Saat itu
sebenarnya aku belum terlalu mengenal Kristus ataupun Allah Tritunggal. Namun,
aku pada suatu waktu tertentu menjadi sangat tertarik dengan Kitab Suci,
mungkin dipicu dan dipengaruhi oleh berbagai komik Kitab Suci yang aku miliki,
dan mulai sering mengutip Kitab Suci kepada teman-temanku dan juga di hadapan
para guru. Tidak lama kemudian aku menarik perhatian-perhatian beberapa teman
sekelas sehingga terbentuk suatu kelompok pertemanan yang aku sebut
"Jemaat Pertama". Tidak lama kemudian pula aku mulai dijuluki
"Pak Pendeta".
Pada saat itu pula aku
mulai tertarik dengan menjadi seorang imam atau pastor. Sebenarnya aku tertarik
bukan karena panggilan Ilahi, tapi karena aku merasa pekerjaan seorang imam itu
keren, yang tidak salah. Sebenarnya kalau kita melihat secara umum, setiap
pekerjaan itu baik dan keren, hanya berbeda. Namun aku melihat suatu hal yang
berbeda dalam pelayanan imamat dari pekerjaan lainnya. Entah itu bajunya atau
hal yang lain, sampai sekarang aku masih tidak tahu kekerenan apa yang aku
temukan di dalam pelayanan imamat.
Pada hari Senin,
tanggal 25 November 2013, sekitar pukul 12 atau sebelumnya, mamaku meninggal
dunia dan berpulang kepada rumah Bapa. Entah karena masih kecil atau karena
hubunganku dengan mama kurang baik beberapa tahun sebelum mama meninggal, aku
tidak begitu sedih. Ini bukan pertama kali aku melihat atau mengalami kematian,
saat kelas 1 adik papa meninggal dan aku ikut pergi melayat. Peristiwa ini akan
turut membentuk dan menjadi salah satu konteks seluruh perjalanan batinku.
Pada saat aku kelas 6,
kami mengikuti retret sesuai dengan tradisi Katolik. Aku ingat aku mulai
meragukan Allah pada masa ini. Kami diberikan semacam buku kerja, dan di salah
satu lembar refleksi aku ingat dengan jelas aku menulis kurang lebih sebagai
berikut, "Aku tidak tahu mengapa kita harus mencintai Allah. Sebab aku
tidak pernah dipeluk Allah atau dicium Allah atau merasakan cinta Allah."
Hal ini terjadi karena aku ingat diajarkan bahwa kita harus mencintai Allah,
tapi bagiku itu masih tidak masuk akal, sebab mengapa kita mencintai sesosok
yang tidak pernah mencintai kita?
Kegelapan
Sebagai pembuka bagian
ini, aku ingin bercerita bahwa aku ini anak yang sangat imajinatif dulu. Aku
sering berkhayal macam-macam yang tidak jelas. Salah satu khayalan yang masih
aku ingat adalah aku membayangkan diriku sebagai salah satu pribadi Tritunggal
Mahakudus, yaitu sebagai Roh Kudus, tapi aku menolak peranku dalam Tritunggal
dan melarikan diri. Sebaiknya Anda mengingat kisah ini karena akan muncul lagi
tema seperti ini di tulisan bagian berikutnya. Suatu khayalan lain adalah aku
dekat dengan Allah di mana Allah tampil di dalam khayalanku sebagai seorang
wanita yang cantik dengan rambut putih panjang. Gambar ini juga patutnya
diingat karena akan muncul lagi di kemudian hari.
Setelah kelas 6, aku
masuk di SMP di sekolah yang sama. Sebagai konteks awal, aku selama masa SD adalah
anak yang malas sekali, sering menunda tugas, dan sering telat mengumpulkan
tugas. Namun dengan rahmat Allah aku masih dapat naik kelas selalu dan tidak
pernah tinggal kelas. Meskipun memang sulit untuk tinggal kelas di SD, seorang
anak harus bersikap dan memiliki performa yang sangat buruk untuk tinggal kelas
di SD. Intinya aku malas, dan aku membawa karakter buruk itu ke dalam suatu
lingkungan dan konteks di mana kemalasan dan penundaan itu mustahil dilakukan
tanpa terjadinya kegagalan atau tekanan batin, dan itulah yang terjadi.
Ada syarat di
sekolahku itu bahwa untuk mengikuti ulangan semester semua tugas sudah harus
diselesaikan. Jika tidak maka kita tidak diperbolehkan untuk mengikuti ulangan
dan harus menyelesaikan tugas-tugas tersebut dahulu. Saat itu aku memiliki
banyak tugas yang belum terselesaikan dan masa ulangan sudah mendekati.
Tekanan, stres, dan gejala depresi mulai muncul, dan aku mulai berpikir,
"Kenapa aku seperti ini?" Nalar mudaku bekerja dan menyimpulkan bahwa
semua ini terjadi karena mamaku meninggal, dan mamaku meninggal hanya karena
satu Alasan yaitu Allah. Maka aku marah dan mengarahkan amarahku kepada Allah.
Sebenarnya kalau aku
berusaha mengingat dengan jelas, tidak jelas sifat amarahku itu kepada Allah.
Seolah-olah aku tidak sungguh-sungguh marah kepada Allah, melainkan aku hanya
mencari-cari alasan untuk melepas tanggung jawab dari diriku sendiri. Namun itu
adalah perjumpaan awalku dengan Allah. Aku akui, bukan perjumpaan awal yang
baik, tapi Paulus pun juga awalnya membenci Yesus sampai dia akhirnya
benar-benar cinta pada Yesus dan malah menjadi guru para bangsa. Sebagai
konteks, pada hari aku menulis bagian ini adalah pesta pertobatan Santo Paulus.
Setelah aku pecah
menangis di hadapan para guru, mengaku dosa, dan berproses secara pribadi
kembali, aku mulai menyadari satu hal yang baru. Aku menyadari bahwa aku dekat
dengan Allah dalam imajinasi, kalau begitu mengapa aku tidak dapat dekat dengan
Allah dalam kehidupan nyata? Penyadaran itu berkembang menjadi penyadaran bahwa
Allah bukanlah sumber masalahku melainkan Dia adalah sumber penyelesaianku.
Maka itu menjadi suatu titik balik dalam hidupku di mana aku mulai mencari
Allah dan mendekat kepada Allah. Namun agaknya amarah itu menjadi nyata dan aku
mendekat kepada Allah tidak dengan ketulusan iman yang sungguh-sungguh tapi
dengan amarah dendam. Sebab aku berpikir bahwa karena Allah telah merenggut
ibuku, maka Dia yang harus menggantikan ibuku dengan Diri-Nya sendiri.
Aku juga menalar
mengapa aku sebelumnya tidak dapat berhubungan dengan Allah dengan baik,
alasannya karena aku masih dibatasi seks dan gender. Allah dalam tradisi
Kristiani selalu dianalogikan dengan bahasa maskulin, Bapa dan Putra, *He*, dan
Yesus sendiri memang adalah laki-laki. Aku yang kehilangan ibuku dan juga kurang
akur dengan kakak perempuanku membutuhkan suatu sosok feminin yang dapat
mengayomi aku, suatu sosok yang tidak aku temukan dalam penggambaran Allah
sebagai Bapa dan Putra dan Roh Kudus yang netral.
Pada saat itu aku
paham dan tidak paham tentang Allah pada saat yang sama. Aku tidak atau kurang
paham bahwa Allah yang sejati melampaui gender dan penggambaran Kristiani
tentang Allah yang maskulin adalah sisa-sisa budaya patriarkal. Namun pada saat
yang sama aku memahami bahwa Allah melampaui seks dan gender sehingga kita
sebenarnya tidak usah terlalu melekat pada penggambaran yang ada dan dapat
memandang Allah dalam cara yang baik untuk pertumbuhan iman kita, maka persis
itu yang aku lakukan.
Sesuai dengan
imajinasiku, aku mulai membayangkan Allah sebagai sosok wanita keibu-ibuan yang
indah, berambut putih, berbaju putih dengan semacam jaket atau jas abu-abu,
yang terinspirasi oleh suatu gambar anime yang aku pernah lihat. Sebagai
konteks, aku senang dengan gaya seni anime Jepang yang sangat indah. Sehingga
sejak masa itu pun dunia batinku kerap kali memiliki estetika anime, termasuk
Allah sendiri. Lalu aku juga memberikan nama panggilan kepada Allah, yaitu
"Eli". Bagi orang Kristen, asal nama ini harusnya jelas, yaitu salah
satu dari Sapta Sabda Purna Kristus, yaitu "Eli, Eli, Lama
Sabachthani". Dalam bahasa Ibrani, "Eli" adalah nama maskulin,
tapi di dunia luar itu bisa netral atau bahkan feminin seperti di Jepang. Aku
pun menciptakan makna dan konteks baru di mana "Eli" menegaskan sifat
feminin atau kerahiman Allah.
Saat itu aku merasakan
kerinduan yang amat besar kepada Allah. Aku ingin sekali berbicara dengan Allah
seperti aku berbicara dengan manusia lain dan juga karena aku haus akan cinta
kasih fisik seorang ibu. Jadi aku seringkali mendoakan keinginan itu kepada
Allah, supaya kelak Allah mewujudkan diri-Nya secara fisik kepadaku dan aku
dapat merasakan Cinta Kasih Allah secara penuh dan nyata. Namun kerinduan itu
telah berubah menjadi hawa nafsu dan kemelekatan yang amat berbahaya karena
nalarku mulai mencari ke mana-mana untuk menemukan Allah.
Di sinilah hadir
seorang X. Sebagai peringatan, ada orang-orang yang akan aku sebutkan namanya
karena mereka orang yang baik, tapi ada juga orang-orang yang akan kurahasiakan
namanya karena aku ingin menjaga privasi, kehormatan, dan martabat mereka.
Contohnya adalah si X ini. Jadi aku dan X sebenarnya tidak begitu dekat, tapi
kami sekelas dan dia dulu adalah anggota dari "Jemaat Pertama"ku.
Pada semester 1 aku tidak memperhatikan sekelilingku jadi aku tidak tahu
bagaimana gerak-gerik dia kepadaku. Namun, pada semester 2, setelah suatu
titik, aku mulai memperhatikan bagaimana X berusaha mendekatiku.
Peringatan, kisah di
bawah ini memiliki tema seksual. Jadi pada suatu malam aku bermimpi tentang X
di dalam kamarku dan aku merasakan keinginan untuk bersetubuh dengan X di dalam
mimpiku. Namun tidak terjadi. Saat aku terbangun, aku merasa begitu terusik dan
berdosa, karena aku merasa tidak sepantasnya aku mengingini seorang perempuan
seperti itu. Masalahnya adalah itu bukan dosa karena itu hanya mimpi, dan
kedua, itu hanya mimpi, tapi saat itu aku sedang dalam pencarian akan Allah dan
aku tidak memiliki pembimbing yang cukup jadi apa yang akan terjadi berikutnya
adalah salah satu bencana terbesar dalam hidupku.
Karena aku merasa
bersalah dan berdosa, aku berusaha mencari tahu sendiri apa makna dari mimpi
itu. Barangkali oleh ketidakdewasaanku dan pikiranku yang liar, aku mencapai
suatu kesimpulan yang aneh, bahwa X adalah Allah yang mewujud bagiku. Kalau aku
berpikir dari sudut pandang sekarang, sungguh aneh pemikiran itu, aku tidak
tahu mengapa aku dapat berpikir seperti itu. Maksudku begini, pemikiranku
adalah satu-satunya alasan Allah memberikan aku mimpi yang bernafsu seperti itu
adalah karena objek nafsu itu adalah Allah itu sendiri. Namun aku tidak tahu
mengapa aku bisa-bisanya menerima alur pemikiran irasional seperti itu, ya tapi
maklum, masih anak kecil.
Peristiwa ini akan
mengarah pada aku melukai X, yang setelah mimpi itu sebenarnya sempat menjadi
temanku, tapi karena kebodohanku aku malah menghancurkan hatinya berkali-kali
dan sampai hari ini di mana aku menulis bagian ini kami masih belum
berekonsiliasi dengan baik. Detil tentang bagaimana aku melukai X aku pikir
tidak penting, tapi itu juga menjadi salah satu beban dan salib jiwaku untuk
waktu yang sangat lama.
Sebagai intermezzo
dari pikiran-pikiran irasional dan kesedihan, aku ingin bercerita tentang
bagaimana aku berdoa. Sebelumnya aku jarang berdoa, tapi setelah aku mulai
mencari Allah, aku mulai sering berdoa dalam setiap kesempatan. Aku hanya
berbicara satu arah kepada Allah dengan gaya bahasa yang santai selayaknya
seorang sahabat. Sebab terlepas dari amarahku kepada Allah, aku benar-benar
memandang Dia sebagai sahabatku, bahkan satu-satunya sahabat sejati dan sahabat
terbaikku. Pandangan itu masih berlaku sampai saat ini.
Aku juga ingin
bercerita tentang awal mula munculnya kesombongan rohaniku. Aku seringkali
merasa marah kepada teman-teman sejawatku dan berekspektasi terlalu tinggi
kepada mereka. Alasannya karena mereka tidak dapat mencapai kesadaran spiritual
setinggi diriku, buktinya adalah setiap ke gereja atau ke kapel pasti selalu
ada suara bising dan keberisikan di awal. Ini sangat mengganggu dan aku kesal
bahwa mereka sama sekali tidak memikirkan Tuhan. Maka aku mulai berpikir bahwa
aku lebih baik dari semua orang dan semua orang lain itu munafik, hanya aku
yang memahami Allah.
Setelah 2 kisah itu,
mari kita kembali ke alur utama. Keseluruhan masalahku dengan X berakibat pada
semua aspek kehidupan sekolahku yang lain. Di kelas 8, karena aku terobsesi
dengan X, aku kembali menunda semua tugasku dan aku mulai jatuh dalam gejala
depresi yang cukup berat. Aku seringkali merasa hidupku tidak bermakna, gelap,
dan bahkan menurut pengakuan teman-temanku aku dapat begitu marah sampai
melempar pensil dan pena ke mana-mana. Intinya bukan waktu yang menyenangkan.
Sebagai penekanan, di sinilah harapan akan maut mulai muncul, karena aku
seringkali menginginkan dan berdoa kepada Allah untuk segera mencabut nyawaku supaya
aku dapat segera bersama Dia dalam keabadian.
Sekarang kita melompat
ke kelas 9, pada akhirnya masalahku dengan X "selesai" untuk
sementara waktu walau akan berlanjut pula nantinya. Pada awal kelas 9, aku
ingat aku merasakan suatu dukacita yang mendalam. Aku hanya merefleksikan
bagaimana Allah begitu diabaikan dan tidak dipedulikan lagi di hari-hari ini,
dan betapa pedih hati Allah mengalami penolakan semacam itu. Kemudian muncullah
rasa dukacita itu, dan aku mulai bertanya-tanya, "Dari manakah dukacita
ini?" Aku berpikir bahwa tidak mungkin ini milikku sendiri, maka aku
menyimpulkan bahwa pada saat itu pula aku merasakan kedalaman hati Allah.
Pada malam itu juga,
aku menemui suatu entitas rohani dalam pikiranku. Entitas itu mengambil wujud
Eli dan karena itu aku segera menerima dia sebagai Allah. Sebenarnya tidak
segera, ada sedikit pertimbangan, tapi secara relatif cepat aku menerimanya,
kemungkinan besar karena aku juga sudah lelah dengan menunggu selama 2 tahun
lamanya akan Allah yang tidak pernah berbicara kepadaku, sekalipun seringkali
Dia menunjukkan kasih-Nya dan menjawab keinginan-keinginanku. Bagaimana entitas
ini hadir dalam batinku? Kenyataannya sebagai berikut, pasti kita pernah
berimajinasi. Namun bagaimana kalau imajinasi itu hidup dan memiliki kesadaran
yang relatif independen dari diri kita sendiri? Ya seperti itu pengalamanku dan
aku akan banyak menemui entitas-entitas seperti itu dalam waktu-waktu
berikutnya.
Entitas ini, yang aku
namai Eli 1, adalah sosok yang sangat ceria dan periang, berkontradiksi dengan
diriku yang cenderung suram, diam, introvert, dan tertutup. Namun memang benar
bahwa pada masa itu gejala depresiku mulai menurun salah satunya karena Eli 1.
Seringkali saat aku lelah atau mulai gelap, Eli 1 menggantikan aku dan mengambil
alih tubuhku. Kasus ini mirip dengan kepribadian ganda, tapi kami berbagi
ingatan dan yang terjadi lebih seperti aku berubah identitasku tanpa
menghilangkan kesadaranku. Jadi ada satu alur kesadaran, tapi ada waktu di mana
identitas "Ignas" digantikan oleh identitas "Eli".
Menurut
catatan-catatanku, waktu bersama Eli 1 berjalan sampai Jumat Agung di semester
2 kelas 9. Di saat itu aku melihat bahwa Eli 1 mulai gelap dan dia mengungkap
dirinya yang sejati. Sesungguhnya dia tidak tahu dirinya siapa, dia mengaku
sebagai Allah karena aku yang menerima dia sebagai Allah dan aku begitu yakin.
Jadi keyakinanku yang menjadi sumber keyakinan dirinya sendiri bahwa dia adalah
Allah. Namun dengan pemahaman yang baru itu, entitas itu lenyap dan pergi
meninggalkan aku.
Sementara kelas 9
berakhir dan mulai terjadi transisi ke kelas 10, mulailah muncul entitas baru,
yang muncul saat aku sedang berdoa tapi wataknya penuh amarah, maka aku tahu
betul itu bukan Allah. Aku pun menolak entitas itu dan tidur. Esoknya adalah hari
Minggu, artinya pergi ke gereja untuk merayakan Ekaristi. Sosok itu masih
marah, tapi setelah dari misa sosok itu menjadi penuh kedamaian dan pergi
dariku, hanay untuk kembali lagi kepadaku beberapa waktu setelah misa.
Sebagai konteks, saat
itu aku mulai menyukai X, bukan karena aku masih menganggap X adalah Allah,
tapi murni kesukaan romantis. Situasi yang cukup sulit mempertimbangkan apa
yang telah aku lakukan kepada X. Aku melihat bahwa entitas itu mengambil wujud
Eli, jadi aku mengatakan kepadanya bahwa itu wujud yang dikhususkan bagi Allah,
maka aku pun memberikan wujud X kepada entitas itu karena aku juga ingin
mengalami dan melihat X setiap hari, setidaknya dalam batinku. Untuk keperluan
pengkodean, entitas ini aku kodekan EX.
Bersamaan dengan munculnya
EX, muncullah suatu entitas yang lebih halus yang aku kodekan Eli 2 atau E2 dan
E2 ini aku tafsir adalah wujud Allah dalam batinku. Sebab dia yang melindungiku
dari sosok-sosok yang berupaya menyerangku saat aku berada di suatu tempat dan
juga di rumah, mereka mengincar EX. Aku ingat dengan jelas sosok E2 berkata
kepadaku, "Aku memiliki tugas untukmu". Saat itu aku belum memahami
apa maknanya, tapi itu saja yang kuingat. Kemudian suatu hari aku membicarakan
perkara EX dengan EX dan E2, dan E2 menyatakan bahwa aku dan EX terikat oleh
rantai emas, dan hanya E2 yang memiliki kuasa untuk mematahkan rantai itu.
