Sunday, August 28, 2022

OKY 13

Pengalaman dan keberadaan adalah kontemplasi paling pertama dalam kenyataan, di mana dalam waktu keduanya hadir bersamaan tapi dalam urutan logis pengalaman hadir mendahului keberadaaan. Kodrat pengalaman jelas karena kita tahu apa itu pengalaman, tapi kodrat keberadaan tidak begitu jelas karena kita hanya melihat suatu bayangan dari suatu keberadaan sejati, atau kita memang tidak dapat menangkap esensi dari keberadaan itu sendiri. Namun ada beberapa hal yang dapat kita ketahui tentang keberadaan.

Keberadaan memiliki sinonim yaitu kehadiran. Ini adalah sinonim terbaik dalam pandanganku dan artinya sangat objektif, dalam arti keberadaan suatu benda tidak ditentukan oleh subjek sama sekali melainkan oleh dirinya sendiri. Apakah dia ada atau tidak, itu saja pertanyaannya. Hal ini akan menjadi pola umum dalam filsafat, yaitu perbedaan antara kenyataan dan persepsi kita terhadap kenyataan. Jadi bagaimana sifat keberadaan ini sehingga tidak terikat pada persepsi kita?

Ada 2 jenis keberadaan, yaitu keberadaan mutlak dan keberadaan relatif. Keberadaan mutlak adalah keberadaan suatu benda pada dirinya sendiri tanpa terkait dengan subjek apapun. Keberadaan relatif adalah keberadaan suatu benda berkaitan dengan benda lain terutama suatu subjek kesadaran. Keberadaan yang banyak dibicarakan oleh orang-orang adalah keberadaan relatif, sementara yang mutlak jarang dibicarakan atau dipahami. Hal ini menjadi kerancuan tersendiri karena mengaburkan makna keberadaan itu sendiri. Terkait keberadaan mutlak akan dibahas di lain waktu.

Dalam memandang keberadaan dan pengalaman, pertanyaan pertama yang dapat kita ajukan adalah apakah relasi antara keberadaan dan pengalaman? Faktanya hanya ada kemungkinan yang aku namakan teori kesatuan dan teori keterpisahan. Dalam teori kesatuan, pengalaman dan keberadaan menyatu sehingga esensi suatu keberadaan adalah pengalaman keberadaan tersebut. Tanpa pengalaman tidak ada keberadaan dan sebaliknya, maka keduanya setara dan tersatukan. Teori keterpisahan atau teori ketergantungan menyatakan bahwa keberadaan murni dan pengalaman itu secara hakikat berbeda dan terpisah, dan pengalaman bergantung pada keberadaan.

Argumen untuk teori keterpisahan adalah sebelum memasuki wilayah kesadaran, suatu pengalaman bukanlah pengalaman, tapi itu mengasumsikan bahwa hanya kita subjek kesadarannya. Sementara tidak ada bukti yang menyatakan bahwa tidak ada subjek kesadaran selain kita, bagaimana kalau nyatanya setiap benda adalah subjeknya tersendiri? Posisi ini dapat juga disebut sebagai pan fenomenalisme, ini berbeda dengan pan psikisme. Pan psikisme mengatribusikan akal budi pada segala hal, tapi pan fenomenalisme mengatribusikan fenomena atau pengalaman kepada segala hal. 

Apakah ada teori yang benar? Mungkin, tapi sejauh ini aku tidak melihat adanya suatu bukti yang benar-benar membuktikan kebenaran satu teori dibandingkan dengan yang lain. Karena dibutuhkan pengetahuan langsung untuk mengetahui kebenaran dari relasi antara pengalaman dan keberadaan. Alasan berikutnya adalah kedua teori dapat sama-sama menjelaskan fenomena yang terjadi karena tidak memiliki dampak pada fenomena yang terjadi. Kedua teori ini adalah tafsir terhadap fenomena yang ditemui.

Namun memang ada konsekuensi dari masing-masing teori terhadap beberapa konsep lain, terutama konsep Allah. Akan tetapi itu akan menjadi pembahasan di lain waktu. Sebagai bocoran sedikit, akan ditemukan bahwa teori kesatuan yang akan menang karena konsep Allah. Demikian tulisan filsafat pada waktu ini.

