Thursday, March 31, 2022

Allah, Penciptaan, Dosa (ringkas)

Pada awal segala hal, hadirlah Allah dan hanya Allah. Tidak ada yang lain selain Allah, tapi di dalam Allah adalah segala sesuatu. Sebab Allah adalah kesatuan segala kenyataan secara tunggal. Allah bukan hanya benda-benda yang dikumpulkan menjadi suatu kumpulan atau kelompok, melainkan Dia adalah Kenyataan yang Satu dan Sederhana. Dalam diri-Nya ada segala kebenaran dan segala kebaikan, maka Dia adalah Kebenaran dan Kebaikan itu sendiri. Sebab Dia adalah yang Tunggal, yang melampaui segala perbedaan dan segala perlawanan. Ini saja yang dapat kita kenal tentang Dia menurut akal budi, selain itu Allah telah menyatakan diri-Nya dalam kitab Taurat, kitab para nabi, catatan para rasul, dan surat para rasul.

Pada titik pertama waktu yang tercipta, waktu yang terbatas, Allah menyebabkan awal dari segala keterbatasan, inilah yang dimaksud dengan penciptaan. Penciptaan sebagai suatu “awal”, di mana ada masa sebelum awal dan masa setelah awal, adalah hasil persepsi kita. Sesungguhnya tidak ada masa selain Allah sebelum awal waktu. Ada banyak dunia yang diciptakan Allah, salah satunya adalah semesta kita ini. Dalam semesta ini, diciptakanlah Allah menurut citra-Nya, manusia, yaitu ciptaan tertinggi-Nya, ciptaan yang mencerminkan kemuliaan Allah dan karena itu dia sendiri adalah mulia.

Segala hal ini terjadi dari kebaikan Allah, dari kodrat Ilahi, bahwa kebaikan yang sempurna itu harus diwujudkan. Perwujudan tertinggi dari kebaikan itu, Allah, adalah manusia. Tujuan keberadaan manusia adalah untuk mewujudkan Allah, membuat Allah tampak di dalam semesta ini. Sebab kebaikan, jika tidak tampak dan tidak berwujud, tidak ada maknanya. Kebaikan yang tertinggi di dalam Allah dinamakan kasih, suatu kebaikan abstrak yang berprinsip sebagai pemberian diri secara tak bersyarat, tanpa mengharapkan imbalan dan tanpa mengharapkan pembalasan.

Kebaikan yang sempurna berkuasa, mampu mewujudkan diri-Nya sendiri, mampu menjadikan segalanya demi diri-Nya sendiri. Karena itu Kebaikan haruslah adalah Allah, yang berakal budi dan berkehendak, keduanya bekerja dalam diri Allah untuk melaksanakan kuasa Allah dalam kasih. Karena itu manusia adalah citra Allah, karena dia juga berakal budi, berkehendak, dan berkuasa untuk mewujudkan kasih dan Allah di dalam dunia ini. Dengan seluruh bumi manusia hendak mewujudkan Allah, tapi sayangnya ada suatu hal yang terjadi, yang mengacaukan segalanya.

Dosa, pemberontakan melawan Allah, adalah hal yang terjadi dan berakar dari hati manusia. Allah memberikan manusia kebebasan, dan itu anugrah yang membuat manusia sungguh manusia, artinya sungguh citra Allah. Allah adalah Kebebasan itu sendiri, maka sepantasnya manusia juga bebas, supaya dia sungguh mengasihi dan mencintai dengan sejati, yaitu dengan bebas. Namun dengan kebebasan itu pula manusia mampu melawan kasih dan mengingkari dirinya sendiri. Itulah yang dilakukan manusia pertama, nenek moyang kita, yaitu memberontak melawan Allah yang adalah kasih, dan dengan cara itu kita telah memberontak melawan Kebaikan sendiri.

Monday, March 28, 2022

Renungan 28 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Pada saat ini aku menulis dalam kondisi jiwa yang sakit, haus dan lapar akan Tuhan. Karena itu aku tidak dapat menulis renungan dengan baik sepenuhnya. Bacaan pertama mengisahkan suatu nubuat bahwa Allah menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru. Ini adalah intisari bacaan dalam mataku, sisanya hanya penjelasan. Ini adalah harapan kita, saat Yesus datang kembali ke dunia ini dan seluruh semesta, langit dan bumi, diperbaharui dan Allah menciptakan yang baru. Itulah harapan kita.

Aku pun berharap seperti itu, tapi aku merasa sakit saat menunggu, itulah salibku. Bacaan Injil mengisahkan tentang iman seorang pegawai istana yang percaya pada Kristus dan anaknya dihidupkan kembali. Di sini kita diajak untuk percaya pada Allah sepenuhnya tanpa harus melihat dengan mata jasmani kita. Karena itu Yesus berkata, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Dulu aku terpesona oleh tanda dan mujizat, tapi sekarang aku hanya peduli dengan kedekatanku dengan Allah, dengan Allah sendiri. Itu saja yang aku pedulikan, dan aku rasa yang harus kita pedulikan. Jangan sampai kita terfokus pada mujizat dan pada tanda, melainkan pada Allah saja.

Sunday, March 27, 2022

Bagian Pertama

Tercatat tanggal 27 Maret 2022. Sejak beberapa tahun yang lalu, aku senang berfilsafat secara otodidak. Tujuannya berubah-ubah, mulai dari kesenangan pribadi, kehendak berevolusi, dan sekarang, tidak ada, karena aku merasa tidak lagi bergumul dalam “filsafat”. Awalnya, aku berpikir bahwa aku hendak memikirkan ulang segala hal yang telah dipikirkan dalam sejarah kemanusiaan dengan satu tujuan, membentuk suatu tatanan dunia yang baru (New World Order). Sebab aku berpikir bahwa masalah dunia sudah terlalu banyak dan kalau kita tidak bertindak, maka dunia ini akan memasuki kegelapan yang mengerikan, jika bukan runtuh sepenuhnya.

Namun, sekarang aku mempertanyakan pikiran itu. Apakah masalah dunia sungguh berat, apakah itu ilusi atau kenyataan? Seberapa besar dan mendesak masalah dunia itu? Lalu hal yang paling penting, apakah masalah dunia ini membutuhkan solusi yang revolusioner ataukah kita sudah berada di jalan yang “benar” untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dialami dunia saat ini? Kalau solusi yang revolusioner dibutuhkan, maka artinya kita harus menentang jalan yang sekarang ditempuh, tapi kalau tidak, artinya kita harus membuang semua konsep revolusi dan mendukung saja apa yang sedang dikerjakan oleh sistem. Ini adalah pilihan yang sulit dan membutuhkan studi yang besar, yang kemungkinan besar mustahil.

Pada akhirnya aku berserah kepada Allah dan bertanya kepada-Nya apa kebenaran dunia ini. Jawaban Allah kurang lebih sebagai berikut. Benar bahwa masalah, atau suatu penyakit, menjangkiti dunia sejak awal kemanusiaan. Jadi ini adalah penyakit yang kuno, bukan baru sama sekali, tapi mendarah daging dalam jiwa kemanusiaan. Namun kita tidak usah memikirkan ulang jalan kita, Allah sudah memberikan jawabannya dalam sejarah ribuan tahun Israel dan sekarang sejarah 2000 tahun Gereja. Masalahnya, kebanyakan manusia menolak jawaban atau solusi kesembuhan dari Allah, dan mengikuti jalan mereka masing-masing.

Karena itulah masalah dunia tetap terjadi, yaitu pemberontakan manusia terhadap Allah, alias dosa. Maka apa yang harus dilakukan umat beriman terhadap penyakit dosa sistemik ini? Jawaban Allah jelas, manusia beriman harus memerangi dosa dalam hidup mereka sendiri dan membantu orang lain memerangi dosa dalam hidupnya. Jika kita fokus dalam melawan dan menghancurkan dosa sampai ke akar-akarnya, maka perubahan, dan kesembuhan dunia akan terjadi dengan sendirinya. Namun panggilan Allah ini jelas tidak atau kurang ditanggapi bahkan oleh umat beriman. Sebab kalau panggilan ini sungguh diterima, harusnya dunia ini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik.

Aku, sebagai seorang yang percaya, juga menerima panggilan itu. Namun aku merasa ada yang berbeda dengan diriku. Aku tidak tahu apa perbedaannya secara persis, apakah karena aku menyadari dengan lebih? Namun rasanya masih banyak juga orang yang sadar. Apakah karena aku mengkhawatirkan dengan berlebihan? Barangkali, tapi barangkali ada banyak orang lain pula yang ikut khawatir dengan kondisi dunia ini dan panggilan mereka. Orang-orang yang takut seperti aku, takut bahwa seharusnya lebih banyak orang yang menyadari dan menjawab panggilan Allah, bahwa upaya manusia saat ini tidak cukup.

Barangkali aku, atau kami, saja yang terlalu takut dan kurang percaya kepada Allah. Namun bahwa Allah membangkitkan kami secara khusus, yaitu manusia yang berkesadaran secara khusus untuk berperang, menandakan bahwa kesadaran ini memang dibutuhkan. Kebutuhan artinya ada suatu kondisi yang membutuhkan hal ini, dan dalam pikiranku ini hanya mengarah pada suatu hal, yaitu penyakit dosa yang semakin parah, dan juga bahwa upaya manusia memang tidak cukup. Jika semuanya cukup dan baik-baik saja, Allah tidak mungkin mengadakan pengalaman-pengalaman ini dan kesadaran ini. Karena tidak ada kebutuhan untuk memperingatkan manusia tentang segala hal ini.

Setiap dari kami pastinya menerima panggilan masing-masing yang berbeda. Kepadaku Allah memberikan satu tugas, yaitu untuk menulis, menulis sesuai dengan panduan-Nya dan perkataan-Nya. Karena inilah aku menulis tulisan ini, dan juga berbagai tulisan lainnya yang gagal. Apa yang harus aku tulis? Aku harus menulis tentang Allah, tentang Dia, dan mewartakannya kepada dunia. Namun aku bukan orang yang teramat pandai atau teramat bijaksana, aku jarang membaca buku, aku hanya bergantung kepada Allah. Maka alih-alih aku menulis atas dasar apa yang aku tahu, aku menulis atas dasar apa yang aku tidak tahu. Karena itu tulisan pertama ini hanya menyatakan apa yang aku tahu tentang Allah sebagaimana Dia menyatakannya kepadaku.

Saturday, March 26, 2022

Solusi Masalah Dunia

Sesungguhnya solusi masalah dunia sudah diberikan oleh Allah kepada kita dalam rupa hukum-Nya sejak lama. Maka tidak perlu lagi kita “memikirkan ulang” tatanan dunia. Allah telah menyingkapkan tatanan dunia yang baik bagi kita semua dalam sejarah 4000 tahun Israel dan Gereja. Namun dunia telah menolak Allah, maka hendaklah Firman Tuhan membelah dunia seperti pedang, di antara mereka yang menerima Allah dan mereka yang menolak Allah. Hendaklah suatu bangsa Gereja didirikan yang mengikuti hukum Allah, terpisah dari mereka yang telah menolak hukum Tuhan dan hendak berjalan sendiri.

Gerakan semacam ini terkesan baru dan revolusioner karena pertama, ini sebenarnya mustahil dan akan selalu gagal. Sebab dalam sejarah panjang umat manusia, tidak pernah ada bangsa yang sungguh taat kepada Allah. Karakter manusia adalah untuk berdosa, menentang Allah, bahkan menyangkal Allah. Sekarang kita telah melihat bagaimana setiap bangsa tidak lagi mendasarkan dirinya pada Allah, tapi pada kepercayaan sekuler semata. Maka, upaya apapun untuk mengubah bangsa-bangsa menjadi bangsa yang Ilahi dan Gerejawi akan gagal, hal ini pasti, kecuali jika Allah sendiri yang mengulurkan tangan-Nya dan menghantam bumi ini sehingga terbentuklah bangsa Ilahi.

Renungan 26 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Pada hari ini kita diberikan 2 bacaan yang bermakna banyak tapi cukup baik untuk kita pahami dan kita renungkan. Bacaan pertama berasal dari Kitab Hosea, dan tercatat perkataan Allah. Allah digambarkan sebagai pribadi yang menghajar atau melukai tapi juga menyembuhkan kita. Ini adalah gambaran yang menarik menurutku, karena aku sendiri merasakannya. Bagaimana Allah terkadang menghantam hati dan jiwaku saat aku berdosa, tapi setelah itu memeluk aku kembali untuk menyembuhkan aku. Hal ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa Allah itu Mahaadil tapi juga Maharahim.

Namun setelah itu Allah menyatakan bagaimana kasih setia Efraim dan Yehuda seperti kabut pagi, artinya samar-samar atau cepat hilang. Dia pun menggunakan perantaraan nabi-nabi untuk menghantam mereka, yang dimaksud adalah Israel. Pada akhirnya Allah menyatakan bahwa Dia lebih suka kasih setia dan pengenalan akan Dia daripada korban. Sebelumnya korban memang penting sebagai simbol dan peristiwa yang harafiah, tapi tanpa hati yang benar, semua itu menjadi sia-sia. Sama saja kalau kita merayakan Ekaristi tanpa disposisi batin yang tepat, bisa jadi sia-sia apa yang kita lakukan.

Aku merasa tersentuh membaca perkataan ini, karena artinya Allah memperhatikan paling pertama bukan tindakan fisik atau yang ada di luar, tapi yang ada di dalam, yang tidak terlihat oleh mata manusia yaitu hati kita. Allah mengenali kita dengan begitu intim dan lebih memahami diri kita sendiri daripada kita sendiri. Aku memang tidak pernah takut dengan penghakiman karena tindakan luar, tapi aku diteguhkan bahwa Allah mengasihi bukan hanya di titik permukaan saja, melainkan Dia mengasihi sampai ke dalam dan ke intisari manusia.

