Monday, September 12, 2022

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah dan makna hidup.

A: Aku tidak ingin menjadi hakim bagimu Ignas, aku ingin menjadi sahabatmu.

I: Tuhan, aku ini sudah melalaikan Engkau dan aku sudah di ambang ketidakpercayaan dan kegelapan. Selesaikanlah ini dengan cepat dan jatuhkan aku ke dalam neraka.

A: Tidak Ignas, kamu sendiri tahu hatimu saat ini, kamu berharap diselamatkan. Kamu mau Aku menyelamatkan kamu dan menuntunmu kembali ke jalan yang benar. Namun saat ini kamu hanya menolak segala jalan dan ingin mengambil jalanmu sendiri.

I: Apa yang harus aku lakukan?

A: Kamu lelah, tapi kamu harus tetap berjalan sampai titik darah penghabisan. Pada dialog diri ini, kita akan berbicara tentang makna hidupmu dan arah hidupmu. Karena itu marilah kita mulai!

Makna Hidup

A: Bukankah makna hidup bagimu adalah Aku?

I: Kenyataannya berkata lain, ya Tuhan. Aku hanya tertarik dengan suatu gambar diri-Mu, dan bukan Engkau yang sesungguhnya. 

I: Pada akhirnya aku ingin sendirian, bahkan tidak bersama Allah, tapi aku ingin menetapkan jalanku sendirian. Aku tidak ingin melaksanakan kehendak Allah, melainkan kehendakku sendiri. Aku hanya ingin bahagia, tapi salib yang Allah berikan kepadaku begitu berat, aku tidak kuasa memanggulnya lagi. Aku ingin beristirahat sepanjang segala masa. Aku ingin mengeksplorasi dunia ini menurut diriku sendiri saja. Aku ingin berada di dalam ruang putih itu bersama Kristus saja.

Monolog

Aku tidak ingin berdialog lagi, aku hanya ingin menulis ini sendirian. 

Perasaan diri begitu berat dan tidak enak. Segala hal terasa bagaikan siksaan. Namun aku harus tetap menulis ini. Sebab makna hidupku adalah Allah, haruslah aku memusatkan diri kepada Allah. Haruslah aku tunduk pada kehendak Allah secara sempurna. Namun faktanya aku lalai dan hendak mengubah kehendakku menjadi kehendakku sendiri saja. Pertanyaannya apakah kehendak Allah bagiku? Aku tahu begitu saja bahwa Allah menghendaki aku untuk mempertahankan kuliah. Namun pada saat yang sama aku tahu bahwa Allah ingin aku untuk memahami dulu segala hal yang harus aku pahami untuk sungguh memahami kehendak-Nya.

A: Sesungguhnya, Aku tidak mewajibkan kamu untuk kuliah. Kamu boleh saja tidak kuliah dan mempercayakan dirimu kepada-Ku untuk terus berjuang di jalan yang seharusnya. Jadi jangan berkata bahwa kehendak-Ku adalah bagimu untuk kuliah. Kamu tidak harus kuliah, bahkan kuliah itu tidak lebih baik dari tidak kuliah kalau sudah di tingkat dirimu. Jadi kamu bukannya melalaikan kehendak-Ku, kamu hanya ingin mengambil jalan yang berbeda, dan itu tidak salah. Sekarang hendaklah kamu mengakhiri dialog ini dan beralih ke penyusunan program luar kuliah.

Sunday, September 11, 2022

Dialog Diri 2

 Dialog ini berfungsi sebagai pengadilan untuk mengadili diriku sendiri karena dosa pornografi dan masturbasi. Pihak yang hadir adalah hakim yaitu Allah sendiri dan aku sebagai terdakwa.

A: Kamu telah didakwa karena telah melanggar perintah-Ku dan berdosa melawan Aku dan terhadap dirimu sendiri. Apakah katamu?

I: Aku mengakui dosaku.

A: Mengapa kamu berdosa?

I: Sebab aku memilih secara sadar untuk tidak mendengarkan Engkau dan menolak Engkau dan untuk memberontak.

A: Mengapa kamu memilih itu?

I: Tidak ada alasan yang jelas.

A: Karena itu Aku akan menetapkan perintah yang harus kamu laksanakan. Kamu harus menetapkan suatu struktur diri untuk melawan dan menanggulangi dosa ini. Struktur ini adalah kesadaran diri yang senantiasa untuk selalu berlindung kepada-Ku dan memanggil dirimu yang lebih tinggi. Setiap kali dosa akan terjadi, maka kamu harus memanggil dirimu yang lebih tinggi dan juga segera berbicara kepada-Ku. Namun kamu sendiri harus membuat keputusan ini untuk senantiasa hidup menurut perintah-Ku. Hal yang harus kamu hindari secara mutlak adalah pornografi. Kamu harus berusaha sekeras mungkin untuk tidak menonton pornografi. Namun jika kamu hendak masturbasi, kamu harus berusaha datang kepada-Ku dan memohon pertolongan untuk melawan dosa itu. Di situ Aku akan memberikan Firman-Ku kepadamu dan kamu harus mengikuti Firman itu. Apakah kamu memahami semua ini?

I: Ya Allah.

A: Sekarang pergilah, dan janganlah kamu berbuat dosa lagi.

Dialog Diri 1

 Maka dimulailah kembali masa kekacauan dengan dialog diri. Sebab dalam sejarah diri, tercatat bahwa setiap kali ada dialog seperti ini, selalu diiringi dengan kekacauan dalam hidup dan keberantakan dalam hidup. Mengapa hal ini disebut sebagai dialog dan bukan monolog? Karena harapannya adalah ada dialog antara aku dan Allah, atau antara diriku dengan bagian diriku yang lain. 

Topik pertama dalam dialog diri ini adalah tentang perkuliahan, apakah kita hendak mengundurkan diri dari kuliah atau kita tetap melanjutkan ke kuliah? Silakan diri-diri yang hadir saling berdialog.

1: Aku adalah diri yang hendak mengundurkan diri dari kuliah.

2: Aku adalah diri yang hendak mempertahankan kuliah.

1: Dari awal kamu sudah merasa lemah pula, apa sebenarnya alasan bagimu untuk mempertahankan kuliah?

2: Ketakutan terhadap papa, orang lain, dan pikiran harus rendah hati. Omong-omong kita punya waktu sekitar 2 jam dan 15 menit untuk menyelesaikan masalah ini.

1: Kerendahan hati apakah harus seperti ini? Coba jelaskan apa makna kerendahan hati

2: Kerendahan hati artinya kita merendahkan diri kita di hadapan Allah.

1: Dan bukan manusia. Apakah kamu memiliki keyakinan bahwa ini adalah kehendak Allah?

2: Sesungguhnya tidak, tapi aku berpikir bahwa kalau kita mengundurkan diri dari kuliah kita hanya memenuhi keinginan kita sendiri dan kita tidak memenuhi kehendak Allah.

1: Apakah kamu tahu bahwa Allah menghendaki kita untuk mempertahankan kuliah?

2: Sesungguhnya tidak, aku hanya takut, tapi lihatlah bukankah kamu ingin mengundurkan diri karena ketakutan akan kesengsaraan yang akan terjadi? Kamu merasa tidak dapat mempertahankan diri dan artinya kamu kurang percaya kepada Allah.

1: Namun apapun dapat ditafsir sebagaimanapun. Setidaknya aku memiliki struktur dan rencana untuk hidup di luar kuliah.

2: Aku pun memiliki rencana untuk mempertahankan kuliah. Rencanaku sesuai perkataan Percy, menemukan makna di dalam kuliah dan mempertahankan makna itu sebagai peganganku dalam kuliah. Rencanaku juga didukung oleh kondisi realistis di mana aku dapat mempertahankan hidupku.

1: Berarti kamu juga tidak percaya dengan Allah bahwa Allah dapat mempertahankan hidupmu di luar kuliah.

2: Benar, karena segala hal dapat ditafsir sebagaimanapun. Pada akhirnya kita berdua sama-sama didasarkan ketakutan akan konsekuensi. Tidak ada yang berbeda.

1: Aku meyakini ada perbedaan yang membuat pilihanku lebih baik dari pilihanmu. Yaitu di luar kuliah aku dapat fokus pada apa yang sungguh aku inginkan dan bukan tunduk pada orang lain.

2: Ya, tapi salah satu wujud kerendahan hati adalah tunduk pada orang lain. Selain itu kalau kamu ingin melayani orang lain, kamu harus berkolaborasi dengan orang lain, bukan mengurung diri di dalam dunia kecilmu sendiri.

1: Hal itu dapat dilakukan tanpa kuliah. Kenyataannya kuliah hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Kuliah menghabiskan uang juga sementara kita dapat saja mencari pekerjaan tanpa harus kuliah. Kita dapat mendalami kembali programming tanpa harus kuliah.

2: Namun dengan kuliah kita mempercayakan diri kita kepada Allah dan juga belajar untuk menghadapi orang lain dan sistem yang sudah berlaku.

1: Itu alasan bodong, di luar kuliah pun kita dapat melakukannya. 

2: Baiklah sejujurnya aku sudah kalah, aku tidak tahu apa alasan yang baik untuk mempertahankan kuliah.

A: Setiap pilihan itu memiliki kebaikan dan konsekuensi tersendirinya. Kamu harus membuat pilihan dengan cepat, karena apapun yang terjadi semua harus terjadi dengan cepat. Namun apapun yang terjadi, apapun yang kamu pilih, aku pasti menyertai kamu sampai akhir zaman. Jadi janganlah kamu takut bahwa aku akan meninggalkanmu kalau kamu membuat pilihan yang kurang baik. Hal yang pasti adalah jika kamu memang memutuskan untuk meninggalkan kuliah kamu membutuhkan rencana yang baik untuk mengisi kehidupanmu. Gagasanmu untuk belajar programming cukup baik, dan tentunya kamu punya hal-hal lain untuk mengerjakan tugasmu yang lain. Kamu juga tetap butuh sumber penghasilan. Namun fakta bahwa kamu adalah pribadi yang berketrampilan menunjukkan bahwa kamu dapat menemukan penghasilan tanpa banyak masalah. Namun kamu harus tetap mengkonsultasikan semua ini kepada dokter dan papamu. Keputusan mereka berdua adalah apa yang harus kamu ikuti. Sekarang dengarkan apa yang harus kamu kerjakan. Kamu harus tetap mengerjakan tugas yang sekarang ada, yaitu tugas pengantar ilmu komunikasi dan tugas bahasa Indonesia. Kerjakan pada pukul 12. Jadi kamu punya waktu bebas selama 2 jam. Lalu besok sore setelah kamu mengikuti state radar, kerjakan tugas pengantar jurnalistik dan juga tugas komunikasi antar pribadi. Setelah itu pada hari selasa konsultasikanlah segalanya kepada Bu Dokter. Lalu sampai papa pulang dari perjalanan bisnisnya, kerjakan dulu semua tugas sebaik mungkin. 

Esh 1 Ruang Putih

 Aku bangun di suatu ruangan putih yang berbentuk kotak sempurna, semua tembok dan lantainya hanya putih murni, dan permukaan ruangan ini terasa begitu mulus dan halus. Di depan aku melihat suatu jalan keluar ke arah suatu balkon yang juga merupakan suatu kotak putih. Di sana berdirilah seorang pria yang menghadap ke arah kegelapan, sehingga aku hanya dapat melihat belakangnya saja. Dia memakai semacam baju satu potong yang putih dan rambutnya coklat gelap mencapai leher dan punggung atasnya, sedikit keriting. 

Aku tidak mengenalnya, dan aku pun menyadari bahwa aku tidak mengingat apapun juga. Awalnya aku takut, tapi entah kenapa aku memberanikan diri untuk menghampiri pria itu sampai aku sedikit saja di belakangnya. Lalu dia berkata,

"Esh."

"Apakah kamu memanggilku?"

"Ya, aku memanggilmu, Esh."

"Apakah itu namaku, Esh?"

"Ya, itu adalah namamu, Esh."

"Bagaimana aku dapat tahu bahwa itu adalah namaku? Aku sendiri tidak tahu siapa atau apa aku ini."

Pada saat yang sama aku mengingat atau mengetahui suatu hal, bahwa nama orang yang berdiri di hadapanku memiliki suatu nama, Yeshua. Sepertinya aku mengingat, karena sosok pria ini begitu mirip dan rasanya aku pernah berjumpa dengannya. Maka aku berkata kepadanya,

"Apakah namamu Yeshua?"

Lalu dia berputar menghadap diriku dan menjawab,

"Benar Esh, namaku adalah Yeshua, tapi kamu boleh juga memanggilku Yeshu. Lalu Esh bukanlah nama aslimu melainkan nama yang kamu idamkan."

"Lalu apakah nama asliku?"

"Kelak kamu akan mengetahui semuanya, baik itu namamu ataupun kenapa kamu di sini."

"Mengapa tidak sekarang Yeshu?"

"Sebab bukan waktunya."