Evaluation of Personal Interpersonal Communication Skills and Expectations of Course

In general, my interpersonal communication skills is rather good, this is based not just on my personal judgement but also based upon other people's judgement. My primary skill is in explaining and adjusting language to different people, though of course it takes some time to adjust. Some people have called me "Great Teacher" or "Father of the Nation" due to my exquisite explanation skills. This is because I always explain things in a very structured manner. This structure differs from some people who speak in a less structured manner, the structure in my speech and also writing, most of the time, helps others understand better what they have in the mind.

However, I have still some flaws in communication, such as when speaking to new people and speaking to massive groups of people. Granted, speaking to massive groups of people no longer constitutes interpersonal communication, however if there is a group communication the communication can mimic interpersonal communication where each person responds to one person taking turns. If this is done in structure, it would be much better. However casual group communication is usually done with less structure and there is a greater element of spontaneity. In that matter I struggle deeply.

When speaking to new people, I rarely take the initiative, at least this is based on my judgement on my most recent communications, or lack thereof, with the new people I encounter in university. This is because I often communicate with a purpose, now I understand that all communication can have a purpose. However, I have a different sense of purpose, that is for purposes which correlate with my values. Despite that reality, it is now my understanding for me to expand my horizons and reexamine my priorities in communication. On the contrary, this will take a long time to actually practice.

A final thing about my interpersonal communication skills is that I am rather awkward with my family. This is an unfortunate reality as I do view that ideally I should be close with my family and be able to communicate well with my family. The reason I cannot do that or have not done that is because my family is difficult to communicate with due to time constraints and work. As of now I do not see as a significant problem, despite still being a problem, and as such I do not have any plans to fix that problem in the far future.

My expectations regarding this course is that in general, I can improve my interpersonal communication skills. In what way are they to be improved? First of all, I want to at least maintain but ideally improve greatly my clarity and explanatory power. Second, I want to be able to take greater initiative in any communication. I do not want to be the passive communicant anymore, rather I must be the primary communicator and take control of all communication relationships in the interpersonal context. If my communicant asserts dominance, then I shall assert equal or greater dominance. That is all.

Monday, August 22, 2022

OKY 9

Perjalanan filosofis pada dasarnya adalah perjalanan pencarian kebenaran. Namun agaknya harus ada pemahaman yang tepat tentang apa itu kebenaran dan perbedaannya dengan istilah-istilah filosofis lain. Dalam konteks umum, kebenaran itu adalah suatu hal yang dapat kita miliki dan dapat dibuktikan. Kebenaran adalah pikiran yang sesuai dengan kenyataan dan karena itu kita dapat membuktikan bahwa kebenaran itu adalah kebenaran. Namun kalau hal ini dibandingkan dengan konsep filosofis dan kita merenungkan lebih lanjut mengenai masalah kebenaran, menjadi agak rancu.

Dalam konteks filsafat, kita harus mempertanyakan apa itu kebenaran berdasarkan perspektif umum dan juga berdasarkan intuisi pribadi. Hal ini dapat kita lakukan dengan meneliti makna beberapa kalimat yang mengandung kata “kebenaran” atau “benar” dan semacamnya. Misalnya, “X benar”. Anggaplah X adalah pernyataan yang acak. Saat kita berkata bahwa “X benar”, artinya X itu memiliki sifat “benar”, jadi X itu sendiri bukanlah kebenaran melainkan bergabung dengan sifat kebenaran itu. Di sisi lain kita dapat berkata, “X adalah kebenaran.” Jadi X termasuk dalam kategori kebenaran.