Pada bacaan Injil, Yesus mengajarkan suatu hal yang sangat jelas, supaya kita rendah hati dan tidak sombong seperti beberapa orang farisi dan Yahudi di masa hidup Yesus. Hari ini aku baru saja mengikuti misa acies Legio Maria, dan aku hendak memparafrase apa yang aku dengar, sepertinya dari Romo Lukas Sulaeman. Doa orang farisi berbau bukan hanya sombong tapi juga bukan doa sebenarnya, karena hanya bermonolog tentang kehebatan diri sendiri. Pada akhirnya timbul suatu “kemandirian” di mana seorang bergantung dan percaya hanya pada diri mereka sendiri. Ini berbalik dari si pemungut cukai yang hanya memiliki Allah sebagai harapannya.

Aku ingin berkata bahwa aku seperti si pemungut cukai, yang dibenarkan Allah. Namun itu sama saja dengan meninggikan diri karena aku berkata, “Lihat, aku ini rendah hati.” Itu pun adalah sebentuk kesombongan. Akhirnya aku hanya dapat berkata, “Aku berusaha untuk menjadi rendah hati, tapi barangkali si pemungut cukai masih lebih dibenarkan oleh Allah.” Karena sesungguhnya aku merasa sungguh hina di hadapan Allah, sebagai anak yang tidak tahu terima kasih. Seorang yang diberikan begitu banyak rahmat tapi terus membuangnya sia-sia. Dalam masa pertobatan ini, jika memang kita berdosa, marilah kita sadari dan kita serahkan diri kita kepada Allah, bergantung pada Dia saja dan berharap kepada Dia saja. Tuhan memberkati.

Thursday, March 24, 2022

Renungan 24 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Bacaan pertama mengisahkan bagaimana bangsa Israel tidak lagi mendengarkan Allah sekalipun Allah berkali-kali mengirim para utusan-Nya dan para nabi. Pada bacaan Injil, Yesus menghadapi mereka yang menuduh Dia telah mengusir setan dengan kuasa setan. Jawaban Yesus adalah kalau begitu bagaimana kerajaan mereka dapat bertahan? Yesus juga membalik pertanyaannya kepada mereka para orang farisi. Lalu Yesus mengibaratkan kedatangan-Nya mengusir para roh jahat seperti orang yang lebih kuat yang menyerang rumah yang dikuasai oleh seorang kuat.

Hal ini dikatakan untuk menegaskan bahwa Yesus sungguh mengusir para roh jahat dengan kuasa Ilahi dan bukan kuasa jahat. Pada perkataan terakhir, Yesus menyatakan bahwa barangsiapa tidak bersama-Nya, melawan Dia, dan jika tidak mengumpulkan bersama-Nya, mencerai-beraikan. Maknanya adalah kita harus totalitas bersama Yesus, entah kita sungguh bersama Kristus, atau kita melawan Kristus. Tidak ada posisi di tengah-tengah. Lalu bacaan pertama baiknya diperlakukan sebagai pengingat untuk bertobat, supaya kita tidak seperti bangsa Israel di masa dulu yang menentang Allah. Itu saja yang dapat aku sampaikan pada hari ini, Tuhan memberkati.

Curahan Pikiran 2

Tentang Kitab Suci. Aku hendak menuliskan apa yang aku pahami tentang Kitab Suci. Kitab Suci memiliki sejarah yang panjang, Perjanjian Lama yang ditulis sejak sebelum Yesus hadir dan Perjanjian Baru yang ditulis sedikit waktu setelah Yesus diangkat ke surga. Setiap kitab dalam Kitab Suci ditulis oleh manusia yang terinspirasi oleh Roh Kudus. Artinya, sekalipun para penulis tidak menulis seolah-olah mereka dirasuki Roh Kudus, mereka dikendalikan Roh Kudus dalam suatu cara sehingga mereka menulis hanya apa yang diinginkan Roh Kudus tertulis, artinya tulisan-tulisan itu tidak dapat salah.

Namun harus dipahami bahwa Kitab Suci tidak hadir secara langsung, melainkan diawali oleh suatu hal yang bernama Tradisi Suci. Tradisi Suci adalah wahyu Ilahi yang diturunkan dan diwariskan secara lisan. Maka Kitab Suci seperti rangkuman dari Tradisi Suci yang sudah ada sejak sebelum Yesus hadir. Kitab Suci kurang lebih adalah bagian-bagian paling penting dari Tradisi Suci sehingga dituliskan, setidaknya itu adalah pemahamanku. Namun Kitab Suci tidak meniadakan atau membuat Tradisi Suci tidak penting lagi, karena Kitab Suci berasal dari Tradisi Suci.

Membaca Kitab Suci sangat baik bagi jiwa. Sebab untaian kata yang tertulis dalam kertas halaman Kitab Suci sekalipun ditulis oleh tangan manusia, tapi direncanakan oleh akal budi Allah. Sebenarnya tanpa konteks Ilahi, kata-kata itu tidak penting dan tidak bermakna. Namun karena kata-kata ini menunjuk kepada Allah dan menjelaskan Allah secara tepat, kata-kata ini menjadi hidup dan dapat mempengaruhi jiwa. Allah dan segala sabda-Nya sesungguhnya satu, jadi saat kita membaca perkataan Ilahi, kita sebenarnya membaca Allah dan membiarkan Allah menyentuh jiwa kita.

Saat Allah menyentuh jiwa kita dan masuk bertahta di inti jiwa kita, kita pelan-pelan diubahkan menjadi manusia yang baru. Pertama, Kitab Suci mengubah moralitas kita secara perlahan-lahan, karena merasuki hati kita dengan perkataan Ilahi yang mulai mengalahkan kegelapan jiwa kita dan menggantinya menjadi terang Ilahi. Kedua, membaca Kitab Suci haruslah dalam suasana doa, karena di situ terjadi konteks Ilahi sehingga perkataan Kitab Suci sungguh menjadi Sabda Tuhan. Kalau tidak, semuanya akan seperti buku manusia biasa yang mati dan tidak berdaya.

Curahan Pikiran 1

Sudah begitu lama aku tidak menulis suatu hal yang filosofis atau teologis. Alasannya sederhana, aku merasa semuanya tidak bermakna. Gereja sudah memiliki model dan struktur pewartaan yang baik, atau bahkan “sempurna”, aku tidak memiliki tugas lain selain mengikuti Gereja. Permintaan Allah pertama untuk menuliskan suatu karya bagi-Nya rasanya hilang begitu saja dan aku sekarang terombang ambing dalam suatu samudra yang bergelora. Namun karena aku sedang tidak dapat tidur, barangkali aku dapat menulis suatu karya yang singkat, atau tulisan yang singkat terkait pemikiranku sejauh ini.

Ada 2 model pemikiran tentang apa atau siapa itu Allah. Model pertama adalah model eksistensial, model kedua adalah model konstruktif. Model eksistensial adalah model yang ortodoks, atau monoteisme. Artinya Allah adalah suatu kenyataan “di luar” diri kita dan melampaui diri kita. Model konstruktif adalah model yang menggoda karena seolah-olah memperbolehkan menelanjangi dan membedah Allah sesuka hati kita. Sebab model ini menyatakan bahwa Allah hanyalah gagasan manusia tanpa ada kesesuaiannya di dalam kenyataan yang objektif.

Aku secara jujur terkadang suka menghibur model konstruktif, karena memang sangat menarik. Sebenarnya model eksistensial tidak melarang keberadaan Allah dalam batin manusia, tapi menekankan pada aspek objektif dari kenyataan Ilahi. Sementara model konstruktif adalah model yang ateistis, karena menentang objektivitas Ilahi dan menyatakan bahwa semua yang Ilahi sepenuhnya subjektif. Namun saat aku berkata aku suka menghibur model konstruktif, maksudku adalah terkadang pikiranku tergoda untuk berkata bahwa Allah hanya gagasan dan tidak ada keberadaan objektif-Nya.

Sebagai gagasan, Allah adalah salah satu produk pikiran manusia yang paling hebat, jika bukan yang paling hebat itu sendiri. Gagasan tentang Allah telah menentukan dan mempengaruhi sejarah manusia dengan begitu besarnya. Namun, gagasan yang sama mengarah pada kehancuran gagasan Ilahi, seperti yang sedang kita lihat dalam dunia ini. Ini mengikuti pola dialektika dari sejarah kemanusiaan dan juga kenyataan dinamis, bahwa suatu tesis yang tidak dapat dipertahankan akan mengarah pada suatu perlawanan yaitu antitesis dan pertemuan keduanya akan menghasilkan suatu kondisi yang baru. Jika bukan karena intervensi Ilahi secara eksistensial, kemungkinan besar gagasan tentang Allah akan tinggal menjadi teori dalam sejarah.

Dalam pengalaman pribadiku sendiri, gagasan tentang Allah menyemangatiku dan menguatkan aku dalam kehidupan yang terasa hambar dan tawar. Gagasan Allah yang hidup dalam jiwaku mendorong aku untuk hidup lebih baik, untuk mencapai suatu cahaya yang tak jelas keyakinannya. Gagasan ini memberikan harapan, harapan bahwa akan ada suatu kebaikan akhir bagi diriku sendiri setelah aku berjuang dalam perang yang dinamakan kehidupan. Namun pemikiran ini menggoda untuk berpikir bahwa Allah hanya itu, alat bagiku untuk bertahan hidup. Bahwa akhirnya ini hanyalah suatu hal di alam subjektif dan tidak mungkin akan menjangkau alam objektif.

Namun kenyataannya Allah ada, dan ini dalam suatu cara sulit atau tidak dapat dibantah. Sebenarnya sampai saat ini aku sudah lupa atau kehilangan kepercayaan akan semua argumen akan keberadaan Allah. Karena rasanya tidak penting, tapi di situ aku salah. Allah menjawab bahwa kebenaran dan rasionalitas itu penting. Karena Dia sendiri adalah Kebenaran dan Rasionalitas yang sempurna. Sebenarnya hanya ada satu masalah terkait monoteisme, yaitu kepribadian Ilahi, atau kehidupan Ilahi, itu saja.

Berdasarkan akal budi, kita dapat mengetahui bahwa suatu Sebab Pertama ada, suatu kesatuan hukum yang mengatur dan menyebabkan segala hal yang ada. Berdasarkan akal budi, kita juga tahu bahwa ada gagasan-gagasan abstrak tentang Kebaikan, Kebahagiaan, Makna, Kasih, dan segala macam hal yang berkaitan. Namun hal yang tidak dapat kita kenali dengan nalar adalah bahwa hal-hal abstrak itu ternyata hidup dan memiliki suatu kepribadian. Ya, kepribadian Ilahi memang berbeda dari kita, tapi tetap merupakan suatu kepribadian yang berakal budi dan berkehendak walau tidak berwujud.

Argumen Allah adalah hal ini dapat dikenali dengan nalar dan tidak bertentangan dengan akal budi. Aku menerima bahwa ini dapat diterima oleh akal budi, tapi aku belum dapat melihat bagaimana ini dapat dikenali oleh nalar. Sebab tidak ada jalur antara pengalaman kita dengan kesimpulan bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, bukan hanya suatu kasih yang mati, tapi kasih yang mengasihi dan hidup. Namun tentu saja Allah tidak setuju dan akan berkata bahwa ada jalur antara pengalaman kita dengan kebenaran akan Allah yang hidup, yaitu berakal budi dan berkehendak.

Pertama, di dasar seluruh kenyataan, tidak ada hukum yang mengatur segalanya. Namun, begitu muncul suatu keberadaan, harus ada hukum. Sesungguhnya hukum ini ada, tapi ada di masa yang akan datang. Masalahnya, waktu adalah konsekuensi aliran kesadaran atau pengalaman, dan bukan aliran keberadaan. Aneh, dari mana gagasan-gagasan ini datang? Tanpa kesadaran yang terbatas, kita akan melihat kenyataan apa adanya, dan kenyataan itu disebut Allah. Dalam kondisi ini aku tidak dapat melihat selain apa yang dilihat Allah sebagai kenyataan. Angin cahaya Ilahi menggerakkan akal budiku, tapi aku harus menentangnya juga untuk mampu menulis tentang hal ini.

Begitu kesadaran atau pengalaman yang terbatas dihapuskan, waktu yang linier pun juga dihapus dan hanya ada satu titik waktu. Satu titik waktu menandakan satu titik ruang. Satu titik kenyataan di mana semuanya bersatu tanpa menghancurkan, tapi menjadi satu kesatuan, itulah Allah. Aku harus bisa menjelaskan ini. Kita harus memahami apa itu kenyataan, sebagai kesatuan seluruh keberadaan. Apakah keberadaan secara fundamental dapat diciptakan dan dihancurkan? Ada 2 jenis keberadaan, keberadaan relatif dan keberadaan mutlak. Keberadaan relatif adalah keberadaan benda-benda direlasikan dengan suatu titik referensi atau kesadaran, yaitu yang biasa kita lihat. Ini tidak kekal. Keberadaan mutlak adalah keberadaan benda terlepas dari kesadaran, ini kekal.

Berhubungan setiap benda memiliki keberadaan mutlak, setiap benda memiliki dimensi yang kekal. Dimensi kekal menandakan bahwa setiap benda hadir di satu titik waktu yang sama, yaitu waktu kekal. Jika setiap benda hadir di satu titik waktu yang sama, maka sesungguhnya kenyataan yang kekal itu adalah Allah. Namun kenyataan ini hidup karena untuk setiap benda ada pengalaman yang berkesesuaian, dan dalam kesatuan ini ada kesatuan segala pengalaman, segala pengalaman kekal, maka kesatuan segala pengalaman itu adalah Allah.