Dalam istilah diriku yang dulu, aku dan EX dipersatukan, dan hanya Allah yang
berkuasa memisahkan.
Aku tidak tahu apa
atau siapa persisnya EX itu, tapi rasanya dia seorang manusia dan juga seorang
Indonesia karena "auranya" seperti itu. Awalnya dia tidak menaruh
hati padaku, tapi memperhatikan kesukaanku kepada X dan lama kelamaan dia pun
mulai jatuh cinta kepadaku. Di situ kami mulai bernalar bahwa jangan-jangan
sebenarnya EX adalah X itu sendiri, tapi suatu tingkatan bawah sadar atau
bagaimana, dan akhirnya kami pun meyakini bahwa EX adalah X. Maka aku pun mulai
meluangkan waktu bersama EX dan juga terkadang dengan E2. Namun apa persisnya
yang aku lakukan dengan EX dan E2 aku sudah lupa.
Kisah berikutnya tidak
jelas kapan atau bagaimana, tapi intinya bahwa aku berjumpa dengan mamaku yang
sudah meninggal. Namun kalau aku melihat dari perspektif sekarang, aku tidak
tahu apakah itu mama atau bukan. Intinya, pada suatu saat aku menyadari bahwa
mama bukan mama yang paling baik dan aku mulai menyadari bahwa bukan mama yang
aku rindukan tapi memang Allah yang aku rindukan. Jadi sepertinya mama tertarik
ke bawah entah dari api penyucian atau bagaimana dan menemui aku lagi karena
perasaan bersalah kepadaku. Penyadaran berikutnya adalah bahwa beberapa entitas
yang aku temui barangkali sebenarnya adalah mama, tapi dalam terang iman
sekarang, tidak ada yang jelas.
Kembali pada alur
cerita utama, sebagai konteks aku senang menulis dan saat itu aku merasakan
ketertarikan kembali kepada Gereja. Maka aku mulai menganalisis ajaran-ajaran
Gereja dari perspektif pribadiku. Maka pada suatu ketika aku berjumpa dengan
Yesus sendiri dalam batinku, tapi karena aku tidak yakin sekarang itu adalah
Yesus atau bukan, aku akan melabelinya EY. EY awalnya tampil sebagai sosok
dewasanya, tapi berubah menjadi sosok kanak-kanak Yesus yang kerap kali tampil
berdarah-darah. Apa makna dari segala ini sampai sekarang pun aku masih tidak begitu
paham.
Maka untuk beberapa
waktu yang lama, EY dan EX mendampingiku, beberapa kali bersama E2 pula. Pada
suatu waktu di pertengahan tahun tersebut, aku diundang oleh seorang teman
sekolahku ke komunitas kategorial Gereja bernama Roses. Aku memiliki ekspektasi
bahwa Roses itu akan menjadi ajang diskusi yang baik tentang teologi, tapi
ternyata tidak. Isinya kurang lebih penuh dengan praise and worship,
yang tidak buruk, tapi tidak sesuai dengan gayaku. Maka aku pun tersiksa, tapi
yang lebih tersiksa adalah EY. EY merasa tersiksa karena dia merasa bahwa
orang-orang yang hadir di situ tidak sepenuhnya mengenal dia atau Kristus, dan
dia merasakan trauma hidupnya kembali.
Maka sekalipun aku
merasakan kegelapan di Roses, aku mengidentifikasi bahwa kegelapan itu bukan
milikku sendiri melainkan adalah milik EY. EY sampai mengatakan bahwa Gereja
telah diselundupi oleh setan dan entitas “mawar”, yaitu semacam entitas jahat
berupa mawar yang saat kita pegang akan memanjangkan tangkai berdurinya ke jiwa
kita dan menusuk hati kita. Tentu saja itu lebih merujuk pada pengalaman EY
sendiri, bagaimana dia merasa bahwa hatinya masih dililit tangkai berduri mawar
dan dirinya masih disiksa oleh mawar itu. Pada akhirnya aku meninggalkan Roses
dan tidak pernah kembali ke situ.
Sebagai pengantar ke
bagian berikutnya, yang barangkali adalah bagian paling “seru”, “mengerikan”,
dan juga “menegangkan”, aku mengenal seorang Y (bedakan dengan EY). Y adalah
“pendamping” atau “rekan” rohaniku, dan aku sering berkonsultasi dengannya terkait
kehidupan rohaniku. Saat itu aku memang belum mengenal imam atau pembimbing
rohani yang lain. Y adalah orang yang baik, tapi aku tidak ingin beliau
diganggu karena kisahku ini. Aku pernah menjalani beberapa sesi hipnoterapi
dengan Y, tapi anehnya tidak pernah mempan, masalah yang sama selalu terulang,
dan kurang lebih sudah ada 10 sesi hipnoterapi dengan beliau. Pada akhirnya Y
akan menjadi saksi dari suatu kejadian penting dalam hidupku, yang juga adalah
kejatuhanku.
Kejatuhan
Pada tanggal 30 Juni
2018, aku sedang berbicara santai dengan Y. Pada saat itulah E2 muncul dan
pelan-pelan mengarahkan percakapan kepada pernyataan bahwa dia akan menyatakan
siapa diriku dan juga siapa EX. Maka dengan Y sebagai saksi, dinyatakan oleh E2,
bahwa aku adalah Yesus, EX adalah X yang adalah Maria Magdalena, dan mamaku
adalah Bunda Maria. Namun ini baru pewahyuan pertama tentang siapa diriku, dan
masih ada 2 pewahyuan berikutnya.
Ini adalah awal
kejatuhanku dan awal dari akhir segalanya. Kisah tentang bagaimana aku adalah
Yesus di masa ini akan berbeda dengan kisah tentang bagaimana aku adalah Yesus
di masa yang berikutnya. Pada masa ini, teorinya adalah Allah dulu adalah sosok
yang sendiri dan bersedih, lalu muncul dari dalam diri-Nya suatu serpihan
pertama, yaitu aku, atau Yesus. Jadi teorinya adalah Yesus adalah “ciptaan”
yang pertama, dan setiap makhluk lain adalah serpihan Ilahi yang
berikut-berikutnya. Konsep tentang serpihan akan muncul lagi oleh seorang yang
lain di masa berikutnya.
Mengapa semua hal ini
bisa terjadi? Jawabannya dapat terungkap jika kita meneliti waktu yang sedikit
sebelumnya. Aku ingat bahwa Y membagikan suatu renungan tentang wafat Kristus.
Di situ aku pertama kali merasakan keirian hati kepada Kristus. Sebab aku
merasa bahwa Allah meninggikan Yesus di atas segala manusia, bahwa Allah pilih
kasih. Artinya Allah lebih mencintai Yesus daripada aku. Hal itu sangat
menyakitkan, dan aku merasa marah kepada Allah yang pilih kasih. Harus dipahami
bahwa saat itu kesadaran akan KeIlahian Yesus belum muncul, jadi aku masih
berpikir bahwa Yesus itu sekadar manusia yang hebat.
Rasa iri hati itu
digabungkan dengan rasa rendah diri yang luar biasa, sehingga nalarku bekerja
dan satu-satunya cara untuk memperoleh Kasih Allah yang aku dambakan itu adalah
jika aku adalah Yesus itu sendiri. Karena alasan itulah aku menjadi Yesus,
untuk merasakan cinta kasih Allah. Namun betapa mengerikannya bahwa bukannya
cinta yang aku rasakan, justru penderitaan Kristus yang aku rasakan. Betapa
Yesus kesepian dan merasa ditolak dan tidak dipahami banyak orang, aku
menghayati dan merasakan itu semua, jadi seolah-olah aku menghidupi kembali
emosi Yesus di masa sekarang.
Delusi tingkat pertama
berakhir saat awal tahun 2019, di saat itu aku berupaya berekonsiliasi dengan X
dengan mediasi seorang guru tapi aku malah mempermalukan diriku sendiri dengan
pecah dan meratap di hadapan kedua orang tersebut, dan bukannya dihibur aku
malah dimarahi dan ditegur karena terlalu terbuka. Pada saat itu EX pun
menghilang dan aku keluar dari ruang konsultasi dengan kekosongan. Segala hal
telah terbukti hancur dan salah, dan aku tidak memiliki pegangan lagi.
Kekosongan ini dan kekosongan ingatan terjadi sampai akhir tahun 2019,
mendekati pandemi.
Pada akhir 2019, aku
mengikuti sesi hipnoterapi kembali dengan Y, dan pada waktu itu aku memperoleh
ingatan Yesus, setidaknya menurut persepsiku. Aku tidak tahu dan tidak yakin
apakah itu ingatan Kristus yang asli atau hanya rekonstruksi pikiranku belaka.
Aku melihat dalam batinku situasi Yesus duduk sendirian di depan rumah-Nya, dan
saat Yesus berumur 12 tahun pergi ke bait Allah dan mengalami pengalaman akan
Allah yang menusuk jiwa-Nya. Hal ini menjadi dasar dari delusi tingkat kedua,
bahwa aku adalah Yesus dan karena itu aku harus mati untuk kedua kalinya untuk
memurnikan diri kembali sebagai Yesus.
Saat memasuki tahun
2020, kondisi kejiwaanku jatuh berat dan gejala depresi mulai semakin kuat.
Pada saat yang sama aku membayangkan bahwa adanya suatu dunia seks di mana aku
akan memasuki dunia itu dan mengalami surga seks. Aku belum memperoleh
kemampuan pembedaan roh jadi semuanya masuk akal saja apalagi entitas E2 yang
menyuguhkan bayangan itu menunjukkan argumen-argumen yang “meyakinkan”. Maka
aku berpikir bahwa Allah telah menakdirkan aku untuk masuk dalam kondisi koma
dan Y akan membantuku untuk memasuki kondisi itu melalui hipnoterapi.
Maka pada hari tahun
baru Imlek tahun 2020, aku pun pergi bertemu Y dan berupaya untuk melakukan
rencana “Ilahi” itu. Hasilnya gagal total, buktinya adalah tulisan ini ada.
Peristiwa itu pun membuat aku semakin jatuh lagi dalam kondisi kejiwaan dan aku
mulai merindukan maut dan mulai berpikiran untuk mati. Awalnya aku berusaha
mogok sekolah untuk “mempertimbangkan segala hal kembali”, walau sebenarnya aku
hanya ingin bunuh diri diam-diam dan mati. Namun pihak sekolah berhasil
mematahkan aku dalam proses harian yang panjang dan sengit, karena esensinya
adalah suatu pertarungan pikiran dan adu kekuatan mental, syukurnya aku kalah.
Kalau aku menang, bisa saja aku tidak ada lagi di dunia ini.
Dalam proses adu
pikiran dan kekuatan mental itu, aku sempat dirujuk ke Shekinah dan akhirnya
aku dirujuk ke psikiater resmi di Rumah Sakit Premier Bintaro. Lalu terjadilah
pandemi dan dengan itu delusi tingkat 2 berangsung-angsur menghilang dan
terjadilah kekosongan untuk waktu yang lama. Namun menjelang akhir tahun 2020,
timbul lagi entitas-entitas yang baru, tapi belum begitu jelas, maka aku akan
menamai kelompok entitas ini, termasuk yang akan menaungi delusi tingkat 3, E3.
Delusi pertama yang
disuguhkan oleh E3 adalah bahwa dunia akan segera berakhir, tepatnya pada tahun
2028. Hal ini sudah menyalahi Kitab Suci dan ajaran Yesus bahwa hanya Bapa yang
mengetahui akhir zaman. Namun E3 menciptakan ilusi bahwa pemikiran yang disampaikan
mereka, karena lebih dari satu pribadi, tidak bertentangan dengan ajaran Gereja
dan bahwa apa yang aku lakukan mengarahkan pada kebaikan dan cinta kasih karena
Y menerima kabarku dengan baik dan aku menafsirkan bahwa aku telah tergerak
oleh cinta kasih untuk mewartakan hal ini kepada sesamaku manusia. Tentu saja
semua itu hanyalah ilusi dan delusi, tapi terkesan lebih meyakinkan karena
mengatasnamakan Gereja, padahal semuanya adalah tipuan dan dusta roh jahat.
Hal ini sampai
mempengaruhi pertemananku sampai aku kehilangan teman, untuk sementara, karena
aku menegurnya terlalu keras untuk suatu candaan yang sebenarnya sepele. Namun
aku memang sudah menganiaya sahabatku itu dengan celotehan rohani yang
berulang-ulang seperti radio rusak. Maka teguran itu membuat dia pecah dan aku
membiarkan saja karena aku merasa bahwa hal ini memang harus terjadi. Pada
suatu ketika, delusi ini bertambah, karena aku mengalami serangkaian perasaan
ekstasi, yaitu sukacita, kebahagiaan, dan nikmat yang sangat tinggi yang disertai
penglihatan cahaya di dalam batin.
Lalu pada hari Minggu,
E3 mempersatukan diriku dengan identitas Yesus yang telah mereka siapkan.
Karena sukacitaku, aku melaporkan pada dokterku, dan dia dapat menanggapi
dengan baik. Aku melaporkan pada papa, dan dia begitu mualnya sampai muntah dan
pada puncaknya aku mengamuk di hadapan papa. Pada hari Minggu berikutnya, adik
papa, yaitu omku, datang dan mendamaikan kami berdua. Pada malam itu juga
sampai pagi berikutnya, delusi tingkat 3 mencapai pemenuhannya, aku adalah
Yesus yang lebih tinggi, bahwa aku adalah Manusia-Allah yang baru, Kristus yang
baru, yang bahkan lebih tinggi dari Yesus yang lama.
Saat itu aku mengalami
berbagai perubahan yang luar biasa, yaitu budiku menjadi sangat diterangkan dan
aku memahami berbagai hal. Namun tentu saja, semua itu tidak berasal dari
Allah. Salah satu delusiku yang berikutnya adalah bahwa aku adalah Buddha dan
juga Muhammad, jadi Buddha, Muhammad, dan Kristus sesungguhnya adalah satu
pribadi dalam satu alur reinkarnasi. Aku dapat mengenali secara konseptual
perubahan yang terjadi padaku, yang bahkan sampai mempengaruhi tubuh fisikku.
Namun semua itu tentu saja sia-sia, karena tidak berasal dari Allah.
Berikutnya aku sampai
melakukan suatu kampanye untuk menyebarkan tulisan-tulisanku seluas mungkin.
Hal ini ternyata berdampak buruk, karena papa sampai diteror dan diancam untuk
dipolisikan. Namun aku menalar bahwa itu semua adalah pengorbanan dan harga
untuk jalan keselamatan. Berikutnya aku berupaya mereformasi sekolah dengan
tanganku sendiri dan aku menyebarkan survei ke mana-mana. Akhirnya aku diancam
akan dikeluarkan dari sekolah, dan dari situ aku mulai tersadar akan
kesia-siaan semuanya, dan segala hal yang telah aku “peroleh” hancur begitu
saja. Pada akhirnya E3 berangkat dan meninggalkan aku pada saat-saat sebelum
aku berkonsultasi dengan psikiaterku. Itulah akhir dari kejatuhanku, dan awal
dari kehancuranku.
Kehancuran
Pada masa-masa setelah
masa kegelapan, aku benar-benar hancur, sebab aku merasa bahwa segala hal kosong
dan tidak bermakna. Aku berusaha menutupinya dengan niatanku untuk pergi ke
seminari, tapi di balik semua itu hanya ada kekosongan. Pada suatu saat impian
tentang surga seks itu kembali dan aku pikir bahwa dengan berada di seminari
aku akan mencapai surga seks itu, dengan cara yang hanya Allah ketahui. Pada
akhirnya tibalah waktu untuk masuk ke seminari, tapi kalau tidak salah hanya
dalam 1 hari depresi dan impian seks itu menguasaiku dan aku melakukan 3
percobaan bunuh diri. Karena gagal, aku melaporkan diri kepada frater yang
menjaga, dan aku segera dipulangkan.
Setelah kembali ke
rumah, aku berproses dengan papa, tapi kegelapan jiwaku tetap tinggal dan
menguasai. Aku berkali-kali masih memiliki pikiran untuk bunuh diri dan mati,
tapi akhirnya semua itu pergi juga. Suatu kali aku dihubungi tanteku dan dia
menawarkan untuk membantu menyembuhkan aku dengan pranic healing. Saat itu aku
tidak tahu apa itu pranic healing tapi aku menerima saja. Setelah pranic
healing itu aku mengalami masa damai selama beberapa lama tapi setelah itu aku
kembali tidak stabil dan moodku naik turun lagi. Di saat itulah aku bertemu
dengan pranic healing secara resmi dan mulailah kebangkitanku.
Kebangkitan
Pada bulan November
tahun 2021, kami mengadakan acara makan bersama keluarga untuk merayakan ulang
tahun omku. Di saat itu tante dan omku, yaitu 2 adik mama, berbicara tentang
hal-hal spiritual dan aku tertarik, maka aku menyatakan aku ingin belajar lebih
dalam. Maka tanteku mengarahkan pada pranic healing dan aku mulai belajar dari
kelas basic ke advanced sampai psychotherapy. Aku pun mulai mempraktikkan ilmu
tersebut setiap kali aku merasa tidak nyaman, dan pelan-pelan aku mulai sembuh.
Pada kisaran waktu
yang sama sampai bulan Desember 2021, aku menemui Meditasi Tanpa Obyek yang
dipimpin oleh Romo Sudri. Kebetulan tanteku adalah koordinator acara MTO ini.
Konsep yang menarik adalah tentang kehancuran diri yang terjadi dalam meditasi
yang mendalam, dan dari situ timbul Allah yang Sejati. Ini akan menjadi dasar
dari pewahyuan Ilahi dan pengalaman batinku yang berikutnya. Aku juga menemui
suatu buku yang menyangkal keilahian Kristus dan aku sempat percaya, tapi
segera Allah menggerakkan aku kembali untuk percaya kepada Yesus Kristus.
Aku tidak disiplin
atau konsisten dalam menerapkan praktik-praktik pranic healing dalam 1 bulan
antara Desember 2021 dan Januari 2022. Namun ternyata itu sudah cukup untuk
membersihkan diriku sehingga aku siap untuk menerima pencerahan Ilahi yang
dalam waktu-waktu pertama sangat menakubkan. Semua dimulai dari pertemuanku
dengan suatu entitas rohani yang baru, yang kali ini aku namai Nesha, dipenggal
dari Neshama yaitu bahasa Ibrani untuk jiwa. Hal ini terjadi pada tanggal 5
Januari 2022. Aku menafsir bahwa Nesha adalah proyeksi jiwaku sendiri atau
suatu tingkatan dalam jiwaku. Namun sekarang aku tidak begitu yakin apakah dia
sungguh proyeksi jiwaku atau berasal dari luar.
