Pengalaman dan keberadaan adalah kontemplasi paling pertama dalam kenyataan, di mana dalam waktu keduanya hadir bersamaan tapi dalam urutan logis pengalaman hadir mendahului keberadaaan. Kodrat pengalaman jelas karena kita tahu apa itu pengalaman, tapi kodrat keberadaan tidak begitu jelas karena kita hanya melihat suatu bayangan dari suatu keberadaan sejati, atau kita memang tidak dapat menangkap esensi dari keberadaan itu sendiri. Namun ada beberapa hal yang dapat kita ketahui tentang keberadaan.
Keberadaan memiliki sinonim yaitu kehadiran. Ini adalah sinonim terbaik dalam pandanganku dan artinya sangat objektif, dalam arti keberadaan suatu benda tidak ditentukan oleh subjek sama sekali melainkan oleh dirinya sendiri. Apakah dia ada atau tidak, itu saja pertanyaannya. Hal ini akan menjadi pola umum dalam filsafat, yaitu perbedaan antara kenyataan dan persepsi kita terhadap kenyataan. Jadi bagaimana sifat keberadaan ini sehingga tidak terikat pada persepsi kita?
Ada 2 jenis keberadaan, yaitu keberadaan mutlak dan keberadaan relatif. Keberadaan mutlak adalah keberadaan suatu benda pada dirinya sendiri tanpa terkait dengan subjek apapun. Keberadaan relatif adalah keberadaan suatu benda berkaitan dengan benda lain terutama suatu subjek kesadaran. Keberadaan yang banyak dibicarakan oleh orang-orang adalah keberadaan relatif, sementara yang mutlak jarang dibicarakan atau dipahami. Hal ini menjadi kerancuan tersendiri karena mengaburkan makna keberadaan itu sendiri. Terkait keberadaan mutlak akan dibahas di lain waktu.
Dalam memandang keberadaan dan pengalaman, pertanyaan pertama yang dapat kita ajukan adalah apakah relasi antara keberadaan dan pengalaman? Faktanya hanya ada kemungkinan yang aku namakan teori kesatuan dan teori keterpisahan. Dalam teori kesatuan, pengalaman dan keberadaan menyatu sehingga esensi suatu keberadaan adalah pengalaman keberadaan tersebut. Tanpa pengalaman tidak ada keberadaan dan sebaliknya, maka keduanya setara dan tersatukan. Teori keterpisahan atau teori ketergantungan menyatakan bahwa keberadaan murni dan pengalaman itu secara hakikat berbeda dan terpisah, dan pengalaman bergantung pada keberadaan.
Argumen untuk teori keterpisahan adalah sebelum memasuki wilayah kesadaran, suatu pengalaman bukanlah pengalaman, tapi itu mengasumsikan bahwa hanya kita subjek kesadarannya. Sementara tidak ada bukti yang menyatakan bahwa tidak ada subjek kesadaran selain kita, bagaimana kalau nyatanya setiap benda adalah subjeknya tersendiri? Posisi ini dapat juga disebut sebagai pan fenomenalisme, ini berbeda dengan pan psikisme. Pan psikisme mengatribusikan akal budi pada segala hal, tapi pan fenomenalisme mengatribusikan fenomena atau pengalaman kepada segala hal.
Apakah ada teori yang benar? Mungkin, tapi sejauh ini aku tidak melihat adanya suatu bukti yang benar-benar membuktikan kebenaran satu teori dibandingkan dengan yang lain. Karena dibutuhkan pengetahuan langsung untuk mengetahui kebenaran dari relasi antara pengalaman dan keberadaan. Alasan berikutnya adalah kedua teori dapat sama-sama menjelaskan fenomena yang terjadi karena tidak memiliki dampak pada fenomena yang terjadi. Kedua teori ini adalah tafsir terhadap fenomena yang ditemui.
Namun memang ada konsekuensi dari masing-masing teori terhadap beberapa konsep lain, terutama konsep Allah. Akan tetapi itu akan menjadi pembahasan di lain waktu. Sebagai bocoran sedikit, akan ditemukan bahwa teori kesatuan yang akan menang karena konsep Allah. Demikian tulisan filsafat pada waktu ini.
No comments:
Post a Comment