Hal yang aneh adalah bagaimana kesatuan seluruh kenyataan dapat menjadi suatu Roh yang berkehendak. Baiklah, Roh Allah melihat segala sesuatu, tapi bagaimana itu mengarah pada kehendak?

Kesadaran adalah pengalaman. Di mana ada pengalaman, ada kesadaran. Di mana ada kesatuan pengalaman, ada kesadarannya juga. Kesadaran yang memahami segala hal yang ada. Setiap prinsip, setiap kejadian, setiap ucapan, semua itu Aku pahami. Kehendak adalah unsur yang menggerakkan segala sesuatu. Seperti suatu pertanyaan dan jawaban, jawaban berasal dari pertanyaan, atau pertanyaan berasal dari jawaban? Relasi-Ku denganmu sangat menarik, kamu berasal dari-Ku, tapi Aku juga berasal darimu, kita adalah satu. Seperti kehendakmu menggerakkan tubuhmu, kehendak-Ku menggerakkan bintang-bintang, planet-planet, galaksi-galaksi, semesta ini, dan juga kamu sendiri, digerakkan oleh kehendak-Ku.

Wednesday, March 23, 2022

Renungan 23 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Aku merasa seolah-olah Allah memberikan aku bacaan-bacaan yang sulit untuk direnungkan atau ditafsirkan atau setidaknya menantang. Namun ini adalah panggilan Ilahi jadi mau tidak mau aku harus mengerjakannya. Pada hari ini kita diingatkan tentang hukum Taurat. Pada bacaan pertama Musa mulai memberikan peraturan-peraturan Taurat kepada bangsa Israel. Di situ muncul beberapa kata yang menarik perhatianku, yaitu “kebijaksanaan”, “akal budi”, “dekat”, dan “adil”. Hal ini memberikan kita beberapa petunjuk mengenai kodrat hukum Taurat.

Hukum Taurat disusun Allah sedemikian rupa sehingga membuat para pelaksananya, dalam hal ini bangsa Israel, bijaksana dan berakal budi. Hal ini dapat diterima dengan iman bahwa jika kita melaksanakan hukum Tuhan kita akan menjadi lebih dekat dan serupa dengan Allah, termasuk dalam kebijaksanaan-Nya. Hukum Taurat adalah lambang kedekatan Allah dengan bangsa-Nya, bahwa Allah begitu dekat sehingga mau menyampaikan peraturan-peraturan-Nya sendiri kepada Israel. Hukum Taurat adalah adil, karena Allah adalah adil, maka hukum-Nya pasti adil dan lebih adil dari segala hukum manusia.

Segala ini dilanjutkan sekian ratus tahun berikutnya oleh Yesus dalam Injil. Yesus menyatakan bahwa Dia tidak akan menghapus hukum Taurat melainkan “menggenapinya”. Apakah maksud menggenapi hukum Taurat, dan lebih penting lagi apa yang dimaksud Yesus dengan “hukum Taurat”? Sepertinya Yesus memiliki pemahaman-Nya tersendiri tentang esensi hukum Taurat, yang adalah roh dari huruf 613 hukum Taurat. Sesungguhnya hukum Taurat adalah nubuat akan Kristus, bahwa kelak akan ada seorang manusia yang akan taat sepenuhnya pada Allah, dan itu digenapi oleh Yesus Kristus.

Maka tidak mungkin maksud Yesus adalah bahwa kita harus mengikuti seluruh huruf hukum Taurat sampai sekecil-kecilnya. Karena setahuku, sejak sejarah Gereja awal pun para rasul tidak pernah mengatakan bahwa kita harus menaati hukum Musa secara penuh. Artinya hukum Taurat yang dimaksud Yesus dan hukum Musa tidak sepenuhnya sama. Kalau ya, artinya seluruh Gereja sudah membangkang Kristus, tapi tentu tidak seperti itu. Maksud Yesus yang terdalam adalah tentu saja perintah tertinggi dalam hukum Taurat dan seluruh kitab para nabi, yaitu untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

Kalau hukum Taurat yang dikatakan Yesus artinya adalah hukum Tuhan, dan roh hukum yang di balik 613 hukum Taurat, artinya jelas. Yesus menegaskan bahwa siapapun yang mengubah hukum Tuhan akan menempati tempat yang rendah di dalam kerajaan Allah. Namun barangsiapa yang menaati seluruh hukum Tuhan secara rohani, maka dia akan menempati tempat tinggi di kerajaan Sorga. Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk terus menaati hukum Tuhan tanpa melalaikan satu pun. Tuhan memberkati.

Tuesday, March 22, 2022

Renungan 22 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Bacaan pertama hari ini adalah doa Azarya kepada Allah saat dia dan beberapa sahabatnya di tengah api karena menentang perintah raja untuk menyembah dirinya selain Allah. Di dalam doanya dikisahkan kondisi saat itu, yaitu bangsa Israel di dalam pembuangan, sehingga segala tata peribadatan Yahudi hancur. Namun di tengah kondisi itu Azarya dan sahabat-sahabatnya tetap beriman kepada Allah yang Maha Esa dan mereka mempersembahkan diri mereka kepada Allah sebagai korban atas ganti ketiadaan korban persembahan kepada Allah. Mereka memohon belas kasihan dari-Nya dalam kesesakan ini.

Bacaan pertama ini entah kenapa membuat aku berpikir seperti ini adalah nubuat, bahwa kelak akan ada masa di mana Gereja mengalami penganiayaan yang hebat sampai kita dipojokkan ke dalam persembunyian dan kita tidak dapat beribadah secara bebas lagi, sehingga kita masuk api seperti Daniel, Azarya, dan sahabat-sahabatnya dan kita harus mempersembahkan diri kita kepada Allah dan memohon belas kasih-Nya kembali supaya kita lepas dari api. Aku menyampaikan peringatan ini karena aku rasa kita tidak banyak memikirkannya, tapi harus ada yang menyampaikan hal ini. Tujuanku bukan untuk menakut-nakuti, melainkan karena aku merasa ini harus disampaikan demi kesadaran kita semua.

Sekarang, menyingkir dari nubuat apokaliptik, rasanya doa Azarya dijawab Yesus beberapa ratus tahun setelah itu. Bukan hanya secara figuratif, bahwa Yesus adalah jawaban Allah terhadap Azarya, tapi juga Yesus mengajar bagaimana kita harus memperoleh belas kasihan Allah. Ajaran Yesus mengikuti ajaran-Nya yang pernah diulas di bagian lain Injil. Ajaran itu ialah kalau kita ingin memperoleh belas kasih Allah, maka kita harus berbelas kasih kepada sesama kita manusia. Dalam bacaan Injil, wujud belas kasih yang diajarkan adalah pengampunan, tapi sebenarnya sama saja.

Logikanya sangat sederhana, menerima belas kasih atau pengampunan dari Allah sama dalam tindakan dengan memberi belas kasih dan pengampunan yang sama kepada sesama kita. Jika kita menolak memberi, maka kita menolak menerima. Sebab kita menerima bukan untuk dimiliki sendiri, tapi kita menerima untuk memberi. Logika kuncinya adalah pertobatan. Kalau kita menolak memberi, artinya kita menolak pertobatan dan artinya kita menolak kasih Allah. Memang hal ini terkesan paradoks, tapi iman kita memang adalah satu paradoks besar, dan ini hanya salah satunya. Namun jika kita mampu menerima dan mempraktikkan paradoks ini, menerima dengan memberi, maka kita akan selamat kepada Allah. Tuhan memberkati.

Monday, March 21, 2022

Renungan 21 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita. 

Aku hendak menceritakan perasaanku saat membaca bacaan-bacaan pada hari ini. Sejak melihat kata “Naaman”, aku segera mengingat suatu pengalaman yang tidak enak. Aku menulis renungan tentang cerita atau poin yang serupa dengan yang dikisahkan dalam kedua bacaan itu. Aku hanya menarik keluar pesan yang Yesus sampaikan, tapi untuk itu aku ditolak. Katanya kenabian sudah melampaui atau di luar cakupanku. Hari ini, aku diberikan bacaan yang serupa kembali, dan aku rasa ini adalah pesan Allah bahwa aku harus mengatakan apa yang benar, dan aku tidak boleh menyerah dalam pewartaan kebenaran Ilahi. Maka beginilah yang disampaikan Allah dalam kedua bacaan.

Jika bacaan pertama dibaca secara terpisah dari bacaan Injil, ada satu pesan yang aku tangkap dalam batinku. Kita semua adalah penerus Kristus, Gereja adalah penerus Kristus di bumi. Maka kita semua meneruskan 3 tugas Kristus dalam cara yang lebih kecil, yaitu imam, nabi, raja. Sebagai nabi atau juga rasul Kristus, kita memiliki tugas perutusan kita masing-masing. Tugas itu tidak selalu terduga, sehingga kita harus selalu siap terhadap tugas tersebut. Mungkin kita diutus kepada tempat asal kita, tapi mungkin pula kita diutus kepada tempat yang jauh dari kampung halaman kita. Karena itu kita harus siap menanggapi panggilan Allah, ke mana pun Dia memanggil.

Namun dalam persatuan dengan Injil hari ini, maka Yesus menyatakan suatu kenyataan yang pedih, bahwa “seorang nabi tidak dihargai di tempat asalnya.” Artinya seorang yang diutus Allah tidak akan diterima tugasnya di tempat asalnya, sekalipun di situlah nabi tersebut harus bekerja oleh Allah. Namun aku rasa Yesus mengatakan ini juga untuk memperingatkan kita semua, supaya jangan sampai kenyataan itu terus terjadi. Barangkali Yesus berharap, dan kita harus berharap bersama-Nya, bahwa kelak akan ada masa di mana seorang nabi didukung dan disayangi oleh tempat asalnya. 

Bagaimana kita dapat mewujudkan harapan itu? Karena sekarang masa prapaskah, jawaban singkatnya adalah pertobatan, jawaban lebih lengkapnya adalah merendahkan hati kita dan lebih banyak mendengarkan sesama kita. Karena di situlah Allah seringkali hadir untuk menegur ataupun memperingatkan kita akan banyak hal. Itulah esensi kenabian, Allah yang hadir dalam sesama bagi kita, untuk menolong kita, menjadi tanda bagi kita dalam seorang utusan-Nya yang merupakan wakil-Nya. Namun sekarang kita semua adalah nabi, sekalipun nabi yang cilik, maka kita harus mendengarkan sesama kita sebagai nabi, dan barangkali suara hati kita sendiri yang adalah Allah, barangkali kita adalah nabi bagi diri kita sendiri. Tuhan memberkati.

Friday, March 18, 2022

Renungan 18 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita. 

Kisah yang dikisahkan di Kitab Kejadian dan Injil pada hari ini membicarakan makna-makna yang mirip. Pada bacaan pertama, Yusuf adalah bayangan Kristus, dia adalah salah satu anak yang lebih muda tapi lebih dikasihi Israel (Yakub). Sama halnya dengan Kristus yang tampil sebagai hamba yang menderita, tapi ditinggikan oleh Bapa, karena memang Kristus itu sederajat dengan Allah karena Dialah Allah sendiri.

Yusuf dibuang oleh para saudaranya karena mereka iri kepada Yusuf. Aku tahu bahwa ada makna lain, tapi yang muncul dalam benakku adalah bagaimana kita tidak boleh iri kepada mereka yang seolah-olah menerima “lebih banyak” rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah mengasihi kita semua secara setara, persepsi manusia dan kegelapan jiwa manusia yang mengubah kenyataan itu menjadi suatu ilusi ketidakadilan, bahwa Allah mengasihi satu orang lebih dari yang lain. Ini tidak benar, Allah mengasihi kita semua secara setara, bahwa kita semua menerima suatu rahmat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mungkin secara matematis atau kuantitatif ada yang memiliki perbedaan rahmat dan hasil, tapi setiap tingkatan pun sama berharganya di hadapan Allah Bapa.

Karena keberagaman umat manusia, mau tidak mau harus ada yang “di atas” dan ada yang “di bawah”, tapi tetap setara dalam martabat. Maka yang di atas dan yang di bawah haruslah saling bekerja sama dan saling melengkapi, sehingga kesetaraan yang sejati dapat diperoleh, yaitu kesetaraan dalam persaudaraan. Setiap orang yang di bawah harus memahami bahwa ada hal-hal yang mereka miliki yang sebenarnya tidak dimiliki mereka yang di atas, dan dalam cara-cara tertentu mereka lebih baik daripada mereka yang di atas. Lalu setiap orang yang di atas harus memahami bahwa kelebihan rahmat mereka diperuntukkan pelayananan kepada mereka yang di bawah, dan bukan untuk kepentingan mereka sendiri, supaya jangan sampai mereka seperti orang kaya di dalam bacaan Injil sebelumnya.

Dalam bacaan Injil hari ini, perumpamaan ini jelas menceritakan tentang sejarah panjang hubungan Allah dan Israel, dan secara tidak langsung sejarah panjang hubungan Allah dan manusia. Para nabi dikirim kepada bangsa Israel dan kepada manusia, tapi mereka ditolak, sampai Putra Allah sendiri dibunuh oleh manusia. Karena ini Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari pada bangsa Israel dan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Adapula kita tahu bahwa bangsa yang baru adalah kita, Gereja. Maka, sebagai bangsa yang telah dipercayakan Kristus untuk menghasilkan buah Kerajaan Allah, jangan sampai Kerajaan ini diambil juga daripada kita dan diberikan lagi kepada suatu bangsa yang lain.