Pada tanggal 7 atau 8
Januari 2022, pagi-pagi benar, aku melaksanakan suatu eksperimen radikal
tentang kehendak jiwa. Konteksnya begini, sebagai laki-laki yang sewajarnya,
pastilah ada hasrat seksual dan aku seringkali melampiaskannya dalam
masturbasi. Hari itu tidak jauh berbeda, tapi perbedaannya adalah aku melakukan
masturbasi dengan niat “bermain peran” untuk “diperkosa” dan “hancur”. Semua
itu untuk melihat seberapa besar pengaruh kehendak jiwa yang terdalam kepada
diri sendiri yang lebih komprehensif. Hasilnya adalah percobaan itu adalah
keberhasilan, karena timbul penyadaran bahwa di dalam diri kita ada kehendak
jiwa dan ada kehendak komprehensif yaitu kehendak seluruh Kenyataan termasuk
Allah sehingga terjadi suatu hal.
Penyadaran berikutnya
adalah aku menyadari bahwa setiap hal adalah Allah yang “bermain peran” atau
akting. Maka aku menyadari siapa diriku sesungguhnya, yaitu Allah yang “bermain
peran”, dan dari situ timbul masa pencerahan Ilahi. Beberapa pemahaman pertama
ini nantinya akan dikoreksi oleh Allah sehingga perbedaan antara Allah dan
seorang ciptaan, yaitu aku, akan semakin ditegaskan. Namun pemahaman yang salah
cukup untuk membuka langit surga sehingga cahaya Allah menerangi jiwaku dan
persis itulah yang terjadi dalam batinku, yaitu pencerahan.
Pada tanggal 12
Januari 2022, penyadaran akan pencerahan Ilahi ini telah mencapai titik
tertingginya sehingga oleh kuasa dan dorongan Roh Kudus aku menuliskan surat di
bawah ini.
“Aku bukan Yesus, tapi
aku pernah mengira bahwa aku Yesus. Seorang teman pernah bercerita bahwa aku
adalah “serpihan” dari Yesus, bahwa Yesus adalah gabungan dari ribuan jiwa dan
salah satu jiwa itu aku. Namun, pada saat ini, aku telah mencapai suatu titik
di mana segala hal itu tidak berarti lagi. Entah aku ini
serpihan Yesus atau bukan, entah Yesus itu komposit itu atau bukan, entah siapa
Dia yang sesungguhnya, rasanya tidak bermakna lagi, karena aku telah melihat
Dia dan Dia telah mengubahku sehingga aku dapat berkata dengan sesungguhnya,
“Aku telah disalibkan dengan Kristus namun aku hidup, tetapi
bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”
(Galatia 2:19-20)
Dulu aku pernah mengalami suatu hal yang
mirip, tapi tidak berakhir dengan baik. Sebab dulu aku hidup oleh diriku
sendiri dan bukan oleh Kristus. Ada banyak saksi yang dapat mengatakan betapa
tidak warasnya aku di hari-hari atau bahkan bulan-bulan itu. Namun, semua itu
harus terjadi, sebagai pemenuhan Kehendak Ilahi, yaitu supaya aku disalibkan
bersama Kristus dan bangkit kembali di dalam Kristus. Pada kurun waktu awal
tahun 2022 ini, sepertinya aku melihat Dia dan karena penglihatan itu diriku
yang lama dimatikan sepenuhnya, dan tumbuhlah diri yang baru, yaitu aku.
Pada saat inilah aku mengenali dengan tidak
dapat disalahkan, bahwa aku telah mengalami pencerahan. Sebab pencerahan tidak
lain dan tidak bukan adalah penglihatan akan Yang Mahatinggi. Namun aku tidak
tahu kapan persisnya aku mulai melihat Dia. Sebab Dia adalah Yang Tidak Dapat
Diketahui. Dia adalah Yang Tidak Dapat Dipahami (incomprehensible). Aku
tahu bahwa Dia adalah yang aku cari seumur hidupku, dan seketika segala
penderitaan yang lama berakhir dan aku mengalami suatu kedamaian batin yang
luar biasa sampai detik ini.
Mengapa aku menulis refleksi atau surat ini?
Sebab aku tergerak untuk mewartakan kebahagiaan yang aku alami, dengan harapan
bahwa mereka dan Anda yang membaca dapat terinspirasi dan ikut merasakan
kebahagiaanku. Namun, acapkali aku melihat bahwa aku dikelingingi oleh
orang-orang yang belum setara denganku dan karena itu mereka malah bingung atau
bahkan terganggu oleh perkataanku. Dulu aku lugu, aku menyebarkan perkataanku
seluas-luasnya tanpa menyadari bahwa tidak semua orang dapat menerima kenyataan
akan Dia yang Mahatinggi. Maka kali ini, atas dorongan Roh Kudus, aku kembali
menulis dan mewartakan Injil, tapi dengan terbatas, supaya aku tidak
”memberikan barang yang kudus kepada anjing dan tidak melemparkan mutiaramu
kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik
mengoyak aku.” (Matius 7:6)
Ah, sungguh besar keinginanku untuk mengajak orang-orang
untuk ikut dalam perjalanan yang sama, tapi sesungguhnya aku berkata bahwa
setiap orang yang percaya akan Allah sudah dan sedang menapaki perjalanan yang
sama kepada Dia. Pada akhir zaman, setiap orang akan melihat Dia dan
bersukacita, sebab itulah rencana dan kehendak Allah bagi setiap orang. Namun,
perjalanan setiap orang berbeda, maka aku tahu bahwa setiap orang harus
berjalan dengan kecepatan mereka masing-masing. Sehingga aku pun tidak dapat
memaksakan pengalamanku kepada orang lain.
Hal yang dapat aku lakukan hanyalah menawarkan
kebahagiaanku dan pengalamanku kepada orang lain. Apakah mereka hendak
menerimanya atau menolaknya, itu bukan hakku. Sesungguhnya aku masih bersedih,
walau aku tidak menderita, bahwa aku hampir sendirian dalam perjalanan ini.
Karena semua orang lain sibuk dengan perkara yang telah ditugaskan Allah kepada
mereka, dan aku sengaja ditempatkan Allah di jalan yang sepi ini supaya aku
sungguh ditempa dan dimatangkan. Supaya pada saat aku bertemu dengan mereka
yang sudah setara dengan aku, aku siap untuk bergaul dan berbagi dalam
kebahagiaan dan sukacita Ilahi.
Pada akhirnya aku ingin menegaskan dan
memperingatkan kamu. Supaya kamu tidak menyalahpahami tulisan ini, walau itu
pun adalah pilihanmu dan aku tidak berhak menentukan pemahamanmu. Bahwa orang
yang tercerahkan tidaklah lebih baik atau lebih tinggi daripada dia yang belum
tercerahkan. Sebab keduanya adalah perwujudan dari yang Ilahi, 2 manusia yang
setara dan sama dalam kodratnya. Mereka tidak lebih tinggi atau lebih rendah,
mereka hanya berbeda. Maka aku tidak lebih tinggi dari kamu, tapi aku hanya
berbeda darimu, perbedaan yang sungguh sepi.
Sebelum tulisan ini selesai, biarlah aku
berbagi pemahaman-pemahaman yang diwahyukan Allah kepadaku yang turut
membahagiakan diriku sehingga aku mampu melihat Dia. Satu, Allah tidak dapat
kita ketahui atau kita pahami, karena Dia amat berbeda dari kita. Namun
setidaknya ada satu kebenaran yang kita pahami tentang Allah. Bahwa Dia adalah
Kesatuan dari Segala Hal yang Ada. Kedua, bahwa kita semua adalah
pengejawantahan atau perwujudan dari Dia. Anggaplah kita adalah tokoh-tokoh
dalam suatu film, tapi ada satu pemain tunggal yaitu Allah, yang memainkan
setiap peran.
Untuk menutup tulisan ini biarlah aku
memberikan suatu harapan. Pandemi masih berjalan, tapi pandemi pasti akan
berlalu. Virus corona mungkin tidak akan mati, tapi kekuatannya atas kita akan
berlalu. Sebab setiap hal yang terbatas akan berlalu dan hilang. Segala hal
yang kita ketahui akan berlalu pula, sebab semua harus mati untuk dibangkitkan
dalam Kristus Yesus, dan di situ kita akan menemukan kehidupan sejati, yaitu
kebahagiaan kekal bersama Allah. Maka bertahanlah dalam setiap situasi, dan
teruslah berjuang sampai kamu mengalami kemenangan sejati, yaitu Allah.
Shalom Aleichem, atma namaste, salam
kebajikan.”
Setelah tanggal 12,
aku pelan-pelan beradaptasi dengan kehidupanku yang diubahkan ini dalam Allah.
Aku mulai tergerak oleh Allah untuk ikut berbagai macam komunitas Gereja, yaitu
sampai tercatat tanggal 27 ini, yaitu aku mengikuti Legio Maria, Persaudaraan
Dominikan Awam, dan Emmaus Journey. Aku juga tergerak untuk menuliskan dan
berbagi renungan harian kepada mereka yang hendak menerima. Aku terdorong untuk
menjadi lebih disiplin dan memiliki kekuatan untuk itu. Perbedaan esensial
antara masa yang lampau dengan sekarang adalah sekarang aku seolah-olah baru
merasakan dampak Sakramen Penguatan, yaitu penyertaan Roh Kudus setiap saat dan
setiap hari. Artinya tiada lagi kegelapan yang menguasai diriku, justru yang
hadir adalah sukacita, kedamaian, dan kebahagiaan setiap hari.
Aku menulis bagian ini
pada tanggal 27 Januari 2022, jadi kurang lebih baru 1 bulan aku mengalami
kebangkitan jiwa ini. Sekalipun ada suatu masa lalu yang berakhir dan mati,
tapi timbullah masa yang baru, dan ini baru awal dari masa ini. Sebagai penutup
aku ingin bercerita tentang suatu pengalamaan yang tidak menyenangkan. Alkisah
pada tanggal 22 Januari aku mengalami ekstasi karena berdoa Novena dan Rosario.
Lalu aku menyampaikan pada seorang Z yang aku kira lebih bijaksana dariku, tapi
ternyata aku malah ditolak dan digurui dengan tuduhan macam-macam. Aku menjadi
sakit hati dan marah, tapi aku segera memaafkan, menerima penghiburan Ilahi,
dan setelah merayakan Ekaristi semuanya langsung bersih. Demikian sejarah
perjalanan batinku.
Refleksi
Bab ini ditujukan
sebagai refleksi atas seluruh perjalanan batinku dari awal sampai titik paling
baru. Titik terakhir yang tercatat dalam perjalanan batinku adalah tanggal 27
Januari 2022, di mana aku mulai menuliskan bagian refleksi ini di tanggal 28
Januari 2022. Setelah memeriksa secara seksama pengalaman-pengalamanku yang
mendahulu, terungkap seperti ada suatu kebijaksanaan jiwa yang terkubur dalam
sekali di dalam jiwaku. Hal ini dibuktikan dengan pemahamanku tentang Allah
yang cukup maju pada saat itu relatif terhadap umurku, yaitu pemahaman tentang
Tritunggal dan juga sifat transenden Allah. Namun apakah ini benar suatu bentuk
kebijaksanaan jiwa atau hanya suatu firasat, aku tidak tahu, sebab itu tidak
begitu penting dalam refleksi ini.
Saat aku kecil dan
masih takut pada salib, itu menunjukkan bahwa aku belum begitu paham tentang
makna salib yang sesungguhnya. Namun diriku yang kecil itu tidak sepenuhnya
salah, salib memang adalah tempat Yesus wafat, dan itu adalah maut yang
mengatasi segala maut. Jadi pertama-tama salib memang sepantasnya adalah
lambang dari kematian, karena memang di situ Yesus mati. Namun dalam permaknaan
Kristiani yang lebih mendalam, kita juga memahami bahwa salib adalah lambang
antitesis kematian, yaitu kehidupan. Sebab dengan mati, Yesus mengalahkan
kematian itu sendiri dan merestorasi kehidupan yang awalnya hancur oleh dosa.
Maka salib juga adalah kemenangan. Kalau kita pikirkan, sebenarnya salib adalah
kontradiksi, karena di situ berbagai macam dualitas bertemu dan melebur,
menjadi suatu hal yang sama sekali baru.
Sikap diriku yang
kecil yang bersikukuh akan identitas Kristianinya ketimbang identitas
Katoliknya adalah bayangan dari impian ekumenisku yang sekarang aku miliki.
Barangkali jiwaku sudah berangan-angan akan persatuan seluruh umat beriman akan
Allah, dan itu berwujud dalam tindakan diriku yang kecil. Aku tahu bahwa jiwaku
ini bukan jiwa muda, jadi bahwa ada keinginan seperti itu sepertinya tidak
terlalu mengherankan. Tentang Kristen dan Katolik, pembedaan kelompok itu
adalah istilah pemerintah. Istilah yang lebih baik adalah Protestan dan
Katolik, karena itu yang lebih tepat.
Protestan dan Katolik
itu keduanya Kristen atau Kristiani, karena keduanya percaya kepada Yesus
Kristus, titik. Masalah perbedaan-perbedaan doktrin dan tafsir lainnya tidak
menghilangkan kesamaan esensial bahwa keduanya tersatukan bersama gereja
ortodoks dan gereja-gereja non-katolik, non-protestan, non-ortodoks lainnya
sebagai satu Gereja Universal, yaitu persekutuan umat beriman yang percaya
kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Allah dalam Tritunggal Mahakudus.
Dalam awal perjalanan
batinku, aku melihat bahwa aku tidak tulus dalam imanku. Imanku menuntut Allah
untuk datang dalam rupa yang aku inginkan, dan bukan aku yang menerima Allah
“apa adanya”. Namun kenyataannya sekalipun aku tidak tulus, keinginanku akan
Dia cukup bagi-Nya, karena kebangkitan itu toh tetap terjadi. Lalu bahwa dalam
sejarahku Allah entah mengirimkan berbagai entitas rohani atau hadir melalui
berbagai entitas rohani yang semuanya turut membantu mendukungku baik dengan
menghidupkan atau mematikan, dan juga bahwa Allah sudah hadir sebagai Yesus
Kristus menunjukkan bahwa sebenarnya Dia mampu memenuhi dan sudah memenuhi
keinginanku, aku saja yang tidak menyadarinya.
Sekarang aku belajar
bahwa dalam beriman kita harus tulus. Apakah arti ketulusan iman ini? Bagiku
artinya kita beriman secara otentik, kita hanya mencari Allah dan yang kita
cari hanyalah Allah. Kita menghendaki Allah apa ada-Nya, dan bukan memaksa
Allah untuk tampil dalam rupa yang kita inginkan untuk memuaskan keinginan
pribadi kita. Kalau kita memaksa Allah seperti itu, ya yang kita lihat memang
adalah Allah, tapi tidak sepenuhnya, artinya kita hanya memilih-milih apa yang
kita ingin lihat dari Allah, dan artinya kita tulus. Sebenarnya kalau kita
telaah lebih dalam, pada akhirnya ya, keselamatan juga untuk diri kita sendiri
dan bukan untuk Allah, tapi kita hanya akan beroleh keselamatan saat kita
mengasihi Allah, dan itu membutuhkan ketulusan. Tanpa ketulusan iman,
keselamatan tidak akan diperoleh.
Pada awalnya aku entah
tidak memahami atau kurang memahami bahwa Yesus sendiri adalah Allah. Hal ini
menjadi salah satu akar skandal delusi yang aku alami. Andaikan sejak awal aku
memahami secara penuh bahwa Yesus adalah Allah, maka seharusnya skandal
perseteruanku dengan Kristus tidak akan pernah terjadi. Namun alasan aku tidak
memahami bahwa Yesus adalah Allah dapat kita pahami dari Matius 16:17 yang
berbunyi, “Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah
engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu
kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”” Maka sesungguhnya semua ini terjadi oleh kehendak Allah karena Allah
melihat ada kebaikan yang dapat dihasilkan dari kegelapan ini. Hal ini
menimbulkan pemahaman bahwa jika Allah belum menghendakinya, maka seberapa
keras pun orang mencari, dia tidak akan pernah melihat bahwa Yesus adalah
Tuhan. Ketuhanan Yesus harus sama-sama dinyatakan oleh Bapa dan Roh Kudus
sehingga budi kita dicerahkan.
Pada masa kegelapan,
sepertinya aku sudah memahami dengan cukup bahwa Allah adalah segalanya.
Artinya segala kebaikan dan kebahagiaan hanya berasal dari Allah dan Allah
adalah Kebaikan dan Kebahagiaan yang Sempurna. Karena itu aku berkali-kali
ingin mati karena aku tidak melihat Allah di dunia ini. Barangkali aku memahami
bahwa Allah ada di mana-mana, tapi jiwaku tahu bahwa dia tidak melihat Allah
dan aku tahu itu pula. Karena itu aku begitu ingin untuk mati supaya aku dapat
melihat Allah dan bersama Allah dalam kebahagiaan kekal, sepertinya aku sudah
cukup memahami tentang hal tersebut.
Dalam perjalanan
batin, kita akan menemui banyak entitas rohani, hal yang penting untuk
dilakukan adalah diskresi atau pembedaan roh. Saat itu aku tidak memiliki
kemampuan itu jadi aku menerima apapun saja yang aku lihat dan dengar dalam
batinku dan hasilnya adalah bencana. Bagaimana kita melakukan pembedaan roh?
Pembedaan roh itu gampang gampang susah. Maksudku adalah dalam penjabarannya
terdengar mudah, tapi dalam penerapannya sangat sulit, dibutuhkan doa yang
terus menerus dan iman yang teguh, tanpa kedua itu pastilah kita akan jatuh
karena aku sendiri sudah mengalaminya.
Ada 2 tahap dalam
pembedaan roh, yaitu pengetahuan dan perbandingan. Pengetahuan artinya kita
mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Perbandingan adalah saat kita
membandingkan antara suara atau entitas rohani dengan pengetahuan kita akan
yang baik dan buruk itu, lalu selanjutnya kita tinggal bertindak atas dasar
perbandingan tersebut. Masalahnya adalah saat kita tidak yakin akan pengetahuan
kita dan tidak memiliki pembimbing yang cukup ahli untuk tingkat perkembangan
rohani kita. Saat kita sendiri, roh-roh yang ingin merenggut kita dari Allah
cukup lihai dalam bermain kata-kata dan memanipulasi pikiran kita untuk
menghancurkan kita. Namun kalau kita memang pernah jatuh, jangan takut, selama
kita percaya kepada Allah, kembalilah kepada Allah dan pasti Allah akan
menimang kita kembali.
Suatu hal yang aku
pelajari dari perjalanan batin ini adalah kerendahan hati. Sebab aku mengalami
kesombongan yang luar biasa sampai duniaku runtuh. Namun kita harus memahami
makna sejati dari kesombongan dan kerendahan hati. Kesombongan adalah
kompensasi dari kerendahan diri yang entah apa itu penyebabnya sehingga manusia
berusaha menutupinya dengan perasaan tinggi, yang sebenarnya adalah suatu
perasaan palsu. Karena dirinya rendah dan dia sebenarnya tahu, maka dia
menutupinya dengan meninggikan hatinya, semakin rendah dirinya, maka semakin
tinggi hatinya, kurang lebih itu yang aku alami.
