Dalam projek
rasionalitas yang pertama, aku hendak meneliti suatu tulisan yang sudah ada di
blog ini. Tulisan ini berjudul, “Kepercayaan akan Allah membutuhkan kepercayaan
akan diri sendiri”. Secara konten aku tidak menggugatnya, tapi aku ingin
menganalisis pola pemikiran yang terjadi sehingga terjadi kesimpulan itu, dan
dari situ menetapkan rasionalitas yang pertama. Pada paragraf pertama, diajukan
beberapa pertanyaan tentang bagaimana kita mengetahui, yaitu percaya dengan
benar pada suatu kebenaran, terutama hal-hal yang Ilahi.
Namun tulisan ini
dapat dipakaikan untuk menanyakan pertanyaan tentang bagaimana kita dapat
mengetahui apapun juga, walau tulisan ini tidak bertujuan menjawab hal
tersebut. Dalam paragraf kedua materi ini dibahas secara langsung, bahwa kita
sendiri harus memutuskan apakah Gereja benar atau tidak, apakah suatu hal
berasal dari Allah atau manusia saja. Itu sendiri adalah kesimpulan dari
tulisan ini, walau masih ada materi berikutnya, tapi ini adalah pokok dan
intisari dari tulisan ini yang akan kita teliti.
Jadi, bagaimana
rasionalitas dari pernyataan tersebut? Dalam tulisan memang tidak dijelaskan
secara pasti rasionalitasnya, maka aku akan meneliti kembali pemikiranku secara
mendalam. Tujuan tulisan ini adalah mengungkapkan bahwa di bawah setiap
kepercayaan ada iman terhadap diri sendiri yang sangat mendasar, bahkan di
bawah iman akan Allah. Rasionalitas pernyataan ini adalah alur pemikiran yang
mengarah pada pernyataan ini, argumen yang mengarah pada kesimpulan ini dan
hukum-hukum yang mengatur argumen tersebut.
Argumennya adalah
sebagai berikut, jika manusia tidak percaya pada dirinya sendiri, pada gagasan
apapun yang dia miliki, maka dia tidak dapat percaya pada apapun. Hal ini
disebabkan oleh pengetahuan bahwa segala gagasan yang ada dalam manusia,
sekalipun berasal dari luar, menjadi milik manusia itu sendiri. Sebagai makhluk
yang berpengalaman, dia menerima pengalaman akan gagasan luar, yang dari
perspektifnya adalah pengalaman dirinya sendiri dan menjadi gagasan dirinya
sendiri pula.
Jadi ada beberapa
argumen yang sedang terjadi, pertama, “Jika manusia tidak percaya pada
gagasannya sendiri, dia tidak dapat percaya pada apapun.” Secara formal, ini
dapat dinyatakan sebagai berikut, “Jika X tidak Y, maka X tidak Z.” Argumen
kedua berupaya menjelaskan argumen pertama, “Dari sudut pandang satu manusia,
semua pengalamannya menjadi gagasannya sendiri.” Ini adalah hasil pengamatan
atau pengalaman terhadap kehidupan dan pengalaman manusia secara fundamental.
Namun data dan pengalaman harus ditafsirkan, jadi ini adalah hasil tafsiran dan
bukan pengalaman itu sendiri.
Dasar dari argumen
kedua adalah suatu kebenaran pertama yaitu, “Kita hanya memiliki pengalaman
kita sendiri.” Ini adalah suatu hal yang tidak dapat dibantah dan harus
diterima dengan iman. Secara fenomenologis, kita selalu hanya mengalami satu
perspektif dalam seluruh kenyataan, dan melalui satu perspektif itu semua hal
menjadi milik perspektif tersebut. Sekarang segala pengalaman harus
ditafsirkan, dalam segala kasus, manusia percaya, dari dalam jiwanya, bahwa dia
dapat menafsirkan pengalamannya secara tepat dan memaknainya secara tepat.
