Segala perjalanan, termasuk perjalanan filosofis, harus memiliki suatu awal. Awal apakah yang lebih baik dari pembahasan tentang awal itu sendiri? Penalaranku adalah sebagai berikut, sesungguhnya filsafat dapat dimulai dari titik manapun dan titik apapun itu akan sah-sah saja, selama mengarah pada kepenuhan filsafat itu sendiri. Maka aku berpikir bahwa awal yang paling baik adalah pembahasan tentang bagaimana setiap awal itu sah, termasuk awal tentang awal.
Karena kita sudah secara
resmi memulai rangkaian perjalanan filsafat itu, baiklah kita langsung mengarah
pada kodrat filsafat. Filsafat pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari
dasar-dasar kenyataan. Sesungguhnya pendefinisian filsafat hanya dapat dilakukan
secara konsekuen dari pembahasan filsafat itu sendiri. Namun setelah beberapa
waktu melakukan filsafat, aku berpikir bahwa “dasar-dasar kenyataan” memang
adalah pengertian yang paling tepat terhadap filsafat.
Metode untuk melakukan
filsafat ada 2, yaitu kontemplasi dan kritik. Kontemplasi adalah proses
memandang kenyataan itu sendiri dengan pengalaman penuh dan menarik
kesimpulan-kesimpulan dari pengalaman penuh tersebut. Kritik adalah proses
memandang hasil pemikiran orang lain dan membandingkan dengan kontemplasi kita.
Keduanya saling mendukung, kontemplasi menjadi standar kritik dan kritik dapat
memperluas pandangan jiwa kita dalam kontemplasi. Sinergi antara kontemplasi
dan kritiklah yang akan mengarah pada Revisi Kekal, yaitu proses penyempurnaan
tulisan secara kekal atau sampai bahasa sempurna tercapai.
Tujuan tulisan ini
bukanlah untuk orang lain melainkan untuk diriku sendiri. Pada akhirnya aku
berusaha untuk merangkai suatu bahasa sempurna tentang filsafat yang dapat
mengarah pada pemahaman yang baik tentang filsafat. Bahasa sempurna adalah
bahasa yang dapat secara efektif menimbulkan pemahaman yang paling baik pada pembacanya
terkait materinya. Maka bahasa sempurna itu dapat berbeda-beda bagi setiap
manusia. Karena itu tulisan filsafat itu hanyalah dasar materi, sisanya semua
harus dijelaskan secara lisan.
No comments:
Post a Comment