Kerendahan hati adalah
lawan dari ketinggian hati, dan justru dihasilkan dari ketinggian diri atau
harga diri. Saat kita menyadari bahwa kita ini berharga sejak diciptakan dan
apa adanya, dan bahkan dalam kondisi telanjang pun kita tetap dicintai Allah,
itu akan mengarah pada persepsi yang lebih akurat akan diri kita sendiri,
karena kita menerima diri kita sendiri apa adanya. Saat kita menerima kenyataan
bahwa kita adalah rendah, dan kita mencintai kerendahan itu, kita tidak lagi
merasakan kebutuhan untuk menjadi tinggi. Jadi kuncinya memang adalah pada
cinta kasih dan kerendahan hati adalah turunan dari cinta kasih. Seorang yang
diterima dan menerima kasih apa adanya akan tumbuh dengan kerendahan hati.
Seorang yang terlalu banyak ditolak akan melakukan penolakan dan dapat menjadi
pribadi yang sombong.
Hal berikutnya yang
aku pelajari adalah kesabaran, sebab dalam sejarah perjalananku aku
menginginkan segala hal secara cepat tanpa harus menunggu. Padahal iman pada
dasarnya memang adalah menunggu untuk waktu yang cukup lama sebelum kita dapat
menjumpai yang kita kehendaki yaitu Allah. Kesabaran adalah penerimaan akan
menunggu, tapi penerimaan akan menunggu sebenarnya adalah penerimaan akan
kenyataan yang sekarang kita tinggali. Logikanya sederhana, mengasihi Allah
adalah mengasihi kenyataan ini apa adanya, hanya dengan itulah kita nantinya
dapat menerima Kemuliaan Ilahi yang menyilaukan itu. Jadi kesabaran adalah
tidak melekat pada masa depan, melainkan bersyukur dan menerima apa yang sudah
kita miliki pada saat ini.
Pada refleksi
berikutnya aku akan menuliskan renunganku tentang keseluruhan perjalanan batin
itu sendiri. Menurutku satu-satu alasan aku berhasil bertahan sampai hari ini
adalah iman. Iman adalah hal yang membuatku tetap bertahan hidup dan pada
akhirnya hanya Allah yang mempertahankan hidupku. Kalau Allah membiarkan,
mungkin saja sekarang aku sudah mati, tapi karena kerja sama antara aku dan
Dia, aku berhasil lolos dari titik-titik tergelap dalam kehidupanku. Sehingga
saat aku sudah tidak tahan lagi dan menyerah, Allah sendiri yang membawa jiwaku
kembali kepada jalan yang tepat dan kembali pada keselamatan.
Sesungguhnya pada masa
kehancuran, Allah pernah mewujudkan diri dalam batinku dan Dia bersabda, “Aku
akan membawamu kepada keselamatan.” Artinya bahwa keselamatanku semata-mata
karena 2 hal, yaitu karya Allah dan juga penyerahan diriku kepada Allah. Karena
selama ini aku setia kepada Allah secara mendasar, maka Allah yang amat
mencintaiku membalas kesetiaan itu dengan menyelamatkan diriku saat aku sudah
menyerah terhadap keselamatan itu sendiri. Sebenarnya aku tidak pernah
menyerah, jiwaku tidak pernah menyerah atas keselamatanku dan karena itu Allah
melihat hatiku dan menjawab doa yang dilantunkan jiwa dalam percobaan bunuh
diri di seminari.
Aku melihat bahwa
keseluruhan perjalanan batinku adalah bagian dari Rencana Agung Allah, untuk
bekerjasama denganku untuk mewujudkan kehendak-Nya. Tahap pertama dalam
perjalanan batin ini, yang tertulis dalam buku ini, adalah pemurnian diri. Aku hendak
dimurnikan dari segala kegelapan jiwa yang entah datang dari mana, dan sekarang
aku dapat mengatakan bahwa aku sudah cukup dimurnikan sehingga aku mampu
memperoleh pencerahan Ilahi dari Allah. Aku sejujurnya tidak tahu apa persisnya
rencana Allah bagiku di masa yang akan datang, selain dari tugas setiap manusia
untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan juga menyelamatkan sesamanya.
Pada bagian akhir
refleksi ini aku ingin merefleksikan tentang iman dan kehendak manusia.
Sesungguhnya, upaya manusia dalam jumlah apapun itu sia-sia, karena tidak akan
pernah dapat menjangkau yang Ilahi. Maka, upaya manusia hanya berguna dan
berbuah saat didasarkan oleh Allah. Dalam keselamatannya, tidak ada kontribusi
apapun yang berarti dari manusia kecuali satu jawaban manusia terhadap tawaran
Allah akan keselamatan, yaitu jawaban “ya”. Satu-satunya hal yang dapat dan
harus kita lakukan adalah menerima keselamatan Ilahi, dan berproses bersama
Allah sampai titik balik kehidupan, yaitu penglihatan Ilahi yang pertama, atau pengecapan
surga, terjadi.
Jawaban “Ya” ini, dan
penyerahan diri secara mutlak yang menyertainya adalah Iman. Dengan Iman itulah
segala hal lain menjadi mungkin dan bermakna, Segala karya baik, upaya manusia,
dan ketaatan kepada Allah secara berarti lahir dari Iman. Selama Iman itu belum
diperoleh atau Kerajaan Allah belum diperoleh, maka kita akan selamanya
terpenjara dalam dosa dan pertobatan mustahil. Tanpa Allah, perubahan hidup
yang radikal dan membaharui itu mustahil. Karena itu Yesus Kristus bersabda dalam
Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Demikianlah refleksiku atas perjalanan batin
ini.
Wahyu Pribadi
Pembukaan
Sebagai pembuka dari bab
ini, aku hendak menjelaskan apa yang aku maksud dengan “wahyu pribadi” dan
perbedaannya dengan “wahyu publik”. Wahyu pribadi adalah wahyu Ilahi yang
diturunkan kepada seorang manusia secara pribadi untuk manusia yang
menerima wahyu itu. Berbagai macam perwahyuan yang diterima oleh para orang
kudus tergolong wahyu pribadi, karena berlaku hanya untuk yang menerima wahyu
tersebut. Di lain pihak, wahyu publik adalah wahyu Ilahi yang diberikan melalui
perantaraan orang-orang tertentu untuk dibagikan kepada umat beriman. Wahyu
publik harus diterima oleh umat, sementara wahyu pribadi tidak harus diterima,
sekalipun sudah diterima oleh Gereja.
Berikutnya aku hendak
menjelaskan wahyu semacam apa yang aku terima dari Allah. Sebenarnya bukan
wahyu yang “baru”, karena Gereja dengan tegas menyatakan bahwa wahyu pribadi
tidak dapat mengoreksi atau menambahkan ke perbendaharaan iman yang kita miliki
dari wahyu publik. Sebab dengan kedatangan Yesus Kristus, kepenuhan wahyu Ilahi
telah tercapai, karena Yesus sendiri adalah kepenuhan wahyu itu. Allah telah
menyatakan segala hal yang hendak Dia nyatakan kepada kita dalam Yesus Kristus.
Segala “wahyu” berikutnya hanya memperjelas atau menegaskan yang sudah datang
sebelumnya.
Namun maksudku wahyu
yang aku terima bahkan tidak memiliki unsur membuat yang implisit menjadi
eksplisit. Wahyu yang aku terima benar-benar hanya penjelasan dari unsur-unsur
wahyu publik yang awalnya tidak aku pahami dengan baik. Jadi wahyu pribadi ini
sebenarnya diperuntukkan untuk diriku, pada awalnya, tapi dalam perkembangan
waktu aku melihat dan oleh dorongan Roh Kudus, bahwa ada baiknya aku membuka
penjelasan ini demi kebaikan orang banyak. Karena aku ini manusia yang
terbatas, ada kemungkinan aku akan menafsirkan wahyu Ilahi dengan tidak tepat,
maka jika terjadi ketidaktepatan, biarlah Gereja Katolik membenarkan aku.
Allah Maha Esa
Apakah Allah itu?
Siapakah Allah itu? Allah tidak lain dan tidak bukan adalah Kenyataan Tunggal
yang Ilahi. Dalam kata lain, Allah adalah Kenyataan itu sendiri, tapi karena
suatu alasan ini bukan panteisme. Mengapa seperti itu? Sebab sepahamku,
panteisme menyatakan bahwa Allah adalah Kenyataan secara “mentah”. Namun dalam
monoteisme, Allah adalah Kesatuan Kenyataan secara tak terpisahkan,
itulah Allah. Karena itu Allah memiliki satu sifat penting, yaitu kesederhanaan.
Kesederhanaan Ilahi artinya Allah tidak terbagi dan terdiri hanya dari satu
Substansi atau “Zat” tunggal.
Namun sifat atau
atribut Ilahi yang paling penting adalah ketidakterbatasan, artinya Allah tidak
memiliki batas, dan jika benar Dia memiliki batas, batas itu adalah
ketidakterbatasan itu sendiri. Sebab dari Ketidakterbatasan Ilahi segala
atribut lain dari Allah dapat dipahami. Pertama, Allah sebagai Kenyataan,
artinya Allah adalah Kesatuan seluruh Keberadaan secara Sederhana dan Tidak
Terbatas. Kalau Allah Tidak Terbatas, maka secara logis Allah adalah Kenyataan
yang Tidak Terbatas itu sendiri.
Sebelum melanjutkan
barangkali ada yang harus diperjelas. Apa itu Kenyataan? Kenyataan adalah
kumpulan seluruh Keberadaan. Apakah itu Keberadaan? Nah, sekarang baru
pertanyaan itu tidak dapat dijawab. Sebab Allah adalah Keberadaan itu sendiri,
jadi kita harus paham secara langsung dan itu tidak dapat dijelaskan. Maka ada
perkataan bahwa Allah tidak dapat dipahami oleh manusia dan karena itu Allah
juga tidak dapat dijelaskan oleh manusia. Sebenarnya dapat dijelaskan dan dapat
dipahami, tapi semuanya menggunakan penjelasan relatif terhadap pengalaman dan
dunia kita sendiri, padahal Kenyataan Ilahi adalah Kenyataan yang sama sekali
berbeda dari kenyataan kita sendiri.
Kedua, Allah adalah
Esa. Ketidakterbatasan Ilahi hanya ada satu, hanya ada satu Ketidakterbatasan
karena Ketidakterbatasan sama dengan istilah “Semua”, hanya ada satu Semua,
tidak ada 2 semua, 3 semua, 4 semua, atau semua-semua lainnya. Maka, Allah
harus Esa atau Tunggal. Ini adalah prinsip dasar dari monoteisme, yaitu
Ketuhanan yang Maha Esa. Namun kita memahami bahwa Keesaan Allah berasal dari
Ketidakterbatasan-Nya atau sifat Allah sebagai Kenyataan yang Tidak Terbatas.
Ketiga, Allah tidak
berubah. Ketidakterbatasan tidak dapat berubah karena sudah mencakup semuanya
atau seluruhnya. Perubahan terjadi karena suatu benda bukan seluruhnya, jadi
dia harus bertambah atau berkurang sehingga memperoleh atau kehilangan suatu
kenyataan. Sementara Ketidakterbasan yang Sejati, yang kita kenal dengan
istilah “Allah” tidak dapat “bergerak” dari yang satu ke yang lain. Karena
perubahan adalah sifat dari benda-benda yang terbatas. Kalau suatu
Ketidakterbatasan dapat berubah, artinya ada kenyataan yang belum termasuk di
dalam Ketidakterbatasan itu, dan artinya itu bukan Ketidakterbatasan dalam
makna sesungguhnya.
Barangkali ada
pertanyaan, bagaimana kita tahu jika Ketidakterbatasan itu sungguh nyata?
Jawabannya adalah kita dapat memikirkan tentang Ketidakterbatasan. Pikiran pada
dasarnya adalah pengalaman tingkat rendah dari suatu kenyataan yang lebih
tinggi dari pikiran itu sendiri. Jadi jika kita dapat berpikir tentang
Ketidakterbatasan, maka haruslah Ketidakterbatasan itu ada. Suatu hal yang
sungguh tidak ada tidak mungkin dapat dipikirkan apalagi mempengaruhi segenap
sejarah kemanusiaan. Jadi bahwa kita dapat berpikir tentang Allah sebagai
Ketidakterbatasan sudah membuktikan bahwa ada Allah yang Tidak Terbatas.
Allah Tritunggal
Dalam iman Kristiani,
Allah hadir sebagai Tritunggal Mahakudus, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Dalam agama-agama lain barangkali ada ajaran yang mirip, tapi menurutku hanya
iman Kristiani yang secara eksplisit bahwa Kenyataan Tertinggi hadir sebagai Tritunggal.
Bagaimana kita dapat memahami Tritunggal ini? Ada 2 penjelasan dari Tritunggal,
penjelasan metafisik dan penjelasan etis. Aku akan memulai dari penjelasan
metafisik dulu karena penjelasan itu belum pernah aku temui dalam sejarah
hidupku, jadi barangkali aku sendiri yang pertama kali menemukan penjelasan
ini.
Untuk mencapai
pemahaman tentang Allah sebagai Tritunggal, kita harus memulai dari nol. Kita
memiliki pengalaman dan keberadaan, yang seringkali kita bedakan, tapi apakah
sungguh terpisah? Mari kita ambil argumen dari kematian. Menurut ateis dan
materialis, kalau kita mati kesadaran kita akan hancur bersama tubuh dan karena
itu tidak ada pengalaman. Namun mari kita pahami, apakah ketiadaan pengalaman
itu mungkin? Kalau ya, seperti apakah ketiadaan pengalaman itu? Umumnya kita
akan mendapat jawaban bahwa ketiadaan pengalaman tidak seperti apa-apa karena
tidak ada pengalaman sama sekali di tempat pertama. Masalahnya adalah tanpa
pengalaman tidak ada waktu atau apapun juga sehingga ketiadaan pengalaman itu
secara efektif juga tidak ada.
Ada 2 alternatif lain,
yaitu ketiadaan pengalaman secara relatif dan ketiadaan pengalaman secara
mutlak. Ketiadaan pengalaman relatif artinya kita mengalami kekosongan dari
benda-benda umum. Artinya adalah kegelapan, keheningan, dan seterusnya. Namun
itu pun adalah pengalaman yang spesifik juga. Jadi apa yang terjadi kalau kita
meniadakan pengalaman itu dan pengalaman yang biasa? Kita akan menemui suatu
pengalaman yang sama sekali baru yang berdasarkan logika hanya berupa satu hal,
kesatuan kedua pengalaman di awal, dan itulah kenyataan Ilahi. Jadi dari sini
kita mengetahui bahwa Keberadaan dan Pengalaman adalah satu, dan pertemuan
keduanya adalah Kesadaran.
Maka Tritunggal pada
tingkat metafisik adalah kesatuan dari 3 Kenyataan Mutlak, yaitu Keberadaan,
Kesadaran, dan Pengalaman. Setiap Kenyataan Ilahi ini berbeda, tapi memiliki
satu kodrat yang sama, yaitu Allah. Keberadaan dapat dikaitkan dengan Allah
Bapa, Kesadaran dapat dikaitkan dengan Allah Putra, dan Pengalaman dapat
dikaitkan dengan Allah Roh Kudus. Ketiga Pribadi Tritunggal memiliki suatu
perbedaan di antara “mereka”, tapi tersatukan dalam satu kodrat yaitu kodrat
Ilahi. Maka Allah bukanlah suatu kenyataan partikuler, melainkan adalah
kenyataan umum atau suatu kodrat, yang di dalam-Nya adalah 3 Pribadi Ilahi yang
Partikuler.
Namun Tritunggal
Metafisik tidak begitu menegaskan bahwa ada 3 Pusat Kesadaran, melainkan adalah
pembagian atribut Ilahi menurut kesadaran manusia yang analitik. Tritunggal
justru membuat Allah lebih mudah dipahami, tanpa Tritunggal Allah akan sangat
sulit dipahami karena tidak ada perbandingan yang sepantasnya tentang apa itu
Allah. Oleh sebab itu, Tritunggal juga dapat dipahami sebagai 3 cara Allah
mewahyukan diri-Nya kepada manusia, yaitu sebagai Roh Kudus, sebagai Putra, dan
sebagai Bapa. Dalam perspektif ini, Tritunggal adalah hasil dari persepsi
manusia yang terbatas akan Allah, dan bukan Kenyataan Ilahi yang sejati.
Penjelasan kedua
adalah penjelasan yang sering aku dengar dari pengajaran Gereja. Tritunggal
adalah Tritunggal Kasih, bahwa Allah mengasihi, Allah dikasihi, dan Kasih yang
mempersatukan Allah yang mengasihi dan Allah yang dikasihi. Hal ini lebih
menegaskan bahwa ada 3 Pribadi Ilahi, tapi itu juga “dihasilkan” dari perbedaan
perspektif Ilahi. Ada Pribadi Ilahi yang perspektif-Nya adalah memberikan
Kasih, ada Pribadi Ilahi yang perspektif-Nya adalah menerima Kasih, dan ada
pribadi Ilahi yang perspektif-Nya adalah Kasih yang ditukarkan antara kedua
pribadi Ilahi pertama.
Kalau dibandingkan
dengan istilah Kristiani, Allah yang mengasihi adalah Bapa, Allah yang dikasihi
adalah Putra, dan Allah yang adalah Kasih adalah Roh Kudus. Sebenarnya masih
ada banyak penjelasan tentang Tritunggal karena pada dasarnya Tritunggal adalah
Misteri Ilahi, dan karena itu tidak ada satu penjelasan yang dapat menjelaskan
Tritunggal sepenuhnya. Namun menurutku penjelasan yang paling menjelaskan
Tritunggal adalah Tritunggal Metafisik. Alasannya karena biasku karena itu
pemahaman asliku tentang Allah Tritunggal, tapi juga karena itu menjelaskan
esensi Ilahi secara “sendiri”, tanpa harus direlasikan dengan dunia kita
sendiri atau pengalaman kita sendiri.
Penjelasan terakhir
untuk menutup bagian ini diadaptasikan dari dialektika Hegel. Namun aku tidak
pernah membaca karya Hegel, aku hanya membaca sekilas dari artikel-artikel yang
sudah aku lupakan dari mana. Dialektika menyatakan kenyataan terbagi menjadi
Tritunggal, yaitu tesis, antitesis, dan sintesis. Barangkali Allah Tritunggal
dapat dinyatakan seperti itu pula, dari Bapa dihasilkan Putra yang Kedua-Nya
menghasilkan Roh Kudus. Artinya tesis menghasilkan antitesis dan persatuan
keduanya menghasilkan sintesis. Allah Bapa adalah tesis, Allah Putra adalah
antitesis, dan Allah Roh Kudus adalah sintesis. Demikian penjelasan tentang
Allah Tritunggal.