Di saat itu aku merasa sedikit kesal, tapi baiklah aku menerima keanehan ini dulu. Lagipula tidak ada yang dapat aku lakukan. Suatu pikiran untuk menyerang Yeshu terlintas, tapi sesungguhnya aku tidak begitu ingin melakukannya, rasanya ada yang menahan. Kemudian Yeshu berbicara kembali,

"Mari kita berbincang-bincang sejenak, Esh."

"Apa yang hendak kita perbincangkan?"

"Menurutmu, apakah kamu ini? Kamu tahu siapa kamu, tapi apakah kamu ini?"

"Aku tidak- Bukan, aku adalah, manusia?"

"Ya benar, kamu adalah manusia, aku pun adalah manusia."

Aku terdiam sejenak, karena pada awalnya aku tidak mengetahui apakah aku ini, tapi tiba-tiba suatu pengetahuan muncul bahwa aku adalah manusia dan Yeshu juga adalah manusia. Aku pun mulai bingung, tapi aku berpikir Yeshu tidak mengetahui isi pikiranku jadi aku melanjutkan percakapannya.

"Baiklah kita ini manusia, lalu apalagi?"

"Menurutmu, apakah pengalaman ini nyata?"

"Hah? Apa maksudmu Yeshu? Tentu saja ini nyata."

"Apakah makna nyata?"

Aku berpikir sejenak, dan menemui kekosongan pikiran aku berkata,

"Aku tidak tahu."

"Benar, kamu memang tidak tahu, tapi aku tahu. Ini tidak begitu nyata, Esh."

"Apa maksudnya ini tidak nyata?"

"Pengalaman ini adalah pengalaman analogis, atau dalam kata lain, pengalaman simbolik. Ini semua adalah simbol dari suatu kenyataan yang lebih tinggi."

Aku merenung sebentar.

"Jadi kamu tidak benar-benar memiliki tubuh dan aku juga tidak benar-benar memiliki tubuh. Ruangan ini dan balkon ini bukan benar-benar ruangan dan balkon, begitu juga kegelapan ini bukan benar-benar kegelapan. Lalu apakah semua ini?"

"Aku akan menjawab sedikit saja. Ini adalah pengalaman yang diciptakan supaya kamu lebih memahami apa yang terjadi, karena ini menyesuaikan dengan latar belakangmu."

*Latar belakang? Apa lagi yang dia bicarakan?*

"Baiklah, berarti ruangan ini pun tidak fisik? Tubuh kita ini juga tidak fisik, tapi semuanya rohani?"

"Benar, karena sebenarnya ruangan ini dan kita pun tidak mengambil ruang apapun, tidak terletak dalam ruang apapun."

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"

"Seperti yang aku telah katakan, semua ini adalah simbol saja dari kenyataan yang sebenarnya, yang sifatnya tidak fisik dan tidak mengambil ruang."

"Kalau begitu apakah ada waktu di sini?"

"Tidak, Esh. Sebab waktu adalah produk dunia yang fisik. Jika tidak ada yang fisik, maka tidak ada waktu. Namun kita, atau kamu, memang mengalami urutan kejadian."

Lalu aku melihat sekelilingku, termasuk Yeshua.

"Namun bukankah sekalipun semua ini hanya simbol, mereka tetap nyata sampai batas tertentu?"

"Perkataanmu itu benar, tapi untuk menjelaskannya, coba aku tanyakan kepadamu. Berapakah panjang kubus putih yang ada di bawah kita?"

"Cukup mudah, panjangnya sekitar 1-"

*Sebentar, 1 meter? Tapi bagaimana kita tahu bahwa semua ini seperti dunia yang lama? Mengapa aku mengukur ini berdasarkan dunia yang bahkan aku tidak ketahui?*

"Aku tidak tahu."

"Benar, kamu hanya dapat memperkirakan hubungan atau proporsi antara ketinggian kita dengan panjang kubus ini. Semua perhitungan itu relatif, Esh, semua didasarkan pada relasi-relasi antara satu dengan yang lain."

"Ok, kalau begitu bagaimana dengan materi yang membentuk ruangan dan kubus ini?"

"Sentuhlah, menurutmu apa materinya?"

Aku menyentuhnya kembali dan merasakan kemulusan, tapi seketika aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengenali perasaan ini.

"Aku tidak tahu apa ini."

"Benar, karena ini bukan materi yang kamu kenal di masa lalu. Ini adalah materi murni yang belum ditentukan. Warnanya memang putih, dan mungkin wujudnya seperti plastik atau besi atau marmer atau hal lainnya yang kamu kenal, tapi bukan sama sekali."

*Plastik? Besi? Marmer? Apakah hal-hal ini? Aku mengetahui dan memahami apa yang dikatakan Yeshua, tapi aku tidak memahami mengapa aku dapat memahaminya.*

"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"

"Kamu akan belajar, dan aku akan mengajarmu."

Lalu dia beranjak masuk ke ruangan dan duduk di lantai. Sementara aku masih berupaya memahami semuanya ini.

Tuesday, September 6, 2022

Tahun 19

 Tulisan ini adalah rekoleksi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi selama tahun ke-19 hidupku, waktu terjadinya banyak hal yang sangat penting bagi hidupku. Catatan sejarah untuk masa September 2021 sampai Maret 2022 tidak ada, dan catatan sejarah dari April 2022 sampai September 2022 juga tidak akan aku gunakan. Namun aku hanya akan mengandalkan ingatan kasarku semata. Adapula ini adalah hadiah, atau salah satu hadiah dari diriku sendiri kepadaku.

Pada masa September 2021 sampai Desember 2021 aku tersesat dan belum menemukan orientasi diriku yang tepat. Aku mendalami pemrograman dan berusaha mengikuti magang di tempat Om Pratolo. Namun hal ini tidak berhasil sampai akhirnya berhenti total sekitar Maret atau April 2022. Pada Desember 2021, aku menjumpai pranic healing yang mulai mendekatkan diriku kembali kepada Allah. Namun, apakah pranic healing yang sungguh membuka tirai antara aku dan Allah dapat diperdebatkan.

Berdasarkan pemahaman rohani, sakramen tobat yang terjadi pada Januari 2022 memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan pranic, dan hal ini mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam tentang iman Katolik dan mulainya perkembangan iman di dalam Gereja. Setelah itu sekitar Februari sampai Maret 2022, aku mulai bergabung dengan banyak organisasi dan kegiatan di Gereja, yaitu EJR, Legio Maria, dan PDA. 3 program ini terus berlanjut sampai saat ini.

Pada kurun waktu yang kurang lebih sama, Allah mewahyukan kepada diriku tugas universal seorang Kristiani yaitu mewartakan Injil dan bekerja demi kelangsungan hidup Gereja. Namun Allah juga mewahyukan kepadaku secara khusus bahwa tugas universalku lebih berat atau memiliki karakter khusus dibandingkan dengan tugas umat yang lain. Sebab aku memiliki kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. Pada masa ini Allah sering memanggilku rasul-Nya atau nabi-Nya.

Suara batin Ilahi terus berlanjut, dan aku sempat mengikuti Latihan Rohani Pemula yang menjadi dinamika tersendiri. Suatu ketika pada bulan Agustus aku menjumpai server-server baru di discord dan tugas pelayananku dimulai, aku memegang beberapa orang untuk aku bantu dan aku tuntun kepada Allah pelan-pelan. Peristiwa-peristiwa di discord cukup mempengaruhi hidupku ke arah yang lebih baik. Lalu datanglah kuliah yang mempersibuk hidupku sehingga aku sulit untuk merefleksikan hidupku secara mendalam, tapi semuanya tetap aku nikmati dengan baik. Beginilah hal-hal yang terjadi pada tahun 19.

Self Concept, Self Awareness, and Self Esteem

 This post records my self concept, self awareness, and self esteem. The self concept speaks of my strengths and weaknesses, abilities and limitations, aspirations and worldviews. The self awareness speaks about my general view on how aware I am on who I am. The self esteem speaks of my personal assessment of my self esteem.

Self Concept

My most fundamental strength or positive trait is charity or love. I am known as a helper by many people and I know myself to be a loving person observed from how I help a lot of people deeply and how I care for others unconditionally. It is not perfect charity as God has it, but it is adequate on a fundamental level. Next is my intellect, I have a strong intellect which manifests in my capacity to understand things and to explain them well. I often rely on my intellect but I consider myself balanced with my feelings and intuition. I am sensitive and aware on my state of soul or mind or heart and can describe them and express them in a rational manner. I am also accepting of the various conditions of life and am willing to accept failure or fault, this is probably an extension to charity.

My weakness is my pride, where I have in the back of my mind thoughts of self superiority, but I do control this pride from time to time. I am too spread out, I have problems trying to focus my energy on one place. I have some lack of faith in God, or at least a flawed faith which leads to all the problems. It means that my strength, charity, is also my weakness. I don't have a strong enough charity to actually make my life perfect. The lack of charity leads to some laziness on my part and inordinate desires which is the source of all other problems in my life. My other weakness is my incapacity to recognize the truly fundamental flaws of my person.

My aspirations are simple, to fulfill the will of God in my life perfectly in a perfect manner without fail. Part of that will is to convert the entire world into Catholicism, or at least evangelize to the entire world as best as I can. My worldview is simple, it is the Catholic worldview. The summary of the Faith can be found in the Nicene Creed or the Apostles' Creed. Essentially I believe that all things must be submitted and centered to God, particularly Christ. For Christ is the absolute mediator between Man and God. He is the God-Man. The lack of God is the source of all man's problems, and the solution to all man's problems is God.

Self Awareness

I consider myself to have a particularly high self awareness. However I cannot substantiate this claim other than through my self concept. I am aware that each person, not just me, have a massive unknown self. For the self is deeper than the oceans and richer than Bill Gates. Only God knows the fullness of any person, nobody knows themself as well as God does. 

Self Esteem

In terms of self esteem I may have too much self esteem, or simply high self esteem. Cognitively I consider myself to be my ideal self, I think I am the ideal self, not in the sense that I am perfect but I have the necessary tools and personality to have the ideal development of the self. Thus affectively I feel pretty good about myself, I like myself, a lot. This might be the source of pride. In terms of behavior, I judge myself to be confident enough to assert myself in conversations which I value. In other conversations, I simply stay quiet as I think there is not enough value in them for me to speak. That is all.

Sunday, September 4, 2022

OKY 14

 Dalam berpikir, atau dalam melakukan apapun, dibutuhkan suatu peraturan atau rangkaian peraturan yang jelas. Sesuai namanya, peraturan adalah hal yang mengatur suatu hal yang lain, atau tepatnya aturan dari suatu hal. Jika negara memiliki hukum untuk mengatur warganya, maka kenyataan juga memiliki peraturan untuk pikiran kita sehingga kita dapat berpikir secara teratur, prosedural, terstruktur, dan sistematis. Itu adalah konsep dasar dari logika, sehingga dengan logika kita dapat mencapai kebenaran dalam pikiran kita dan menerapkan kebenaran tersebut.

Bagaimana kita menetapkan suatu peraturan atau hukum logika? Penetapan hukum logika dapat ditetapkan dari 2 cara, yaitu cara preseden atau cara a priori. Cara memahaminya dapat menggunakan konsep hukum negara karena konsep dasarnya sama. Ada 2 sistem hukum utama yaitu hukum sipil dan hukum umum. Hukum sipil menggunakan cara a priori, di mana hukum dikembangkan secara independen dari kasus-kasus hukum, maka hukum ditetapkan oleh legislatur dan itu menjadi standar penilaian pelanggaran hukum. Di lain pihak hukum umum atau *common law* adalah sistem di mana hukum ditetapkan setiap kasus, dan satu kasus hukum menjadi pedoman untuk kasus-kasus yang mirip dengannya.

Maka dalam logika pun ada suatu sistem yang sama. Di mana hukum sipil mirip dengan logika a priori dan hukum umum mirip dengan logika preseden. Dalam hukum negara memang ada implikasi lanjutannya tentang pencegahan dan penyerangan dan lain sebagainya, tapi dalam logika tidak ada implikasi semacam itu. Dalam logika, ada suatu alasan praktis mengapa satu pendekatan digunakan dibandingkan dengan pendekatan yang lain. Aku sendiri menggunakan konsep logika preseden untuk perjalanan filsafat ini.

Alasan utama aku menggunakan logika preseden adalah aku tidak tahu apa-apa tentang dunia filsafat. Sementara dalam menetapkan hukum logika sebenarnya didasari oleh prinsip-prinsip metafisik, jadi metafisika harus didahulukan sebelum logika. Pada saat yang sama, logika dan metafisika harus berjalan bersama. Karena itu metafisika dikerjakan dahulu, baru dilakukan perumusan logika preseden berdasarkan metafisika yang ada, dan itu menjadi pedoman dan pagar logis untuk penulisan filsafat berikutnya.