Hal ini menjadi suatu
kebenaran yang tidak dapat disalahkan dan harus benar. Karena kita beroleh
suatu kebenaran kedua, “Setiap pengalaman harus dipahami menurut suatu kerangka
pemahaman tertentu,” atau dalam kata lain, “Setiap pengalaman harus dimaknai
menurut suatu sudut pandang tertentu.” Pengalaman yang tidak dimaknai tidaklah
berguna bagi manusia. Sebenarnya kalau kita meneliti memang ini akan menjadi
sangat dalam. Jadi kita harus mendalami ini dengan lebih baik lagi.
Pernyataan bahwa
“Pengalaman yang tidak dimaknai tidaklah berguna bagi manusia” dapat dipahami
dari kerangka bahwa manusia memiliki tujuan mutlak yaitu kebahagiaan. “Setiap
manusia memiliki tujuan akhir yaitu kebahagiaan.” Ini adalah hasil dari pengamatan
umum terhadap segala manusia dan kodrat manusia, dari refleksi dan kontemplasi
terhadap tujuan hidup manusia. Namun yang tepat bukanlah manusia memiliki
tujuan akhir yaitu kebahagiaan, melainkan “Setiap manusia tertarik kepada
kebahagiaan.” Namun setiap manusia bebas untuk menentukan asosiasi mereka
dengan kebahagiaan.
Dengan refleksi yang
lebih dalam, kita menemukan bahwa setiap manusia berusaha bergerak menuju
kebahagiaan. Dalam perjalanan menuju kebahagiaan, manusia memiliki 2 hal untuk
mencapainya, yaitu segenap pengalaman dirinya dan akal budi untuk memahami
pengalamannya. Akal budi dalam konteks ini adalah alat yang digunakan manusia untuk
memahami pengalamannya dalam konteks kebahagiaan. Dengan akal budi, manusia
menerjemahkan segala pengalamannya untuk memahami jalan yang benar kepada
kebahagiaan, dan lalu dia berjalan menurut pemahaman itu untuk sampai kepada
kebahagiaan.
Manusia hanya memiliki
pengalaman dan akal budinya untuk bergerak menuju kebahagiaan, pengalaman adalah
informasi yang dia butuhkan untuk memetakan kebahagiaan dalam kehidupan. Setiap
butir informasi pasti berkaitan dengan tujuan akhir dalam suatu cara atau yang
lain, tapi manusia harus menemukan kaitan itu, dan caranya adalah dengan akal
budi. Jika suatu informasi tidak dikaitkan dengan kebahagiaan, apakah kegunaan
informasi itu bagi manusia selain sebagai beban pikiran yang tidak berarti?
Jadi, dengan itu,
segala pengalaman manusia harus dipahami atau dalam kata lain dimaknai dalam
konteks kebahagiaan. Sekarang, dalam perjalanan tersebut, manusia harus percaya
pada satu kepercayaan inti, “Aku dapat memahami sebagian pengalamanku dengan benar.”
Manusia harus percaya pada kemampuannya sendiri untuk melihat kaitan antara
pengalamannya dengan kebahagiaan sehingga dia dapat bergerak mendekati
kebahagiaan. Hal ini benar apapun yang terjadi, sekalipun manusia mengakui dia
menyangkal dirinya, tapi dia berarti percaya pada penyangkalan yang berasal
dari dirinya.
Hal ini dapat kita
teliti dengan lebih mudah. “Manusia selalu percaya bahwa dia benar dalam setidaknya
satu kepercayaan.” Hal ini dapat disederhanakan menjadi satu pernyataan, “Manusia
selalu percaya.” Misalkan, “Manusia tidak percaya akan apapun.” Apakah ini
mungkin? Manusia terjebak dalam tindakan, segala kondisi manusia adalah suatu
tindakan, termasuk ketiadaan tindakan itu, hidup saja, tanpa melakukan apapun
tambahan, sudah merupakan suatu tindakan. Untuk bertindak, manusia harus
percaya pada suatu hal.
