Perjalanan filosofis pada dasarnya adalah perjalanan pencarian kebenaran. Namun agaknya harus ada pemahaman yang tepat tentang apa itu kebenaran dan perbedaannya dengan istilah-istilah filosofis lain. Dalam konteks umum, kebenaran itu adalah suatu hal yang dapat kita miliki dan dapat dibuktikan. Kebenaran adalah pikiran yang sesuai dengan kenyataan dan karena itu kita dapat membuktikan bahwa kebenaran itu adalah kebenaran. Namun kalau hal ini dibandingkan dengan konsep filosofis dan kita merenungkan lebih lanjut mengenai masalah kebenaran, menjadi agak rancu.
Dalam konteks
filsafat, kita harus mempertanyakan apa itu kebenaran berdasarkan perspektif
umum dan juga berdasarkan intuisi pribadi. Hal ini dapat kita lakukan dengan
meneliti makna beberapa kalimat yang mengandung kata “kebenaran” atau “benar”
dan semacamnya. Misalnya, “X benar”. Anggaplah X adalah pernyataan yang acak.
Saat kita berkata bahwa “X benar”, artinya X itu memiliki sifat “benar”, jadi X
itu sendiri bukanlah kebenaran melainkan bergabung dengan sifat kebenaran itu.
Di sisi lain kita dapat berkata, “X adalah kebenaran.” Jadi X termasuk dalam
kategori kebenaran.
Oleh sebab itu ada 2
makna dari kebenaran yang sama-sama benar. Pertama, kebenaran adalah kenyataan
itu sendiri, apa yang nyata adalah yang benar. Jadi kebenaran dalam makna
pertama tidak usah dibuktikan, melainkan kepercayaan kitalah yang harus
dibuktikan. Kepercayaan yang sudah terbukti benar menjadi pengetahuan. Dengan
ini tidak ada pertentangan dengan istilah pengetahuan. Kedua, kebenaran adalah
pikiran yang sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini suatu pikiran harus
dibuktikan sebagai kebenaran itu sendiri. Kita harus membuktikan bahwa pikiran
itu memang adalah anggota dari kategori kebenaran. Maka kedua makna ini sah,
tapi dalam sistemku aku lebih banyak menggunakan makna pertama.
Sekarang bagaimana
kita dapat menentukan kebenaran? Apakah standar dari pengetahuan dan dari mana
kita mengetahui standar pengetahuan itu? Jawabannya cukup paradoks, yaitu dari
seluruh dunia dan juga dari diri kita sendiri. Mungkin ada persepsi bahwa kita
harus memilih, antara kita mengikuti orang lain atau kita mengikuti diri kita
sendiri, tapi sebenarnya salah. Kenyataannya adalah keduanya. Hal ini
disebabkan dari cara kerja dan perkembangan pikiran manusia.
Secara umum, kita
dapat mengetahui bahwa kepercayaan kita tidak datang dari diri kita sendiri
melainkan dari luar diri kita, dari lingkungan dan dari dunia. Informasi yang
masuk ke dalam diri kita menjadi suatu gagasan dan menjadi suatu kepercayaan
dalam diri kita. Jika kepercayaan itu terbukti sama dengan kebenaran, maka
menjadi suatu pengetahuan. Kepercayaan dan pengetahuan ini terakumulasi sampai
kita mulai bangun dari tidur dogmatik kita dan mulai meneliti kembali apa yang
sungguh benar. Pada dasarnya, semua yang datang dari luar itu tidak lagi hanya
di luar tapi menjadi bagian dari diri kita sendiri, maka kita hanya memiliki
itu untuk meneliti kebenaran.
Namun bagaimana kita
dapat mengetahui kebenaran itu, apa yang menjadi kebenaran pertama atau dasar
dari segala kebenaran? Pada saat ini, segala gagasan yang kita miliki hanyalah
gagasan dan pada akhirnya berujung dari kesaksian orang lain, yang dapat kita
ragukan. Di lain pihak ada satu kebenaran pertama yang secara langsung dapat
kita terima yaitu kebenaran tentang pengalaman. Faktanya, kita senantiasa
mengalami dan dapat mengalami. Hal pertama yang kita jumpai setiap saat adalah
pengalaman. Maka fakta pertama yang kita peroleh adalah pengalaman.
Dari pengalaman kita
memperoleh kebenaran kedua yaitu tentang keberadaan. Kita tahu ada pengalaman, maka
ada pula keberadaan yang dapat diketahui. Dengan mengucapkan “ada”, kita telah
menetapkan adanya suatu keber-ada-an. Namun untuk sekarang itu saja yang dapat
kita ketahui yaitu adanya pengalaman dan keberadaan. Kodrat sejati dari pengalaman
dan keberadaan ini belum begitu jelas dan baru akan diteliti dalam
tulisan-tulisan berikutnya. Demikian tulisan filsafat pada kesempatan ini.
No comments:
Post a Comment