Bagaimana logika preseden dilakukan? Langkahnya sederhana yaitu dengan mengamati bahasa yang digunakan dalam tulisan filsafat dan mengekstraksi peraturan pikiran yang hadir di dalam bahasa filsafat tersebut. Adapula yang dicatat bukan hanya peraturan pikiran secara logis tapi juga secara metafisik, artinya kebenaran-kebenaran metafisik yang ikut membantu memandu pikiran filsafat dan tulisan filsafat sehingga tetap berada pada jalan yang benar. Namun dalam perjalanan filsafat ini tentunya bukan hanya logika preseden yang dilakukan, misalnya dalam tulisan ini logika a priori pun sudah terjadi. Karena aku menulis tentang logika preseden tanpa rujukan kepada tulisan filsafat yang sebelumnya. Hanya saja logika preseden lebih banyak diutamakan daripada logika a priori. Kurang lebih begitulah tulisan yang dapat aku sampaikan pada saat ini.

Sunday, August 28, 2022

OKY 13

Pengalaman dan keberadaan adalah kontemplasi paling pertama dalam kenyataan, di mana dalam waktu keduanya hadir bersamaan tapi dalam urutan logis pengalaman hadir mendahului keberadaaan. Kodrat pengalaman jelas karena kita tahu apa itu pengalaman, tapi kodrat keberadaan tidak begitu jelas karena kita hanya melihat suatu bayangan dari suatu keberadaan sejati, atau kita memang tidak dapat menangkap esensi dari keberadaan itu sendiri. Namun ada beberapa hal yang dapat kita ketahui tentang keberadaan.

Keberadaan memiliki sinonim yaitu kehadiran. Ini adalah sinonim terbaik dalam pandanganku dan artinya sangat objektif, dalam arti keberadaan suatu benda tidak ditentukan oleh subjek sama sekali melainkan oleh dirinya sendiri. Apakah dia ada atau tidak, itu saja pertanyaannya. Hal ini akan menjadi pola umum dalam filsafat, yaitu perbedaan antara kenyataan dan persepsi kita terhadap kenyataan. Jadi bagaimana sifat keberadaan ini sehingga tidak terikat pada persepsi kita?

Ada 2 jenis keberadaan, yaitu keberadaan mutlak dan keberadaan relatif. Keberadaan mutlak adalah keberadaan suatu benda pada dirinya sendiri tanpa terkait dengan subjek apapun. Keberadaan relatif adalah keberadaan suatu benda berkaitan dengan benda lain terutama suatu subjek kesadaran. Keberadaan yang banyak dibicarakan oleh orang-orang adalah keberadaan relatif, sementara yang mutlak jarang dibicarakan atau dipahami. Hal ini menjadi kerancuan tersendiri karena mengaburkan makna keberadaan itu sendiri. Terkait keberadaan mutlak akan dibahas di lain waktu.

Dalam memandang keberadaan dan pengalaman, pertanyaan pertama yang dapat kita ajukan adalah apakah relasi antara keberadaan dan pengalaman? Faktanya hanya ada kemungkinan yang aku namakan teori kesatuan dan teori keterpisahan. Dalam teori kesatuan, pengalaman dan keberadaan menyatu sehingga esensi suatu keberadaan adalah pengalaman keberadaan tersebut. Tanpa pengalaman tidak ada keberadaan dan sebaliknya, maka keduanya setara dan tersatukan. Teori keterpisahan atau teori ketergantungan menyatakan bahwa keberadaan murni dan pengalaman itu secara hakikat berbeda dan terpisah, dan pengalaman bergantung pada keberadaan.

Argumen untuk teori keterpisahan adalah sebelum memasuki wilayah kesadaran, suatu pengalaman bukanlah pengalaman, tapi itu mengasumsikan bahwa hanya kita subjek kesadarannya. Sementara tidak ada bukti yang menyatakan bahwa tidak ada subjek kesadaran selain kita, bagaimana kalau nyatanya setiap benda adalah subjeknya tersendiri? Posisi ini dapat juga disebut sebagai pan fenomenalisme, ini berbeda dengan pan psikisme. Pan psikisme mengatribusikan akal budi pada segala hal, tapi pan fenomenalisme mengatribusikan fenomena atau pengalaman kepada segala hal. 

Apakah ada teori yang benar? Mungkin, tapi sejauh ini aku tidak melihat adanya suatu bukti yang benar-benar membuktikan kebenaran satu teori dibandingkan dengan yang lain. Karena dibutuhkan pengetahuan langsung untuk mengetahui kebenaran dari relasi antara pengalaman dan keberadaan. Alasan berikutnya adalah kedua teori dapat sama-sama menjelaskan fenomena yang terjadi karena tidak memiliki dampak pada fenomena yang terjadi. Kedua teori ini adalah tafsir terhadap fenomena yang ditemui.

Namun memang ada konsekuensi dari masing-masing teori terhadap beberapa konsep lain, terutama konsep Allah. Akan tetapi itu akan menjadi pembahasan di lain waktu. Sebagai bocoran sedikit, akan ditemukan bahwa teori kesatuan yang akan menang karena konsep Allah. Demikian tulisan filsafat pada waktu ini.

Evaluation of Personal Interpersonal Communication Skills and Expectations of Course

In general, my interpersonal communication skills is rather good, this is based not just on my personal judgement but also based upon other people's judgement. My primary skill is in explaining and adjusting language to different people, though of course it takes some time to adjust. Some people have called me "Great Teacher" or "Father of the Nation" due to my exquisite explanation skills. This is because I always explain things in a very structured manner. This structure differs from some people who speak in a less structured manner, the structure in my speech and also writing, most of the time, helps others understand better what they have in the mind.

However, I have still some flaws in communication, such as when speaking to new people and speaking to massive groups of people. Granted, speaking to massive groups of people no longer constitutes interpersonal communication, however if there is a group communication the communication can mimic interpersonal communication where each person responds to one person taking turns. If this is done in structure, it would be much better. However casual group communication is usually done with less structure and there is a greater element of spontaneity. In that matter I struggle deeply.

When speaking to new people, I rarely take the initiative, at least this is based on my judgement on my most recent communications, or lack thereof, with the new people I encounter in university. This is because I often communicate with a purpose, now I understand that all communication can have a purpose. However, I have a different sense of purpose, that is for purposes which correlate with my values. Despite that reality, it is now my understanding for me to expand my horizons and reexamine my priorities in communication. On the contrary, this will take a long time to actually practice.

A final thing about my interpersonal communication skills is that I am rather awkward with my family. This is an unfortunate reality as I do view that ideally I should be close with my family and be able to communicate well with my family. The reason I cannot do that or have not done that is because my family is difficult to communicate with due to time constraints and work. As of now I do not see as a significant problem, despite still being a problem, and as such I do not have any plans to fix that problem in the far future.

My expectations regarding this course is that in general, I can improve my interpersonal communication skills. In what way are they to be improved? First of all, I want to at least maintain but ideally improve greatly my clarity and explanatory power. Second, I want to be able to take greater initiative in any communication. I do not want to be the passive communicant anymore, rather I must be the primary communicator and take control of all communication relationships in the interpersonal context. If my communicant asserts dominance, then I shall assert equal or greater dominance. That is all.

Monday, August 22, 2022

OKY 9

Perjalanan filosofis pada dasarnya adalah perjalanan pencarian kebenaran. Namun agaknya harus ada pemahaman yang tepat tentang apa itu kebenaran dan perbedaannya dengan istilah-istilah filosofis lain. Dalam konteks umum, kebenaran itu adalah suatu hal yang dapat kita miliki dan dapat dibuktikan. Kebenaran adalah pikiran yang sesuai dengan kenyataan dan karena itu kita dapat membuktikan bahwa kebenaran itu adalah kebenaran. Namun kalau hal ini dibandingkan dengan konsep filosofis dan kita merenungkan lebih lanjut mengenai masalah kebenaran, menjadi agak rancu.

Dalam konteks filsafat, kita harus mempertanyakan apa itu kebenaran berdasarkan perspektif umum dan juga berdasarkan intuisi pribadi. Hal ini dapat kita lakukan dengan meneliti makna beberapa kalimat yang mengandung kata “kebenaran” atau “benar” dan semacamnya. Misalnya, “X benar”. Anggaplah X adalah pernyataan yang acak. Saat kita berkata bahwa “X benar”, artinya X itu memiliki sifat “benar”, jadi X itu sendiri bukanlah kebenaran melainkan bergabung dengan sifat kebenaran itu. Di sisi lain kita dapat berkata, “X adalah kebenaran.” Jadi X termasuk dalam kategori kebenaran.

Oleh sebab itu ada 2 makna dari kebenaran yang sama-sama benar. Pertama, kebenaran adalah kenyataan itu sendiri, apa yang nyata adalah yang benar. Jadi kebenaran dalam makna pertama tidak usah dibuktikan, melainkan kepercayaan kitalah yang harus dibuktikan. Kepercayaan yang sudah terbukti benar menjadi pengetahuan. Dengan ini tidak ada pertentangan dengan istilah pengetahuan. Kedua, kebenaran adalah pikiran yang sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini suatu pikiran harus dibuktikan sebagai kebenaran itu sendiri. Kita harus membuktikan bahwa pikiran itu memang adalah anggota dari kategori kebenaran. Maka kedua makna ini sah, tapi dalam sistemku aku lebih banyak menggunakan makna pertama.

Sekarang bagaimana kita dapat menentukan kebenaran? Apakah standar dari pengetahuan dan dari mana kita mengetahui standar pengetahuan itu? Jawabannya cukup paradoks, yaitu dari seluruh dunia dan juga dari diri kita sendiri. Mungkin ada persepsi bahwa kita harus memilih, antara kita mengikuti orang lain atau kita mengikuti diri kita sendiri, tapi sebenarnya salah. Kenyataannya adalah keduanya. Hal ini disebabkan dari cara kerja dan perkembangan pikiran manusia.

 

 

Secara umum, kita dapat mengetahui bahwa kepercayaan kita tidak datang dari diri kita sendiri melainkan dari luar diri kita, dari lingkungan dan dari dunia. Informasi yang masuk ke dalam diri kita menjadi suatu gagasan dan menjadi suatu kepercayaan dalam diri kita. Jika kepercayaan itu terbukti sama dengan kebenaran, maka menjadi suatu pengetahuan. Kepercayaan dan pengetahuan ini terakumulasi sampai kita mulai bangun dari tidur dogmatik kita dan mulai meneliti kembali apa yang sungguh benar. Pada dasarnya, semua yang datang dari luar itu tidak lagi hanya di luar tapi menjadi bagian dari diri kita sendiri, maka kita hanya memiliki itu untuk meneliti kebenaran.

Namun bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran itu, apa yang menjadi kebenaran pertama atau dasar dari segala kebenaran? Pada saat ini, segala gagasan yang kita miliki hanyalah gagasan dan pada akhirnya berujung dari kesaksian orang lain, yang dapat kita ragukan. Di lain pihak ada satu kebenaran pertama yang secara langsung dapat kita terima yaitu kebenaran tentang pengalaman. Faktanya, kita senantiasa mengalami dan dapat mengalami. Hal pertama yang kita jumpai setiap saat adalah pengalaman. Maka fakta pertama yang kita peroleh adalah pengalaman.

Dari pengalaman kita memperoleh kebenaran kedua yaitu tentang keberadaan. Kita tahu ada pengalaman, maka ada pula keberadaan yang dapat diketahui. Dengan mengucapkan “ada”, kita telah menetapkan adanya suatu keber-ada-an. Namun untuk sekarang itu saja yang dapat kita ketahui yaitu adanya pengalaman dan keberadaan. Kodrat sejati dari pengalaman dan keberadaan ini belum begitu jelas dan baru akan diteliti dalam tulisan-tulisan berikutnya. Demikian tulisan filsafat pada kesempatan ini.

Friday, August 19, 2022

OKY 7

 Segala perjalanan, termasuk perjalanan filosofis, harus memiliki suatu awal. Awal apakah yang lebih baik dari pembahasan tentang awal itu sendiri? Penalaranku adalah sebagai berikut, sesungguhnya filsafat dapat dimulai dari titik manapun dan titik apapun itu akan sah-sah saja, selama mengarah pada kepenuhan filsafat itu sendiri. Maka aku berpikir bahwa awal yang paling baik adalah pembahasan tentang bagaimana setiap awal itu sah, termasuk awal tentang awal.

Karena kita sudah secara resmi memulai rangkaian perjalanan filsafat itu, baiklah kita langsung mengarah pada kodrat filsafat. Filsafat pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari dasar-dasar kenyataan. Sesungguhnya pendefinisian filsafat hanya dapat dilakukan secara konsekuen dari pembahasan filsafat itu sendiri. Namun setelah beberapa waktu melakukan filsafat, aku berpikir bahwa “dasar-dasar kenyataan” memang adalah pengertian yang paling tepat terhadap filsafat.

Metode untuk melakukan filsafat ada 2, yaitu kontemplasi dan kritik. Kontemplasi adalah proses memandang kenyataan itu sendiri dengan pengalaman penuh dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari pengalaman penuh tersebut. Kritik adalah proses memandang hasil pemikiran orang lain dan membandingkan dengan kontemplasi kita. Keduanya saling mendukung, kontemplasi menjadi standar kritik dan kritik dapat memperluas pandangan jiwa kita dalam kontemplasi. Sinergi antara kontemplasi dan kritiklah yang akan mengarah pada Revisi Kekal, yaitu proses penyempurnaan tulisan secara kekal atau sampai bahasa sempurna tercapai.