Oleh sebab itu ada 2 makna dari kebenaran yang sama-sama benar. Pertama, kebenaran adalah kenyataan itu sendiri, apa yang nyata adalah yang benar. Jadi kebenaran dalam makna pertama tidak usah dibuktikan, melainkan kepercayaan kitalah yang harus dibuktikan. Kepercayaan yang sudah terbukti benar menjadi pengetahuan. Dengan ini tidak ada pertentangan dengan istilah pengetahuan. Kedua, kebenaran adalah pikiran yang sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini suatu pikiran harus dibuktikan sebagai kebenaran itu sendiri. Kita harus membuktikan bahwa pikiran itu memang adalah anggota dari kategori kebenaran. Maka kedua makna ini sah, tapi dalam sistemku aku lebih banyak menggunakan makna pertama.

Sekarang bagaimana kita dapat menentukan kebenaran? Apakah standar dari pengetahuan dan dari mana kita mengetahui standar pengetahuan itu? Jawabannya cukup paradoks, yaitu dari seluruh dunia dan juga dari diri kita sendiri. Mungkin ada persepsi bahwa kita harus memilih, antara kita mengikuti orang lain atau kita mengikuti diri kita sendiri, tapi sebenarnya salah. Kenyataannya adalah keduanya. Hal ini disebabkan dari cara kerja dan perkembangan pikiran manusia.

 

 

Secara umum, kita dapat mengetahui bahwa kepercayaan kita tidak datang dari diri kita sendiri melainkan dari luar diri kita, dari lingkungan dan dari dunia. Informasi yang masuk ke dalam diri kita menjadi suatu gagasan dan menjadi suatu kepercayaan dalam diri kita. Jika kepercayaan itu terbukti sama dengan kebenaran, maka menjadi suatu pengetahuan. Kepercayaan dan pengetahuan ini terakumulasi sampai kita mulai bangun dari tidur dogmatik kita dan mulai meneliti kembali apa yang sungguh benar. Pada dasarnya, semua yang datang dari luar itu tidak lagi hanya di luar tapi menjadi bagian dari diri kita sendiri, maka kita hanya memiliki itu untuk meneliti kebenaran.

Namun bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran itu, apa yang menjadi kebenaran pertama atau dasar dari segala kebenaran? Pada saat ini, segala gagasan yang kita miliki hanyalah gagasan dan pada akhirnya berujung dari kesaksian orang lain, yang dapat kita ragukan. Di lain pihak ada satu kebenaran pertama yang secara langsung dapat kita terima yaitu kebenaran tentang pengalaman. Faktanya, kita senantiasa mengalami dan dapat mengalami. Hal pertama yang kita jumpai setiap saat adalah pengalaman. Maka fakta pertama yang kita peroleh adalah pengalaman.

Dari pengalaman kita memperoleh kebenaran kedua yaitu tentang keberadaan. Kita tahu ada pengalaman, maka ada pula keberadaan yang dapat diketahui. Dengan mengucapkan “ada”, kita telah menetapkan adanya suatu keber-ada-an. Namun untuk sekarang itu saja yang dapat kita ketahui yaitu adanya pengalaman dan keberadaan. Kodrat sejati dari pengalaman dan keberadaan ini belum begitu jelas dan baru akan diteliti dalam tulisan-tulisan berikutnya. Demikian tulisan filsafat pada kesempatan ini.

Friday, August 19, 2022

OKY 7

 Segala perjalanan, termasuk perjalanan filosofis, harus memiliki suatu awal. Awal apakah yang lebih baik dari pembahasan tentang awal itu sendiri? Penalaranku adalah sebagai berikut, sesungguhnya filsafat dapat dimulai dari titik manapun dan titik apapun itu akan sah-sah saja, selama mengarah pada kepenuhan filsafat itu sendiri. Maka aku berpikir bahwa awal yang paling baik adalah pembahasan tentang bagaimana setiap awal itu sah, termasuk awal tentang awal.

Karena kita sudah secara resmi memulai rangkaian perjalanan filsafat itu, baiklah kita langsung mengarah pada kodrat filsafat. Filsafat pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari dasar-dasar kenyataan. Sesungguhnya pendefinisian filsafat hanya dapat dilakukan secara konsekuen dari pembahasan filsafat itu sendiri. Namun setelah beberapa waktu melakukan filsafat, aku berpikir bahwa “dasar-dasar kenyataan” memang adalah pengertian yang paling tepat terhadap filsafat.

