Apakah cara untuk menjadi bahagia? Sebagai OMK, kita senang menikmati hal-hal, dan suka menjadi senang. Namun bagaimana cara mencapai kesenangan atau kebahagiaan itu? Ternyata tidak selalu terkait dengan hal-hal duniawi.
Hal-hal duniawi memang
dapat membuat kita senang dan gembira, tapi ternyata ada hal yang yang mengantar
pada suatu kebahagiaan yang lebih besar lagi yaitu kekudusan. Kekudusan adalah
kedekatan dengan Tuhan, memangnya bagaimana caranya kekudusan mengantar pada
kebahagiaan, bahkan yang paling besar? Logikanya begini, Tuhan adalah Kebaikan
Murni, bahkan Dia adalah Kebaikan itu sendiri dan Kebaikan Tertinggi. Jadi
kalau kita menjadi kudus dan mendekat dengan Tuhan, otomatis kita akan mencapai
Kebaikan Tertinggi yang mengarah pada Kebahagiaan Tertinggi.
Lalu bagaimana cara kita
menjadi kudus? Kekudusan dapat dicapai dengan 3 cara yaitu doa, pembelajaran
iman, dan kasih. Doa dan pembelajaran iman menunjang kasih, karena kasih adalah
puncak dari kekudusan. Sebenarnya kekudusan itu dicapai dengan melaksanakan
kehendak Allah, tapi kita tahu bahwa Allah menghendaki kita untuk berbuat
kasih. Maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita tahu kasih itu dan cara
melaksanakan kasih itu?
Kasih yang diminta dari
kita adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Pembelajaran iman
dibutuhkan karena dengan itu kita mempelajari Allah dan dengan itu kita dapat
semakin mengasihi Allah karena kita hanya dapat mengasihi apa yang kita
ketahui. Doa dibutuhkan karena kita membutuhkan relasi dengan Allah untuk
mengasihi-Nya dan doa pada dasarnya adalah berelasi dengan berkomunikasi dengan
Allah. Namun, ada fungsi lain dari doa dan pembelajaran iman.
Dalam mengasihi sesama
kita membutuhkan pengetahuan dan kekuatan, doa dan pembelajaran iman juga memenuhi
2 fungsi itu. Dengan doa kita memperoleh rahmat dari Allah, baik pengetahuan
atau kekuatan, untuk mengasihi sesama. Dengan pembelajaran iman kita memperoleh
pengetahuan tentang bagaimana caranya mengasihi sesama. Dari mana kita
mempelajari iman? Iman dapat dipelajari dari Kitab Suci ataupun dari Ajaran
Gereja. Maka semuanya saling berkaitan untuk menunjang hidup kekudusan kita.
Tujuan akhir dari
kekudusan bukan kebahagiaan di dunia ini, melainkan di hidup berikutnya bersama
Allah. Sebab Allah menjanjikan kepada kita yang beriman kepada-Nya secara
sempurna suatu kebahagiaan yang mengatasi segala kesenangan dan kegembiraan di
dunia ini. Jadi hendaknya kita semua mempertimbangkan secara tepat arah
kehidupan kita supaya kita dapat memperoleh Kebahagiaan Kekal itu, dan bukan kehilangan
selama-lamanya.
Sekarang kita tahu bahwa kebahagiaan tidak
selalu berkaitan dengan hal-hal duniawi. Kebahagiaan justru lebih sering
berasal dari hal-hal yang rohani, seperti doa, pembelajaran iman, dan karya
kasih. Bahkan hal-hal inilah yang akan mengantar kita pada kebahagiaan yang
sejati.
No comments:
Post a Comment