Jika manusia
memutuskan untuk bertindak, maka dia melakukannya karena dia percaya pada nilai
tindakan tersebut. Namun manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya rasional,
tidak setiap saat dia membuat suatu keputusan karena suatu alasan rasional yang
dia sadari. Terkadang atau bahkan sering manusia membuat suatu keputusan yang
tidak rasional, mungkin emosional, atau karena suatu sebab lain. Rasionalitas
tidak berarti mengikuti hukum-hukum logika, melainkan karena suatu alasan yang
dapat dipahami mengikuti suatu hukum atau pola logis. Jadi model rasional
sebagai model universal untuk memahami tindakan manusia sebenarnya tidaklah
rasional sama sekali.
Dalam hal ini,
psikologi sebagai ilmu empiris lebih baik dalam memahami tindakan manusia
daripada filsafat. Namun aku rasa masih ada harapan dalam menemukan
rasionalitas dalam kegelapan akal budi dan terang iman. Sepertinya kita sudah
berpaling dari topik utama kita tentang kepercayaan dan malah menjurus pada
tindakan. Marilah kita berupaya untuk mengarahkan kembali projek ini kepada
kepercayaan dan bukan tindakan.
Batasan projek ini
adalah pada kepercayaan akan Allah dan kepercayaan akan diri sendiri.
Sabda Allah:
Ada kebenaran bahwa
proses-proses alami dunia ini tidak sepenuhnya rasional, manusia tidak
sepenuhnya mengikuti hukum rasional. Namun sampai kepada suatu batas tertentu
ada hukum-hukum rasional yang mengikat jiwa manusia dan membuat manusia hidup
dan bertindak seperti itu. Salah satu hukum itu adalah yang kamu sudah temukan
sendiri, bahwa iman Ilahi membutuhkan iman pribadi, dan iman pribadi dibenarkan
oleh iman Ilahi. Kamu hendak menjelaskan rasionalitas dari hukum seperti itu,
dan karena kamu begitu lelah, kamu meminta bantuan-Ku untuk menjelaskannya
kepadamu.
Tentang cara iman
Ilahi membutuhkan iman pribadi. Saat kamu percaya kepada Allah dan Firman-Nya,
kamu membutuhkan kepercayaan bahwa gagasanmu tentang Allah dan Firman-Nya
sesuai dengan kenyataan tentang Allah dan Firman-Nya. Jikalau kamu tidak
percaya akan kebenaran gagasanmu sendiri, maka kamu tidak percaya pada gagasan
itu sendiri. Ini diwujudkan dalam suatu forma rasional sebagai berikut, “Kepercayaan
pada kebenaran X sama dengan kepercayaan pada X.” Jadi, “Kepercayaan pada kebenaran
gagasan tentang Allah adalah kepercayaan pada gagasan tentang Allah.”
Sejauh mana ini adalah
gagasanmu, setiap hal yang dipercaya adalah gagasan yang ada di dalam jiwa. Maka
gagasan ini adalah milik jiwa, dalam arti gagasan itu berada di dalam batasan
jiwamu. Kepercayaan akan diri sendiri lebih tepatnya adalah kepercayaan pada
gagasan-gagasan yang ada di dalam jiwamu. Namun artinya kamu harus percaya
bahwa di dalam jiwamu ada kemungkinan adanya gagasan yang benar di dalam jiwamu
dan bahwa kamu dapat mengetahui gagasan yang benar di dalam jiwamu. Tentu
gagasan-gagasan bukanlah satu-satunya unsur jiwamu, melainkan di dalam jiwamu
ada suatu inti yaitu kesadaran yang mengetahui dan menyadari segala hal berkenaan
dengan dirimu sejauh mana kesadaranmu mencapainya.
Kesadaran ini
sebenarnya identik dengan jiwa, di mana jiwa memiliki kemampuan untuk
mengetahui sesuatu dan menilai sesuatu. Jiwa dapat benar dan dapat salah dalam menilai
gagasan-gagasan dalam relasinya dengan kenyataan. Tidak melulu jiwa salah, dan
tidak melulu jiwa benar. Namun jiwa harus menilai dengan tepat dan pasti akan
menilai dengan tepat bahwa dia mampu menilai dengan tepat, atau dia dapat mengenali
kebenaran yang ada di dalam dirinya. Artinya jiwa percaya pada suatu kebenaran
tentang dirinya sendiri, bahwa jiwa dapat mengenal kebenaran dengan tepat.