Metode untuk melakukan filsafat ada 2, yaitu kontemplasi dan kritik. Kontemplasi adalah proses memandang kenyataan itu sendiri dengan pengalaman penuh dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari pengalaman penuh tersebut. Kritik adalah proses memandang hasil pemikiran orang lain dan membandingkan dengan kontemplasi kita. Keduanya saling mendukung, kontemplasi menjadi standar kritik dan kritik dapat memperluas pandangan jiwa kita dalam kontemplasi. Sinergi antara kontemplasi dan kritiklah yang akan mengarah pada Revisi Kekal, yaitu proses penyempurnaan tulisan secara kekal atau sampai bahasa sempurna tercapai.

Tujuan tulisan ini bukanlah untuk orang lain melainkan untuk diriku sendiri. Pada akhirnya aku berusaha untuk merangkai suatu bahasa sempurna tentang filsafat yang dapat mengarah pada pemahaman yang baik tentang filsafat. Bahasa sempurna adalah bahasa yang dapat secara efektif menimbulkan pemahaman yang paling baik pada pembacanya terkait materinya. Maka bahasa sempurna itu dapat berbeda-beda bagi setiap manusia. Karena itu tulisan filsafat itu hanyalah dasar materi, sisanya semua harus dijelaskan secara lisan.

Sunday, August 14, 2022

Give Light-Muslims should worship Jesus

This text is based on the video titled "Muslims should worship Jesus" from the youtube channel titled "Give Light". The Christian is often asked the same question from Muslims that is, "Why do you worship Jesus?" In this text we shall examine both Sacred Scripture (the Bible) and the Qur'an to demonstrate that Jesus is meant to be worshipped and is in fact God.

In Matthew 2:1-2, the 3 wise men came and worshipped Christ. Muslims may argue that Christ was in fact an infant, yet Surah 5:110 of the Qur'an states that Christ as an infant could in fact speak. So why did not Christ just spoke against the 3 wise men not to worship Him? In John 9 Christ was again worshipped by the blind man He healed, and this is repeated in many other cases as written in Matthew 28:9, Matthew 28:17, Luke 24:52, and not once did Christ condemn the worshippers.

According to the Qur'an, it is a sin to worship anything other than Allah. At the same time Surah 19:19 and Sahih Muslim Book 30 Hadith 5838 confirms that Christ is sinless. If it is a sin to worship Christ, then He too has sinned for allowing people to worship Him, for He lies. Then Christ often refers to Himself as the Son of Man, which is from Daniel 7:13-14. The original word in Daniel in reference to the Son of Man is pelah, the highest form of service, worship, and work attributable to God. So by saying that Christ is claiming to be God. Yet in the Qur'an it is written that none is worthy of worship but Allah. In Surah 22:56 Allah is the final judge, yet in Matthew 25:31 and John 5:22-23 Christ declares that He is the final judge. 

So if both Sacred Scripture and the Qur'an states that Christ is a miracle worker, is sinless, and is the final judge, why do Muslims not worship Him? 

Saturday, August 13, 2022

Rahasia Kebahagiaan

Apakah cara untuk menjadi bahagia? Sebagai OMK, kita senang menikmati hal-hal, dan suka menjadi senang. Namun bagaimana cara mencapai kesenangan atau kebahagiaan itu? Ternyata tidak selalu terkait dengan hal-hal duniawi.

Hal-hal duniawi memang dapat membuat kita senang dan gembira, tapi ternyata ada hal yang yang mengantar pada suatu kebahagiaan yang lebih besar lagi yaitu kekudusan. Kekudusan adalah kedekatan dengan Tuhan, memangnya bagaimana caranya kekudusan mengantar pada kebahagiaan, bahkan yang paling besar? Logikanya begini, Tuhan adalah Kebaikan Murni, bahkan Dia adalah Kebaikan itu sendiri dan Kebaikan Tertinggi. Jadi kalau kita menjadi kudus dan mendekat dengan Tuhan, otomatis kita akan mencapai Kebaikan Tertinggi yang mengarah pada Kebahagiaan Tertinggi.