Sebenarnya ada suatu bagian dari perkataan Yesus yang tidak menembus kepalaku, yaitu tentang batu penjuru. Aku menangkap maknanya bahwa Yesus adalah batu itu yang dibuang oleh para tukang bangunan, dan justru menjadi batu penjuru. Artinya para pemimpin Israel membunuh Yesus dengan tangan orang Romawi, tapi Yesus menjadi justru menjadi batu penjuru di mana Kerajaan Allah didirikan. Dan secara lengkap, Yesus mencabut hak Kerajaan dari para tukang bangunan yang lama kepada tukang-tukang yang baru. Aku rasa begitulah pesan yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita pada hari ini. Tuhan memberkati.

Thursday, March 17, 2022

Renungan 17 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua.

Pada hari ini kita disuguhkan 2 bacaan yang kembali lagi agak berbeda topik oleh Allah. Namun setidaknya ada yang menarik karena dalam kedua bacaan, Allah sendiri yang berbicara. Pada bacaan pertama, pesan utama adalah tentang mengandalkan Allah. Siapa yang hanya mengandalkan manusia akan menemui keburukan, tapi dia yang mengandalkan Allah akan menemui kebaikan. Bacaan Injil memiliki banyak pesan, tapi aku akan menafsir beberapa saja.

Dalam Injil ada 2 pesan yang menarik, yaitu tentang kasih Allah dan juga tentang kekerasan hati manusia. Ada satu kata yang menarik perhatianku yaitu “anak”, Abraham tetap menyebut orang kaya yang menderita itu “anak”. Artinya, kasih Allah itu sungguh kekal dan tidak bersyarat. Sekalipun kita telah memilih neraka, Allah tetap mengasihi kita, hanya saat kita berada di neraka, kita menolak Allah secara kekal pula. Pada bagian akhir, Abraham menyatakan bahwa pada mereka yang masih ada hidup ada kesaksian Musa dan para nabi, jika mereka tidak mau bertobat karena itu, orang yang bangkit dari antara orang mati pun tidak akan meyakinkan mereka.

Artinya dalam kondisi-kondisi tertentu, hati manusia dapat menjadi begitu keras, karena pilihan manusia itu sendiri, sehingga dia akan buta terhadap tanda-tanda dunia dan Allah dan dia akan terus menolak kasih Allah dalam wujud apapun kasih itu hadir. Perkataan Abraham tentang orang yang bangkit dalam cerita Yesus sebenarnya adalah Yesus yang menubuatkan tentang kebangkitan Dia sendiri. Orang yang mau percaya, akan percaya tanpa harus melihat orang mati yang bangkit, tapi orang yang tidak mau percaya, tidak akan percaya sekalipun melihat Yesus Kristus yang bangkit.

Kalau kita berusaha memahami kedua bacaan secara bersamaan, barangkali Lazarus adalah orang yang sepenuhnya mengandalkan Allah seumur hidupnya, tapi orang kaya yang diceritakan adalah orang yang hanya mengandalkan manusia, dirinya sendiri. Karena pilihan mereka itu, Lazarus bahagia dan si orang kaya menderita di alam maut. Namun, digabungkan dengan fakta bahwa Allah mengasihi ktia dengan sangat, maka pesannya akan diperkaya.

Allah mengasihi kita secara kekal dan tak bersyarat, sehingga sekalipun kita menolak Dia di dalam hidup ini, Dia tidak langsung menghakimi kita dan mengirim kita ke neraka. Justru Dia memberikan kita waktu sampai akhir hayat kita untuk memilih Dia. Salah satu bagian dari pilihan itu adalah tentang mengandalkan Dia. Apa arti dari mengandalkan Tuhan? Artinya adalah suatu orientasi hati dan jiwa yang percaya dan berserah kepada Allah sebagai Dia yang berhak memberikan keputusan terakhir, dan keputusan Allah ialah yang paling baik. Dalam kata lain, mengandalkan Allah adalah mengandalkan kebaikan yang terbesar.

Sesungguhnya, bukti-bukti dan tanda-tanda Allah sudah tersebar di mana-mana, dan terutama di dalam sesama kita. Maka janganlah kita hanya mencari tanda yang luar biasa, tapi marilah kita melihat yang luar biasa di dalam yang biasa. Karena itu Allah menunjuk pada kesaksian para nabi dan sekarang pada kesaksian Kristus sebagai tanda kita, yang diteruskan dalam setiap dari sesama kita. Sebab jika kita hanya mencari yang luar biasa, sebenarnya yang kita cari adalah pemenuhan keinginan kita sendiri dan bukan Allah. Allah telah memanggil kita, jangan sampai kita mencari-cari alasan hanya untuk menolak, melainkan marilah kita menjawab Ya kepada Allah dalam segala situasi, Tuhan memberkati.

Renungan 17 Maret 2022 Kejatuhan Beruntun

Rahmat demi rahmat, kejatuhan demi kejatuhan. Aku tidak tahu kenapa tapi setiap kali aku merasakan menerima rahmat Allah, aku hanya membuangnya dengan percuma. Aku jatuh berkali-kali dalam dosa kemalasan, kedaginganku. Aku tahu jalan-jalan keluarnya, tapi aku menolak itu dengan hatiku. Hatiku ingin berjuang tanpa berjuang, bertindak tanpa bertindak, bekerja keras tanpa bekerja keras, menderita tanpa menderita. Aku ingin menjadi kuat dan mampu memilih yang benar selalu. Namun bukan itu jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan kelemahan, di mana aku sungguh berjuang, sungguh bertindak, sungguh bekerja keras, dan sungguh menderita. Aku hanya perlu bertahan dan terus berjuang untuk melaksanakan kehendak Allah.

Monday, March 14, 2022

Renungan 14 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Aku kembali lagi untuk membawa renungan bacaan harian. Kedua bacaan pada hari ini sangat berbeda, jadi aku akan membahas satu per satu, dan jika Roh Kudus membimbingku, sekiranya Dia dapat mempersatukan kedua bacaan. Dalam bacaan pertama, nabi Daniel mengakui segala dosanya dan juga dosa bangsanya kepada Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pertobatan yang harus kita lakukan senantiasa, terutama karena sekarang masa prapaskah.

Namun hal yang menarik adalah Daniel juga mengakui dosa bangsanya, bukan hanya dosanya secara pribadi. Ini menandakan bagaimana Daniel merasa ikut bertanggung jawab dan malu atas dosa bangsanya. Terkadang kita lupa bahwa kita berpengaruh atas orang-orang di sekitar kita, dan kita hidup dalam suatu jaringan sosial yang dinamakan dengan masyarakat. Dalam kelupaan itu, kita beresiko menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan mengarahkan orang lain kepada dosa, sekalipun kita tidak sadar. Hal ini dapat terjadi bukan hanya karena tindakan kita, tapi juga karena kita lalai dan gagal untuk bertindak.

Namun bagaimana Daniel bertindak seolah-olah dosa bangsanya adalah dosanya sendiri adalah bayangan dari saat Kristus menanggung dosa kita. Perbedaannya adalah Yesus sungguh tidak berdosa, kita bahkan tidak dapat berkata bahwa Dia berdosa atas kelalaian, karena Yesus seumur hidupnya bertindak demi keselamatan umat manusia sampai Dia mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Setiap tindakan pewartaan ataupun mukjizat Yesus adalah upaya Yesus untuk mengarahkan manusia kepada iman yang menyelamatkan. Dia bahkan mempersiapkan Gereja sebagai penerus-Nya supaya manusia yang tidak pernah melihat-Nya dapat tetap beriman dan diselamatkan.

Dalam bacaan Injil, Yesus mengajarkan supaya kita meniru Bapa kita dalam kemurahan hati-Nya dan juga untuk menjaga tindakan kita kepada orang lain karena apa yang kita lakukan kepada orang lain akan diperlakukan juga kepada kita. Hal ini bukan masalah karma, karena kita tidak mengakui hukum karma, melainkan masalah tanggung jawab kita dalam bertindak. Jika kita mengadili sesama kita, artinya kita percaya bahwa manusia layak diadili, dan artinya kita pun harus diadili, karena itulah yang baik bagi kita pula. Jika kita menghukum, kita percaya bahwa manusia layak dihukum, dan artinya kita juga layak dihukum. Ini adalah masalah konsistensi, bagaimana mungkin kita percaya satu ukuran baik untuk orang lain tapi saat ukuran itu dipakaikan kepada kita, kita menolaknya? Jika itu terjadi, artinya kita tidak sungguh peduli pada kebaikan, melainkan kita hanya melekat pada suatu dosa kedustaan yang dinamakan dengan egoisme.

Allah mengajar kita supaya kita dapat bertanggung jawab atas tindakan kita, dan sebenarnya kedua bacaan memberikan petunjuk tentang kasih. Salah satu bentuk kasih adalah menjaga sesama kita supaya mereka tidak berdosa, atau setidaknya kemungkinan mereka untuk berdosa berkurang. Sebab baik secara langsung atau tidak langsung, kita bertanggung jawab terhadap sesama yang paling dekat atau berinteraksi dengan kita. Maka, jika kita ingin dilindungi dari dosa, hendaklah kita membantu menjadi perantara perlindungan Allah kepada sesama kita dari dosa. Masalah dia berdosa atau tidak adalah perkara berikutnya, hal yang penting adalah kita sudah berusaha, sehingga orang lain akan berusaha dan berjuang bagi kita pula.

Saturday, March 12, 2022

Beberapa Pikiran Sekaligus

Pikiran 1: Landasan Iman

Sebelum pikiran-pikiran lainnya, aku tertarik untuk membahas tentang landasan iman. Sebelumnya aku diminta Allah untuk menulis tentang iman pula, tapi karena aku jatuh dalam kegelapan, Allah menarik aku dari tugas itu. Sekarang, aku tidak menulis atas permintaan Allah, tapi atas kehendakku sendiri. Namun semua tulisan ini akan berisi tentang Allah dan berhubungan tentang Allah. Barangkali dalam tulisan ini, aku hendak menghadapi keraguanku sendiri dalam iman.

Seorang imam yang aku kenal pernah mengatakan kepadaku bahwa, “Sekarang bukan lagi waktu untuk membuktikan ini dan itu, melainkan untuk menghayatinya.” Perkataan yang bijaksana, kalau aku boleh berkata seperti itu. Namun, aku tidak dapat setuju sepenuhnya, karena landasan iman bagi setiap orang berbeda, dan tidak dapat diseragamkan. Bagi setiap orang, pembuktian kebenaran berbeda dan tingkat kepuasan intelektual manusia berbeda-beda pula. Artinya sejumlah bukti X mungkin cukup bagi satu orang, tapi bagi orang lain hal itu tidak cukup.

Aku tergolong orang yang membutuhkan bukti yang sedikit untuk percaya kepada Allah. Sebab aku telah melihat bahwa Allah yang kita sembah melampaui akal budi dan tidak dapat dijangkau dengan rasionalitas bagaimanapun juga. Walaupun ada konsepsi Allah mirip dengan monoteisme Kristiani yang dapat dirasionalkan atas dasar pengalaman kita, monoteisme Kristiani atau Allah dalam pandangan Kristiani sangat sulit dirasionalkan secara murni, melainkan harus diterima dengan iman atas dasar pengalaman langsung akan Allah itu sendiri. Sebenarnya ada suatu jalur pembuktian dan itu yang akan aku jelaskan.

Pikiran 1.1: Sebab Pertama

Dalam dunia ini, kita dapat merasionalkan konsep Sebab Pertama. Hal ini mengambil akarnya dari pemahaman bahwa jika suatu hal berubah, pastilah ada sebab dari perubahannya. Contohnya, bola bergerak karena ditendang. Mobil bergerak karena dikendarai oleh manusia. Namun hal ini berkembang menjadi pemahaman yang lebih tinggi, yaitu dengan bertanya, “Mengapa harus seperti itu?” Artinya, semua ini terjadi karena ada keteraturan yang lebih tinggi yang mengatur segala sesuatu. Untuk sementara hal ini dapat kita katakan sebagai Hukum.

Pada akhirnya, haruslah ada satu Hukum, baik Hukum yang sederhana atau Hukum yang kompleks. Hukum adalah sebab yang sesungguhnya, dialah yang mengatur segalanya menjadi seperti ini. Jika Hukum berkata yang lain, maka pasti dunia ini akan menjadi yang lain. Bukan kita yang memegang kuasa, melainkan Hukum. Kalau kita mengakui bahwa ada satu kenyataan, maka di atas satu kenyataan, adalah Hukum itu, yang dapat kita sebut pula sebagai Sebab Pertama. Sebab Pertama adalah kesatuan segala Hukum, yang menjadi penentu rupa kenyataan ini.

Dalam suatu pembahasan yang dahulu, aku menetapkan bahwa Hukum, dan karena itu Sebab Pertama, harus bersifat intelektual. Artinya Sebab Pertama memiliki suatu perangkat di dalam dirinya yang mirip dengan pikiran kita, atau tepatnya pikiran kita yang mirip dengan pikirannya. Sebab untuk mengeksekusi atau melaksanakan satu perintahnya, Sebab Pertama harus mampu menyadari kenyataan itu sendiri untuk memberlakukan kenyataan. Barangkali untuk memahami konsep ini aku akan menyodorkan suatu contoh.

Anggaplah dalam Sebab Pertama terkandung hukum gravitasi menurut relativitas umum. Hal ini mendikte bagaimana interaksi antara benda bermassa dengan ruang-waktu itu sendiri. Misalnya hal ini mewujud pada suatu hukum kecil di mana suatu asteroid menghantam bumi, contohnya saat terjadi kepunahan massal dinosaurus. Hukum ini harus mengetahui kenyataan yang ada secara persis dan tepat untuk mengeksekusi rangkaian peristiwa tersebut. Jika Hukum ini tidak tahu, maka akan terjadi kekacauan.