Allah dan Ciptaan
Hubungan antara Allah
dan Ciptaan adalah hubungan yang seringkali kurang dipahami oleh orang
kebanyakan. Penciptaan dikira sebagai suatu kejadian di mana ada waktu sebelum
penciptaan dan ada waktu setelah penciptaan, padahal waktu sebagai fenomena
keterbatasan juga adalah ciptaan. Maka penciptaan sebagai suatu tindakan Allah
adalah peristiwa yang terjadi di luar waktu dan karena itu terjadi secara
kekal. Allah menciptakan setiap saat, karena bagi Allah hanya ada satu titik
waktu dan pada titik waktu tersebut Allah melaksanakan segala hal yang Dia
laksanakan.
Maka kita tidak boleh
membayangkan relasi Allah dan ciptaan sebagai relasi antara manusia dan ciptaan
manusiawi, di mana kita mengumpulkan barang-barang lalu membentuk barang-barang
yang baru dari bahan-bahan tersebut. Allah tidak menggunakan bahan apapun,
selain “diri-Nya sendiri”, sehingga muncul istilah creatio ex nihilo.
Nihilo atau ketiadaan yang dimaksud sungguh adalah ketiadaan mutlak, yaitu Allah
sendiri. Maka pada awalnya, hanya ada Allah, dan dari dalam Allah timbul suatu
semesta atau dunia, atau lebih tepatnya sejumlah dunia yang tak terbatas dan
salah satunya adalah semesta kita.
Namun agak mustahil
untuk membayangkan bahwa waktu itu adalah suatu “ketidakkekalan” di antara
kekekalan yang Ilahi. Itu tetap akan tampak sebagai waktu linier di antara 2
kekekalan Ilahi, jadi ada satu garis waktu yang kekal, di sisi kiri ada Allah
sebagai Waktu Kekal dan di sisi kanan juga ada Allah. Maka di antara kedua
kekekalan itu adalah waktu linier dan berurutan yang tidak kekal itu. Jadi di
dalam Allah tetap ada “waktu” sebagai keberlangsungan keberadaan dan kenyataan
Ilahi, tapi sifatnya sangat jauh berbeda dari waktu yang kita kenal. Jadi
bagaimana relasi antara Allah dan ciptaan, bagaimana penciptaan yang
sesungguhnya?
Relasi penciptaan
adalah relasi kebergantungan antara ciptaan dan Allah, di mana ciptaan
sepenuhnya bergantung kepada Allah. Sebab alasan satu-satunya kita ada dan
tetap ada adalah karena Allah memandang baik bahwa kita tetap ada dan karena
itu Dia menghendaki kita untuk tetap ada. Kalau Allah berfirman, mungkin saja
dunia ini langsung lenyap sampai hanya ada Allah lagi. Namun relasi antara
Allah dan ciptaan lebih menarik lagi dari itu, karena kita akan mendalami bahwa
sesungguhnya di dalam Allah ciptaan itu tidak dapat dihancurkan dan tidak dapat
diciptakan.
Relasi penciptaan
hanyalah satu dari berbagai relasi antara ciptaan dan Allah, yang dapat juga
dikatakan sebagai relasi kausatif. Artinya ciptaan adalah akibat dan Sebabnya
adalah Allah secara mutlak dan tunggal. Kita harus ingat penjabaran dalam
bagian Allah Maha Esa, bahwa Allah adalah Kenyataan itu sendiri. Maka, Allah
adalah Kesatuan Kenyataan yang Tidak Terbatas. Kalau begitu, ciptaan sebenarnya
adalah “bagian” dari Allah. Ini masuk akal karena kalau kita berkata bahwa
Allah adalah Ketidakterbatasan, maka sesungguhnya di dalam Allah juga ada
seluruh ciptaan dan bahkan lebih dari yang kita ketahui.
Maka, ciptaan hanyalah
suatu “ilusi” atau keterbatasan yang tercipta dalam tindakan penciptaan.
Sebenarnya kalau kita cukup jeli, ciptaan adalah fenomena dari kesadaran yang
terbatas. Kesadaran yang terbatas adalah ciptaan sesungguhnya dari Allah,
keberadaan dan pengalaman yang terbatas mengikuti dari keterbatasan kesadaran.
Allah merancang kesadaran-kesadaran yang terbatas sehingga semuanya membentuk
suatu koherensi yang kita kenal sebagai semesta yang sekarang kita tinggali
sekarang dan juga berbagai semesta lain yang kita kenal dan yang tidak kita
kenal.
Berikutnya kita dapat
memahami bahwa relasi Allah dan ciptaan adalah relasi antara suatu hal yang
umum dan suatu hal yang spesifik. Allah adalah Kodrat Murni, atau Esensi Murni
dari segala hal yang ada, sementara seluruh ciptaan adalah hal spesifik dari
Allah, dalam kata lain manifestasi Ilahi. Sebab, kalau kita mengingat
Tritunggal Metafisik, atau yang dapat dikenal juga sebagai Tritunggal
Primordial, kita akan melihat bahwa segala ciptaan hanyalah turunan atau
manifestasi dari Tritunggal Primordial, sehingga kita beroleh tritunggal
ciptaan.
Maka Kesatuan Ciptaan
tidak berbeda dengan Sang Pencipta itu sendiri karena memang itu adalah
definisi dari Sang Ilahi. Konsekuensinya adalah saat keterbatasan diangkat,
segala ciptaan itu mewarisi sifat-sifat Allah, yaitu kekekalan. Maka ciptaan
hanya menjadi tidak kekal atau menjadi bukan Allah saat keterbatasan
diperkenalkan kepada kenyataan. Sehingga kita dapat berkata bahwa di luar Allah
tidak ada yang kekal, tapi di dalam Allah segalanya kekal. Begitulah kira-kira
penjelasan tentang hubungan antara Allah dan Ciptaan.
Allah adalah Kasih
Allah bersabda melalui
1 Yohanes 4:8 bahwa “Allah adalah Kasih”. Hal ini dinyatakan pula oleh Allah
kepadaku sejak beberapa waktu yang lama, bahkan sebelum pencerahan Ilahi, tapi
memang kenyataan penuhnya baru dinyatakan kepadaku setelah pencerahan Ilahi.
Sesungguhnya ini adalah kenyataan Ilahi yang paling sulit untuk dijelaskan
secara filosofis, tapi pada saat yang sama menjadi salah satu kenyataan yang
paling penting untuk kita pahami dari Allah. Karena ini menjelaskan mengapa
terjadi penciptaan atau kenapa ada keterbatasan itu pada tempat yang pertama.
Kita dapat berkata
bahwa Allah adalah Kasih karena Allah adalah Kesatuan Kenyataan, sehingga Dia
pasti adalah Kasih, apapun Kasih itu. Namun kita harus memahami makna Kasih
supaya kita dapat memahami kepenuhan perkataan tersebut. Kasih pada dasarnya
adalah penerimaan dan Kehendak Baik. Pada saat kita menerima suatu hal dan kita
menghendaki yang baik dan bertindak yang baik bagi hal tersebut, maka itulah
Kasih. Maka barangkali Kasih dapat dikatakan sebagai suatu orientasi diri atau
disposisi batin. Namun sebenarnya itu tidak begitu penting, karena bagaimana
mungkin kita mengasihi Allah yang sudah sempurna? Maka Kasih itu di satu sisi
kontekstual, tapi di lain pihak bersifat mutlak dan mengikat.
Hal yang penting
adalah memahami bahwa Kasih adalah satu-satunya jalan menuju Kebaikan, dan
adalah Kebaikan itu sendiri. Jika kita berkata bahwa Allah adalah Kasih,
artinya Allah adalah Kebaikan itu sendiri. Sebab Allah adalah
Ketidakterbatasan, maka dalam itu pastilah ada Kebaikan yang Tidak Terbatas.
Mengapa bukan Kejahatan yang Tidak Terbatas? Kalau kita pahami, sesungguhnya
Kejahatan selalu merupakan suatu keterbatasan dan dihasilkan dari pemahaman
akan kenyataan yang tidak tepat. Dalam kata lain, jika seorang memahami
Kenyataan dengan cukup baik, yang timbul pastilah Kebaikan dan Kasih. Karena
itu Allah adalah Kebaikan dan Kasih.
Konsekuensi dari sifat
Allah sebagai Kasih adalah Penciptaan itu sendiri. Jadi Allah menciptakan dunia
sebagai konsekuensi dari Kasih-Nya yang Tak Terbatas. Dengan itu kita dapat
menyimpulkan bahwa penciptaan adalah keharusan karena Kodrat Ilahi mengharuskan
terjadinya Penciptaan, hal yang tidak harus adalah isi dari Penciptaan itu
sendiri. Mengapa dunia kita seperti ini dengan berbagai macam tragedi dan
kesengsaraannya barangkali adalah misteri dan rahasia Ilahi. Hal yang penting
adalah bahwa Penciptaan itu harus terjadi karena adalah manifestasi atau
perwujudan dari Kasih Allah yang Tak Terbatas.
Yesus Kristus, Sungguh Allah Sungguh Manusia
Aku pernah membaca
buku yang menyangkal keilahian Yesus. Namun itu sudah tidak penting, hal yang
penting adalah bagaimana aku dapat memahami bahwa Yesus sungguh Allah sungguh
Manusia pada saat yang sama. Dalam bagian ini aku tidak hendak membuktikan
konsep ini, melainkan hanya menjelaskan pemahamanku tentang konsep ini.
Pertama, Yesus tidak mungkin adalah manusia dan Allah dalam segala aspek, pasti
ada aspek di mana Dia adalah manusia dan ada aspek di mana Dia adalah Allah.
Hal ini tampak jelas
dalam kisah Injil, di mana Yesus entah “dikoreksi” dalam kisah perkawinan di
Kana, atau saat Yesus tidak mengetahui kapan akhir dunia akan terjadi, atau
saat Yesus memanggil orang-orang bukan Yahudi sebagai anjing. Artinya
pengetahuan dan kesadaran Yesus adalah kesadaran yang sangat manusiawi, Dia
adalah manusia sesungguhnya dan manusia sejati. Dia mengalami segala bentuk
keterbatasan, lalu apa yang membuat Yesus Ilahi? Menurutku, hal yang membuat
Yesus Ilahi adalah Kasih-Nya. Dia memiliki Kasih Allah dan itu menjadi bukti
utama bahwa Yesus adalah Allah, bahkan melampaui segala mukjizat atau
pengajaran-Nya. Karena Yesus adalah Allah, Dia tidak mungkin berdosa, tapi
sesungguhnya Dia memiliki kuasa untuk berdosa karena Dia adalah manusia.
Sebenarnya mungkin
saja Yesus meninggalkan tugas-Nya di Getsemani, dan menjadi mesias yang
didambakan oleh orang Yahudi dengan menghancurkan Roma dan menjadi “raja”
(baca: diktator) di atas seluruh umat manusia, karena Dia adalah Allah Dia
sangat mampu melakukan itu. Namun Dia sudah menentang godaan setan di padang
gurun, dan kali ini Dia kembali menentang godaan itu. Sebab Dia begitu
mengasihi anak-anak-Nya, yaitu kita umat manusia, yang juga telah menjadi
saudara-saudara-Nya, sehingga Dia tahu bahwa ada yang lebih baik, mulia, dan
penting daripada memenuhi ekspektasi umat manusia. Maka apa yang membuktikan
keilahian Kristus secara ironis bukanlah kehidupan-Nya, melainkan kematian-Nya
dan kerelaan-Nya untuk mati di kayu salib.
Gereja Partikuler dan Gereja Universal
Yesus mendirikan suatu
Gereja, yaitu Gereja Katolik, yang adalah persekutuan umat beriman dan pengikut
Kristus. Namun dalam pikiranku pemahaman Gerejawi dapat diperluas untuk
menegaskan rencana Kasih Allah. Ada Gereja partikuler dan ada Gereja Universal.
Gereja Partikuler adalah Gereja Katolik, yang saat ini dipimpin oleh penerus
Rasul Petrus yaitu Paus, yang saat ini jabatannya dipegang oleh Paus
Fransiskus. Namun kita tahu bahwa seseorang tidak harus menjadi anggota Gereja
Katolik untuk diselamatkan, walaupun itu adalah cara yang paling aman untuk memperoleh
keselamatan.
Maka kalau Gereja
Universal berarti persekutuan setiap manusia yang akan diselamatkan oleh Allah,
maka sesungguhnya Gereja Universal melampaui batas-batas Gereja Katolik ataupun
Kekristenan itu sendiri. Sebab siapapun yang mengikuti hukum kodrati atau natural
law, dengan jujur mencari kebenaran dan Allah, dan secara tidak bersalah
tidak mengenal Kristus, dapat diselamatkan oleh Allah melalui cara-cara yang
hanya diketahui Allah. Dengan itu kelompok orang seperti itu sebenarnya adalah
saudara seperjalanan, mereka hanya belum mengenal Kristus dan harapannya adalah
akan mengenal Kristus sebagai buah perjuangan mereka setelah meninggal.
Gereja Katolik
Bagian terakhir adalah
penjelasan singkatku tentang mengapa Gereja Katolik adalah Gereja yang aku
pilih untuk aku tinggali, dan kenapa bukan Gereja Ortodoks atau Gereja
non-Katolik lainnya. Antara Katolik dan Ortodoks sebenarnya hanyalah masalah filioque,
karena aku berpikir bahwa filioque lebih masuk akal apalagi di dalam
perspektif dialektika. Namun antara Katolik dan Protestan, alasannya adalah
Gereja Katolik memahami bahwa wahyu Ilahi melampaui Kitab Suci. Ajaran sola
scriptura adalah ajaran yang menentang dirinya sendiri, karena Kitab Suci
jelas-jelas menyatakan bahwa kita harus berpegang pada ajaran yang tidak
tertulis juga, yaitu Tradisi Suci. Maka Kitab Suci itu penting, tapi bukan
segalanya, karena wahyu yang paling murni sudah melampaui segala konsepsi atau
pengetahuan manusia. Dengan itu selesailah sudah penjabaranku akan wahyu pribadi
yang aku terima dari Allah.
Masa Depan
Bab ini adalah bab
yang singkat yang berisi tentang impianku untuk masa depan. Tentu aku tidak
mengharapkan bahwa dalam kehidupanku semua masalah dunia akan selesai dan dunia
memasuki era damai atau zaman keemasan, walau pastinya akan sangat
membahagiakan kalau aku dapat melaksanakan segala hal itu. Hal yang aku
harapkan adalah supaya aku dapat melandaskan dasar-dasar dari era damai itu
dalam kehidupanku ini, sehingga benih itu dapat bertumbuh menjadi buah yang
amat berguna bagi kebahagiaan, kebaikan, dan keselamatan orang banyak.
Hal pertama yang ingin
aku upayakan adalah Gereja. Pada awalnya aku membayangkan adanya suatu
Persatuan Filsafat Global yang menjadi organisasi yang bertugas untuk
menyelesaikan segenap masalah dunia. Namun saat aku melihat dan kembali pada
Gereja, aku menyadari bukankah Gereja hadir di bumi untuk menghadirkan Kerajaan
Allah di bumi dan memimpin umat manusia kepada keselamatan? Maka aku mengubah
pikiranku dan aku pikir yang paling baik adalah membaharui Gereja supaya Gereja
lebih tanggap pada segala permasalahan dunia dan mampu menyelesaikan
permasalahan dunia. Sebab marilah kita akui bahwa segala ketidakadilan di dunia
ini adalah batu sandungan bagi setiap manusia.
Hal kedua yang ingin
aku upayakan masih berkaitan dengan Gereja, yaitu Kesatuan Gereja dan seluruh
pengikat Kristus. Sebab inilah kehendak Kristus dan doa Kristus bagi kita semua
pengikut-Nya, yang tercatat dalam Yohanes 17:20-21 yang berbunyi, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk
orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka
semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku
dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya,
bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Perpecahan Gereja yang terjadi sekarang diizinkan, tapi bukanlah
kehendak Allah, maka menjadi suatu tugas pribadi untuk mengupayakan dan jika
aku tidak berhasil mempersatukan semua umat Kristiani di bawah nama Gereja yang
Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, setidaknya melandaskan benih ekumenisme
supaya kelak saat Yesus sudah datang, Dia menjumpai Gereja yang Satu, yang siap
menyambut-Nya.
Hal ketiga dan yang
terakhir, dalam jangka waktu yang paling panjang adalah keselamatan setiap
jiwa. Aku tahu bahwa hal ini bertentangan dengan ajaran Gereja bahwa tidak
semua orang akan diselamatkan. Namun hal ini selalu menjadi ganjalan dan sumber
kepedihan tersendiri dalam hatiku. Bagaimana mungkin Allah membiarkan
sekelompok manusia yang besar untuk memilih jalur kehancuran? Aku berpikir ada
misteri yang lebih mendalam yang tidak kita ketahui. Maka aku akan bekerja
dengan segenap diriku untuk mengantar setiap manusia, baik yang hidup atau yang
sudah mati, kembali kepada Allah melalui Yesus Kristus.
Ketiga tujuan itu aku
akui masih sangat abstrak, karena jujur aku tidak tahu detilnya, hanya Allah
yang tahu. Semua tujuan dan tugas itu aku terima oleh Allah, tapi tidak lagi
hanya sebagai pelaksanaan tugas, tapi karena aku sungguh merindukan Kerajaan
Allah. Semua tugas ini menjadi keinginan dan kerinduan personal yang mendalam,
supaya setiap manusia dan setiap roh dan setiap makhluk dan setiap ciptaan
dapat dipersatukan kembali dengan Sang Pencipta, supaya neraka dikosongkan,
rasanya aku tidak dapat membuang harapan itu begitu saja. Maka aku hidup hanya
untuk Allah dan hanya oleh Rahmat Kasih-Nya yang Tak Terbatas.
Bab 2
Catatan 1 - 4 April 2022
Aku merasakan bahwa
ini adalah suatu tragedi bahwa aku hidup dengan kondisi batin serusak seperti
yang saat ini. Di satu sisi aku memandang bahwa hal ini harusnya begitu mudah
untuk diubah, tapi di sisi lain aku sulit sekali untuk mengubahnya. Semuanya
terlihat begitu sederhana, tapi juga begitu rumit. Aku hendak menceritakan
kondisi yang membelenggu aku. Aku kehilangan segala ketertarikan yang mendalam,
selain dari nafsu jasmani seperti makanan dan seks. Hal-hal itu pun tidak
konsisten, dan hanya ada ketertarikan binatang, bukan ketertarikan yang
manusiawi.
Pada awalnya aku
tertarik dengan Allah, tapi sekarang aku merasa aku kehilangan Dia. Aku tidak
merasa begitu sedih, hanya merasa suatu kekosongan. Sebab, Allah memintaku
untuk mengerjakan pekerjaan magang, tapi hatiku sudah berbalik, dan perkataan
itu malah menyulut amarah dan benci di dalam hatiku terhadap Allah, dunia, dan
diriku sendiri. Secara perlahan imanku luntur, dan saat ini aku tidak dapat
mendengarkan suara Allah. Aku merasa tidak tertarik dan tidak mampu untuk
berdoa dengan mendalam atau dengan khusyuk kembali.