Tujuan tulisan ini bukanlah untuk orang lain melainkan untuk diriku sendiri. Pada akhirnya aku berusaha untuk merangkai suatu bahasa sempurna tentang filsafat yang dapat mengarah pada pemahaman yang baik tentang filsafat. Bahasa sempurna adalah bahasa yang dapat secara efektif menimbulkan pemahaman yang paling baik pada pembacanya terkait materinya. Maka bahasa sempurna itu dapat berbeda-beda bagi setiap manusia. Karena itu tulisan filsafat itu hanyalah dasar materi, sisanya semua harus dijelaskan secara lisan.

Sunday, August 14, 2022

Give Light-Muslims should worship Jesus

This text is based on the video titled "Muslims should worship Jesus" from the youtube channel titled "Give Light". The Christian is often asked the same question from Muslims that is, "Why do you worship Jesus?" In this text we shall examine both Sacred Scripture (the Bible) and the Qur'an to demonstrate that Jesus is meant to be worshipped and is in fact God.

In Matthew 2:1-2, the 3 wise men came and worshipped Christ. Muslims may argue that Christ was in fact an infant, yet Surah 5:110 of the Qur'an states that Christ as an infant could in fact speak. So why did not Christ just spoke against the 3 wise men not to worship Him? In John 9 Christ was again worshipped by the blind man He healed, and this is repeated in many other cases as written in Matthew 28:9, Matthew 28:17, Luke 24:52, and not once did Christ condemn the worshippers.

According to the Qur'an, it is a sin to worship anything other than Allah. At the same time Surah 19:19 and Sahih Muslim Book 30 Hadith 5838 confirms that Christ is sinless. If it is a sin to worship Christ, then He too has sinned for allowing people to worship Him, for He lies. Then Christ often refers to Himself as the Son of Man, which is from Daniel 7:13-14. The original word in Daniel in reference to the Son of Man is pelah, the highest form of service, worship, and work attributable to God. So by saying that Christ is claiming to be God. Yet in the Qur'an it is written that none is worthy of worship but Allah. In Surah 22:56 Allah is the final judge, yet in Matthew 25:31 and John 5:22-23 Christ declares that He is the final judge. 

So if both Sacred Scripture and the Qur'an states that Christ is a miracle worker, is sinless, and is the final judge, why do Muslims not worship Him? 

Saturday, August 13, 2022

Rahasia Kebahagiaan

Apakah cara untuk menjadi bahagia? Sebagai OMK, kita senang menikmati hal-hal, dan suka menjadi senang. Namun bagaimana cara mencapai kesenangan atau kebahagiaan itu? Ternyata tidak selalu terkait dengan hal-hal duniawi.

Hal-hal duniawi memang dapat membuat kita senang dan gembira, tapi ternyata ada hal yang yang mengantar pada suatu kebahagiaan yang lebih besar lagi yaitu kekudusan. Kekudusan adalah kedekatan dengan Tuhan, memangnya bagaimana caranya kekudusan mengantar pada kebahagiaan, bahkan yang paling besar? Logikanya begini, Tuhan adalah Kebaikan Murni, bahkan Dia adalah Kebaikan itu sendiri dan Kebaikan Tertinggi. Jadi kalau kita menjadi kudus dan mendekat dengan Tuhan, otomatis kita akan mencapai Kebaikan Tertinggi yang mengarah pada Kebahagiaan Tertinggi.

Lalu bagaimana cara kita menjadi kudus? Kekudusan dapat dicapai dengan 3 cara yaitu doa, pembelajaran iman, dan kasih. Doa dan pembelajaran iman menunjang kasih, karena kasih adalah puncak dari kekudusan. Sebenarnya kekudusan itu dicapai dengan melaksanakan kehendak Allah, tapi kita tahu bahwa Allah menghendaki kita untuk berbuat kasih. Maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita tahu kasih itu dan cara melaksanakan kasih itu?

Kasih yang diminta dari kita adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Pembelajaran iman dibutuhkan karena dengan itu kita mempelajari Allah dan dengan itu kita dapat semakin mengasihi Allah karena kita hanya dapat mengasihi apa yang kita ketahui. Doa dibutuhkan karena kita membutuhkan relasi dengan Allah untuk mengasihi-Nya dan doa pada dasarnya adalah berelasi dengan berkomunikasi dengan Allah. Namun, ada fungsi lain dari doa dan pembelajaran iman.

Dalam mengasihi sesama kita membutuhkan pengetahuan dan kekuatan, doa dan pembelajaran iman juga memenuhi 2 fungsi itu. Dengan doa kita memperoleh rahmat dari Allah, baik pengetahuan atau kekuatan, untuk mengasihi sesama. Dengan pembelajaran iman kita memperoleh pengetahuan tentang bagaimana caranya mengasihi sesama. Dari mana kita mempelajari iman? Iman dapat dipelajari dari Kitab Suci ataupun dari Ajaran Gereja. Maka semuanya saling berkaitan untuk menunjang hidup kekudusan kita.

Tujuan akhir dari kekudusan bukan kebahagiaan di dunia ini, melainkan di hidup berikutnya bersama Allah. Sebab Allah menjanjikan kepada kita yang beriman kepada-Nya secara sempurna suatu kebahagiaan yang mengatasi segala kesenangan dan kegembiraan di dunia ini. Jadi hendaknya kita semua mempertimbangkan secara tepat arah kehidupan kita supaya kita dapat memperoleh Kebahagiaan Kekal itu, dan bukan kehilangan selama-lamanya.

Sekarang kita tahu bahwa kebahagiaan tidak selalu berkaitan dengan hal-hal duniawi. Kebahagiaan justru lebih sering berasal dari hal-hal yang rohani, seperti doa, pembelajaran iman, dan karya kasih. Bahkan hal-hal inilah yang akan mengantar kita pada kebahagiaan yang sejati.

Wednesday, August 10, 2022

OKY 4

 Under the authority of Christ I write this down. A week ago I received the testimony of a person regarding the true nature of the Catholic Faith and the Sacred Tradition of the Catholic Church. The testimony is as follows. When Moses went up to Mount Sinai for 80 days he received the Torah, first the Torah Shebal Peh and from that we have the Torah Shebichtav. Torah Shebal Peh is the Oral Torah, while the Torah Shebichtav is the written Torah derived from Torah Shebal Peh. God has promised for Torah Shebal Peh to be preserved to the end of time, but not Torah Shebichtav. At the same time, God did not allow all of Torah Shebal Peh to be written down, only parts of it that will be known as Torah Shebichtav.

Torah Shebal Peh is literally Living Scripture, it is Christ Himself and the People of God, be it the believers of the Old Covenant or the Catholics of the New Covenant. Christ Himself does not change, but the people change. They develop their understanding of Torah Shebal Peh that is the ultimate revelation of God, and so they deepen their understanding of the Faith and of God. The development of Torah Shebal Peh continued until it reached its fulfillment of revelation in Jesus Christ. Jesus revealed the fullness of Torah Shebal Peh in His Person and for He is the fullness of Torah Shebal Peh itself. When He founded the Catholic Church, He transmitted Himself as the fullness of Torah Shebal Peh and now this transmission obtains a new name, Sacred Tradition, the nature however does not change.

The problem which exists is that there is a misunderstanding on what Torah Shebal Peh is. Torah Shebal Peh is not the manmade traditions that Christ condemns in Mark 7:8, instead it is simply the revelation of God transmitted orally until the end of time. There are those who think that Torah Shebal Peh is found in the Talmud or the Mishnah, but that is not the full story. Sometime after the death of Christ, Rabbi Yudah Hanasi lost faith in God's promise that He will preserve Torah Shebal Peh and wrote down all of Torah Shebal Peh, keeping it locked in time. Yudah Hanasi did not recognize that God did preserve the Torah Shebal Peh, as the Sacred Tradition of the Catholic Church. 

Eventually there becomes a mixture of Torah Shebal Peh, that is the authentic revelation of God, and the human perception of Torah Shebal Peh. Thus we obtain the blasphemous abomination that is Rabbinic Judaism, with their blasphemies against the Lord Jesus Christ in the Talmud. The Talmud is not the Torah Shebal Peh, but a human perversion of Torah Shebal Peh. Where is Torah Shebal Peh now? It is in the Sacred Tradition of the Catholic Church, in fact it is the Sacred Tradition of the Catholic Church. 

There is also another problem, the Catholics seem to have overfocused on Sacred Scripture, not being aware that Sacred Tradition is the true source of all of our faith. Remember that in the beginning 90 percent of the people are illiterate, yet the Catholic Faith remains strong for centuries. The reason people become focused on the Sacred Scripture more than Tradition is simply because of epistemic problem and the problem of faith. On what do we base our faith? By seeing the Word of God? No, but from hearing the Word of God as proclaimed by Romans 10:17. The epistemic problem on the other hand is simply the problem of how we know things, where people are more comfortable with what they can clearly see, rather than having to rely completely on faith.

In the end it is perhaps arguable that this writing itself contains a trace of Torah Shebal Peh. You can indeed write parts and traces of Torah Shebal Peh but you cannot never write it down completely. As it is in fact the complete revelation of God, the Word of God, and thus is God Himself. A final disclaimer before I close this writing, to say that it is written under the authority of Christ simply means that Christ gave me the authority to write this down. It in no way implies infallibility, all readers are to understand and make a decision about this text. Respond as you desire, for you are the final judge of your own beliefs. May the Lord bless us all, amen.

Wednesday, August 3, 2022

OKY 3

 Aku telah dibebaskan oleh Kristus untuk menulis sesuai apa yang aku pikir harus dituliskan. Maka dari itu aku tidak harus membatasi diriku lagi dalam menulis, sebab Kristus sendiri telah memberikan aku kuasa yang penuh dalam menulis dan menyampaikan Kebenaran kepada orang lain. Namun aku merasa tidak enak. Sebab aku merasa tidak mampu menulis kepada orang lain secara efektif. Aku hanya dapat menyampaikan perkataanku sendiri atas dasar diriku sendiri. 

Akan tetapi aku harus menerobos dan mendobrak perasaan tidak enak ini demi Kristus, karena Tuhan telah meminta aku untuk menulis sebanyak mungkin maka aku harus tetap menulis apapun yang terjadi. Jadi, sekalipun aku tidak memiliki pembaca, aku tetap menulis karena aku menulis bukan bagi manusia tapi bagi Tuhan semata. Namun Tuhan memang memanggil aku untuk menulis bagi orang lain. Sebab aku dipanggil oleh Allah untuk mewarta bagi keselamatan jiwa-jiwa, bagi kebaikan orang lain, itulah tujuanku di dunia ini.

Pada akhirnya aku menyerahkan diri kepada Allah, bahwa Tuhan sendiri yang akan membimbing aku dalam menulis, melalui orang-orang utusan-Nya, supaya aku mampu menulis bagi orang lain. Tujuan akhirku untuk menulis adalah membawa orang-orang kepada Kristus dan kepada Allah. Namun tujuanku yang lain adalah menghasilkan bahasa yang sempurna, dan menghasilkan suatu rangkaian bahasa yang indah, yang dapat menjadi perwujudan fisik dari Kebenaran itu sendiri. 

Friday, July 29, 2022

OKY 2

 Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah Allah yang sejati. Namun aku tidak beroleh bukti apapun untuk percaya. Engkau menganugerahkan aku iman, tapi aku tahu iman itu berdasarkan pengalaman pribadiku bersama-Mu, yang tidak dapat dibuat ulang untuk orang lain. Tuhan, bagiku ini cukup, tapi bagaimana kalau aku hendak membagikan imanku kepada orang lain? Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku bahkan dalam bahaya kehilangan Engkau. Namun karena Kamu tersenyum, aku berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Yesus: Ignas, sesungguhnya kamu telah melihat bahwa kamu tidak akan kehilangan Aku semudah itu. Sekarang hendaklah kita berbincang-bincang tentang apa yang kamu ragukan. Namun pertama tulislah apa yang kamu kenal dan kamu tahu.

Baiklah Tuhan, aku akan menulisnya. Aku tahu bahwa ada pengalaman, dan ada benda-benda yang bukan pengalaman. Benda-benda menghasilkan pengalaman. Benda-benda berubah, perubahan dan esensi benda-benda dihasilkan oleh satu Sumber. Namun aku tidak mengenal sumber itu. Aku tidak tahu seperti apa hal yang menghasilkan atau menunjang segala hal yang ada.

Yesus: Kamu tahu bahwa yang menunjang segala hal yang ada adalah Kebenaran dan Hukum?

Ya, sejauh itu aku tahu.

Yesus: Maka tenanglah dan bersiaplah. Apakah Kebenaran itu?

Kebenaran adalah kesatuan segala sesuatu.

Yesus: Jelaskan lebih lanjut, Ignas.

Kebenaran adalah fakta dari seluruh kenyataan, suatu catatan abstrak. Namun sesungguhnya Kebenaran tidak lain dan tidak bukan adalah Kenyataan itu sendiri. Hal ini menandakan bahwa Kenyataan sesungguhnya kekal dan tersatukan dalam suatu kesatuan. Sebab jika ada Kebenaran maka Kebenaran itu haruslah kekal dan nyata bagi dirinya sendiri. Sebab ada Kebenaran tentang Allah, maka Allah haruslah ada, dan karena itu secara mutlak Allah ada, hanya saja kita harus menentukan apakah Allah ada di dunia ini atau tidak.