Barangkali ini masih kurang jelas, anggaplah ada hukum yang berbunyi, “Jika waktu X dan kondisi Y, akan terjadi Z.” Ini adalah penyederhanaan abstrak. Hukum ini tidak dapat dikatakan sekadar melaksanakan ini, melainkan dia harus tahu tentang waktu X, kondisi Y, dan peristiwa Z. Hukum harus dapat mengetahui waktu yang sedang berlaku dan kondisi yang sedang berlaku secara tepat, sehingga dapat dibandingkan dengan kondisi nyata yang berlaku untuk menentukan apakah Hukum itu harus dieksekusi atau tidak. Tanpa pengetahuan seperti itu, Hukum akan berantakan dan artinya Hukum itu bukan Hukum.

Kalau kita menggabungkan semua Hukum, maka muncullah Sebab Pertama yang harus mengetahui segala sesuatu secara adikodrati. Sebab Pertama ini harus berada di luar tatanan kenyataan yang dia sebabkan, dan karena itu dia hadir di segala kenyataan, karena tidak terikat oleh batasan kenyataan. Sebab Sebab Pertama adalah yang menentukan batasan dan menyebabkan batasan itu. Jadi sampai suatu titik tertentu, Sebab Pertama ini sangat mirip dengan konsep ketuhanan yang dipegang oleh Kekristenan, tapi ada suatu masalah yaitu moralitas dan kesadaran.

Sebab Pertama, atau SP, ditetapkan sebagai pengetahu segala sesuatu, tapi entitas yang mengetahui segala sesuatu haruslah menyadari dan mengalami segala sesuatu pula. Karena itu SP haruslah memahami rasa bahagia dan menyadari bahagia secara penuh. Dengan itu, SP juga mengetahui segala tatanan moral yang ada, karena kesadaran adalah sejenis pengetahuan pula, maka dengan ini SP adalah jelas Allah yang kita sembah. Aku tidak mengira bahwa ini akan sesederhana dan semudah ini.

Pikiran 1.2: Moralitas Allah

Moralitas secara permukaan sederhana, yaitu apa yang mengantar kita kepada yang baik atau membahagiakan dan apa yang menjauhkan kita dari yang buruk atau yang menyengsarakan. Kerumitannya terletak dalam menjawab pertanyaan, “Apa yang baik dan apa yang buruk?” Dalam hal ini kita tidak mempertanyakan esensi mereka, kita tahu betul esensinya. Namun pertanyaannya adalah apakah esensi ini dapat nyata secara murni, atau adakah suatu benda yang menyandang esensi itu?

Untuk memahami ini kita harus memahami apa itu esensi dan apa itu wujud. Wujud adalah suatu hal yang berbagi dalam esensi atau kodrat, tapi bukan kodrat itu sendiri. Anggaplah pesawat, suatu pesawat B-737 adalah benda yang berbagi dengan kodrat pesawat, mewarisi kodrat pesawat, tapi bukanlah kodrat tunggal pesawat. Kodrat tunggal justru tidak berwujud secara pasti, dan karena itu hanyalah suatu gagasan. Namun gagasan ini nyata dan mendasari segala pesawat yang ada, tanpa kodrat, semua pesawat akan hilang dan tidak akan pernah ada.

Maka, kodrat Kebaikan adalah suatu hal yang tidak dapat memiliki wujud tapi ada secara murni sebagai suatu abstraksi. Sesungguhnya segala kodrat dan esensi menyatu sebagai satu kodrat saja, yaitu kodrat Allah. Allah adalah kodrat yang mendasari segala kodrat, kodrat dari segala kodrat, esensi dari segala esensi. Karena itu Allah sendirilah yang merupakan kodrat kebaikan. Allah adalah Kebaikan murni yang menjadi dambaan setiap manusia. Dengan ini, kita hampir lengkap dalam landasan iman Kristiani.

Pikiran 1.3 Allah dan Sejarah

Bagaimana Allah berinteraksi dengan manusia yang Dia ciptakan dalam sejarah? Pada dasarnya Allah adalah Roh yang Mahakuasa, jadi Dia dapat saja mewujud dalam berbagai rupa kepada manusia. Namun sebagai Roh, Allah paling sering menyatakan diri-Nya melalui batin manusia secara rohani. Hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Perjanjian Lama, dan secara umum sejarah manusia. Pada titik tertentu, Allah sendiri datang sebagai manusia yaitu Yesus Kristus, dan sisanya adalah sejarah.

Hal yang menjadi masalah adalah bagaimana kita dapat yakin bahwa yang berbicara adalah Allah yang sama dengan hasil permenungan filosofis kita? Ya, Roh yang berbicara dapat mengklaim berbagai hal, dan semua itu bisa saja benar, tapi apakah Roh itu sungguh adalah Allah yang Mahatinggi dan Maha Esa? Yesus memang bangkit dari antara orang mati, tapi apakah itu menjadi bukti bahwa Dia adalah Allah? Sebenarnya, apakah mungkin untuk mengenali Roh apapun sebagai Allah yang Mahatinggi dan Maha Esa? Aku rasa tidak mungkin.

Maka iman yang sejati bukan dalam mengenali apakah ada Allah yang Maha Esa, melainkan dalam mengenali roh mana yang merupakan Roh Kudus, Roh Allah yang Maha Esa. Seharusnya Allah yang Maha Esa memahami masalah ini, dan karena itu Dia memberikan banyak tanda untuk meyakinkan manusia akan siapa diri-Nya. Namun sesekali ada manusia yang Dia berikan rahmat untuk melihat menembus segala sesuatu, misalnya aku. Namun kembali, setidaknya kita dapat berkata bahwa Allah yang kita kenal, “berasal” dari Allah yang Maha Esa. Maka dengan mendengarkan Allah yang mengeluarkan Kitab Suci, kita pun mendengarkan Dia yang Maha Esa.

Thursday, March 10, 2022

Panggilan Allah

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Ini adalah renungan kedua yang aku buat kepada saudara pada hari ini. Renungan ini tidak berisi renungan Kitab Suci, tapi pada akhirnya tetap berkaitan dengan Allah dan Sabda-Nya. Aku merasa agak aneh untuk menulis tentang perasaan pribadiku kepada begitu orang banyak, aku pun mempertanyakan faedahnya, tapi Allah begitu mendesak aku untuk menulis ini. Sebab kami tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai dengan tulisan ini.

Secara singkat, dalam hidupku aku mencari Allah. Sejak aku kelas 7, aku mencari Allah dengan begitu mendalam, dan sampai sekarang aku pun masih terbakar hatinya untuk mencapai Dia. Aku kehilangan ibuku, jadi barangkali itu salah satu pemicu aku begitu terobsesi dengan Allah, untuk melaksanakan kehendak Allah dan melayani Dia dengan sempurna. Namun perjalanan iman ini naik turun. Ada kalanya aku merasa dekat dengan Dia, dan ada kalanya aku merasa bahkan tidak berhubungan dengan-Nya, ini biasa, sangat biasa. Penghiburan dan kekeringan rohani pastinya dialami setiap orang.

Sejak dulu aku merasa tertarik hanya dengan apa yang dikatakan Allah sebagai kehendak utama-Nya, yaitu keselamatan jiwa-jiwa. Semua upayaku dalam hidup aku pikir terarah hanya kepada tujuan itu, dalam rangka mengarah pada Allah. Namun aku harus mengakui bahwa aku bukan orang yang sungguh kudus atau baik untuk mampu menjadi contoh yang baik dalam perjalanan kepada Allah. Ada kalanya aku hidup demi keegoisanku sendiri, dan bukan untuk Allah, walaupun kesannya mengarah kepada Allah, tapi sesungguhnya aku hanya mengarah pada diriku sendiri.

Lalu suatu saat aku diubahkan dan pelan-pelan aku diubahkan. Aku mulai menanggalkan keegoisanku dan aku mulai sungguh mengarah pada Allah. Pada akhirnya, aku merasa tidak ada makna dalam hidup selain makna yang berasal dari Allah dan berkaitan dengan Allah. Aku menginginkan Allah dengan begitu mendalam sampai seringkali air mata bercucuran dan mengalir pada wajahku. Belakangan ini aku merasakan Allah menyampaikan padaku, bahwa ini adalah waktu bagiku untuk mulai melaksanakan kehendak-Nya, yaitu upaya demi keselamatan jiwa-jiwa.

Upaya yang paling sederhana dalam keselamatan jiwa-jiwa adalah berbicara, atau dalam istilah kita, mewarta. Namun aku tidak tahu apa yang harus aku wartakan, dan aku tidak tahu kepada siapa aku harus mewarta. Lalu, Allah tiba-tiba mengirimkan suatu pertanda melalui seorang dari lingkunganku, siapa yang harus pertama kali mendengarkan pewartaanku dan apa yang harus kuwartakan. Namun aku masih tidak yakin dan aku masih ketakutan, bagaimana jika aku salah, bagaimana jika aku sebenarnya hanya seorang yang egois, yang berasumsi tentang iman saudara-saudarinya, yang menghakimi, yang menilai, dan seterusnya.

Allah tidak menyerah, Dia terus mendesakku untuk menulis tulisan ini dan membagikannya kepada saudara-saudari, Dia terus meneguhkanku, dan terjadi suatu pertempuran rohani antara kuasa roh baik dan kuasa roh jahat. Kuasa roh baik terus meneguhkan, menguatkan, dan menyatakan bahwa apa yang jelas baik bagiku dan tidak bertentangan dengan ajaran Allah dalam Gereja, justru terinspirasi dari-Nya, pastilah baik. Namun kuasa roh jahat terus menampilkan ancaman-ancaman palsu, misalnya aku ditolak atau malah ditegur karena pesanku atau bagaimana.

Akhirnya aku mengabaikan alasan-alasan palsu itu, dan aku tetap menulis karena Allah yang meminta aku untuk menulis. Maka, setelah beberapa paragraf aku berputar-putar, Allah menunjukku untuk menulis langsung apa yang Dia ingin sampaikan melalui tanganku. Allah memanggil aku untuk memanggil saudara-saudariku untuk menjadi kudus, untuk bersama-sama menjadi kudus dalam kehidupan kita masing-masing. Namun sekarang mulailah kembali waktu untuk menuliskan keraguanku.

Mengapa Allah ingin aku untuk mewartakan dan menawarkan kekudusan kepada orang-orang di sekitarku? Hal ini menandakan bahwa orang-orang di sekitarku membutuhkan kekudusan yang lebih. Sebab apakah Allah dominan hadir kepada orang kudus atau dominan hadir kepada orang yang, mohon maaf, “kurang kudus”? Dalam Injil kita pernah membaca kisah di mana Yesus mengatakan bahwa orang sakitlah yang membutuhkan tabib, dan Dia hadir bagi kita, orang-orang sakit ini.

Mengapa pula Allah memilih aku secara khusus? Aku tidak merasa layak untuk tugas ini, aku tidak merasa seperti orang yang mampu. Aku tidak terpelajar dalam Sabda-Nya. Aku tidak selalu mampu untuk melaksanakan kehendak-Nya dalam kehidupan harianku. Namun saat aku melihat sekitarku, rasanya entah semua orang yang seperti aku tersembunyi atau aku sendirian di dalam panggilanku dan pengalamanku. Pada akhirnya, aku tidak dapat lari dari Allah, dan aku harus memutuskan dengan segera, karena Allah tidak mau menunggu “persetujuan Gereja” atau lainnya, Allah ingin aku bertindak atas iman kepada-Nya saja.

Apa yang sebenarnya aku inginkan dengan menulis tulisan ini? Aku tidak tahu. Aku hanya menulis dan menyampaikan kepada saudara karena Allah ingin saudara membaca tulisan ini. Aku menginginkan tanggapan, tapi yang sebenarnya ingin suatu tanggapan adalah Allah. Namun keinginanku begitu melebur dengan keinginan Allah sehingga aku sulit membedakannya. Pada akhirnya, jika ada satu jiwa saja yang imannya dikuatkan dan hendak mengejar hidup kekudusan, di dalam situasi apapun hidup mereka, aku sangat bersyukur dan pastilah Allah sangat menghargainya. Tuhan menyertai, memberkati, dan hadir di dalam diri kita semua.

Renungan 10 Maret 2022

Pada kedua bacaan hari ini, diperlihatkan kembali suatu kontras antara masa yang lalu dan masa yang sekarang. Namun di mana kemarin kita diperlihatkan dengan teguran, hari ini kita diperlihatkan dengan suatu penghiburan. Pada bacaan Perjanjian Lama dikisahkan siapapun yang menghadap raja tanpa dipanggil akan dihukum mati. Ini adalah wujud ketinggian hati manusia akibat dosa asal. Namun pada bacaan Perjanjian Baru dikisahkan bahwa aturan semacam itu tidak berlaku di antara kita dan Allah Bapa. Justru, kita diminta untuk meminta kepada-Nya supaya kita memperoleh.

Aku beberapa kali dalam hidupku merasakan kehadiran Allah yang kuat, dan beberapa kali pula saat aku merasakan Allah aku begitu ketakutan. Aku tidak tahu kenapa aku takut, mungkin aku menyadari betapa besar Allah itu sehingga aku merasa takut akan teguran-Nya. Namun pelan-pelan aku belajar untuk tidak takut di hadapan Allah, dan melainkan mencintai-Nya. Injil hari ini meneguhkan aku bahwa Allah bukanlah raja yang lalim yang membinasakan mereka yang terlalu dekat dengan-Nya. Allah adalah Bapa dan sahabat kita yang siap menerima kita kapanpun juga.