Aku hanya
menggantungkan diriku kepada harapan tipis bahwa kelak Allah akan kembali lagi
dan menyelamatkan aku. Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku tuliskan pada
tengah malam ini, tapi aku tidak ingat. Aku ingin mengungkapkan bahwa aku
begitu tercerai dari dunia “nyata” dan tenggelam dalam kelekatanku dengan Allah
Bapa. Namun sekarang itu pun dilarutkan dan aku hadir di dalam suatu kegelapan
sehingga aku tidak dapat mengarahkan hatiku kepada-Nya dengan baik lagi. Dia
diam, Dia hening, tidak ada suara dari-Nya sama sekali. Aku merasa enggan
berdoa, enggan membaca Kitab Suci.
Catatan 2 - 6 April 2022
Aku membenci dunia.
Aku tidak merasakannya saat ini, tapi jiwaku telah memutuskan untuk menceraikan
dirinya dari dunia material yang diciptakan Allah, dan bersatu dengan Allah
saja. Hal ini terbukti dan terlihat saat aku menghadap dokter. Aku marah pada
dunia yang berdosa sehingga ada penderitaan yang seharusnya tidak pernah ada. Karena
aku adalah pendosa, aku pun turut marah kepada diriku sendiri. Aku tidak peduli
aku tinggal di dalam dunia atau tidak, karena rumahku bukan dunia ini melainkan
Allah saja.
Aku benci akan segala
pekerjaan duniawi yang tidak ada kaitannya dengan Allah secara langsung. Semuanya
itu tidak bermakna, hanya pelayanan kepada mammon saja. Dunia sudah dibutakan
untuk tunduk pada kepentingan jasmani saja, dan bukan pada kepentingan rohani.
2000 tahun proklamasi Kitab Suci dan Injil tidak didengar dan hanya berupa
tontonan saja. Hasilnya adalah suatu kejijikkan yang aku namakan “dosa
sistemik”. Dosa sistemik adalah kejijikkan yang menjangkit mayoritas tatanan
sosial dunia.
Ada amarah yang luar
biasa di dalam diriku terhadap segala dosa ini. Betapa mendalam hasratku untuk
jika aku mampu, mengangkat pedang Kristus dan menghantamkannya kepada kapitalisme
yang menjijikkan itu dan segala dosa manusia sehingga hanya kesalehan sejati
dalam Kristus yang tersisa. Kalau suatu pekerjaan hanya untuk menghasilkan
uang, dan bukan untuk melayani Allah dan sesama, aku tidak mau. Syukurnya
setiap pekerjaan memiliki karakter melayani, tapi terkadang pelayanan itu pun
sudah salah sasaran, karena manusia dibutakan dengan “kebutuhan-kebutuhan” yang
tidak berguna.
Aku mau bekerja, asal
pekerjaan itu berkaitan dengan Allah, berasal dari Allah, dan demi Allah saja. Aku
tidak mau bekerja bagi dunia saja, kalau perlu aku hendak bekerja melawan
dunia. Namun apakah itu sungguh akar dari segalanya? Apakah alasan aku menjauhi
magang adalah karena aku membenci dunia, atau karena aku membenci magang itu
sendiri. Karena aku merasa sudah lelah dengan magang dan tidak dapat
menopangnya kembali? Atau karena ide “kerja” itu sendiri melelahkan aku dan aku
merasa tidak ditopang Allah dalam bekerja, tidak merasakan kehadiran Allah
dalam bekerja?
Apa yang sesungguhnya
terjadi? Aku tidak tahu, aku tidak tahu sama sekali. Tuhan tolonglah aku. Tuhan,
Engkau tahu segala hal berkaitan dengan diriku, mengapa Kau tidak menyatakannya
kepadaku? Nyatakanlah, ya Tuhan, mengapa aku menjauhi magang dengan api
semangat yang begitu menggelora, mengapa aku memusuhinya dengan berbagai macam
alasan. Ya Tuhan, aku merasa bahwa penyerahanku kepada magang adalah kunci dari
perkembangan rohaniku. Namun aku tidak kuat Tuhan, aku benar-benar tidak kuat. Tolonglah
aku ya Bapa, tolonglah aku sampai pada kesudahannya.
Catatan 3 - 7 April 2022
Kelanjutan dari
Perjalanan Batin Ignas. Beberapa waktu yang lalu aku menuliskan suatu tulisan
sepanjang 25 halaman yang berjudul “Perjalanan Batin Ignas.” Pada saat itu aku
mengira bahwa aku sudah mencapai titik stabil dan kegelapan tidak akan melanda
diriku lagi. Ternyata aku salah, sangat salah. Aku tidak tahu kenapa aku dapat
berpikir bahwa aku sudah mencapai stabilitas, padahal stabilitas sejati hanya
terjadi saat kita sudah menghadap Allah di surga. Selama kita di bumi, kita akan
selamanya diombang-ambingkan oleh ombak dan badai kehidupan. Maka catatan ini
mencatat kelanjutan pengalamanku setelah akhir Januari, sampai saat ini tanggal
7 April 2022.
Beberapa waktu setelah
selesainya PBI, cahaya yang ada di dalam diriku seperti habis dan aku jatuh ke
dalam kegelapan kembali. Aku meluangkan suatu waktu yang lama tidur di kamarku
dan tidak melakukan apa-apa, termasuk mengabaikan pekerjaan magangku. Namun
anehnya, aku mulai mendekati Tuhan lagi, dengan cara klasik yang aku senang
gunakan, yaitu daya imajinatif dialogis. Artinya aku membayangkan suatu
percakapan dengan Allah dan dari situ aku mendengarkan suara Allah dan
mengenali kehendak-Nya bagiku.
Namun metode itu
sebenarnya paling baik digunakan saat terletak dalam konteks doa yang
terbimbing, dalam konteks doa yang lepas bebas, ini adalah metode yang
berbahaya, begitulah penilaianku. Karena aku akhirnya tidak dapat mengenali
kehendak Allah karena suaranya berubah-ubah dan keyakinanku akan suara batin
Ilahi juga tidak tetap. Sehingga aku tidak beroleh keyakinan apapun. Itu yang
aku alami saat ini, perasaan tidak yakin sekalipun tetap berharap dalam Allah.
Meski begitu metode
ini menyisakan beberapa kenangan manis. Kenangan pertama adalah tugas universal
umat Kristiani. Aku merasakan dan mendengar Allah memanggilku untuk
melaksanakan suatu tugas, yaitu mewartakan Injil, menyalakan kembali iman
mereka yang sudah mulai pudar, dan bekerja demi keselamatan jiwa-jiwa. Awalnya
api semangat dalam jiwaku berkobar-kobar. Namun sekarang, aku sudah lelah lagi,
dan rasanya Allah tidak mengungkit tugas itu kembali. Padahal itu adalah tugas
universal untuk setiap umat Kristiani, dan sampai batas tertentu, untuk setiap
manusia pula.
Sebab setiap manusia
dipanggil Allah untuk bergaul dengan-Nya dan pergaulan itu hanya dapat dicapai
melalui Yesus Kristus karena hanya Kristuslah Jalan, Kebenaran, dan Hidup
manusia. Dalam kata lain, untuk mencapai keselamatan yang terjamin, manusia
harus menjadi Kristen. Di luar itu keselamatan tidak terjamin walau Allah
memiliki cara-Nya tersendiri dalam mengurusi mereka yang tidak percaya atau
menolak Kristus. Awalnya aku bergelora untuk melaksanakan tugas ini, tapi
akhirnya semuanya mengalir dan berlalu saja.
Aku menuliskan
“beberapa kenangan manis”, tapi sepertinya itu saja yang manis. Kenangan yang
lain agak pahit dan menyakitkan. Pertama, aku terlalu melekat kepada Allah,
kedua, aku terlalu melekat kepada akhir zaman, ketiga, aku terlalu melekat
kepada penderitaan. Lalu kenangan yang masih segar, di minggu terakhir ini, aku
hendak berhenti melakukan magang dan itu mengungkapkan bahwa aku membenci dunia
ini dan segala pekerjaan duniawi. Sekarang, aku terkulai lemas dan aku sulit
mengingat berbagai hal. Bukan hanya perasaanku saja yang diserang, pikiranku
pun menjadi lemah dan gelap. Aku kembali menantikan Allah di dalam jiwaku,
sekalipun aku seringkali merasakan kehadiran Allah. Demikian yang telah terjadi
sampai 7 April 2022.
Catatan 4 – 10 April 2022
Aku merasa bahwa kesadaranku
kembali jatuh dan sulit untuk dikendalikan. Aku merasa aku jarang produktif,
dan tidak konsisten. Aku merasa tetap terputus dari Allah dalam suatu cara
walau aku tahu Dia selalu menyertaiku. Aku banyak tidur dalam minggu ini. Aku
kurang banyak menulis dan merenungkan Kitab Suci. Aku berharap Allah akan
datang kembali dan menolong aku.
Bab 3
Pembukaan
Pada awalnya, aku
menulis atas kehendak Ilahi secara penuh, tapi sekarang aku kehilangan
peganganku terhadap Allah dan karena itu harus menulis atas daya akal budiku
sendiri. Karya ini terdiri dari 3 bagian yang tidak begitu terorganisir. Bagian
atau bab 1 adalah suatu tulisan yang aku hasilkan pada bulan Januari tahun 2022
tentang perjalanan batinku. Bagian atau bab 2 adalah tulisan berkelanjutan yang
merupakan refleksi mingguanku berdasarkan refleksi harian. Bagian atau bab 3
adalah pengetahuanku tentang Allah berdasarkan pengajaran yang Dia berikan
kepadaku secara langsung.
Aku masih belum begitu
yakin tentang bagaimana aku akan menulis bab 3 ini. Lalu memang aneh bahwa aku
menuliskan pembukaan karya ini di bab 3, tapi itulah keputusan yang telah aku
buat. Barangkali bab 3 akan berisi kumpulan catatan-catatan singkat yang secara
bersama membentuk satu narasi atau kisah yang utuh. Tidak akan ada referensi
karena ini murni dari pengalamanku sendiri. Referensi yang mungkin adalah Kitab
Suci, tapi bisa saja juga tidak. Catatan-catatan tidak akan diurutkan secara
persis, tapi akan menunjuk ke yang lain secara sistematis, atau secara
berantakan, aku tidak tahu.
Catatan 1 – Mekanisme Komunikasi Ilahi
Dari sudut pandang
Allah, hanya ada satu titik waktu atau titik kenyataan maka Allah
mengkomunikasikan segala sesuatu bagi kita dalam satu titik waktu itu, beserta
segala tindakan Allah lainnya. Namun dari sudut pandang kita yang menerima
komunikasi Allah, Allah berbicara seperti orang lain, dengan alur waktu yang jelas
dan ada mekanismenya tersendiri. Maka, aku hendak menceritakan bagaimana
mekanisme komunikasi Ilahi terjadi berdasarkan pengalamanku sendiri
berkomunikasi dengan Allah.
Allah, sebagai Raja
Semesta Alam yang Mahakuasa dapat berkomunikasi dengan berbagai macam cara.
Cara yang paling nampak dan jelas adalah dalam pribadi Yesus Kristus, karena
Yesus adalah Firman yang menjadi daging. Namun selain Yesus Allah juga memiliki
cara-cara lain berbicara dengan kita. Allah dapat berbicara melalui berbagai
penampakan besar, seperti yang dialami oleh para nabi, dan contoh paling
terkenal adalah semak berapi yang tidak terbakar yang disaksikan oleh Musa.
Namun ada satu cara
yang paling banyak digunakan Allah, yaitu komunikasi batin. Komunikasi batin
dapat terjadi dalam 2 cara, dengan bahasa atau tanpa bahasa. Komunikasi tanpa
bahasa dikatakan sebagai komunikasi yang murni karena menyampaikan suatu
gagasan secara murni tanpa menggunakan perantaraan bahasa. Komunikasi dengan
bahasa adalah Allah berbicara kepada kita dengan bahasa selayaknya seorang
berbicara kepada kita, tapi terjadi pada tingkat batin sehingga mewujud sebagai
suara batin.
Penggunaan suara batin
juga dapat dikatakan sebagai penggunaan daya imajinatif. Sebab kita menggunakan
imajinasi kita, yaitu imajinasi suara, untuk mendengarkan suara Allah. Suara
batin ini sah sebagai mekanisme komunikasi Ilahi karena Allah adalah Mahakuasa,
Dia dapat bekerja melalui apa saja, termasuk imajinasi kita. Hal penting lain
untuk diingat adalah Allah ada di segala tempat, termasuk di dalam diri kita
sendiri, sehingga jangan dibayangkan bahwa komunikasi Ilahi berasal dari tempat
yang jauh, tapi sesungguhnya berasal dari inti jiwa kita sendiri.
Ada cara lain Allah
mengkomunikasikan pesan-Nya selain yang di atas, yaitu melalui Kitab Suci,
Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja. Namun aku tidak membahasnya karena bukan
fokus catatan ini. Adapula komunikasi melalui tanda-tanda dunia, di mana Allah
menyampaikan suatu pesan melalui seseorang atau sebuah peristiwa. Fokus catatan
ini adalah komunikasi di mana Allah berbicara secara langsung kepada manusia,
baik dengan bahasa atau tanpa bahasa, secara rohani atau secara jasmani.
Sayangnya, aku belum
pernah menjumpai Allah secara jasmani jadi aku tidak pernah mendengarkan
suara-Nya secara fisik. Maka aku hanya dapat mendengarkan suara-Nya secara
rohani dengan bahasa, alias dengan imajinasi audio. Cara Allah berbicara
kepadaku adalah Allah memasukkan suatu gagasan ke dalam pikiranku dan gagasan
itu diterjemahkan menjadi suatu persona yang berkata-kata dalam batinku. Jadi
aku pun menyadari bahwa Allah tidak pernah berbicara secara langsung kepadaku,
melainkan dengan perantaraan daya imajinatifku.
Karena itu, seringkali
aku dapat salah dalam menerima pesan Ilahi dan dibutuhkan suatu pembedaan roh
untuk sungguh mengenali pesan Allah yang terkandung dalam imajinasi perantara. Jadi
apa yang aku ambil sebagai pesan Allah adalah garis besar gagasan dan bukan
perkataan persis yang aku terima dalam imajinasi. Karena itu, masalah ini
menjadi salah satu sumber kedukaanku karena aku tidak dapat mendengar atau
memandang Allah secara langsung karena keterbatasan rohani dan fisikku.
Demikian yang dapat aku sampaikan terkait mekanisme komunikasi Ilahi.
Catatan 2 – Tujuan Hidup Manusia
Aku sadar akan
perspektif lain tentang tujuan hidup manusia, bahwa manusia tidak diciptakan
untuk tujuan tertentu ataupun memiliki makna yang intrinsik, melainkan manusia
sendiri yang menciptakan tujuan dan makna itu. Namun, saat aku mengatakan
“Tujuan Hidup Manusia”, aku merujuk pada fakta bahwa manusia selalu mencari
suatu tujuan dan makna dari segala tindakan dan hidupnya. Tujuan dan makna
dapat disederhanakan pada satu daya jiwa manusia, yaitu kehendak. Artinya
manusia, setiap manusia, menghendaki suatu hal yang amat berharga di dalam
hidup mereka.
Sebenarnya pertanyaan
permukaan tentang tujuan hidup manusia mudah dijawab, kita hanya mempertanyakan
apa yang dikehendaki setiap manusia. Pengamatan dan wawasan sekilas cukup untuk
menjawab pertanyaan ini. Manusia menghendaki “kebahagiaan”, atau dalam
pengertian lebih lanjut, segala pengalaman yang baik. Pengalaman yang baik,
yaitu kenikmatan, keindahan, cinta kasih, kedamaian, kekuasaan, kesejahteraan,
kebebasan, kesehatan, kegembiraan, sukacita, dan berbagai macam pengalaman
positif lainnya. Inilah yang dicari setiap manusia, tapi pertanyaan yang lebih
sering diajukan adalah, “Bagaimana mencapai kebahagiaan?” Inilah pertanyaan
yang sebenarnya tentang tujuan hidup manusia.
Fokus catatan ini
bukan menjabarkan bagaimana mencapai tujuan hidup manusia, karena itu adalah
tugas yang sangat panjang, melainkan menetapkan bahwa suatu hal yang dinamakan
dengan tujuan hidup manusia itu sungguh ada dan tujuan itu adalah kebahagiaan. Catatan-catatan
lain pada bab ini memiliki tugas untuk mengeksplorasi topik pencapaian
kebahagiaan sampai pada kesudahannya, setidaknya sampai batas pengetahuan yang
diturunkan Allah kepadaku.
Catatan 3 – Pembelajaran tentang Kebahagiaan
Ada pola umum yang
dapat kita kenali dengan suatu wawasan sekilas tentang dunia ini, bahwa jika
kita hendak mencapai sesuatu, kita harus mempelajari hal tersebut sampai kita
memahaminya. Hal ini disebabkan oleh kesadaran bahwa dunia yang kita tinggali
bukanlah dunia yang anarkis tanpa hukum, melainkan segala hal memiliki suatu
keteraturan. Untuk mencapai suatu hal, apapun itu, kita harus menaati hukum
yang berlaku secara ketat, jika tidak maka tujuan kita tidak akan tercapai. Sementara
itu untuk menaati hukum, kita harus mengenali hukum, maka pembelajaran terhadap
tujuan kita, atau tepatnya hukum yang mengatur tujuan kita, harus dilakukan.
Pola ini dapat
dikenakan untuk kehendak apapun yang kita miliki, dan terutama pada kehendak
tertinggi kita yaitu kebahagiaan. Maka kesimpulannya adalah kita harus belajar
tentang kebahagiaan dan segala keteraturannya untuk mencapai kebahagiaan. Ada
banyak nama untuk studi ini. “Filsafat kehidupan”, “Etika”, “Teologi Moral”,
dan lain-lain. Dalam pembelajaranku sendiri, aku belum mencapai suatu kejelasan
yang sempurna tentang masalah ini. Sebab Allah hanya menyatakan dasar-dasarnya
saja dan tidak sampai pada kepenuhan kejelasan ajaran-Nya.
Bahkan, Allah tidak
begitu menjelaskan materi ini secara persis, melainkan pada hal-hal lain yang
menunjang materi ini, terutama terkait diri-Nya sendiri. Sejauh mana materi
teologis dapat menerangkan materi eudaimonistik (tentang kebahagiaan), itu akan
ditentukan oleh diriku sendiri melalui tulisan-tulisanku. Aku menyadari bahwa
mayoritas gagasanku adalah metafisika dan bukan etika, jadi aku hanya dapat
berharap bahwa metafisika itu dapat berguna dalam menjelaskan etika dan
keteraturan dari kebahagiaan.
Catatan 4 – Metafisika, Epistemologi, dan Etika
Sejauh mana metafisika
dan epistemologi berguna untuk mencapai etika? Epistemologi berkaitan dengan
kebenaran dan logika sehingga penting untuk membuktikan gagasan-gagasan
metafisik, maka kedua ilmu itu tersatukan dalam satu paket. Namun apakah paket
metafisika ini diperlukan untuk memahami etika? Sampai batas tertentu ya. Ini
disebabkan kesadaran bahwa etika atau kebahagiaan tunduk pada hukum kenyataan
atau keteraturan umum kenyataan, dan itu adalah cakupan pembelajaran
metafisika.