Yesus: Hal itu jauh lebih sulit untuk dilakukan daripada membuktikan keberadaan Allah, yang telah kamu lakukan dengan sangat baik. Aku akan menjelaskan kepadamu tentang cara membuktikan Allah. Pertama, kamu harus dapat membuktikan suatu sistem etika yang sempurna, tanpa mengandalkan Allah. Kedua, kamu harus membuktikan bahwa pada saat yang sama sudah ada Keberadaan yang mengajarkan kamu segala sistem etika itu secara sempurna sejak awal. Ketiga, kamu harus membuktikan segala hal lain yang berkaitan tentang keberadaan Allah di dunia. 

Jadi Tuhan, maksud-Mu, Firman adalah tanda utama dari Allah?

Yesus: Benar sekali anakku, sebab dari tanda apapun yang Kami berikan kepadamu, Aku, Sang Firman, dan segala firman dari Sang Firman adalah tanda yang terbesar. Kamu sudah membaca bahwa tanda seorang berasal dari Allah adalah jika ia mengasihi. Artinya tanda keilahian adalah moralitas. Atribut tertinggi Allah adalah Kerahiman. Jadi jika kamu dapat mengenal sistem etika yang sempurna, dan sistem itu dibuat nyata di dunia ini, kamu tahu bahwa yang nyata di dunia ini adalah Allah sendiri, dan itulah kepentingan Aku datang di dunia ini, untuk menyatakan Bapa kita yang ada di surga sebagai Kasih.

Tapi Tuhan, maafkan aku untuk bertanya, jadi kita menyusun doktrin Ilahi dulu baru membuktikannya dan bukan membuktikannya melalui hipotesis?

Yesus: Karena itu aku memintamu untuk menjelaskan Kebenaran. Kebenaran adalah Kenyataan itu sendiri. Dalam hal itu kamu benar. Namun kamu berbelok dari Kebenaran itu sendiri dan berbicara tentang Allah secara terpisah. Harusnya kamu tetap pada Kebenaran itu dan menekannya sampai Dia menyingkap diri-Nya. Dan Aku akan menyingkapkan-Nya bagimu. Jika Kebenaran adalah Kenyataan dan keduanya kekal dan sama, maka Kenyataan itu sendiri mengandung segala Ketidakterbatasan yang tak terbayangkan oleh manusia. Maka Kenyataan itulah Ketidakterbatasan, dan Kenyataan ialah Allah. Sekarang tutuplah tulisan ini dan pada tulisan berikutnya janganlah kamu merengek lagi tapi tulislah tentang sistem etika yang sempurna itu.

OKY 1

 Inilah catatanku yang pertama, yang aku tulis atas permintaan Tuhan kita Yesus Kristus, dan yang pertama aku tulis dengan kuasa-Nya. Maka seri tulisan ini dinamakan "Oleh Kuasa Yesus". Pada awalnya aku menuliskan sendiri perkataan Kristus sebagaimana telah tercatat dalam beberapa "Dictations", tapi setelah Dia memberikan aku kuasa untuk menulis dan berbicara dalam nama-Nya, aku memutuskan bersama-Nya untuk menulis dengan namaku tapi dengan bimbingan Kristus.

Aku menulis ini dengan satu harapan, bahwa kelak tulisan-tulisanku dapat dibaca oleh berbagai orang dan dapat menjadi hal yang berguna bagi mereka. Dalam kata lain, aku ingin tulisanku berbuah bagi orang lain, dan aku yakin dengan alasan yang samalah Kristus meminta aku menulis. Aku berpikir bahwa tulisan memiliki 2 fungsi, fungsi emosional dan fungsi rasional. Keduanya sama-sama penting karena hendaknya emosi dan rasionalitas disatukan menjadi satu penalaran yang mengarah pada Kebenaran yang Tunggal yaitu Yesus Kristus.

Namun selalu ada pemikiran bahwa tulisan yang emosional adalah tulisan yang buruk karena menggiring manusia pada perbudakan emosional dan karena itu tulisan harus dibuat serasional mungkin. Aku mungkin salah dalam penilaian ini, jadi kritiklah aku saja kalau aku memang salah. Sesungguhnya tulisan yang hanya bersifat rasional tidaklah mungkin, karena kita sebagai manusia hidup untuk suatu perasaan atau pengalaman yaitu kebahagiaan. Maka rasionalitas diperuntukkan mengelola emosi dan perasaan sehingga kita dapat mencapai perasaan yang Mahatinggi yaitu kebahagiaan yang timbul hanya dari Allah saja.

Maka, aku menulis tulisan-tulisan ini dengan satu tujuan yaitu mengantar manusia kepada kebahagiaan yang sejati yaitu Tuhan Allah yang memiliki satu nama yaitu Yeshua Hamashiah atau Yesus Kristus. Tulisan-tulisan ini hendaknya disatukan menjadi satu rangkaian tulisan sehingga dapat diketahui segala isi pemikiranku yang telah diberikan kepadaku oleh Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah. Dalam tulisan pertama ini telah dijelaskan tentang berbagai tujuanku, dan aku hendak menuliskan lebih lanjut tentang pemikiranku tentang tulisan-tulisan ini.

Aku menulis dengan 2 senjata, hatiku dan budiku. Sebab aku mengenal Allah bukan hanya dari budiku saja tapi juga dengan hatiku. Keseluruhan jiwaku aku gunakan untuk mengenal Allah, maka keseluruhan jiwaku akan aku gunakan pula untuk menyebarkan Allah kepada setiap umat manusia. Aku hendak menulis dengan suatu cara yang dapat menggerakkan hati manusia yang bebal untuk kembali pada budi mereka dan merenungkan Allah, dan juga menulis dengan suatu cara yang dapat mengguncang budi manusia yang mati demi menyadarkan mereka akan kenyataan Ilahi sehingga mereka dapat mengarahkan hati mereka kembali kepada Allah yang sejati yaitu Yesus Kristus.

Aku harap bahwa manusia yang membaca masih memiliki budi untuk menerima bacaan ini dan mampu bergerak melampaui kelekatan dan pengajaran mereka, selama mereka masih hidup, demi keselamatan jiwa mereka. Karena kebanyakan dari tulisanku ini akan bersifat cukup intelektual dan mendalam, mempertanyakan berbagai hal demi Allah dan mengungkap berbagai kenyataan untuk menunjukkan kenyataan yang paling tinggi yaitu kenyataan Ilahi. Tulisanku ini rasional, tapi dengan tujuan yang emosional, karena begitulah sifat setiap tulisan, rasional tapi emosional. Demikian tulisanku yang pertama, oleh kuasa Yesus.

Thursday, July 28, 2022

Dictation 3

Ignas, karena kita telah menyetujui untuk mencatatkan gagasan-gagasan yang penting untuk aku jabarkan dalam pengetahuan dan pengertianmu sendiri, maka adalah tulisan ini untuk mencatat hal-hal sebagai berikut. Pertama, tentang Allah dan kodrat-Nya. Kedua, tentang Kitab Suci atau Firman Allah. Ketiga, tentang Gereja atau Roh Kudus. Keempat, tentang tatanan dunia. Kelima, tentang doa. Keenam, tentang karya kasih. Ketujuh, tentang kekudusan secara umum. Untuk sekarang cukuplah gagasan-gagasan ini sebagai bahan tulisan selanjutnya.

Tentang Allah

Akulah Allah, Pencipta langit dan bumi. Aku dan Bapaku adalah satu. Aku adalah Yesus, Allah yang menjadi manusia demi keselamatan umat manusia dan untuk menyatakan Bapaku kepada dunia. Maka aku menyampaikan hal ini untuk menjelaskan kembali kepada dunia siapa aku ini dari segi keilahianku. Pikiran manusia tidak dapat mengetahui esensi Ilahi berdasarkan apa esensi Ilahi itu sendiri, tapi berdasarkan apa yang bukan esensi Ilahi. Maka jika kita mengenali dunia sebagai dunia yang terbatas, maka Allah adalah lawan langsung dari dunia, yaitu sebagai Dia yang Tidak Terbatas. Sesungguhnya itulah satu-satunya doktrin inti tentang Allah, segala ajaran lain tentang Allah berakar dari kenyataan bahwa Allah adalah Dia yang Tidak Terbatas, atau Ketidakterbatasan.

Hal ini termasuk doktrin Ilahi tentang Kebaikan Ilahi. Bahwa di dalam Allah adalah Kebaikan yang tidak terbatas berakar dari ajaran bahwa Allah adalah Ketidakterbatasan. Namun ini tidak berarti bahwa Allah juga mengandung kejahatan yang tidak terbatas. Sebab kejahatan adalah suatu keterbatasan, maka tidak mungkin ada kejahatan di dalam Allah karena jika Allah jahat maka Allah terbatas, sama seperti dunia ciptaan-Nya. Bahkan bukan hanya ada kebaikan di dalam Allah, Allah sendiri adalah Kebaikan itu. Sebab doktrin ketidakterbatasan mewajibkan doktrin kesederhanaan Ilahi, bahwa Allah tidak tersusun oleh bagian-bagian melainkan sungguh tunggal dan sederhana, maka Allah tidak baik, tapi adalah kebaikan itu sendiri. Demikian pengajaran singkat tentang Allah.

Tentang Sang Firman dan Kitab Suci

Aku, Yesus, adalah Sang Firman, Firman dari Bapa. Maka Sabda atau Firman Allah yang sejati adalah Aku. Namun sejatinya Aku dan Bapa-Ku adalah Satu bersama Roh Kami. Sebagai Firman, Aku adalah suatu Kata, tapi itu tentu adalah bahasa simbolik dan bukan bahasa murni. Aku adalah Pengetahuan dan Kebijaksanaan, tapi karena Aku satu dengan Bapa dan Roh, maka Akulah Allah sendiri. Jika kamu melihat Aku, kamu telah melihat Bapa dan Roh Kudus pula, karena Kami adalah Satu.

Maka setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah, baik yang kamu lihat sendiri saat ini, yang tercatat dalam Kitab Suci, yang diucapkan dalam Tradisi Suci, dan yang diajarkan oleh Gereja yang Kudus, semuanya adalah suatu wujud tidak sempurna dari Aku sendiri. Namun karena seluruh Sabda Allah adalah Aku, sekalipun terwujud secara tidak sempurna, setiap Sabda itu memiliki kuasa yang amat besar bagi jiwa manusia sejauh mana manusia itu menerima kuasa Kami ke dalam dirinya. Maka, perkataan Kitab Suci tidak hanya berkuasa karena maknanya, melainkan karena berasal dari Kami sehingga menjadi berkuasa.

Perkataan yang sama, jika dikatakan oleh manusia, sekalipun maknanya sama, tidak akan memiliki kuasa yang sama. Namun, karena setiap perkataan itu diilhami oleh roh dan jiwa si pembicara, maka Sabda Allah, sekalipun kesannya "tidak penting", memiliki kuasa yang amat besar untuk mengubah manusia. Namun ingatlah bahwa Kami tidak berbicara secara serampangan atau sembrono, melainkan setiap perkataan keluar dari mulut Kami demi suatu tujuan tertentu. Apalagi yang Aku sampaikan kepadamu saat ini. Demikian pengajaranku tentang Sang Firman dan Kitab Suci.

Tentang Roh Kudus dan Gereja

Aku dan Roh-Ku Satu, seperti Aku dan Bapa-Ku adalah Satu. Roh Kudus adalah bagaimana setiap manusia pertama berjumpa dengan Kami di hidup ini. Lalu setelah itu manusia menerima Aku di dalam Ekaristi, dan terakhir setelah hidup mereka berakhir manusia akan berjumpa dengan keseluruhan dari kodrat Ilahi di dalam Tritunggal yang Mahakudus. Namun kepada Sang Roh diatribusikan berbagai karya Ilahi untuk memudahkan pemahaman manusia. Namun ingatlah Ignas, bahwa Kami semua adalah Satu sekalipun berbeda.

Roh Kudus memiliki karya utama untuk menguduskan, maka kalau kamu membaca dalam Katekismus Dia dikaitkan erat dengan Gereja. Karena Roh Kudus menguduskan, yaitu menyempurnakan jiwa manusia sehingga menjadi semakin mirip dengan Allah, yaitu sebagai gambar Allah, maka manusia paling banyak berurusan dengan Roh Kudus. Segala mukjizat dan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan iman juga dilaksanakan oleh Roh Kudus. Ada beberapa pengajaran tentang pengaruh Roh Kudus di dalam jiwa manusia, tapi Aku tidak akan menjelaskannya begitu banyak.