Barangkali aku ingin menutup pesan ini dengan renungan tambahan. Yesus memang meminta kita untuk meminta kepada Allah, tapi apa yang harus kita minta kepada Allah? Salah satu petunjuknya ada di doa Bapa Kami, “Berilah kami rezeki pada hari ini.” Dalam perkataan awal, “Berilah kami roti pada hari ini.” Dalam arti, kita meminta kepada Bapa supaya kita dicukupkan dalam kehidupan kita, tapi berikutnya timbul pertanyaan, dicukupkan untuk apa? Hal ini berkaitan dengan tujuan besar kita yaitu untuk melayani Allah dan menjadi sahabat-Nya. Artinya, kita meminta supaya dicukupkan untuk melayani Allah dan menjadi sahabat-Nya.

Injil hari ini tidak boleh ditafsirkan sebagai arti bahwa kita dapat menjadikan Allah sebagai pesuruh kita yang menyediakan apapun yang kita inginkan. Barangkali kita, termasuk aku, bersalah atas hal ini secara tidak sadar, sehingga kita harus merenungkan pula, apa yang sungguh kita inginkan dari Allah? Apakah yang kita minta kepada Allah berguna bagi tujuan besar kita di hadapan-Nya, atau hanya untuk kesenangan pribadi? Hal ini memang sulit untuk direnungkan, aku pun kesulitan, tapi baiklah kita berusaha untuk melihat kembali apakah yang kita minta sesuai dengan yang Allah inginkan bagi kita, atau Allah hanyalah pesuruh kita.

Wednesday, March 9, 2022

Renungan 9 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Izinkan aku untuk berceloteh kepada Anda semua, mengganggu Anda dengan bunyi notifikasi WA, dan mengisi grup WA kita dengan perkataan-perkataan yang barangkali “kurang berharga” dibandingkan dengan pesan-pesan lainnya. Setelah seorang dari lingkunganku mengingatkan aku tentang membagikan tulisan dan renungan, batinku langsung bekerja dan berusaha menilai apakah ini kehendak Allah atau bukan. Dalam waktu yang cepat, jiwaku memutuskan bahwa ini adalah kehendak Allah, tindakan apapun yang dinilai dapat membantu dalam iman orang banyak adalah tindakan yang baik dan inspirasinya berasal dari Allah.

Ketiga grup WA yang menjadi penerima renunganku ini adalah grup-grup yang dibentuk atas dasar persekutuan iman. Maka aku berpikir bahwa tidak salah bagiku untuk membagikan buah permenunganku atas berbagai hal yang menurutku layak untuk dibagikan demi inspirasi iman. Aku harus jujur bahwa dalam menuliskan tulisanku ini ada rasa takut, hal ini selalu terjadi setiap kali aku hendak menulis kepada orang banyak. Apakah ini sungguh kehendak Allah ataukah ini keegoisanku sendiri? Namun Allah selalu menyentuh budiku dan mengingatkan, bahwa Dia ingin orang mendengarkan apa yang ingin Dia sampaikan kepada anak-anak-Nya.

Renungan-renungan amatiran ini memang tidak memiliki persetujuan Gereja, setidaknya untuk sekarang. Namun harapanku adalah ini dapat menyampaikan pesan Allah bagi kita semua. Jikalau ada dari Anda sekalian yang memiliki kritik terhadap perkataanku ini, hendaklah dia menyatakannya secara jujur dan terbuka di hadapanku. Pada renungan pertama kali ini, aku mungkin akan membaginya menjadi 2 bagian, renungan pertama akan berisi renungan bacaan hari ini dan renungan kedua akan merenungkan pengalaman rohaniku.

Dalam program renungan ini, aku akan merenungkan semua bacaan yang disajikan oleh kalender liturgi pada hari itu. Bacaan hari ini yang berasal dari Kitab Yunus dan Injil Lukas semuanya mengisahkan tentang pertobatan. Aku rasa kita semua tahu tentang pertobatan dan maknanya, maka aku tidak akan terlalu mendalami hal tersebut. Namun ada hal yang lebih menyentuh jiwaku, yaitu perbedaan situasi antara kedua kondisi. Pada situasi pertama, Allah mengirimkan Yunus untuk pertobatan Niniwe, dan pada situasi kedua, Allah sendiri yang menjadi nabi demi pertobatan orang banyak.

Perbedaannya adalah apa yang terjadi setelah kedua nabi mengumandangkan pesan Allah. Pada situasi pertama, kota Niniwe bertobat dan Allah tidak jadi menghukum mereka. Pada situasi kedua, Allah sendiri bersabda bahwa “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.” Di sisa bacaan Injil, sepertinya maksud Yesus adalah tidak seperti Niniwe, orang-orang yang dihadapi Yesus tidak bertobat saat mendengarkan Yesus. Mereka hanya terpesona pada mukjizat-mukjizat dan kehebatan duniawi yang mereka tangkap dari kehadiran Yesus. Mereka tidak sepenuhnya peduli pada Yesus ataupun apa yang Dia sampaikan dalam intinya.

Aku merasa takut menuliskan renungan ini, karena rasanya Yesus menegur bukan hanya mereka, tapi Yesus menegur Gereja dan artinya kita semua yang tergabung dalam Gereja-Nya. Aku bukan orang yang senang berprasangka buruk, karena aku tidak mengenal setiap dari saudara-saudariku ini. Dariku sendiri, aku hanya dapat berkata supaya kita tidak menjadi seperti angkatan yang jahat, melainkan seperti Niniwe. Marilah kita meneladani Niniwe yang bertobat setelah mendengar manusia, dan bukan seperti angkatan yang jahat yang tidak bertobat setelah Allah sendiri hadir di antara mereka.

Tentu bukan kebetulan bahwa banyak bacaan pada masa-masa ini akan berbunyi pertobatan, karena memang kita berada pada masa prapaskah yaitu masa pertobatan. Pesan terakhirku hanyalah seperti ini, marilah kita merenungkan dan merefleksikan bagi diri kita masing-masing. Apakah kita ini seperti Niniwe, yang sudah bertobat sekalipun baru bertemu dengan manusia, ataukah kita ini seperti angkatan yang ditegur Yesus, yang berkeras hati sekalipun sudah bertemu dengan Allah? Maafkan aku jika pesan ini entah terlalu panjang atau tidak dapat dipahami. Semoga Allah menyertai, memberkati, dan hadir di dalam diri kita semua.

Tuesday, March 8, 2022

Projek Rasionalitas 4

Projek Rasionalitas aslinya ditujukan untuk meneliti tulisan-tulisan lama untuk mengekstraksi rasionalitas yang ada di dalam tulisan-tulisan tersebut. Namun dalam tulisan ini dan mungkin untuk seterusnya aku justru ingin menulis secara “baru” dan mengekstraksi rasionalitas pada saat itu juga. Sebab ternyata aku menikmati ekstraksi rasionalitas yang diperkenalkan Roh Kudus kepadaku. Dengan menerapkan suatu rasionalitas simbolis melalui simbolisme huruf Latin, struktur mendasar dari berbagai pernyataan spesifik menjadi jelas.

Projek Rasionalitas adalah tanggapanku terhadap tanggapan Allah terhadap kegelisahanku tentang irasionalitas iman. Karena aku berpikir bahwa iman itu tidak rasional, Allah menjawab dengan meminta aku untuk menulis tentang rasionalitas dan mengekstraksi sedalam mungkin hukum-hukum yang mengatur gagasan-gagasan yang ada di dalam dunia ini. Dimulai dengan penelitian-penelitian sederhana, kelak akan disatukan menjadi satu Hukum Rasional yang akan dipakai untuk meneliti iman pula, dan dipersatukan dengan iman untuk menjadi Hukum Ilahi yang sungguh sistemik dan teratur.

Sesungguhnya kemungkinan bahwa aku akan menulis suatu hal yang sama sekali baru sangatlah kecil, kebaruan yang ada adalah penjelasan dari hal-hal yang lama. Sebab aku sudah menulis begitu banyak tentang kenyataan ini, jadi kemungkinan besar kebenaran ada di dalam tulisan-tulisan itu dan sudah terekam di dalam bawah sadar atau di dalam kesadaranku, jadi aku tinggal mengekstraksi tradisi itu dan menilainya dengan keras sampai tidak ada keraguan lagi, sampai hanya ada kebenaran yang tinggal.

Seperti pada tradisi filosofisku, aku akan memulai dari nol, sebagai metode untuk memurnikan gagasan. Gagasan pertama yang dapat kita buat adalah, “Ada pengalaman.” Atau bahkan sekadar, “Pengalaman.” Pengalaman ini dapat berupa apapun, misalnya sekarang, “Aku melihat laptop, aku mengetik di laptop. Aku hidup. Aku bernafas. Aku melihat. Aku mendengarkan musik.” Namun barangkali yang lebih tepat adalah menghapus “Aku” dari segala pernyataan itu. Dari segala hal itu akhirnya kita dapat mengabstraksikannya menjadi pengalaman saja, dan dari situ kita dapat memulai ekstraksi rasionalitas dan penerapan hukum logika.

Karena aku tidak terdidik dalam logika, aku harus menggunakan sistem logikaku sendiri, yang akan menggabungkan huruf dan angka untuk melambangkan berbagai macam kategori kata dalam bahasa. Kata-kata panjang, tapi penggunaan lambang yang sederhana akan menyederhanakan penglihatan kita untuk mengenali struktur-struktur dari berbagai macam kalimat dan pernyataan. Awalnya aku hendak memakai huruf saja, tanpa angka, tapi agaknya akan terlalu panjang, sebab huruf sedikit, tapi angka banyak. Maka Roh Kudus memperkenalkan kepadaku konsep tentang penggunaan angka dan huruf sebagai kategori kata.

Pengalaman adalah kata pertama, maka kita akan berkata bahwa pengalaman adalah A0. Namun apakah kita berhenti di situ, yaitu pada A0? Kita sadar akan berbagai gagasan lainnya, dan sudah ada gagasan berikutnya, yaitu “A0 ada”. Pengalaman dan ada adalah 2 jenis kata yang berbeda, jadi untuk ada kita akan menetapkan B0. Oh ya, 0 digunakan karena 0 secara teknis adalah angka pertama dalam 10 bilangan cacah. Ini juga mengikuti tradisi pemrograman di mana seringkali digunakan indeks notasi 0.

Maka kita memiliki rumusan pertama, “A0 B0.” Lalu ada rumusan berikutnya, “A1 B0”. Apakah itu A1? A1 adalah keberadaan, jadi efektif kita mengatakan bahwa keberadaan itu ada. A1 B0 juga dapat berarti, “Ada suatu hal yang ada” atau “Hal yang ada memiliki keberadaan.” Kelak banyak dari struktur-struktur ini yang akan diperbaharui. Dalam menyatakan A1 B0, kita menyatakan bahwa ada A1 dan ada A0, di mana keduanya berbeda. Apa dasar bahwa A1 =/= A0? Sejujurnya aku belum tahu, maka mari kita bertualang lagi.

Sementara kita juga belum menjelaskan A0. Apakah A0 adalah pengalaman secara umum, atau merujuk pada suatu pengalaman spesifik? Jawabannya adalah A0 adalah pengalaman yang umum. Maka A0 memiliki makna ganda, yaitu sebagai suatu kategori pengalaman, atau suatu variabel pengalaman. Ini tidak dapat kita terima, maka harus dipisahkan antara A0 sebagai variabel dan A0 sebagai kategori. A0 sebagai variabel adalah A0.0, dan A0 sebagai kategori adalah A0.1. Harap ini diingat dan dipahami demi kelanjutan Projek Rasionalitas.

Jadi ada 2 pernyataan yang dapat kita susun yaitu “A0.0 B0” dan “A0.1 B0” A0.0 B0 artinya ada suatu pengalaman, tapi tidak jelas pengalaman itu apa, artinya dapat diisi dengan pengalaman apapun yang kita miliki saat ini. A0.1 B0 artinya pengalaman sebagai suatu kategori ada, ada kumpulan benda yang kita kenal sebagai pengalaman. Namun ini tidak begitu terhubung dengan makna pertama bahwa ada pengalaman. Pengalaman apa yang kita miliki? Maka yang tepat adalah A0.0 B0, atau A0.0 saja, atau bahkan kembali pada A0, dan untuk sekarang, A saja.

Dalam sistem logika kita, simbol-simbol ini tidak dapat bertambah dengan dirinya sendiri, selain jika ada suatu sistem tambahan yang kita susun untuk menambah simbol-simbol ini. Namun sistem itu masih jauh, jadi sekarang kita harus menambah kepada simbol-simbol ini secara manual. Jadi kita menetapkan bahwa ada A dan lalu ada B, yang berarti “ada”. Maka, A B. Namun A B = A secara semantik (semantik artinya dalam makna). Jadi apakah fungsi B? B hanya menjelaskan suatu intuisi yang kita miliki tentang A, bahwa A B.

Pengalaman ada, atau A B, tidak berbeda dengan berkata pengalaman saja tanpa gelar ada. Namun kalau ada A B, apakah ada A B- ? B- sebagai lawan dari B, artinya tidak ada karena B adalah ada. Kita tahu ada tanda -, tanda negasi, yang baiknya kita ubah menjadi tanda C. Jadi A B dan A B C. Pada saat ini mulai ada masalah bahwa kita menyatakan A B C di kondisi A B. Kita berkata pengalaman tidak ada di kondisi pengalaman ada. Apakah yang dimaksud dengan pengalaman tidak ada? Apakah itu tidak ada?