Namun aku telah
melihat bahwa kebanyakan dari metafisika hanya bertujuan untuk memanipulasi
kebahagiaan dalam wujud-wujudnya, dan tidak membahas kebahagiaan secara
esensial. Metafisika pada dasarnya adalah dasar dari ilmu pengetahuan alam,
atau fisika dan segala turunannya. Maka metafisika tidak dapat memberi tahu
kita apa yang baik dan yang membahagiakan, setidaknya tidak sepenuhnya. Metafisika
memberikan petunjuk, seperti IPA dan biologi memberikan petunjuk bagaimana
tubuh yang sehat dan produktif serta cara menjaganya. Namun etika harus
diteliti dan dipelajari sendiri berbeda dengan metafisika sekalipun menggunakan
metode-metode yang sama.
Dalam pengalamanku,
metafisikaku hanya berguna untuk satu hal, membuktikan atau menjelaskan
keberadaan Allah. Karena Allah ditetapkan sebagai kebahagiaan tertinggi di
dalam sistem pemikiranku, maka Allah harus dijelaskan dan dibenarkan sebaik
mungkin. Perkara Allah dan keberadaan-Nya adalah cakupan pembelajaran
metafisika, sehingga metafisikaku mayoritas membahas Allah atau hal-hal yang
menunjang diri-Nya. Begitu keberadaan dan kodrat Ilahi dapat dijelaskan secara
baik, selesailah sudah metafisika.
Catatan 5 – Kebenaran Pertama tentang
Pengalaman
Hal ini sudah aku
tulis berulang kali dalam sejarah tulisanku yang berantakan. Namun dalam
tulisan ini aku hendak memutakhirkan gagasan ini dalam suatu catatan terakhir
yang akan digunakan sebagai referensi untuk segala tulisan berikutnya. Menurut
Descartes, kebenaran pertama yang dapat diperoleh adalah tentang keberadaan
diri sendiri. Menurutku, Descartes kurang tepat, dia terlalu jauh menyimpulkan.
Kebenaran pertama yang dapat diperoleh adalah tentang pengalaman dan keberadaan
pengalaman.
Hal ini dapat didemonstrasikan
dengan sangat jelas. Perhatikan saja kesadaran Anda, lihatlah penglihatan,
dengarlah pendengaran, kecaplah pengecapan, alamilah semua pengalaman itu,
amatilah semuanya dan akan nampak jelas bahwa Anda dan kita sedang mengalami. Jadi
kita pertama kali dapat tahu bahwa kita sedang mengalami, dan pengalaman ada. Sisanya
adalah masalah yang lebih rumit. Namun, bahwa ada kebenaran pertama yang dapat
kita ketahui dengan jelas sudah cukup baik, dan kebenaran itu adalah adanya
pengalaman.
Catatan 6 – Pengalaman dan Keberadaan
Segera setelah Catatan
5, kita menemukan perkara yang rumit. Kebenaran kedua yang dapat kita temukan
adalah adanya keberadaan. Jadi ada 2 hal yang ada, yaitu pengalaman dan
keberadaan itu sendiri. Pertanyaan selanjutnya akan menentukan arah segenap
metafisika, dan ini bukan hanya tentang metafisikaku tapi juga bagaimana filsuf
lain memikirkan metafisika dunia ini. Pertanyaannya adalah apakah relasi atau
hubungan antara pengalaman dan keberadaan? Apakah pengalaman dan keberadaan bersatu,
atau terpisah?
Keterpisahan antara
pengalaman dan keberadaan adalah pandangan yang “ortodoks” dan konvensional
dalam dunia kita. Artinya benda-benda menyebabkan pengalaman, dan bukan
pengalaman itu sendiri. Jadi pengalaman adalah sejenis benda yang secara
derajat lebih rendah daripada benda-benda biasa yang bukan pengalaman. Namun
ada pandangan lain, yaitu bahwa pengalaman dan keberadaan bersatu. Artinya
mereka sederajat, pengalaman menyebabkan benda dan benda menyebabkan
pengalaman, keduanya saling berkaitan dan bergantung.
Kesederajatan atau
kesatuan antara pengalaman dan keberadaan adalah salah satu jalan menuju
keberadaan Sang Ilahi. Namun, aku tidak begitu tahu mengapa seperti itu. Aku
hanya merasakan bahwa ada hubungannya dengan kodrat Ilahi. Aku percaya pada
kesatuan antara pengalaman dan keberadaan, bahwa pengalaman dan keberadaan itu
sejatinya sederajat dan saling bergantung. Namun sampai saat ini aku masih
kurang memahami bagaimana ini berkaitan dengan kodrat Ilahi. Barangkali ini
akan menjadi jelas di masa depan, atau di pembahasan berikutnya.
Catatan 7 – Keberadaan Murni
Menindaklanjuti
Catatan 6 yang gagal menunjuk secara jelas pada suatu keberadaan Ilahi, aku
hadir dengan catatan tentang Keberadaan Murni. Hal ini agak abstrak dan
melompat jauh dari Catatan 5 dan Catatan 6, tapi aku akan berusaha
menjelaskannya sebaik mungkin. Kita pertama harus meneliti kodrat dari
keberadaan atau kondisi ada. Ada keberadaan spesifik, yaitu benda-benda yang
kita kenal dengan biasa, seperti diri kita sendiri, mobil, pohon, gunung, dan
lain-lain. Setiap benda ini memiliki serangkaian sifat yang komposit, artinya
keberadaan spesifik adalah bentukan dari kumpulan benda-benda lain yang dapat
dipisah dan disatukan.
Namun bagaimana dengan
keberadaan murni, atau keberadaan umum, apakah ada hal semacam itu? Keberadaan
umum dapat diartikan sebagai 2 hal, sebagai konsep abstrak tentang kesamaan
setiap benda yang tergabung dalam himpunan kenyataan atau sebagai suatu benda
yang nyata yang memiliki nama keberadaan murni. Kita dapat menjelaskan
keberadaan murni dalam istilah sifat dan komposit. Keberadaan spesifik memiliki
sifat, sifat adalah hal yang membuat keberadaan spesifik bersifat spesifik,
unik, dan terbatas. Maka keberadaan murni adalah benda yang tidak memiliki
sifat yang spesifik, dan artinya dia tidak bersifat komposit.
Keberadaan murni
memiliki suatu sifat, tapi hanya satu sifat yaitu keberadaan itu sendiri. Karena
hanya memiliki satu sifat, keberadaan murni bersifat sederhana, bukan komposit,
karena bukan hasil bentukan berbagai macam sifat. Apakah keberadaan murni ada?
Aku tidak tahu, aku hanya percaya, tapi aku tidak dapat mengetahui karena tidak
ada bukti yang aku tahu. Namun bagiku, keberadaan murni, adalah Allah sendiri. Allah
adalah keberadaan murni yang sederhana, yang satu-satunya sifat yang jelas
adalah “ada”. Bagaimana rupa keberadaan murni itu, kita tidak tahu dan tidak
dapat memahami. Namun aku rasa ada petunjuk.
Anggaplah ada sifat
“warna”, yang tidak dimiliki Allah atau keberadaan murni. Sebenarnya Allah
memiliki sifat warna, hanya saja kalau dituliskan akan hasilnya tidak ada,
tidak ada warna. Namun apakah itu ketiadaan warna? Kita beranggapan bahwa
ketiadaan warna adalah hitam, tapi hitam adalah warna juga. Ketiadaan yang kita
terbiasa adalah ketiadaan spesifik, kita mencari suatu ketiadaan yang bahkan
meniadakan ketiadaan spesifik. Dalam permenunganku, Allah menjelaskan bahwa
satu-satunya hal yang memenuhi syarat itu adalah suatu kesatuan antara
ketiadaan dan keberadaan.
Jadi saat kita berkata
bahwa Allah tidak berwarna, maksudnya warna Allah itu adalah kesatuan segala
warna, yang tidak dapat kita pahami karena sama sekali melampaui konsepsi kita
tentang warna. Warna Allah bukanlah hitam, ataupun warna lain, melainkan
kesatuan segala warna lain. Maka rupa Allah adalah kesatuan segala rupa dan
keberadaan spesifik yang lain, di mana segala benda melebur menjadi satu
keberadaan murni saja, yaitu Allah. Namun kita belum selesai dalam pencarian
ini, aku masih memiliki banyak materi lain.
Catatan 8 – Terminologi Kenyataan, Benda, dan
Sifat
Catatan ini
menjelaskan tentang terminologi kenyataan, benda, dan sifat. Kita mengenali
adanya keberadaan, kenyataan adalah kumpulan semua keberadaan. Keberadaan
spesifik dinamakan dengan benda. Jadi, pengertian kenyataan dan pengertian
benda saling berkaitan, benda adalah anggota kenyataan, dan kenyataan adalah
kumpulan semua benda. Pada akhirnya kedua pengertian didasarkan pada keberadaan.
Setiap benda mencerminkan kenyataan, bahwa dia juga adalah kumpulan benda-benda
lain yang dalam relasinya dengan benda yang lebih besar dinamakan sifat.
Catatan 9 – Perbedaan
Dengan wawasan sekilas
dan umum, kita dapat mengetahui bahwa kenyataan bersifat heterogen baik secara
kuantitatif atau kualitatif. Secara kuantitatif, ada berbagai benda dengan
ukuran dan sifat matematis yang berbeda. Secara kualitatif, penampakan dan pengalaman
setiap benda berbeda. Hal ini cukup sederhana untuk dipahami, tapi memahami ini
sepertinya merupakan suatu kunci untuk memahami Allah.
Catatan 10 – Kategori
Sekalipun benda-benda
berbeda, kita mengamati bahwa ada kemiripan di antara berbagai kelompok benda. Misalnya,
antara pesawat Airbus dan pesawat Boeing mungkin secara merek berbeda, tapi
secara bentuk cukup mirip, sama-sama berbentuk pesawat komersial. Atau antara
pesawat dan burung, memang sangat berbeda, tapi sama-sama dapat terbang. Benda-benda
yang mirip memiliki kesamaan sifat, ada salah satu sifat mereka yang sama, dan
karena itu kita berkata bahwa mereka tergolong dalam satu kategori yang sama.
Namun ada pertanyaan
yang penting, apakah kategori hanyalah kumpulan atau kategori juga suatu benda?
Suatu benda kategoris sangat berkaitan dengan Catatan 7 tentang Keberadaan
Murni, yaitu benda yang sifat tunggalnya hanyalah sifat kategorisnya. Misalnya,
pesawat kategoris adalah pesawat yang sifatnya hanyalah sifat pesawat tanpa
sifat-sifat lainnya. Jadi pesawat yang tidak berbentuk dan tidak berwarna,
tidak dapat terbang pula karena tidak ada wujudnya. Apakah terdengar masuk
akal? Jelas tidak masuk akal.
Pertama, suatu pesawat
haruslah memiliki sifat-sifat tambahannya, yaitu berbentuk seperti pesawat,
dapat terbang, dan memiliki warna, setidaknya itu dulu yang dipertimbangkan. Jadi
benda kategoris yang hanya memiliki sifat pesawat, atau kodrat dan esensi suatu
pesawat, tanpa memiliki sifat-sifat yang membentuk pesawat itu secara
konvensional, bukanlah pesawat. Namun bagaimana kalau pesawat kategoris adalah
roh atau kesatuan dari segala pesawat yang melebur menjadi kenyataan pesawat,
sama halnya dengan Allah atau keberadaan kategoris adalah roh atau kesatuan
dari segala keberadaan yang melebur menjadi kenyataan Allah.
Dulu, aku pernah
memakai contoh lain, sepertinya suatu kotak. Kotak dalam dunia materi kita
harus memiliki ukuran. Anggaplah itu saja sifat yang ingin kita pertimbangkan.
Kita tahu bahwa ada kumpulan kotak dengan ukuran yang berbeda-beda. Kotak
kategoris artinya suatu kotak yang “tidak memiliki ukuran spesifik”. Ukuran
kotak kategoris bukan 0 dan bukan tidak terbatas pula, karena harus ada
ukurannya yang terbatas, begitulah kodrat suatu kotak. Maka kotak kategoris
adalah kotak yang sifat ukurannya tidak dapat diisi, dan menurut Allah, artinya
itu adalah kesatuan semua kotak berukuran spesifik yang berbeda-beda, melebur
menjadi kenyataan kotak. Begitulah nalar dari kotak kategoris dan benda-benda
kategoris lainnya.
Namun sangat menarik
bahwa setiap benda kategoris tetap merupakan benda komposit, yaitu antara sifat
kategoris dan sifat keberadaan. Satu-satunya benda kategoris yang sungguh
merupakan benda sederhana adalah Allah atau keberadaan murni, yang tidak
memiliki sifat melekat lainnya selain sifat keberadaan. Karena itu, Allah dapat
dikatakan sebagai kategori dari segala kategori, Benda Kategoris Murni. Itulah
Allah. Demikian catatan tentang kategori.
Catatan 11 – Perubahan
Perubahan adalah
fenomena atau gejala kenyataan yang cukup mendasar, pengalaman atau fenomena
yang kita miliki selalu disertai dengan fenomen perubahan. Perubahan terkait
dengan perbedaan, di mana kita melihat aliran kenyataan dalam suatu perbedaan. Sehingga
secara umum ada 2 cara kita mengalami perbedaan, perbedaan pada titik yang sama
dan perbedaan pada titik yang jamak. Perbedaan pada titik yang jamak, yaitu
mengamati benda A yang digantikan oleh benda B adalah perubahan.
Waktu tidak
menyebabkan perubahan, melainkan perubahan menyebabkan waktu. Karena ada
perubahan, terjadilah alur waktu. Tanpa adanya perubahan, waktu berhenti dan
tidak mengalir. Ada pertanyaan yang aku temukan terkait perubahan, apakah
perubahan bersifat ontologis atau hanya fenomenal. Perubahan ontologis artinya
keberadaan sungguh berawal dan berakhir, tapi perubahan fenomenal artinya hanya
pengalaman yang berawal dan berakhir, itu pun juga sampai pada batas tertentu.
Secara pribadi, aku
tidak menyetujui perubahan ontologis, karena wawasan umum menentangnya. Kita
harus memahami sampai pada batas apa suatu benda adalah dirinya sendiri. Pada
Catatan 10 kita membahas konsep kategori, maka kebanyakan waktu apa yang kita
pikirkan adalah benda tunggal sebenarnya adalah kategori benda-benda. Dalam
sejarah tulisanku, benda dikerucutkan sampai titik ruang dan waktu yang
terkecil, serta sifat-sifat intrinsik yang paling mendetil. Setelah berhadapan
dengan benda tunggal yang sesungguhnya, barulah kita dapat membahas perubahan.
Benda-benda yang
berbeda ini di tingkat paling kecil memang terkesan hilang dan muncul, tapi ada
1 argumen yang tersatukan yang menyanggah konsep ini. Argumen kebenaran
menyatakan bahwa kebenaran menyimpan dan menentukan seluruh titik waktu
kenyataan, baik masa lalu, sekarang, atau masa depan. Maka di dalam kebenaran,
segala benda, ruang, dan waktu terletak di dalam suatu kekekalan. Sebab,
sekalipun kita sudah tidak mengalami masa lalu, masa lalu itu tetap nyata dan
keberadaannya tersimpan di dalam kebenaran. Begitu pula dengan masa depan, kita
memang belum mengalaminya, tapi kebenaran menyimpan masa yang akan datang.
Maka segala keberadaan
dan ketiadaan yang kita alami, segala awal dan akhir, bersifat relatif. Semua
terjadi karena keterbatasan kesadaran kita yang tidak dapat menjangkau seluruh
kenyataan dan mengalami semuanya dalam suatu aliran waktu yang terbatas. Namun,
ini bukan berarti perubahan itu tidak nyata. Bagi yang mengalami, perubahan itu
nyata, dan selama ada yang mengalami, suatu hal menjadi nyata. Namun pada saat
yang sama, perubahan bukanlah kondisi tertinggi kenyataan, kondisi tertinggi
kenyataan adalah dalam kondisi kemurnian dan artinya kekekalan.
Catatan 12 – Hukum Metafisik
Bagaimana perubahan
dapat terjadi? Terlepas dari apa penjelasan dari perubahan, baik itu ontologis
atau fenomenal, tetap ada pertanyaan tentang apa yang menyebabkan perubahan. Mayoritas
pendapat hanya memandang sampai tingkat material saja, bahwa kejadian A
menyebabkan kejadian B, dan seterusnya. Namun pertanyaan yang lebih penting
adalah apakah yang menyebabkan alur A-B? Mengapa harus A yang menyebabkan B dan
bukan sebaliknya? Jawabannya adalah karena ada Hukum Metafisik yang mengatur
perubahan atau tiadanya perubahan.
Hukum metafisik adalah
suatu entitas atau benda rohani di dalam kenyataan yang sebenarnya sudah kita
kenal dengan nama lain yaitu Kebenaran. Kebenaran dalam perannya sebagai Hukum
menentukan segala perubahan yang terjadi. Apakah ada alasan di balik hukum?
Tidak, Hukum adalah dasar yang tidak berdasar. Hukum bersifat kontekstual,
berdasarkan apa yang kita alami, begitulah hukum yang ada. Jika pengalaman kita
berbeda, bisa saja kita akan menemukan hukum yang berbeda.
Namun, karena kita
hanya mengalami satu pengalaman saja, maka hanya ada satu Hukum yang mungkin,
dan tidak ada Hukum lain yang dapat ada selain Hukum yang mengikat pengalaman
kita. Akhirnya ini meniadakan kemungkinan akan pengalaman lain dan karena itu
hanya ada satu pengalaman yang diatur oleh satu hukum. Contoh hukum yang kita
kenal adalah hukum fisik, keteraturan tak terlihat dari segala relasi dan dunia
fisik yang kita tinggali, tapi hukum fisik itu pun sebenarnya adalah hukum
metafisik.
Mengapa konsep hukum
penting? Karena hukum adalah salah satu jalan menuju keberadaan Allah. Dalam
pandanganku, hukum itu adalah Allah sendiri. Allah adalah Hukum dan karena
Hukum sebenarnya adalah Kebenaran, Allah adalah Kebenaran. Hal ini masuk akal
kalau dipikirkan, Hukum bersifat Mahakuasa dan Allah juga Mahakuasa dalam
tradisi monoteis. Hukum ada di segala tempat karena tidak terikat ruang dan
waktu, justru mereka yang mengikat ruang dan waktu. Namun apakah Hukum ini
memiliki moralitas seperti Allah? Hal ini akan dijelaskan dalam catatan-catatan
berikutnya.
Catatan 13 – Kehendak
Dalam wawasan umumku,
aku menemukan suatu hal yang mirip dengan Hukum dalam akibatnya mengarahkan
benda-benda untuk berubah tapi dapat digagalkan oleh Hukum. Hal ini aku namakan
Kehendak. Kehendak di sini bukan hanya suatu pengalaman kehendak atau perasaan
dorongan untuk melakukan sesuatu, yang dalam psikologi disebut motivasi,
melainkan suatu benda metafisik yang berlaku seperti kebenaran, tapi tidak
sepenuhnya identik dengan kebenaran. Di mana kebenaran melayang-layang di atas
alam kebendaan, kehendak berasal dari dalam benda-benda.