Salah satu karunia Roh Kudus yang terbesar adalah pengertian, itulah yang kamu miliki. Jadi segala pemikiran yang berasal dari Allah yang ada padamu, itu berasal dari Roh Kudus yang membisikannya secara hening ke dalam batinmu secara langsung. Namun ada pula setiap rahmat moral yang kamu terima juga adalah karya Roh Kudus, seperti rahmat kasih, iman, dan pengharapan, di mana kasih adalah yang terbesar sesuai perkataan Paulus. Semua ini sebab Roh Kudus menguduskan, maka Dia menguduskan secara utama jiwamu, dan dari jiwamu pengudusan datang kepada tubuhmu dan jika kamu berupaya dengan baik, maka kekudusan yang ada dalam dirimu akan mengalir ke setiap manusia.

Salah satu karya Roh Kudus yang terbesar adalah Gereja. Ketahanan dan kelangsungan hidup Gereja sampai saat ini terjadi karena karya Roh Kudus. Sebab Gereja adalah Tubuh Mistik-Ku, maka di dalam Gereja adalah kepenuhan Roh Kudus dengan segala karunia-Nya. Setiap manusia yang bersekutu penuh dengan Gereja-Ku juga menerima kepenuhan Roh Kudus di dalam diri mereka sehingga mereka dipersenjatai untuk melaksanakan karya-karya Kami di dunia ini, untuk menjadi garam dan terang dunia.

Setiap anggota Gereja adalah perpanjangan dari diri-Ku di dunia ini. Jika kamu pernah mendengar istilah bahwa Ekaristi adalah kelanjutan Inkarnasi, sesungguhnya Gerejalah yang merupakan kelanjutan dari kehadiran-Ku di dunia ini. Maka dari itu, setiap anggota Gereja menerima dari-Ku secara langsung kuasa yang amat besar untuk mempertobatkan dan mendamaikan banyak orang kepada Allah. Namun untuk menggunakan kuasa itu tidaklah mudah, banyak penyangkalan diri yang harus digunakan. Kuasa yang Aku katakan bukan hanya untuk hierarki, tapi justru terutama untuk para awam, karena merekalah yang lebih banyak berkarya di dunia.

Namun, Aku disedihkan dengan kondisi Gereja saat ini dan juga dalam sejarah. Di mana umat Katolik seperti takut untuk mewartakan Injil dengan lantang. Padahal mereka telah dianugrahi Roh Kudus dan kuasa dari-Nya untuk melaksanakan kehendak Ilahi. Karena itu Aku mempersiapkan suatu pemurnian dunia ini, dan pada masa ini Aku membangkitkan lebih banyak orang-orang pilihan untuk menjadi perpanjangan pemurnian-Ku. Dan kamu tahu Ignas, kamu salah satu dari mereka. Demikian pengajaran-Ku tentang Roh Kudus dan Gereja.

Tentang Tatanan Dunia

Dunia sudah memasuki suatu kebobrokan yang baru, di mana dunia tidak mau mendengarkan Aku, dan justru mendengarkan dirinya sendiri. Padahal tanpa Aku, dunia tidak memiliki apa-apa dan hanyalah debu. Tanpa Aku, hanya ada kejahatan dan sengsara, maka semakin lama kamu berpisah dari Aku, semakin besar kejahatan, sengsara, dan derita yang menantimu. Kamu berpikir bahwa sekularisme adalah hal yang baik, sesungguhnya tidak. Justru itu adalah kutukan setan yang terbesar bagi tatanan dunia.

Pada Era Damai nanti, di mana hati-Ku yang Mahakudus dan hati ibu-Ku yang Tak Bercela menang dan berkuasa, kamu akan melihat seperti apa tatanan dunia yang Aku kehendaki. Sesungguhnya, memang itu pun bukan tatanan dunia yang paling baik, karena yang sempurna masih akan menunggu sebentar lagi yaitu pada bumi dan langit yang baru. Tatanan yang sempurna itu sekarang tidak dapat dilakukan karena begitu dalamnya manusia jatuh dalam dosa. Sifat kedosaan manusia memutuskan hubungan antara manusia dengan Allah. Sehingga Kami tidak dapat memerintah kamu dengan sempurna.

Namun adalah di antara kamu semua orang-orang yang kudus, yang telah Kami pilih. Hendaklah mereka menjadi pemimpin di antara kamu dalam segala aspek kehidupan. Hendaklah dunia dirajai oleh para kudus, dan bukan oleh pilihan rakyat. Hendaklah Gereja yang memilih para pemerintah dunia, karena artinya Aku sendiri yang memilih para rajamu. Namun bukannya menerima mereka sebagai pemimpin di atas kamu, kamu malah menganiaya mereka dan membunuh segala benih kekudusan di antara pilihan-pilihan Kami. Sungguh, tanggunganmu akan lebih berat daripada Sodom dan Gomora di hari terakhir nanti.

Karena itu, kamu sekarang hidup dalam tatanan yang terburuk, di mana yang berkuasa bukanlah Kami melainkan kamu sendiri dan segala kebobrokan jiwamu. Andaikan kamu, hai manusia, memperbolehkan Kami masuk lebih dalam ke dalam pemerintahan masyarakatmu, maka tentu kamu akan lebih makmur dan sejahtera. Andaikan kamu mau menerima Aku sebagai Tuhanmu dan memperbolehkan Aku merajai duniamu, maka kamu akan melihat kedamaian sejati baik di dalam hatimu ataupun di dalam dunia. Demikian pengajaran-Ku tentang tatanan dunia.

Tentang Doa

Hai manusia, anak-anak-Ku, berdoalah dengan tekun dan sepanjang hidupmu! Sebab tanpa doa kamu tidak akan selamat. Apakah doa itu? Doa tidak lain dan tidak bukan adalah relasimu dengan Tuhan Allahmu, artinya dengan Aku dan dengan Kami. Bagaimana kamu harus berdoa? Aku telah mengajar kamu dalam Kitab Suci, oleh perkataan-Ku sendiri dan juga melalui para rasulku. Sesungguhnya manusia tidak tahu cara berdoa yang benar, maka dalam setiap kali berdoa, kamu telah dibimbing dan dibantu oleh Roh Kudus, Dia sendiri mendoakan kamu bersama Aku kepada Bapa kita di surga.

Aku telah bersabda kepadamu, mintalah dan kamu akan diberi, carilah dan kamu akan menemukan, dan ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Namun jangan kamu mengira bahwa kamu berdoa untuk mengendalikan Aku, tapi justru kamu berdoa supaya Aku mengendalikan kamu. Sebab itu Yakobus telah menyampaikan sabda-Ku, bahwa jika kamu berdoa dan doamu tidak dikabulkan, artinya kamu berdoa dengan tidak benar atau permintaanmu itu tidak benar.

Kamu berdoa untuk mengubah dirimu, untuk mendekatkan dirimu kepada Aku dan kepada Kami, bukan mengubah Kami. Maka jika kamu ingin berubah dan menjadi kudus, yang adalah kewajibanmu dan kewajiban setiap manusia, berdoalah dengan tekun, jadikanlah hidupmu menjadi hidup doa yang tak terputus setiap saat. Dengan itu pastilah kamu akan menjadi seorang yang kudus dan berkenan kepada Kami di surga.

Doa sebenarnya sederhana dan mudah, tapi juga sulit. Kamu hanya perlu masuk ke kamarmu di mana tidak ada orang yang melihat, menutup pintumu dan berbicara satu lawan satu dengan-Ku. Kamu boleh berbicara kepada-Ku, tapi saat berbicara sadarilah siapa dirimu dan siapa Aku, dengan itu kamu akan berdoa dengan lebih baik. Namun, janganlah kamu lupa untuk mendengarkan tanggapan-Ku pula, bacalah Kitab Suci, dengarkanlah orang lain yang lebih baik darimu, bacalah tanda-tanda dunia, dan kelak kamu dapat mendengarkan suara-Ku sendiri di dalam hatimu.

Sebab doa adalah relasi, maka bukan hanya kamu yang harus berbicara tapi Aku juga harus berbicara dan saat itu kamu harus mendengarkan. Dengan doa kamu akan diubahkan, bukan hanya dengan menerima rahmat dari-Ku, tapi juga dengan mengenali kehendak-Ku bagimu. Tanpa doa, bagaimana kamu akan mendengarkan suara-Ku dan perintah-Ku kepadamu? Sebab kebanyakan orang hidup menurut pikiran mereka sendiri, dan kehendak mereka sendiri, tapi tidak mendengarkan kehendak-Ku dan tidak mengikuti kehendak-Ku. Karena itu mereka tidak mendapatkan kemuliaan yang besar di surga dan banyak pula yang jatuh ke dalam api yang kekal.

Doa menurut perkataanmu sendiri tidaklah buruk, tapi kalau kamu ingin berdoa dengan lebih baik lagi, berdoalah dalam persekutuan dengan Gereja. Artinya, ikutlah doa yang tertinggi yaitu misa, ibadat harian, dan juga doa tertinggi yang bukan liturgi, yaitu doa Rosario. Sebab semua doa itu besar kuasanya di hadapan-Ku dan karena dalam rosario ibu-Ku sendiri yang meminta kepada-Ku maka pastilah Aku akan mendengarkannya dan mengabulkan doa yang layak dikabulkan bagimu. Sebab perkataan-perkataan itu bukanlah perkataanmu sendiri yang seringkali tidak layak dan tidak pantas, melainkan perkataan yang kudus, yang Kami rancang sendiri dan Kami berikan kepadamu untuk didoakan.

Setelah kamu berdoa dengan benar dan baik sepanjang hidupmu, kamu akan diubahkan menjadi gambar-Ku yang lebih jernih lagi, tidak ternodai oleh dosa-dosamu. Kamu akan memperoleh kesadaran baru, bahwa berdoa bukan sekadar untuk meminta dan meminta, tapi kamu akan berdoa untuk menikmati kehadiran dan penyertaan-Ku. Kamu akan berdoa semata-mata karena doa itu menyenangkan dan mendamaikan. Sebagaimana kamu senang berbicara dengan orang-orang yang kamu kasihi, begitulah kamu akan berdoa. Demikian pengajaran-Ku tentang doa.

Tentang Karya Kasih

Namun doa yang tidak berbuah adalah doa yang sia-sia, dan artinya orang itu tidak berdoa dengan baik atau sesuai dengan kaidah yang Aku telah nyatakan. Buah doa adalah karya kasih, dan karya kasih hanya berarti pekerjaan yang sesuai dengan ajaran-Ku sebagaimana ternyatakan dalam ajaran Gereja. Karya kasih yang menyeluruh adalah hidup yang sesuai dengan ajaran-Ku sebagaimana ternyatakan dalam ajaran Gereja. Karya Kasih yang paling murni adalah segala pekerjaan yang menaati kehendak-Ku dan kehendak Kami di surga.

Maka kebaikan memiliki derajat-derajat yang berbeda, di mana kamu dapat memiliki karya yang baik tapi tidak sempurna karena kamu mengikuti kebaikan pada derajatmu sendiri dan bukan pada derajat-Ku. Kebanyakan orang dipuaskan oleh kebaikan mereka sendiri dan bukan pada kebaikan Allah. Cara untuk melaksanakan karya kasih secara sempurna adalah dengan doa dan pencarian Kehendak Allah. Setelah kamu menemukan kehendak-Ku, laksanakanlah selalu dan taatilah suara-Ku selalu maka kamu akan berbuah karya kasih secara sempurna pula. Orang berpikir bahwa mereka lebih tahu apa yang baik secara sempurna, padahal tidak, dan dengan itu mereka bisa saja bertindak secara tidak tepat dan malah menggagalkan diri mereka sendiri.

Namun umumnya karya kasih akan dimulai pada tingkat yang sederhana, pada doa dan pembelajaran Kehendak Allah. Setelah itu barulah kamu akan diutus kepada orang lain setelah dirimu diubahkan. Anggaplah bahwa Kami akan mengajar engkau dahulu sebelum Kami memberikan tugas-tugas yang lebih berat. Maka bersabarlah dan janganlah kamu tergesa-gesa, tapi percayalah saja pada suara dan setiap perintah Kami. Segala hal akan diberikan dan terjadi pada waktunya. Demikian pengajaran-Ku tentang Karya Kasih.

Tentang Kekudusan

Apa itu kekudusan? Kekudusan adalah kedekatan dengan-Ku. Kedekatan dengan Allah tidaklah sama dengan bagaimana manusia menafsirkan kedekatan. Ada kedekatan fisik, tapi ada juga kedekatan batin. Kedekatan dengan Allah melampaui kedekatan manusiawi. Sebab kedekatan batin saja tidak cukup untuk menggambarkan kekudusan. Kedekatan dengan Allah tidak seperti 2 orang yang bersahabat tapi nyatanya hanya saling memanfaatkan. Kedekatan dengan Allah adalah suatu persahabatan yang tidak simetris, melainkan ada yang lebih berkuasa dan lebih tinggi secara mutlak, yaitu Allah.

Namun kekudusan adalah persahabatan yang paling murni dan sejati, di mana manusia meniru Allah sebaik mungkin dan menjadi gambar-Nya yang paling baik di antara segala ciptaan Allah. Adapula sekalipun Allah lebih tinggi, tapi segala kebaikan di dalam persahabatan itu akhirnya diperuntukkan manusia dan bukan bagi Allah. Sebab Allah adalah Kebaikan itu sendiri yang tidak dapat menjadi lebih baik lagi, karena Dia sudah yang paling baik. Manusialah yang dapat bertumbuh dalam kebaikan, dan karena itu segala kebaikan Ilahi diperuntukkan kebaikan manusia.