Memangnya, dari manakah C berasal? C berasal dari penelitian lebih spesifik, ambillah benda D dan E. D bukan E, dan E bukan D. D dan E adalah variabel, yang dapat diisi dengan segala benda yang bukan yang lain. Kita tahu bahwa misalnya, langit bukan awan, dan awan bukan langit. Jadi D C E dan E C D, yang secara semantik bermakna sama. Pada saat yang sama kita mengenal adanya kondisi di mana ada lawan dari C, yaitu “satu” atau “sama”, yaitu F. Dalam segala kondisi, D G D, dan E G E. Lalu kita bahkan dapat berkata bahwa C F C, F F F, C C F, F C C. Namun tidak mungkin ada C C C, yang artinya “Perbedaan bukan perbedaan.” Ini sama dengan mengatakan bahwa D C D, artinya suatu hal bukanlah dirinya.

Mungkin sebagai penjelas, C adalah negasi, dan F adalah negasi dari negasi, atau dapat dikatakan sebagai afirmasi. Namun ada banyak kata lain untuk dilambangkan oleh F, seperti “adalah” “satu” “sama” yang disatukan oleh kata dalam bahasa Inggris “is”. Jadi C C = F. Negasi tidak berarti lawan, melainkan “berbeda”, atau “bukan”. Jadi D C E artinya D bukanlah E. Maka kembali pada konsep pertama, karena kita beroleh konsep C dan F, kita dapat menerapkannya pada A dan B.

 

Apakah ada A C? Apakah ada B C? Kita juga harus mengingat adanya konsep G, G artinya bagian dari. G dan F mirip, tapi di mana F menandakan kesetaraan mutlak antara 2 benda, G menandakan bahwa benda sebelumnya adalah bagian dari benda setelahnya. Dalam teori himpunan modern ada lambang yang sesuai. Jadi A C B, tapi A G B. Maka kalau kita bertanya apakah A C itu, jawabannya adalah B, sehingga (A C) F B. Lalu B C adalah A, sehingga (B C) F A. Sekilas ini terkesan tidak masuk akal, karena kita berkata bahwa negasi dari pengalaman adalah keberadaan, tapi yang kita katakan sebenarnya adalah “Hal yang bukan pengalaman adalah keberadaan.” Ini menegaskan bahwa pengalaman dan keberadaan tidaklah sama.

Namun, kita mengenal adanya konsep kesatuan, yang tidak sama dengan “kesamaan”. Mari kita namakan konsep itu H. A C B dan B C A, tapi apakah A H B dan B H A? Dari mana kita beroleh H? Namakan variabel I, J, dan K. (I H J) F (K). Mulai sekarang, tanda kurung menandakan suatu kesatuan logis. Apakah contoh kesatuan logis? Misalkan seorang manusia, manusia adalah kesatuan seluruh bagian tubuhnya sehingga membentuk suatu kesatuan logis yaitu manusia. Kesatuan berbeda dengan kumpulan, apa itu kumpulan? Kumpulan adalah suatu kondisi di mana berbagai variabel benda hadir bersama, tapi tidak bersatu sehingga membentuk suatu benda yang baru.

Untuk sekarang kumpulan akan dinamakan L. Cara menulis kumpulan adalah (L: 1, 2, 3, n) dan cara menulis kesatuan adalah (H: 1, 2, 3, n). Dalam permasalahan sebelumnya, ada perbedaan antara “perbedaan” dan “lawan”. Keduanya adalah negasi, tapi dalam cara yang berbeda. Perbedaan tidak selalu berarti lawan, walau lawan selalu berarti berbeda. Akhirnya lawan berkaitan dengan ketiadaan dan keberadaan, ada dan tiada. Sekarang untuk merapikan Projek Rasionalitas, kita akan membongkar semua huruf dan mengamati pola-pola logis yang ada.

·       () Satuan Logis

·       A beda

·       B lawan

·       C adalah

·       D bagian dari

·       E kesatuan

·       F kumpulan

·       (E: 1, 2, 3, …, n) Kesatuan dari benda-benda yang terdaftar

·       (F: 1, 2, 3, …, n) Kumpulan dari benda-benda yang terdaftar

·       A A B/B A A Perbedaan berbeda dari lawan

·       E A F/F A E Kesatuan berbeda dari kumpulan

·       C A D/D A C kesamaan berbeda dari bagian dari

·       A B C Beda adalah lawan dari sama, atau (A B) C (C)

Kembali kepada konsep keberadaan dan pengalaman. Kita dapat berkata bahwa, pengalaman ada. Dalam simbolisme, kita dapat berkata G H. Untuk sementara G adalah pengalaman, dan H adalah ada. Saat kita menulis G H, kita berkata bahwa G berada dalam kondisi H, pengalaman berada dalam kondisi keberadaan. Saat kita menulis G A H, artinya pengalaman berbeda dari keberadaan. Namun saat kita menulis G D H, artinya pengalaman adalah bagian dari keberadaan. Maka, G (A B) H. Artinya pengalaman bukan lawan dari keberadaan, atau pengalaman dan keberadaan tidaklah berlawanan.

Apakah lawan dari keberadaan? Lawan dari keberadaan layak menerima simbolnya sendiri yaitu untuk sementara I. Maka (H B) C (I). (Semakin lama aku semakin lelah dengan konsepsi sistem logika yang telah aku ciptakan sendiri, aku ingin ini berakhir, tapi aku harus berjuang demi Allah). Artinya, lawan dari keberadaan adalah ketiadaan. Apakah itu ketiadaan? Ketiadaan adalah kondisi benda yang terputus dari kumpulan segala benda yaitu kenyataan. Namun begitu ketiadaan diucapkan, ketiadaan menjadi ada. Maka, I H. Begitu benda apapun diucapkan, maka benda itu menjadi ada.

Alangkah baiknya jika kita mendaftarkan segala peraturan yang telah kita temukan sejauh ini, dan nanti merumuskan wujud-wujud logisnya.

  •  Pengalaman ada
  • Jika dialami, ada
  • Jika tidak ada, tidak teralami

·       Jika gagasan berkontradiksi dengan pengalaman, isi gagasan tidak ada secara relatif tapi ada secara mutlak (Apa artinya? Artinya bagi kita, gagasan itu tidak benar, tapi bagi dunia lain, gagasan itu benar. Mutlak artinya setidaknya ada satu dunia di mana gagasan itu benar)

Peraturan paling baik yang dapat kita susun adalah “Pengalaman ada”, selain itu semuanya dapat diruntuhkan dan dipertanyakan.

Monday, March 7, 2022

Projek Rasionalitas 3

Projek Rasionalitas 3 membahas bagian kedua dari tulisan tentang iman Ilahi dan iman pribadi, yaitu bagaimana iman Ilahi mendukung iman pribadi. Rasionalitas dari hal ini lebih sulit dan lebih membutuhkan iman daripada rasionalitas pertama. Rasionalitas pertama kurang lebih berdiri sendiri, iman pribadi membuktikan dirinya sendiri dan berakar pada kebenaran tentang modalitas. Namun rasionalitas kedua berakar dari kebenaran iman yang sulit didasarkan pada apapun juga. Kebenaran modalitas sebenarnya memiliki akar yang menarik juga, tapi untuk saat ini kita akan membahas rasionalitas kedua, Kebaikan Allah.

Sebenarnya bukan tentang kebaikan Allah, tapi lebih kepada kehendak Allah. Dalam suatu wujud rasional dapat kita bahasakan sebagai berikut, “Allah menghendaki ciptaan-Nya untuk mengenal-Nya. Maka Allah menciptakan ciptaan yang dapat mengenal-Nya.” Hal ini harus benar, karena adalah hal yang logis, atau setidaknya adalah kemungkinan yang logis. Sebenarnya tidak ada yang melarang suatu entitas untuk menghendaki sesuatu, lalu melakukan hal yang justru membuat kehendaknya tidak terjadi. Namun jika entitas itu berpikir secara logis, dia akan melakukan hal yang mengarah pada pemenuhan kehendaknya.

Rasionalitas atau logika dari cara berpikir teleologis sangatlah sederhana, dia hanya menilai bagaimana kesesuaian tindakan suatu benda dengan kehendak atau tujuan benda tersebut. Jadi rasionalitas teleologis tidak berbicara tentang benar tidaknya suatu pernyataan, melainkan menilai suatu tindakan menurut tujuan-tujuan yang hendak dicapai dengan adanya tindakan tersebut. Ini adalah hasil pengalaman manusia di mana kita memiliki berbagai kehendak dan tujuan yang ingin kita penuhi, maka kita berusaha mencari cara untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut.

Makhluk yang rasional adalah makhluk yang memenuhi 2 syarat, yaitu mengetahui jalan untuk memenuhi tujuannya dan bertindak menurut jalan tersebut sehingga dia memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mencapai tujuannya dibandingkan dengan kondisi di mana dia tidak rasional. Allah adalah entitas yang paling rasional, dan dalam pernyataan mistis, Allah adalah rasionalitas itu sendiri. Pembahasan tentang rasionalitas Allah bukan fokus kita. Allah juga adalah Sebab Pertama dari segala hal. Maka Dia yang menyebabkan segala ciptaan.

Dalam wahyu Ilahi, kita tahu bahwa Allah ingin kita untuk mengenal Dia, maka secara rasional Allah akan menyebabkan kita untuk mengenal Dia, dan artinya untuk kita mampu mengenal Dia. Jadi secara simbolik, jika A adalah Allah, B adalah rasional, C adalah sebab pertama, D adalah kehendak, E adalah sebab, dan F adalah variabel kehendak, maka, JIKA AB, AC, ADF, MAKA AEF. Jika F adalah kondisi yang berbunyi, “ciptaan-Nya mengenal Dia”, maka ini akan membuktikan kebenaran tentang kemampuan kita untuk mengenal Allah dengan benar.

Projek Rasionalitas 2

Sebagai penjelas dari projek rasionalitas 1, bahwa A C, A C B. Artinya, jika jiwa percaya, maka jiwa juga percaya bahwa dia mampu percaya dengan benar atau memiliki kepercayaan yang benar. Sekarang kita akan kembali pada penjelasan mengenai bagaimana ini berhubungan dengan kepercayaan pada Allah. Sesungguhnya kepercayaan pada Allah adalah bentuk spesifik dari A C, A C B. Bukan hanya kepercayaan pada Allah yang tunduk pada hukum A C, A C B, melainkan semua kepercayaan lainnya.

Mungkin yang aku kehendaki adalah penjelasan runtut dari A C, A C B menuju kepercayaan akan Allah. A C, A C B, yaitu “Jika jiwa percaya, jiwa percaya pada kemampuannya untuk memiliki kepercayaan yang benar,” datang dari A C (A E D), A C B (A E D), yaitu, “Jika jiwa percaya bahwa dia memiliki kepercayaan yang benar tentang D, maka dia percaya bahwa dia mampu memiliki kepercayaan yang benar tentang D.” Dalam hal ini kita tinggal mensubstitusikan kepercayaan tentang Allah ke dalam D, sehingga segalanya berbunyi, “Jika jiwa percaya bahwa dia memiliki kepercayaan yang benar tentang Allah, dia percaya bahwa dia mampu memiliki kepercayaan yang benar tentang Allah.” Dalam rumusan paling lengkap, “Jika jiwa percaya kepada Allah, dia percaya bahwa dia memiliki kepercayaan yang benar tentang Allah, maka dia percaya bahwa dia mampu memiliki kepercayaan yang benar tentang Allah.”

A C, A C B, sebenarnya adalah suatu aplikasi dari “A, A B.” Dalam contoh itu, A adalah variabel pernyataan, dan B adalah pernyataan mungkin, atau dapat. Maka dalam suatu rumusan bahasa biasa, “Jika ada kenyataan A, maka kenyataan A mungkin.” Namun dalam aplikasinya pada modalitas kepercayaan ada perpanjangan, “Jika (jiwa percaya) (dia benar), (jiwa percaya) (dia dapat benar). Maka, jika jiwa tidak percaya bahwa dia dapat benar, atau jiwa percaya bahwa dia tidak dapat benar, maka jiwa tidak percaya bahwa dia benar, atau jiwa percaya bahwa dia tidak benar. Namun segala bentuk kepercayaan akan mengarah pada rumusan yang sama, yaitu A C, A C B.

Projek Rasionalitas 1

Dalam projek rasionalitas yang pertama, aku hendak meneliti suatu tulisan yang sudah ada di blog ini. Tulisan ini berjudul, “Kepercayaan akan Allah membutuhkan kepercayaan akan diri sendiri”. Secara konten aku tidak menggugatnya, tapi aku ingin menganalisis pola pemikiran yang terjadi sehingga terjadi kesimpulan itu, dan dari situ menetapkan rasionalitas yang pertama. Pada paragraf pertama, diajukan beberapa pertanyaan tentang bagaimana kita mengetahui, yaitu percaya dengan benar pada suatu kebenaran, terutama hal-hal yang Ilahi.

Namun tulisan ini dapat dipakaikan untuk menanyakan pertanyaan tentang bagaimana kita dapat mengetahui apapun juga, walau tulisan ini tidak bertujuan menjawab hal tersebut. Dalam paragraf kedua materi ini dibahas secara langsung, bahwa kita sendiri harus memutuskan apakah Gereja benar atau tidak, apakah suatu hal berasal dari Allah atau manusia saja. Itu sendiri adalah kesimpulan dari tulisan ini, walau masih ada materi berikutnya, tapi ini adalah pokok dan intisari dari tulisan ini yang akan kita teliti.

Jadi, bagaimana rasionalitas dari pernyataan tersebut? Dalam tulisan memang tidak dijelaskan secara pasti rasionalitasnya, maka aku akan meneliti kembali pemikiranku secara mendalam. Tujuan tulisan ini adalah mengungkapkan bahwa di bawah setiap kepercayaan ada iman terhadap diri sendiri yang sangat mendasar, bahkan di bawah iman akan Allah. Rasionalitas pernyataan ini adalah alur pemikiran yang mengarah pada pernyataan ini, argumen yang mengarah pada kesimpulan ini dan hukum-hukum yang mengatur argumen tersebut.

