Monday, August 22, 2022

OKY 9

Perjalanan filosofis pada dasarnya adalah perjalanan pencarian kebenaran. Namun agaknya harus ada pemahaman yang tepat tentang apa itu kebenaran dan perbedaannya dengan istilah-istilah filosofis lain. Dalam konteks umum, kebenaran itu adalah suatu hal yang dapat kita miliki dan dapat dibuktikan. Kebenaran adalah pikiran yang sesuai dengan kenyataan dan karena itu kita dapat membuktikan bahwa kebenaran itu adalah kebenaran. Namun kalau hal ini dibandingkan dengan konsep filosofis dan kita merenungkan lebih lanjut mengenai masalah kebenaran, menjadi agak rancu.

Dalam konteks filsafat, kita harus mempertanyakan apa itu kebenaran berdasarkan perspektif umum dan juga berdasarkan intuisi pribadi. Hal ini dapat kita lakukan dengan meneliti makna beberapa kalimat yang mengandung kata “kebenaran” atau “benar” dan semacamnya. Misalnya, “X benar”. Anggaplah X adalah pernyataan yang acak. Saat kita berkata bahwa “X benar”, artinya X itu memiliki sifat “benar”, jadi X itu sendiri bukanlah kebenaran melainkan bergabung dengan sifat kebenaran itu. Di sisi lain kita dapat berkata, “X adalah kebenaran.” Jadi X termasuk dalam kategori kebenaran.

Oleh sebab itu ada 2 makna dari kebenaran yang sama-sama benar. Pertama, kebenaran adalah kenyataan itu sendiri, apa yang nyata adalah yang benar. Jadi kebenaran dalam makna pertama tidak usah dibuktikan, melainkan kepercayaan kitalah yang harus dibuktikan. Kepercayaan yang sudah terbukti benar menjadi pengetahuan. Dengan ini tidak ada pertentangan dengan istilah pengetahuan. Kedua, kebenaran adalah pikiran yang sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini suatu pikiran harus dibuktikan sebagai kebenaran itu sendiri. Kita harus membuktikan bahwa pikiran itu memang adalah anggota dari kategori kebenaran. Maka kedua makna ini sah, tapi dalam sistemku aku lebih banyak menggunakan makna pertama.

Sekarang bagaimana kita dapat menentukan kebenaran? Apakah standar dari pengetahuan dan dari mana kita mengetahui standar pengetahuan itu? Jawabannya cukup paradoks, yaitu dari seluruh dunia dan juga dari diri kita sendiri. Mungkin ada persepsi bahwa kita harus memilih, antara kita mengikuti orang lain atau kita mengikuti diri kita sendiri, tapi sebenarnya salah. Kenyataannya adalah keduanya. Hal ini disebabkan dari cara kerja dan perkembangan pikiran manusia.

 

 

Secara umum, kita dapat mengetahui bahwa kepercayaan kita tidak datang dari diri kita sendiri melainkan dari luar diri kita, dari lingkungan dan dari dunia. Informasi yang masuk ke dalam diri kita menjadi suatu gagasan dan menjadi suatu kepercayaan dalam diri kita. Jika kepercayaan itu terbukti sama dengan kebenaran, maka menjadi suatu pengetahuan. Kepercayaan dan pengetahuan ini terakumulasi sampai kita mulai bangun dari tidur dogmatik kita dan mulai meneliti kembali apa yang sungguh benar. Pada dasarnya, semua yang datang dari luar itu tidak lagi hanya di luar tapi menjadi bagian dari diri kita sendiri, maka kita hanya memiliki itu untuk meneliti kebenaran.

Namun bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran itu, apa yang menjadi kebenaran pertama atau dasar dari segala kebenaran? Pada saat ini, segala gagasan yang kita miliki hanyalah gagasan dan pada akhirnya berujung dari kesaksian orang lain, yang dapat kita ragukan. Di lain pihak ada satu kebenaran pertama yang secara langsung dapat kita terima yaitu kebenaran tentang pengalaman. Faktanya, kita senantiasa mengalami dan dapat mengalami. Hal pertama yang kita jumpai setiap saat adalah pengalaman. Maka fakta pertama yang kita peroleh adalah pengalaman.

Dari pengalaman kita memperoleh kebenaran kedua yaitu tentang keberadaan. Kita tahu ada pengalaman, maka ada pula keberadaan yang dapat diketahui. Dengan mengucapkan “ada”, kita telah menetapkan adanya suatu keber-ada-an. Namun untuk sekarang itu saja yang dapat kita ketahui yaitu adanya pengalaman dan keberadaan. Kodrat sejati dari pengalaman dan keberadaan ini belum begitu jelas dan baru akan diteliti dalam tulisan-tulisan berikutnya. Demikian tulisan filsafat pada kesempatan ini.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...