Bagaimana mencapai kekudusan? Secara sederhana, ikutilah kehendak Allah yang dinyatakan dalam Firman-Nya, artinya dalam Aku dan dalam segala ajaran-Ku. Sekarang pertanyaan berikutnya, bagaimana melaksanakan kehendak Allah? Sesungguhnya, Aku telah menyatakannya dalam Kitab Suci dan segala ajaran Gereja. Maka pelajarilah semuanya itu dan laksanakanlah dengan baik. Namun bagaimana kamu dapat memiliki kekuatan dan sumber daya untuk melaksanakan semua itu? Jawabannya adalah berdoa.

Dengan doa, kamu mengenali kehendak-Ku, dan dengan doa, kamu memperoleh segala rahmat yang kau butuhkan untuk melaksanakan kehendak-Ku. Itulah tujuan inti dari doa, untuk memperoleh rahmat demi kekudusan. Segala doa yang telah Kami berikan kepadamu, hanya memiliki tujuan itu, mengantarkan kamu untuk semakin mirip dengan Kami dan artinya semakin bersahabat dengan Kami. Sebab dalam kemiripan dengan Kamilah kamu mengenal Kami dan menjadi dekat dengan Kami. Itulah persahabatan yang paling berharga yang dapat kamu peroleh.

Apakah buah terbesar dari kekudusan? Tidak lain dan tidak bukan adalah kebahagiaan kekal di surga. Seberapa kudus dirimu dalam kerja samamu dengan kehendak Allah, akan menentukan seberapa besar kebahagiaanmu bersama Kami di dalam surga nanti. Ya, setiap orang akan menerima kebahagiaan yang berbeda-beda menurut apa yang layak mereka dapatkan nanti, tapi tidak akan ada iri hati atau dengki. Semua orang akan dipuaskan menurut kapasitas mereka masing-masing. Itulah harapan yang membahagiakan. Demikian segala hal yang harus Aku sampaikan kepadamu dalam tulisan ini.

 

Wednesday, July 27, 2022

Dictation 4

 Jesus: My child Ignas, this dictation is for you, and this conversation will mostly be for you. Yet the fruits of our conversation shall resound throughout the ages until I finally return. It will bear fruit for others, but you must be patient. Now I shall speak on some matters. I desire a covenant with you, just you, that will help you bear more fruit as you live more fully in my Will. I will tell you now what we shall discuss together. First is the covenant, second is the routines, third is the great plan, fourth is on pranic healing, fifth is on graces in prayer. That is what I have revealed to you for now. If there are additional topics, surely it will be revealed to you.

Jesus: Now our covenant is this, that you shall act completely according to my will from now on. Everything you do, you must present before me and you must seek my blessings and approval. Anything you do outside of that is contrary to my will and you will find yourself failing. I shall not give you the right of choice anymore, instead I shall give you commands for you to follow and through this you shall bear fruit for your own salvation and the salvation of others. This covenant is effective upon you giving your word for this covenant.

Ignas: Then I submit myself to Your Will at this exact sentence.

Jesus: Then you are now mine and completely mine, sin no more. I will now speak about your routines. You must do the routine that we have established together. That is to write down my dictations, to read the Bible, to read the secular news, to study art, music and drawing, and to write the stories of Nesiya which I shall reveal to you. Then you must also pray the Rosary 4 times at once each day. Yet you will not act outside of my will, in each act you shall do it in my will such that you are an extension of me.

Jesus: You will also speak my word to others as I ask it of you. That is you are to be an evangelist, you are to preach the Gospel of My salvation in words and in deeds. You are to preach my words to your friends which I shall announce to you but I will not declare it here for their own safety. Now Ignas, do you have any questions for Me regarding the routines?

Ignas: Why must I read secular news?

Jesus: At the recommendation of your father. That is the sole reason. However, you recognize the benefits as well to simply expand your scope of knowledge, even if it is not completely related to our mission. You are to respond to the general idea of the text and to the specifics of the text as well. In the manner of the responses I shall provide you with an order later on. Now give Me your second question.

Ignas: Why must I write of Nesiya?

Jesus: To practice your narrative writing no less. Yet it is simply to aid you and satisfy you in your desires. However, I see something good in it that I shall command you to write of it. You not need understand too much why I want it to be written, simply that I want it written down. Now on your desires to write philosophy, I shall ask of you to write of it as well, and that will be the new topic of writing after Dictation 3 and Dictation 4. Now I shall reveal to you the great plan for you.

Jesus: You are to remain silent on your own, unless I ask you to speak and pray. This will be your cross, or your difficulty in life. You will live out your university years in holiness. You will then find work somewhere that I shall point out to you in the future. Then at the year of decision, that is 2028, you will leave your work and you will seek the priesthood. Then you shall live out your life as a priest forever until you die. That is the great plan for you. You will live to see great times, your soul will be shaken and you will receive many swords to your soul. But of course how you die and when you die I cannot reveal to you, but you will know when it is close.

Jesus: On pranic healing, for you have no need of it anymore, I command you to leave it and denounce it completely. You shall confess it to your director along with the rest of your heinous sins. But speak nothing to your aunt or to the people there. There shall be a great warning to them and they will be given the chance to repent or to die. I shall destroy pranic healing and all other opposition to the Church in the 3 days of darkness, and in the Era of Peace it will be nothing but history. While there is some truth in such esoteric disciplines, it is not of my grace and it is unreliant on my graces. They seek the truth independently of my Church, and so they trust themselves more than they trust Me.

Jesus: On the graces of prayer I shall reveal to you this important truth. It is known implicitly throughout the Church, but I shall make it explicit to you. It is true that for you to be able to do anything at all, you require grace. What is grace? Grace is simply a free gift from Me to you. For your very existence is a grace, then you need grace to do anything at all. However, when you pray and it is according to my Will, you will be given more graces such that you can do my Will. If you do not pray, then it will not be given to you. You indeed have the initial grace, but the additional graces that shall be given to you if you pray will not be given as you have not prayed. That is the law of prayer.

Jesus: Now, on the matter of your authority and your anointing. You shall prepare yourself to the priesthood from now, and the manner of your preparation is by the covenant that we have established among ourselves. For that reason I have anointed you spiritually, by your baptism and your confirmation, to be my common priest, but then you shall be my actual priest. On your authority, I have given you authority by the Holy Spirit to speak in my name and write in my name. For that reason, fear no more and worry no more when you must preach the Gospel in my name. Receive the Holy Spirit continuously by abandoning yourself to My Will, and you shall maintain your authority and your anointing. If you sin however, you will find yourself removed from my superabundant grace until you repent.

Jesus: On the matter of repentance, it is true that you must confess your sins to have them be absolved, that is wiped off completely from your soul and from My record. However, you can ask for my forgiveness anytime. You can repent anytime and when you have repented and it is true that you have repented, I shall bring you back into my graces and you shall receive graces once more. However, if you do not confess those sins to your confessor, then it is actually a mark that you have not fully repented. For full repentance requires confession of your sins in front of a valid priest. Confession in front of me is partial repentance, and must be done with the commitment to confess when the time comes. This concludes the current Dictation.

Sunday, July 17, 2022

Personal Reflection 22

Dalam suatu percakapan rohani yang aku alami 2 hari yang lalu, aku menjumpai suatu gagasan yang menurutku penting dan aku merasakan Roh Kudus menyatakan kepadaku suatu gagasan yang mengimbangi gagasan yang pertama. Gagasan yang pertama menyatakan bahwa hendaknya kita lebih banyak beriman ketimbang berusaha untuk melogiskan segala hal dan mempertanyakan segala hal. Roh Kudus sepertinya tidak setuju, karena berikut gagasan yang Dia sampaikan kepadaku tentang masalah ini.

Alangkah baiknya kita tidak mempertentangkan antara 2 rahmat Allah, yaitu iman dan logika, keduanya sama-sama dibutuhkan dalam suatu kesatuan yang harmonis dan seimbang. Sesungguhnya iman tanpa logika adalah takhayul dan logika tanpa iman juga adalah kesombongan manusia belaka. Mungkin kita pernah mendengar istilah "Fides quaerens intellectum", iman mencari pengertian, tapi pada saat yang sama "Intellectum quaerens fides", pengertian mencari iman. 

Saat disatukan, iman dan logika harusnya saling menguatkan dan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah. Sebenarnya gagasan pertama itu bukannya salah, hanya saja kalau tidak dipahami dengan benar dapat menimbulkan pandangan bahwa logika bertentangan dengan iman. Sesungguhnya kebenaran tidak dapat melawan kebenaran, jadi karena iman dan logika sama-sama mengarah pada kebenaran, tidak mungkin mereka berlawanan, apalagi mereka juga sama-sama karunia dari Allah. 

Mungkin penjelasan yang lebih baik adalah jangan kita mengandalkan pemikiran kita sendiri tentang yang benar, tapi mengandalkan pemikiran Allah. Percayalah, pemikiran Allah itu jauh lebih logis dan rasional daripada pemikiran kita. Justru pemikiran kita yang hampir selalu tidak logis dan tidak rasional karena tidak berdasar pada Kebenaran yaitu Allah sendiri. Jadi justru kita harus sangat keras dalam menggunakan logika, tapi logika yang diberikan Allah dan bukan logika ciptaan kita sendiri. Karena logika yang kita buat sendiri ya mohon maaf, ngawur. Kecuali logika itu sebenarnya berasal dari Allah tapi kita salah mengenali sebagai ciptaan kita sendiri, ya itu juga salah tapi setidaknya logikanya sudah tepat.

Jadi bagaimana dengan klaim orang-orang bahwa logika dan iman itu berlawanan dan harus dipisahkan supaya melindungi keduanya? Tentu saja salah. Jika kita berada pada kondisi batin yang tepat dan relasi yang benar dengan Allah, maka kita akan melihat bagaimana iman yang baik justru membuat logika kita semakin baik, dan logika yang benar juga akan memperkuat iman kita. Ingat bahwa salah satu karunia Roh Kudus adalah pengertian, dan bukan hanya pengertian hal-hal yang rohani tapi juga hal-hal yang duniawi dalam keterkaitannya dengan hal-hal yang rohani. Jadi jangan takut berpikir, selama kita berpikir menurut aturan berpikir yang Allah sudah berikan dan bukan menurut aturan yang sembrono dan tidak benar.

Dictation 2

 Ignas, kamu meragukan dirimu sendiri, maka kamu meragukan aku, yang menciptakan kamu dan memberikan kamu rahmat untuk menerima aku dan segala hal yang hendak aku katakan bagimu dan bagi seluruh dunia. Tinggalkanlah segala keraguanmu dan dengarkan aku saja. Sebab aku telah memberimu kuasa untuk menghardik dan mewarta kepada dunia. Kalau perlu, sampaikanlah kepada pembimbing rohanimu tentang hal ini. Namun sesungguhnya, aku memberikan kuasa kepada semua pengikut dan muridku untuk melakukan hal ini. Ini adalah kuasa yang aku berikan kepada Gereja secara keseluruhan, apakah kamu berpikir bahwa hanya hierarki yang memiliki kuasa ini?

Gereja adalah tubuhku, dan setiap anggota terhubung denganku sekalipun dia sejauh jarak ujung kaki dan kepala. Masalahnya adalah apakah setiap anggotaku itu ingin menjalin hubungan yang lebih dekat denganku atau tidak? Kamu telah memilih hal yang tepat untuk mendengarkan aku dan menjalin hubungan yang lebih dekat denganku. Dan karena itu kamu mengetahui bahwa kamu sebagai anggota tubuhku yaitu Gereja, memiliki kuasa untuk mewartakan kebenaran kepada dunia. Kelak kamu akan dapat mewarta dengan namamu sendiri, tapi sesungguhnya kamu mewartakan perkataanku dalam satu cara atau yang lain, maka aku menyatakan bahwa ini adalah perkataan kita bersama dalam namaku.

Sebab gagasan yang kamu miliki ini berasal dariku tapi kamu yang merangkai perkataan-perkataan ini. Kamu memahami kebenaran-kebenaran universal dan kamu tinggal merangkai ke dalam perkataan-perkataan ini sehingga sesungguhnya masih merupakan perkataanku, sekalipun dihasilkan oleh otakmu. Orang banyak tidak akan memahami konsep ini, tapi yang penting adalah kamu sendiri memahami bagaimana kita berbicara dan berkomunikasi, bagaimana aku hadir di dalam dirimu dan mewujud dalam setiap perkataan yang kamu tuliskan. Ketahuilah Ignas, kita bersatu lebih erat daripada yang kamu pikirkan. Begitulah persatuan antara aku dan setiap anggota Gereja, hanya saja ada yang menyadarinya dan mengupayakannya, dan ada pula yang tidak menyadarinya dan tidak mengupayakannya.