Bagaimanapun juga,
jiwa akan memiliki suatu kepercayaan bahwa dia benar tentang kemampuannya untuk
mengenal kebenaran. Kita dapat meneliti rasionalitas dari hal ini dengan
membandingkan setiap kemungkinan yang ada melalui abstraksi. Kemungkinan
pertama, jiwa percaya bahwa dia dapat mengenali kebenaran, maka jiwa itu
percaya pada kemampuannya untuk mengenali kebenaran. Kemungkinan kedua, jiwa
percaya bahwa dia tidak dapat mengenali kebenaran, maka jiwa itu percaya pada
ketidakmampuannya untuk mengenali kebenaran. Namun artinya jiwa percaya pada
kemampuannya untuk mengenali kebenaran bahwa selain kepercayaan yang ini, dia
tidak dapat mengenali kebenaran lainnya.
Kalau kamu ingin
menerjemahkan ke dalam suatu forma rasional, kita dapat menerjemahkannya
sebagai berikut. Pernyataan yang hendak diuji adalah, “Jiwa pasti percaya pada
kemampuannya untuk mengenali kebenaran.” Ini adalah A. Pada kemungkinan 1, “A,
maka A.” Pada kemungkinan 2, “A-, tapi artinya A.” Dalam penjabaran, “Jika A B,
maka A B.” Dijabarkan lebih, “Jika A percaya pada B, maka A percaya pada B.” A
adalah Jiwa, dan B adalah kemampuan untuk mengenal kebenaran. Dalam kemungkinan
2, “A tidak percaya pada B”, atau, “A percaya pada B-“ Namun lihatlah, dalam
kedua kesempatan, A percaya sesuatu. Selama A percaya sesuatu, maka
sesungguhnya dia percaya pada B. Jadi ada hukum pertama, “Selama A percaya pada
apapun, maka A percaya pada B.” Tindakan percaya dapat dikatakan sebagai C.
Maka, “A C, A C B.” “A C B, A C B”. “A C B-, A C B.”
Hal yang kamu inginkan
berikutnya adalah penjelasan tentang “A C, A C B.” Mari kita pahami, jika A C,
maka A C bahwa D, yaitu variabel kepercayaan, adalah benar, yaitu E. Maka, “A C
D E”. Artinya, A C D E, A C (C D E) E. Jika A C (C D E) E, maka A C B. Sebab B
adalah kemampuan untuk mengenal kebenaran, atau percaya pada kebenaran. Maka B
dapat dirumuskan sebagai F (kemampuan) C E. Jika A C, artinya A C D E, A C (C D
E) E, dan ini dapat dibalik, menjadi A C (C D E) E, A C D E.
Dalam penjabaran, A C
D E, A C (C D E) E, A C F C E. A C (C D E) E artinya jiwa percaya bahwa
kepercayaannya adalah benar. A C F C E artinya jiwa percaya bahwa dia dapat
percaya pada kebenaran. Jika jiwa percaya bahwa kepercayaannya benar, maka jiwa
percaya bahwa dia dapat percaya pada kebenaran. Artinya, misalkan C D E adalah
G, maka jika A C G, A C F C E. Ada rumusan lain yang terkait dengan modalitas
umum, yaitu, “Jika A terjadi, maka A dapat terjadi.” Ini diadaptasikan pada
modalitas kepercayaan, “Jika A percaya B, A percaya (percaya B), A percaya
dapat percaya B dengan benar.”
Berakhirnya sabda
Allah.
Mengapa harus A C B
supaya terjadi A C? Mengapa A C, A C B? Ambillah satu kepercayaan D. Jika A C
D, maka anggaplah percaya dengan benar adalah E. Jadi jika A C D, A C (A E D).
Jika jiwa percaya bahwa dia percaya dengan benar pada D, maka dia percaya bahwa
dia dapat percaya dengan benar pada D. Anggaplah B adalah kemampuan untuk memiliki
kepercayaan yang benar, atau untuk percaya dengan benar. Jika A C (A E D), A C
B (A E D). Maka, A C, A C B. Selesailah sudah.