Lalu bagaimana cara kita menjadi kudus? Kekudusan dapat dicapai dengan 3 cara yaitu doa, pembelajaran iman, dan kasih. Doa dan pembelajaran iman menunjang kasih, karena kasih adalah puncak dari kekudusan. Sebenarnya kekudusan itu dicapai dengan melaksanakan kehendak Allah, tapi kita tahu bahwa Allah menghendaki kita untuk berbuat kasih. Maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita tahu kasih itu dan cara melaksanakan kasih itu?

Kasih yang diminta dari kita adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Pembelajaran iman dibutuhkan karena dengan itu kita mempelajari Allah dan dengan itu kita dapat semakin mengasihi Allah karena kita hanya dapat mengasihi apa yang kita ketahui. Doa dibutuhkan karena kita membutuhkan relasi dengan Allah untuk mengasihi-Nya dan doa pada dasarnya adalah berelasi dengan berkomunikasi dengan Allah. Namun, ada fungsi lain dari doa dan pembelajaran iman.

Dalam mengasihi sesama kita membutuhkan pengetahuan dan kekuatan, doa dan pembelajaran iman juga memenuhi 2 fungsi itu. Dengan doa kita memperoleh rahmat dari Allah, baik pengetahuan atau kekuatan, untuk mengasihi sesama. Dengan pembelajaran iman kita memperoleh pengetahuan tentang bagaimana caranya mengasihi sesama. Dari mana kita mempelajari iman? Iman dapat dipelajari dari Kitab Suci ataupun dari Ajaran Gereja. Maka semuanya saling berkaitan untuk menunjang hidup kekudusan kita.

Tujuan akhir dari kekudusan bukan kebahagiaan di dunia ini, melainkan di hidup berikutnya bersama Allah. Sebab Allah menjanjikan kepada kita yang beriman kepada-Nya secara sempurna suatu kebahagiaan yang mengatasi segala kesenangan dan kegembiraan di dunia ini. Jadi hendaknya kita semua mempertimbangkan secara tepat arah kehidupan kita supaya kita dapat memperoleh Kebahagiaan Kekal itu, dan bukan kehilangan selama-lamanya.

Sekarang kita tahu bahwa kebahagiaan tidak selalu berkaitan dengan hal-hal duniawi. Kebahagiaan justru lebih sering berasal dari hal-hal yang rohani, seperti doa, pembelajaran iman, dan karya kasih. Bahkan hal-hal inilah yang akan mengantar kita pada kebahagiaan yang sejati.

Wednesday, August 10, 2022

OKY 4

 Under the authority of Christ I write this down. A week ago I received the testimony of a person regarding the true nature of the Catholic Faith and the Sacred Tradition of the Catholic Church. The testimony is as follows. When Moses went up to Mount Sinai for 80 days he received the Torah, first the Torah Shebal Peh and from that we have the Torah Shebichtav. Torah Shebal Peh is the Oral Torah, while the Torah Shebichtav is the written Torah derived from Torah Shebal Peh. God has promised for Torah Shebal Peh to be preserved to the end of time, but not Torah Shebichtav. At the same time, God did not allow all of Torah Shebal Peh to be written down, only parts of it that will be known as Torah Shebichtav.

Torah Shebal Peh is literally Living Scripture, it is Christ Himself and the People of God, be it the believers of the Old Covenant or the Catholics of the New Covenant. Christ Himself does not change, but the people change. They develop their understanding of Torah Shebal Peh that is the ultimate revelation of God, and so they deepen their understanding of the Faith and of God. The development of Torah Shebal Peh continued until it reached its fulfillment of revelation in Jesus Christ. Jesus revealed the fullness of Torah Shebal Peh in His Person and for He is the fullness of Torah Shebal Peh itself. When He founded the Catholic Church, He transmitted Himself as the fullness of Torah Shebal Peh and now this transmission obtains a new name, Sacred Tradition, the nature however does not change.