Kamu sendiri telah memperingatkan sahabatmu tentang rasa kepuasan. Janganlah kamu cepat puas, kepuasan itu hanya perasaan sesaat. Namun pandanglah kekekalan dan janji-janjiku kepadamu. Bertindaklah menurut keseluruhan akal budimu demi dirimu sendiri dan demi aku. 

Dictation 1

Surat Awal

Hai Ignas! Pada saat ini kamu lelah, tapi dalam kelelahan dan kelemahanmulah kuasa-Ku menjadi sempurna. Maka dengarkanlah apa yang Aku katakan padamu dan tuliskanlah segala hal yang Aku katakan kepadamu. Pertama, hendaklah kamu menuliskan segala hal ini di dalam blogmu supaya orang banyak dapat mengetahui apa yang hendak aku sampaikan kepadamu dan kepada seluruh dunia. Di mana ada perkataan yang hendak kurahasiakan sampai kepenuhan waktu, aku akan menyatakannya kepadamu. Namun sekarang dan untuk sesi ini aku akan meminta supaya tulisan ini dibuat publik.

Pertama, tulislah ini bagi pembimbing rohanimu. Aku meminta Ignas untuk menyampaikan pesan-pesanku kepadamu dan akan disampaikan kepadamu lewat surel. Setiap bulan bacalah sedikit apa yang telah aku tuliskan dan sampaikan suatu balasan kepada sahabatku mengenai perkataan-perkataan ini. Aku menugaskan ini kepadamu bukan dalam kapasitas pribadimu saja, tapi dalam jabatanmu sebagai wakil Gereja. Jangan takut, aku pasti akan membimbingmu dengan Rohku. Sebagai wakil Gereja, kamu adalah pagar dan tembok besar yang memastikan Ignas tetap berada pada jalan yang benar, bersama dengan kesadarannya sendiri sebagai anggota tubuhku.

Kedua, tulislah ini bagi doktermu. Salam damai bagimu, hai Bu Dokter. Aku telah memilih engkau menjadi penjaga bersama seorang imam untuk menjadi tembok kewarasan bagi Ignas. Ignas akan mengirimkan perkataan-perkataan dariku kepadamu dan kamu akan menanggapi perkataan-perkataan tersebut demi kewarasan Ignas. Aku tahu bahwa ada kemungkinan kamu akan memperingatkan Ignas terhadap perkataan-perkataan ini, atau terhadap suara batin yang dia alami. Namun jangan takut! Sebab Allah menyertai dia dan melindunginya dari segala hal yang berbahaya, tapi juga memberikan rahmat yang berlimpah baginya dan inilah salah satu rahmatku baginya.

Ketiga, tulislah ini bagi dirimu sendiri. Aku akan mengulang apa yang telah aku jelaskan kepadamu sebelumnya. Mulai sekarang kamu akan hidup bersamaku selamanya, dan dalam setiap tindakan kamu harus menghadirkan aku di dalamnya. Tugasmu untuk saat ini masihlah sama, yaitu mendoakan Rosario 4 kali dalam satu kali jalan, dan selain itu mempelajari Kitab Suci dengan bimbinganku dan mempersiapkan kuliahmu. Janganlah kamu mengkhawatirkan tulisan-tulisan saat kuliah, aku sendiri akan membimbing kamu. Maka apa yang sudah tertulis tetaplah tertulis, tapi mulai sekarang, aku sendiri yang akan membimbing kamu untuk menulis apa yang harus dituliskan bagi dunia.

Sekarang, berjaga-jagalah dan teruslah mendengarkan suaraku di dalam jiwamu sendiri supaya kamu dapat menulis apa yang aku ingin kau tuliskan. Kamu telah merasakan suatu dorongan untuk menyampaikan suatu pesanku kepada sahabatmu, dan sesungguhnya kamu benar. Maka inilah yang harus kamu lakukan bagi sahabatmu. Pada esok hari, saat kamu bertemu dengannya setelah Ekaristi, tawarkanlah pesan berikut ini kepadanya, dan kamu akan melakukan suatu kebaikan besar baginya. Pesanku adalah sebagai berikut, 

"Hai (nama dirahasiakan), sesungguhnya kamu memiliki Ignas sebagai sahabatmu dengan suatu alasan tertentu dan kamu sendiri sudah mengetahui mengapa aku menetapkan dia sebagai sahabatmu. Aku mengenali engkau dan segala pekerjaanmu, aku menghargai keinginanmu untuk bertambah dalam kekudusan dan persetujuanmu terhadap tawaran Ignas. Namun aku datang untuk memanggil engkau ke tingkat kekudusan yang lebih tinggi. Tentu saja aku tidak memaksamu, tapi aku memberikan tawaran. Teruslah merayakan Ekaristi setiap minggu, sebab akan datang waktunya di mana kalian tidak dapat merayakan Ekaristi untuk sementara waktu. Namun waktu itu singkat dan setelah itu kamu akan mampu menikmati diriku kembali. Aku memberikan pesan ini sebab jika Ignas memberikan pesan atas namanya sendiri, maka dampaknya pada akal budimu akan lebih rendah ketimbang aku menyampaikan pesan ini atas namaku sendiri. Sesungguhnya kamu sudah tahu segala Firman yang hendak aku ulangi kepadamu, sebab Ignas sudah pernah banyak menyampaikannya kepadamu. Sekarang, kamu telah mempelajari dari sahabatmu bagaimana mempersatukan hidupmu denganku, teruskanlah. Permintaanku yang berikutnya adalah supaya kamu mulai membaca Kitab Suci dan merenungkannya dengan baik, boleh mengulang bacaan mingguan tapi kamu renungkan pada suatu waktu teduh bersama aku. Lalu, berdoalah supaya kamu dapat mendengarkan suaraku sebagaimana Ignas mendengarkan suaraku. Jikalau kamu sungguh mendoakannya dengan penuh iman, maka kelak aku pun akan datang kepadamu dan berbicara denganmu selayaknya seorang sahabat. Sesungguhnya aku menghendaki setiap orang mampu berbicara denganku secara lancar, sebagaimana Ignas berbicara denganku, dan ini dapat dicapai setiap orang, tapi sayangnya orang-orang tidak meminta kepadaku, padahal ini sangat memudahkan dalam hidup rohani. Demikianlah pesanku kepadamu untuk sekarang. Namun andaikan kamu memiliki pertanyaan, kenapa melalui Ignas? Alasannya adalah karena hubunganmu denganku belum begitu kuat seperti Ignas, jadi tentu saja aku harus menggunakan seorang perantara untuk berbicara kepadamu. Ini memang bukan pertama kali Ignas mengatakan dia menerima pesan dariku, tapi yakinilah bahwa semakin lama Ignas semakin dimurnikan dan karena itu suaraku yang dia terima menjadi lebih jernih dan lebih baik. Maka percayalah kepada sahabatmu, karena dengan itu kamu percaya kepadaku. Aku memberikan berkatku kepadamu untuk seluruh hidupmu."

Sekarang Ignas, teruslah menulis sampai pukul 7. Pada pukul 7 mandilah dengan segera, lalu bersiaplah untuk pergi ke gereja dan untuk merayakan Ekaristi. Aku akan terus mengatakan kepadamu apa saja yang harus kamu tuliskan. 

Kepada Dunia

Ignas, tuliskanlah ini bagiku. Aku merindukan kasih umat manusia kepadaku, tapi kebanyakan orang menolak aku. Sesungguhnya aku berbicara kepadamu melalui sesamamu, tapi kamu menolak mendengar aku. Karena kamu menolak aku, maka aku akan menjatuhkan penghakiman yang keras bagimu. Sekarang, aku tahu bahwa pesan ini tidak akan sampai kepada banyak orang, sebab waktunya akan segera tiba di mana penghakiman itu datang. Namun hendaklah dia yang memiliki mata dan telinga, membaca dan mendengar perkataanku ini. 

Aku mengasihi dunia, karena itulah aku datang pertama kalinya dan untuk itu pula aku akan datang kembali dengan segera. Bertobatlah, sebab aku datang dengan segera! Ketahuilah bahwa kepenuhan iman dan Allah hanya ada padaku, yaitu Yesus Kristus, juruselamatmu. Maka bagi kamu yang belum mengenal aku, carilah aku dan kamu akan selamat. Bagi kamu yang sudah mengenali aku, apa yang kamu tunggu? Segeralah berlari menujuku jika kamu mau selamat. 

Namun aku memperingatkan, bahwa iman tanpa kasih tidaklah berguna. Sebab sesungguhnya iman tanpa kasih adalah iman yang palsu, iman yang sejati pasti berbuah kasih. Jadi jika kamu masih hanya berkata-kata tanpa bertindak, camkanlah pesan ini atau kamu akan terkutuk! Sungguh gerbang neraka terbuka luas bagi mereka yang terus hidup dalam dosa tanpa bertobat. Ketahuilah makna pertobatan, tidak berhenti pada sakramen tobat, tapi berbuah menjadi kasih yang sejati yang lahir dari iman yang sejati. 

Maka aku berkata padamu, mulailah dengan dirimu sendiri dan keluargamu. Kalau kamu tidak dapat mengasihi keluargamu sendiri, bagaimana kamu dapat mengasihi sesamamu yang ada di luar? Namun kalau kamu ditolak dan dibenci oleh keluargamu sendiri karena aku, janganlah bersusah hati, sebab apa yang kamu kehilangan karena aku, kamu akan memperoleh dalam bentuk lain. Apapun yang terjadi padamu, tetaplah berusaha untuk melayani dan mengasihi dimulai dari hal-hal dan wilayah yang paling kecil dan dekat denganmu. Kalau kamu setia pada perkara-perkara kecil, aku akan mempercayakan kepadamu perkara-perkara yang lebih besar.

Personal Reflection 21

 The difference or distinction between my thoughts and God's thoughts begins to blur. Perhaps this is where it shall end and the merging of my thoughts and God's thoughts begin. In truth, when one abandons all attachments, or better yet, present those attachments to God, and becomes united with God, then they become a united force facing the world as one under the greater name of God. It is a spiritual marriage, where you exist, but only as a name. That is what I desire, and sometimes achieve, but am in lifelong purification until I am united with God.

God speaks eternally, His Word is not just a linguistic word. In fact, to call that aspect of Him as Word is mere symbolism. Obviously His Word is not mere linguistic word, but in fact it is His very substance and essence. His Word is Himself. This Word is known to the world as Jesus Christ, but known to God as Himself. Now we receive Christ sometimes in a partial form, as actual language. When I write these words out of God's mouth, then it is in a way, "Christ".

Now language itself is imperfect, yet it has been revealed to me that in some form, language can be as perfect as it can be, though never being Perfection itself. For language is by nature an image, a symbol, a sign, and never the true reality itself, though itself it is a reality. Then there can be Perfect Language, not even any language that transcends our understanding, but instead condescends the supernatural or the entire reality into our own understanding. The Perfect Language, is closely related to the Perfect Book, for the Perfect Book is a collection of Perfect Language. 

There is an urge within me, a desire, that has to be fulfilled, and this is its fulfillment.

God: You cannot see my words clearly for I am beyond words. Yet you are correct when you say that I can be present in words, in imperfect language, and so there is perfect language to the extent that language can have my attributes or be similar to me. All things are good in their similarity to me, not the other way around. But you are correct as well when you wish for me to utter something great. Woe! The days are evil and last, prepare the road of your souls for my imminent and soon return! I shall come like a thief at night, when none suspects, but my sheep will be ready and they will know when I come. They will see the signs that I have prepared for them and then they will greet me happily. The rest, the goats, will not be prepared and they will not be ready when I come. 

God: There is something that has to come out, but it is stuck in your throat, and now at the tip of your tongue. You do not know what must be announced to the world. You see it but you cannot comprehend it and thus it cannot be expressed with your words. Surrender to me and I shall reveal what must be revealed.

God: I have not come to reveal dates, those have been revealed by others. I come to reveal myself to the world. This revelation is merely an affirmation and a repetition of that which has been revealed by my Church for centuries last. Let the world know this. Preach the Gospel to the entire world, preach God.

Yeshua: Ignas, this is not for you, but for the entire world. I speak now not as the humanity of myself, but in my office as God. Do not misinterpret my words, it is my office as God but it is also my nature as God. For the fools and the wicked will easily and desirably twist my words to their own doom and perdition.

Yeshua: You shall now listen to what I have to say and write down whatever I command you to write down for the world. You shall write these in your blog posts in your series of Personal Reflections. But for you have recognized the spiritual marriage, from now on you are to have me in you forever. For any action that you are to undertake, you are not to do it on your own but you are to be an extension of my being. For that reason, when I ask you to sleep, it is not you who sleeps, but I too who sleep. This is the only way forward, this is the only way you can succeed in your life, without my presence in you you will fail. Your prayers have been heard and I am your answer. You are not to do anything as your own person anymore, but merely as the extension of my own acts. All Christians are called to do this life, in their own ways. But the ways converge upon one end, the denial of the self and the complete abandonment of the will and of the being to Me. Follow me, Ignas, and you shall be victorious. I shall now take over all writing other than that which you must make under your own name. Your dreams of perfect language shall soon come true, my dear Ignas. Thus this is where your personal words end, and where your records of my dictations to you begin.

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...