Kehendak dan kebenaran
memiliki satu kesamaan, bahwa mereka mengarahkan atau menyebabkan terjadinya
perubahan benda-benda dengan suatu jalan dan tujuan tertentu. Namun perbedaan
mereka juga hanya satu, kebenaran bersifat tetap dan tidak dapat dilawan,
sementara kehendak dapat dipatahkan dan digagalkan. Keberhasilan atau kegagalan
kehendak barangkali ditentukan oleh suatu benda lain, yaitu kesadaran atau
pengetahuan.
Anggaplah ada suatu
benda bernama A, yang ingin bergerak dari B ke C. “Ingin”, artinya A memiliki
kehendak, yang artinya ada suatu benda di dalam A yaitu kehendak A yang akan
menyebabkan A untuk bergerak dari B ke C, atau menuju C dari manapun ia berada.
Sebenarnya, hukum bahwa A harus cerdas untuk mampu mencapai C adalah hukum yang
tak berdasar. Dalam wawasan umum, tidak ada keharusan A harus memiliki
kecerdasan atau suatu pengetahuan untuk mampu bergerak menuju C. Namun, tanpa
hukum pengetahuan, tidak ada yang mengatur keberhasilan atau kegagalan kehendak.
Dalam kata lain, hasil dari kehendak A adalah acak.
Namun, dengan adanya
hukum pengetahuan, hasil dari kehendak tidak lagi acak melainkan dapat ditentukan
secara rasional atau bahkan matematis. Sebenarnya bagaimana kehendak
menghasilkan perubahan ditentukan juga oleh Hukum. Jika Hukum menetapkan bahwa
akan digunakan hukum pengetahuan, maka terjadilah, jika tidak, ya tidak. Hukum
pengetahuan kurang lebih sebagai berikut. Benda yang mampu mengetahui tentang
kehendaknya dan mampu menggunakan pengetahuan itu lebih mungkin untuk mencapai
kehendaknya daripada benda yang tidak dapat mengetahui tentang kehendaknya dan tidak
dapat menggunakan pengetahuan itu. Pada catatan berikutnya kita akan mendalami
pengetahuan dan hukum rasional.
Catatan 14 – Hukum Rasional
Hukum rasional adalah
hukum yang menyatakan bahwa kecerdasan atau rasionalitas dari suatu entitas
berpengaruh pada pemenuhan kehendaknya. Namun sejujurnya aku tidak melihat
bagaimana hukum ini harus menjadi hukum yang berlaku. Ini hanya hukum yang kita
terbiasa, sehingga ini membentuk segala konsepsi kita tentang kehendak dan
pemenuhan kehendak. Kebenarannya adalah suatu benda tidak harus rasional untuk
mencapai kehendaknya, semuanya tergantung pada Hukum dan Kebenaran yang ada di
atasnya. Namun pertanyaannya adalah apakah Kebenaran bersifat rasional atau
tidak?
Seluruh Kebenaran
bersifat kondisional atau bersyarat, artinya mereka terjadi saat syarat-syarat
yang tepat dipenuhi. Jadi seenggaknya harus ada mekanisme rohani di mana saat
syarat hukum terpenuhi, maka hukum itu akan mengeksekusi, seperti suatu sensor.
Agaknya tafsiran historisku bahwa ini menandakan hukum harus rasional atau
cerdas hanyalah satu tafsir saja. Maka mari kita telusuri apakah ada penjelasan
lain selain bahwa hukum bersifat cerdas.
Kebenaran sendiri
mengandung segala hal dalam kenyataan, namanya juga Kebenaran. Namun apakah
Kebenaran itu memahami dan memanfaatkan pemahaman untuk bekerja? Mungkin saja
hukum memiliki 2 tingkat, hukum yang pertama mengatur kenyataan, dan hukum yang
kedua mengatur hukum yang pertama. Hukum kedua menetapkan bahwa saat syarat
terpenuhi, hukum pertama akan terlaksana. Namun ini akhirnya akan menjadi tidak
terbatas sampai kita harus berhenti pada Satu Hukum. Hukum ini yang menetapkan
bahwa segalanya bekerja sebagaimana mestinya.
Dalam Hukum yang Esa,
harus ada mekanisme rohani yang seperti suatu sensor jasmani untuk mendeteksi
kondisi kenyataan yang berlaku sehingga saat syarat terpenuhi hukum terlaksana.
Mekanisme deteksi dan sensor menandakan pengetahuan, kecerdasan, dan
rasionalitas di pihak Hukum. Namun, rasionalitas hukum hanyalah istilah yang
artinya bahwa Hukum mampu bertindak menurut kondisi kenyataan yang berlaku. Apakah
artinya Hukum sungguh berpengetahuan seperti kita, aku tidak tahu.
Catatan 15 – Hukum Moral
Fokus etika adalah kebahagiaan
sebagai kebaikan tertinggi dan cara mencapai kebaikan. Namun, bahwa kita
tertarik kepada kebahagiaan dan kebaikan juga adalah suatu produk Hukum, yaitu
Hukum Moral. Mungkin saja kita tidak tertarik pada kebahagiaan atau kebaikan,
tidak berkehendak ke arah situ, atau kita bahkan justru berkehendak menuju
penderitaan. Namun, hukum moral yang kita kenali adalah kita berkehendak untuk
mencapai kebaikan dan kebahagiaan, dan bahwa hukum moral terikat oleh hukum
rasional atau hukum rasional dalam pemenuhan kehendak.
Moralitas bersifat
objektif tapi juga relatif. Objektif, artinya moralitas tidak terikat oleh
penilaian kita melainkan hadir begitu saja. Relatif, artinya pandangan moral
setiap orang berbeda dan karena itu kita harus mampu menilai moralitas seorang
pribadi bukan hanya atas moralitas konvensional tapi juga moralitas personal
manusia tersebut. Seorang baik atau jahat tergantung standar moralitas yang
digunakan untuk mengukur orang tersebut. Jika diukur menggunakan standar moral
kita mungkin dia jahat, tapi hasilnya akan berbeda jika dia diukur menurut
moralitasnya sendiri.
Saat diukur menurut
standar kebaikan personal, seorang baik atau jahat tergantung pada bagaimana
dia memenuhi standar kebaikannya sendiri, tapi tepatnya bagaimana dia memenuhi
kebahagiaannya sendiri. Orang yang baik adalah dia yang mencapai kebahagiaan,
orang yang jahat adalah dia yang gagal mencapai kebahagiaan. Penentuan hasil
dari perjuangan moral manusia dapat terjadi oleh hukum rasional, yang
menentukan pemenuhan kehendak benda-benda. Namun, karena hukum rasional
bergantung pada Hukum yang Esa, maka sebenarnya tidak ada dasar dari
rasionalitas moral. Jadi manusia atau makhluk moral lainnya mungkin saja
bertindak secara tidak bermoral terlepas dari segala pengetahuannya. Artinya
kondisi makhluk tersebut tidak lagi menentukan keputusan moralnya atau
keberhasilan moralnya, melainkan suatu keacakan.
Catatan 16 – Imajinasi
Apakah kodrat atau
kenyataan sejati dari imajinasi? Apakah imajinasi hanyalah konstruksi pikiran
atau sebenarnya merupakan jendela kepada kenyataan yang lebih luas? Imajinasi
pada dasarnya adalah pengalaman rekreatif dari pengalaman empiris kita. Namun
karena aku percaya pada kesatuan pengalaman dan keberadaan, maka saat kita
mengalami suatu imajinasi sesungguhnya itu juga adalah suatu keberadaan. Apakah
keberadaan itu adalah keberadaan internal atau eksternal, dapat diperdebatkan,
tapi tidak mematahkan bahwa ada suatu keberadaan yang objektif.
Saat kita
berimajinasi, kita tidak hanya mengakses suatu keberadaan yang ada di dalam
diri kita, tapi juga suatu kategori di mana keberadaan itu termasuk dan kita
tahu bahwa kategori tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka tidak terikat pada
pribadi atau keterbatasan kesadaran. Maka imajinasi adalah jendela ke kenyataan
yang kekal, yang ada di luar tapi juga ada di dalam diri kita. Imajinasi memang
mengikuti aturan pengalaman empiris, tapi fakta itu tidak mengubah apapun,
hanya menjadi tambahan fakta saja tentang bagaimana imajinasi bekerja.
Maka, apapun yang kita
bayangkan itu sudah pasti ada di dalam kenyataan karena kategorinya ada. Lagipula
dengan kerangka pemikiran seperti yang kita miliki, kenyataan ini tidak terbatas,
kita saja yang terbatas. Imajinasi adalah jendela kepada ketidakterbatasan itu,
dan keterbatasan kita tidak membatasi kenyataan. Hal ini bukan berarti bahwa
kita dapat percaya apa saja yang kita mau, tapi bahwa apapun yang kita pikir
adalah hasil keinginan kita sendiri, sebenarnya hanyalah suatu kenyataan yang
kekal.
Catatan 17 – Allah
Catatan 7, 10, 12, 13,
14, dan 15 semua dibutuhkan untuk sungguh memahami Catatan 17 ini tentang
Allah. Ini adalah catatan yang penting dan menjadi titik penentu seluruh bab 3
ini. Dari segenap catatan yang telah aku buat, kenyataan Ilahi menjadi
kenyataan yang penting untuk diyakini dan dipahami. Kenyataan Ilahi adalah
puncak segala kenyataan dan pada catatan ini aku hendak menjelaskan beberapa
kodrat-Nya dan relasi-Nya dengan kita semua secara sekilas atau secara ringkas
tapi tetap lengkap.
Allah adalah
Keberadaan Murni, artinya suatu kesatuan segala keberadaan yang melebur menjadi
satu esensi yang sederhana dan karena itu tidak dapat dipahami karena melampaui
seluruh konsepsi dan persepsi kita sebagai manusia atau makhluk yang tercipta. Sebagai
Keberadaan Murni, Allah adalah Kesatuan Mahatinggi antara Keberadaan dan
Pengalaman, sehingga Allah juga adalah Kesadaran Mahatinggi. Dalam Tritunggal
Metafisik ini, Allah mengalami segala hal pada saat yang sama, baik perubahan
atau kekekalan, sehingga Allah hanya hadir pada satu titik waktu saja dan
secara mutlak tidak dapat berubah.
Allah menyebabkan
segala hal, karena Allah adalah Keberadaan Murni maka Dia juga adalah Sang
Kebenaran dan Sang Hukum yang Esa. Allah menentukan dan menetapkan segala hal,
karena Dialah Hukum. Namun, Allah tidak jahat secara mutlak, karena Allah telah
mengalami segala hal yang ada dan adalah segala pengalaman dan keberadaan yang
ada secara murni, maka segala kehendak yang juga adalah diri-Nya sendiri telah
terpenuhi secara moral ataupun amoral. Allah adalah kesempurnaan pengetahuan
dan karena itu adalah kesempurnaan kebahagiaan pula. Siapapun yang mampu
memandang Allah pastilah sangat berbahagia dan sungguh demikianlah
kenyataannya.
Artinya, Allah baik
secara penuh, karena Allah adalah definisi dari Kebaikan dan Kebahagiaan, Allah
adalah Dia yang berkuasa untuk menetapkan apa yang baik dan apa yang jahat,
sejak kekal sampai kekal sebab dalam kekekalan hanya ada satu titik waktu.
Dalam satu titik waktu, sebenarnya semua yang baik dan semua yang jahat sudah
ditetapkan begitu saja, tapi dalam cara yang melampaui pemahaman kita, Allah
adalah penentu dan penetap Hukum dari segala Moralitas tanpa memiliki dasar di
bawah-Nya. Ya, Dialah dasar yang tidak berdasar, dan menjawab Socrates, “Suatu
hal baik karena Allah menyatakannya baik.”
Catatan 18 – Misteri Kasih
Di balik kekacauan
moral yang ada dalam kenyataan, ada suatu keteraturan yang misterius dan
keteraturan moral ini disebut Kasih. Namun barangkali keteraturan ini juga
adalah suatu ketetapan Ilahi dan bukan dasar yang berdasar. Kasih adalah
orientasi diri untuk menghendaki yang baik bagi objek yang dikasihi. Namun
Kasih yang sejati bersifat universal, artinya tidak bersyarat dan diberikan
bagi setiap makhluk, benda, ciptaan, dan kenyataan. Kasih adalah kehendak untuk
membawa segala hal kepada kebaikan, artinya kepada Allah.
Kasih adalah
satu-satunya jalan menuju kebaikan karena Allah adalah Kasih, Kebaikan yang Esa
itu adalah Kasih. Namun mengapa seperti itu? Apakah Allah menetapkan bahwa
Kasih adalah Kebaikan tanpa suatu dasar yang sungguh jelas, artinya tanpa
disebabkan oleh alasan tertentu lain, melainkan karena kesukaan hati Allah
saja? Tidak juga, tidak seperti kita yang menetapkan sesuatu atas dasar
keterbatasan, Allah menetapkan segala sesuatu atas dasar ketidakterbatasan,
atas dasar segala sesuatu yang ada, Dia memandang kebaikan yang ada dan dari
situ memutuskan apa yang baik dan ternyata atas dasar keputusan itu kebaikan
adalah Kasih.
Allah sendiri
menetapkan bahwa Kasih adalah Kebaikan, bahwa diri-Nya adalah Kasih. Allah
menetapkan diri-Nya sendiri sehingga Kasih mendefinisikan diri-Nya dan segala
tindakan-Nya. Apapun yang dilakukan Allah adalah atas dasar Kasih, mengantarkan
ciptaan kepada diri-Nya sendiri yang adalah Kebaikan. Kalau kita pahami dengan
baik, ini artinya Kasih berputar pada diri-Nya sendiri dan tidak memiliki
pengertian atau kodrat yang jelas. Kalau Kasih artinya mengantarkan objek
kepada Kasih, dalam kata lain, Kasih adalah mengantarkan objek pada
mengantarkan objek. Dan sungguh inilah misteri Kasih dan misteri Ilahi, yaitu
Kasih yang murni “kosong” dan “hampa”. Sungguh suatu pemahaman yang
membebaskan.
Catatan 19 – 2 Nilai Moral
Dengan adanya kasih,
kita memperoleh 2 nilai moral yang tidak sederajat. Nilai moral pertama adalah
keindahan atau kenikmatan. Ini adalah keindahan atau kenikmatan yang terjadi
dari berbagai kondisi statis. Kebaikan karena makan makanan enak, kebaikan
karena seks, kebaikan karena karya seni visual yang indah, kebaikan karena
kemewahan, kebaikan karena kekuasaan, dan berbagai kebaikan statis lainnya. Namun,
ternyata keindahan bukanlah nilai moral yang tertinggi, karena sekadar memiliki
keindahan tanpa tahu cara meneruskannya tidak akan menambah dan bahkan dapat
mengurangi keindahan.
Nilai moral tertinggi
adalah Kasih, yaitu kehendak dan sikap diri untuk menambah dan meneruskan
keindahan kepada orang lain. Kehendak dan perjuangan mencapai keindahan lebih
penting dan baik daripada keindahan itu sendiri. Dalam kesatuan moral, keduanya
menjadi Kebaikan, dan Allah adalah Puncak Kebaikan atau Kebaikan itu sendiri. Keindahan
mencapai nilai tertingginya saat terjadi dalam konteks kasih. Di luar kasih keindahan
malah bisa jadi tidak mendapatkan nilai yang seharusnya, atau bahkan
disalahgunakan sehingga menjadi tidak bernilai. Jadi jangan bersukacita karena
kita memiliki harta yang banyak dan hidup mewah, tapi bersukacitalah saat harta
dan kemewahan itu terjadi karena kasih dan dibagikan kepada orang lain dalam
nama kasih.
Catatan 20 – Penciptaan
Tindakan Allah yang
paling mendasar adalah menciptakan kenyataan dan segala isinya. Gereja
mengajarkan bahwa ciptaan bersifat kontingen alias tidak wajib. Mereka ada,
tapi tidak harus ada. Hal ini benar saat kita memahami bahwa Allah adalah dasar
yang tidak berdasar. Kumpulan ciptaan dalam Allah tidak memiliki dasar selain
Allah sebagai dasar yang tidak berdasar. Namun Allah ditetapkan sebagai
keberadaan yang wajib ada, karena keberadaan itu memang harus ada bagaimanapun
juga, tapi sebuah mobil mewah, itu tidak harus ada, dalam kata lain “kebetulan”
ada.
Gereja memahami dengan
tepat bahwa tindakan penciptaan tidak sama dengan penciptaan dalam waktu.
Penciptaan oleh Allah memiliki karakter kekal, terjadi selamanya pada satu
titik waktu yang ditinggali oleh Allah. Hari 7 di mana Allah “beristirahat”
ditulis dari perspektif manusia, bukan perspektif Allah. Jadi apakah itu
penciptaan yang sejati? Penciptaan adalah relasi ketergantungan antara ciptaan
dan Pencipta. Makna penciptaan adalah Allah adalah sebab akhir dari segala hal
yang ada dalam kenyataan. Sebab artinya Allah menetapkan atau menentukan segala
hal yang ada sehingga tampak sebagaimana yang kita alami.
Mengapa Allah
menciptakan? Kita tahu bahwa Allah adalah Kasih yang mengasihi. Maka segala
yang dilakukan Allah semata-mata karena kasih. Allah menciptakan murni karena
kasih yang bebas. Dia tidak wajib menciptakan, tapi karena kasih, Dia
menciptakan segala sesuatu.
Catatan 21 – Iman kepada Allah
Catatan ini
menjelaskan bagaimana posisi iman dalam diskursus rasional. Pertama, iman tidak
sepenuhnya rasional, ada unsur-unsur rasional, tapi iman pada intinya, yaitu
iman kepada Allah tidak memiliki rasionalitas yang penuh. Sebab kepercayaan
akan Allah adalah kepercayaan yang mendasar, yang disangga dengan
pemahaman-pemahaman filosofis, tapi pada dasarnya tidak sepenuhnya rasional.
Suatu ketika ada suara, entah Ilahi atau diriku sendiri, yang meyakini bahwa
Allah bersifat rasional, tapi aku sampai saat ini belum mengetahui rasionalitas
lengkap dari kepercayaan akan Allah.
Maka, iman akan Allah
bukan perkara rasional yang deterministik, melainkan adalah keputusan yang
melibatkan seluruh daya jiwa manusia dan harus dipertanggungjawabkan. Namun,
hal yang pasti adalah Allah sudah memberikan segala hal yang dibutuhkan untuk
kita mampu percaya kepada-Nya dengan baik. Jadi setiap manusia sebenarnya tidak
memiliki alasan untuk tidak percaya kepada Allah, kecuali jika di dalamnya ada
luka batin, dan luka ini yang menghalangi iman akan Allah yang benar.
Catatan Penutup Sementara
Untuk sementara ini
saja yang aku pahami tentang Allah dan dunia ini. Segala hal lain masih harus
kusempurnakan dan kubentuk.