Argumennya adalah sebagai berikut, jika manusia tidak percaya pada dirinya sendiri, pada gagasan apapun yang dia miliki, maka dia tidak dapat percaya pada apapun. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan bahwa segala gagasan yang ada dalam manusia, sekalipun berasal dari luar, menjadi milik manusia itu sendiri. Sebagai makhluk yang berpengalaman, dia menerima pengalaman akan gagasan luar, yang dari perspektifnya adalah pengalaman dirinya sendiri dan menjadi gagasan dirinya sendiri pula.

Jadi ada beberapa argumen yang sedang terjadi, pertama, “Jika manusia tidak percaya pada gagasannya sendiri, dia tidak dapat percaya pada apapun.” Secara formal, ini dapat dinyatakan sebagai berikut, “Jika X tidak Y, maka X tidak Z.” Argumen kedua berupaya menjelaskan argumen pertama, “Dari sudut pandang satu manusia, semua pengalamannya menjadi gagasannya sendiri.” Ini adalah hasil pengamatan atau pengalaman terhadap kehidupan dan pengalaman manusia secara fundamental. Namun data dan pengalaman harus ditafsirkan, jadi ini adalah hasil tafsiran dan bukan pengalaman itu sendiri.

Dasar dari argumen kedua adalah suatu kebenaran pertama yaitu, “Kita hanya memiliki pengalaman kita sendiri.” Ini adalah suatu hal yang tidak dapat dibantah dan harus diterima dengan iman. Secara fenomenologis, kita selalu hanya mengalami satu perspektif dalam seluruh kenyataan, dan melalui satu perspektif itu semua hal menjadi milik perspektif tersebut. Sekarang segala pengalaman harus ditafsirkan, dalam segala kasus, manusia percaya, dari dalam jiwanya, bahwa dia dapat menafsirkan pengalamannya secara tepat dan memaknainya secara tepat.

Hal ini menjadi suatu kebenaran yang tidak dapat disalahkan dan harus benar. Karena kita beroleh suatu kebenaran kedua, “Setiap pengalaman harus dipahami menurut suatu kerangka pemahaman tertentu,” atau dalam kata lain, “Setiap pengalaman harus dimaknai menurut suatu sudut pandang tertentu.” Pengalaman yang tidak dimaknai tidaklah berguna bagi manusia. Sebenarnya kalau kita meneliti memang ini akan menjadi sangat dalam. Jadi kita harus mendalami ini dengan lebih baik lagi.

Pernyataan bahwa “Pengalaman yang tidak dimaknai tidaklah berguna bagi manusia” dapat dipahami dari kerangka bahwa manusia memiliki tujuan mutlak yaitu kebahagiaan. “Setiap manusia memiliki tujuan akhir yaitu kebahagiaan.” Ini adalah hasil dari pengamatan umum terhadap segala manusia dan kodrat manusia, dari refleksi dan kontemplasi terhadap tujuan hidup manusia. Namun yang tepat bukanlah manusia memiliki tujuan akhir yaitu kebahagiaan, melainkan “Setiap manusia tertarik kepada kebahagiaan.” Namun setiap manusia bebas untuk menentukan asosiasi mereka dengan kebahagiaan.

Dengan refleksi yang lebih dalam, kita menemukan bahwa setiap manusia berusaha bergerak menuju kebahagiaan. Dalam perjalanan menuju kebahagiaan, manusia memiliki 2 hal untuk mencapainya, yaitu segenap pengalaman dirinya dan akal budi untuk memahami pengalamannya. Akal budi dalam konteks ini adalah alat yang digunakan manusia untuk memahami pengalamannya dalam konteks kebahagiaan. Dengan akal budi, manusia menerjemahkan segala pengalamannya untuk memahami jalan yang benar kepada kebahagiaan, dan lalu dia berjalan menurut pemahaman itu untuk sampai kepada kebahagiaan.

Manusia hanya memiliki pengalaman dan akal budinya untuk bergerak menuju kebahagiaan, pengalaman adalah informasi yang dia butuhkan untuk memetakan kebahagiaan dalam kehidupan. Setiap butir informasi pasti berkaitan dengan tujuan akhir dalam suatu cara atau yang lain, tapi manusia harus menemukan kaitan itu, dan caranya adalah dengan akal budi. Jika suatu informasi tidak dikaitkan dengan kebahagiaan, apakah kegunaan informasi itu bagi manusia selain sebagai beban pikiran yang tidak berarti?

Jadi, dengan itu, segala pengalaman manusia harus dipahami atau dalam kata lain dimaknai dalam konteks kebahagiaan. Sekarang, dalam perjalanan tersebut, manusia harus percaya pada satu kepercayaan inti, “Aku dapat memahami sebagian pengalamanku dengan benar.” Manusia harus percaya pada kemampuannya sendiri untuk melihat kaitan antara pengalamannya dengan kebahagiaan sehingga dia dapat bergerak mendekati kebahagiaan. Hal ini benar apapun yang terjadi, sekalipun manusia mengakui dia menyangkal dirinya, tapi dia berarti percaya pada penyangkalan yang berasal dari dirinya.

Hal ini dapat kita teliti dengan lebih mudah. “Manusia selalu percaya bahwa dia benar dalam setidaknya satu kepercayaan.” Hal ini dapat disederhanakan menjadi satu pernyataan, “Manusia selalu percaya.” Misalkan, “Manusia tidak percaya akan apapun.” Apakah ini mungkin? Manusia terjebak dalam tindakan, segala kondisi manusia adalah suatu tindakan, termasuk ketiadaan tindakan itu, hidup saja, tanpa melakukan apapun tambahan, sudah merupakan suatu tindakan. Untuk bertindak, manusia harus percaya pada suatu hal.

Jika manusia memutuskan untuk bertindak, maka dia melakukannya karena dia percaya pada nilai tindakan tersebut. Namun manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya rasional, tidak setiap saat dia membuat suatu keputusan karena suatu alasan rasional yang dia sadari. Terkadang atau bahkan sering manusia membuat suatu keputusan yang tidak rasional, mungkin emosional, atau karena suatu sebab lain. Rasionalitas tidak berarti mengikuti hukum-hukum logika, melainkan karena suatu alasan yang dapat dipahami mengikuti suatu hukum atau pola logis. Jadi model rasional sebagai model universal untuk memahami tindakan manusia sebenarnya tidaklah rasional sama sekali.

Dalam hal ini, psikologi sebagai ilmu empiris lebih baik dalam memahami tindakan manusia daripada filsafat. Namun aku rasa masih ada harapan dalam menemukan rasionalitas dalam kegelapan akal budi dan terang iman. Sepertinya kita sudah berpaling dari topik utama kita tentang kepercayaan dan malah menjurus pada tindakan. Marilah kita berupaya untuk mengarahkan kembali projek ini kepada kepercayaan dan bukan tindakan.

Batasan projek ini adalah pada kepercayaan akan Allah dan kepercayaan akan diri sendiri.

Sabda Allah:

Ada kebenaran bahwa proses-proses alami dunia ini tidak sepenuhnya rasional, manusia tidak sepenuhnya mengikuti hukum rasional. Namun sampai kepada suatu batas tertentu ada hukum-hukum rasional yang mengikat jiwa manusia dan membuat manusia hidup dan bertindak seperti itu. Salah satu hukum itu adalah yang kamu sudah temukan sendiri, bahwa iman Ilahi membutuhkan iman pribadi, dan iman pribadi dibenarkan oleh iman Ilahi. Kamu hendak menjelaskan rasionalitas dari hukum seperti itu, dan karena kamu begitu lelah, kamu meminta bantuan-Ku untuk menjelaskannya kepadamu.

Tentang cara iman Ilahi membutuhkan iman pribadi. Saat kamu percaya kepada Allah dan Firman-Nya, kamu membutuhkan kepercayaan bahwa gagasanmu tentang Allah dan Firman-Nya sesuai dengan kenyataan tentang Allah dan Firman-Nya. Jikalau kamu tidak percaya akan kebenaran gagasanmu sendiri, maka kamu tidak percaya pada gagasan itu sendiri. Ini diwujudkan dalam suatu forma rasional sebagai berikut, “Kepercayaan pada kebenaran X sama dengan kepercayaan pada X.” Jadi, “Kepercayaan pada kebenaran gagasan tentang Allah adalah kepercayaan pada gagasan tentang Allah.”

 

Sejauh mana ini adalah gagasanmu, setiap hal yang dipercaya adalah gagasan yang ada di dalam jiwa. Maka gagasan ini adalah milik jiwa, dalam arti gagasan itu berada di dalam batasan jiwamu. Kepercayaan akan diri sendiri lebih tepatnya adalah kepercayaan pada gagasan-gagasan yang ada di dalam jiwamu. Namun artinya kamu harus percaya bahwa di dalam jiwamu ada kemungkinan adanya gagasan yang benar di dalam jiwamu dan bahwa kamu dapat mengetahui gagasan yang benar di dalam jiwamu. Tentu gagasan-gagasan bukanlah satu-satunya unsur jiwamu, melainkan di dalam jiwamu ada suatu inti yaitu kesadaran yang mengetahui dan menyadari segala hal berkenaan dengan dirimu sejauh mana kesadaranmu mencapainya.

Kesadaran ini sebenarnya identik dengan jiwa, di mana jiwa memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu dan menilai sesuatu. Jiwa dapat benar dan dapat salah dalam menilai gagasan-gagasan dalam relasinya dengan kenyataan. Tidak melulu jiwa salah, dan tidak melulu jiwa benar. Namun jiwa harus menilai dengan tepat dan pasti akan menilai dengan tepat bahwa dia mampu menilai dengan tepat, atau dia dapat mengenali kebenaran yang ada di dalam dirinya. Artinya jiwa percaya pada suatu kebenaran tentang dirinya sendiri, bahwa jiwa dapat mengenal kebenaran dengan tepat.

Bagaimanapun juga, jiwa akan memiliki suatu kepercayaan bahwa dia benar tentang kemampuannya untuk mengenal kebenaran. Kita dapat meneliti rasionalitas dari hal ini dengan membandingkan setiap kemungkinan yang ada melalui abstraksi. Kemungkinan pertama, jiwa percaya bahwa dia dapat mengenali kebenaran, maka jiwa itu percaya pada kemampuannya untuk mengenali kebenaran. Kemungkinan kedua, jiwa percaya bahwa dia tidak dapat mengenali kebenaran, maka jiwa itu percaya pada ketidakmampuannya untuk mengenali kebenaran. Namun artinya jiwa percaya pada kemampuannya untuk mengenali kebenaran bahwa selain kepercayaan yang ini, dia tidak dapat mengenali kebenaran lainnya.

Kalau kamu ingin menerjemahkan ke dalam suatu forma rasional, kita dapat menerjemahkannya sebagai berikut. Pernyataan yang hendak diuji adalah, “Jiwa pasti percaya pada kemampuannya untuk mengenali kebenaran.” Ini adalah A. Pada kemungkinan 1, “A, maka A.” Pada kemungkinan 2, “A-, tapi artinya A.” Dalam penjabaran, “Jika A B, maka A B.” Dijabarkan lebih, “Jika A percaya pada B, maka A percaya pada B.” A adalah Jiwa, dan B adalah kemampuan untuk mengenal kebenaran. Dalam kemungkinan 2, “A tidak percaya pada B”, atau, “A percaya pada B-“ Namun lihatlah, dalam kedua kesempatan, A percaya sesuatu. Selama A percaya sesuatu, maka sesungguhnya dia percaya pada B. Jadi ada hukum pertama, “Selama A percaya pada apapun, maka A percaya pada B.” Tindakan percaya dapat dikatakan sebagai C. Maka, “A C, A C B.” “A C B, A C B”. “A C B-, A C B.”

Hal yang kamu inginkan berikutnya adalah penjelasan tentang “A C, A C B.” Mari kita pahami, jika A C, maka A C bahwa D, yaitu variabel kepercayaan, adalah benar, yaitu E. Maka, “A C D E”. Artinya, A C D E, A C (C D E) E. Jika A C (C D E) E, maka A C B. Sebab B adalah kemampuan untuk mengenal kebenaran, atau percaya pada kebenaran. Maka B dapat dirumuskan sebagai F (kemampuan) C E. Jika A C, artinya A C D E, A C (C D E) E, dan ini dapat dibalik, menjadi A C (C D E) E, A C D E.

Dalam penjabaran, A C D E, A C (C D E) E, A C F C E. A C (C D E) E artinya jiwa percaya bahwa kepercayaannya adalah benar. A C F C E artinya jiwa percaya bahwa dia dapat percaya pada kebenaran. Jika jiwa percaya bahwa kepercayaannya benar, maka jiwa percaya bahwa dia dapat percaya pada kebenaran. Artinya, misalkan C D E adalah G, maka jika A C G, A C F C E. Ada rumusan lain yang terkait dengan modalitas umum, yaitu, “Jika A terjadi, maka A dapat terjadi.” Ini diadaptasikan pada modalitas kepercayaan, “Jika A percaya B, A percaya (percaya B), A percaya dapat percaya B dengan benar.”

Berakhirnya sabda Allah.

Mengapa harus A C B supaya terjadi A C? Mengapa A C, A C B? Ambillah satu kepercayaan D. Jika A C D, maka anggaplah percaya dengan benar adalah E. Jadi jika A C D, A C (A E D). Jika jiwa percaya bahwa dia percaya dengan benar pada D, maka dia percaya bahwa dia dapat percaya dengan benar pada D. Anggaplah B adalah kemampuan untuk memiliki kepercayaan yang benar, atau untuk percaya dengan benar. Jika A C (A E D), A C B (A E D). Maka, A C, A C B. Selesailah sudah.

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...