The problem which exists is that there is a misunderstanding on what Torah Shebal Peh is. Torah Shebal Peh is not the manmade traditions that Christ condemns in Mark 7:8, instead it is simply the revelation of God transmitted orally until the end of time. There are those who think that Torah Shebal Peh is found in the Talmud or the Mishnah, but that is not the full story. Sometime after the death of Christ, Rabbi Yudah Hanasi lost faith in God's promise that He will preserve Torah Shebal Peh and wrote down all of Torah Shebal Peh, keeping it locked in time. Yudah Hanasi did not recognize that God did preserve the Torah Shebal Peh, as the Sacred Tradition of the Catholic Church. 

Eventually there becomes a mixture of Torah Shebal Peh, that is the authentic revelation of God, and the human perception of Torah Shebal Peh. Thus we obtain the blasphemous abomination that is Rabbinic Judaism, with their blasphemies against the Lord Jesus Christ in the Talmud. The Talmud is not the Torah Shebal Peh, but a human perversion of Torah Shebal Peh. Where is Torah Shebal Peh now? It is in the Sacred Tradition of the Catholic Church, in fact it is the Sacred Tradition of the Catholic Church. 

There is also another problem, the Catholics seem to have overfocused on Sacred Scripture, not being aware that Sacred Tradition is the true source of all of our faith. Remember that in the beginning 90 percent of the people are illiterate, yet the Catholic Faith remains strong for centuries. The reason people become focused on the Sacred Scripture more than Tradition is simply because of epistemic problem and the problem of faith. On what do we base our faith? By seeing the Word of God? No, but from hearing the Word of God as proclaimed by Romans 10:17. The epistemic problem on the other hand is simply the problem of how we know things, where people are more comfortable with what they can clearly see, rather than having to rely completely on faith.

In the end it is perhaps arguable that this writing itself contains a trace of Torah Shebal Peh. You can indeed write parts and traces of Torah Shebal Peh but you cannot never write it down completely. As it is in fact the complete revelation of God, the Word of God, and thus is God Himself. A final disclaimer before I close this writing, to say that it is written under the authority of Christ simply means that Christ gave me the authority to write this down. It in no way implies infallibility, all readers are to understand and make a decision about this text. Respond as you desire, for you are the final judge of your own beliefs. May the Lord bless us all, amen.

Wednesday, August 3, 2022

OKY 3

 Aku telah dibebaskan oleh Kristus untuk menulis sesuai apa yang aku pikir harus dituliskan. Maka dari itu aku tidak harus membatasi diriku lagi dalam menulis, sebab Kristus sendiri telah memberikan aku kuasa yang penuh dalam menulis dan menyampaikan Kebenaran kepada orang lain. Namun aku merasa tidak enak. Sebab aku merasa tidak mampu menulis kepada orang lain secara efektif. Aku hanya dapat menyampaikan perkataanku sendiri atas dasar diriku sendiri. 

Akan tetapi aku harus menerobos dan mendobrak perasaan tidak enak ini demi Kristus, karena Tuhan telah meminta aku untuk menulis sebanyak mungkin maka aku harus tetap menulis apapun yang terjadi. Jadi, sekalipun aku tidak memiliki pembaca, aku tetap menulis karena aku menulis bukan bagi manusia tapi bagi Tuhan semata. Namun Tuhan memang memanggil aku untuk menulis bagi orang lain. Sebab aku dipanggil oleh Allah untuk mewarta bagi keselamatan jiwa-jiwa, bagi kebaikan orang lain, itulah tujuanku di dunia ini.

Pada akhirnya aku menyerahkan diri kepada Allah, bahwa Tuhan sendiri yang akan membimbing aku dalam menulis, melalui orang-orang utusan-Nya, supaya aku mampu menulis bagi orang lain. Tujuan akhirku untuk menulis adalah membawa orang-orang kepada Kristus dan kepada Allah. Namun tujuanku yang lain adalah menghasilkan bahasa yang sempurna, dan menghasilkan suatu rangkaian bahasa yang indah, yang dapat menjadi perwujudan fisik dari Kebenaran itu sendiri. 

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...