Manusia diciptakan untuk berbahagia, dan jalan menuju kebahagiaan itu adalah untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya. Maka masyarakat haruslah dibangun atas prinsip tersebut, tapi manusia telah berdosa dan karena itu mereka membangun masyarakat atas dasar kedosaan mereka pula. Sekarang, aku mendambakan suatu masyarakat baru, yaitu Kerajaan Allah, yang sungguh didasarkan pada prinsip cinta kasih, baik itu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Namun selama ini, aku masih melihat segala hal secara samar-samar, maka Kristus meminta aku untuk menulis tulisan ini untuk melatih kesabaranku dan juga memperjelas segala penglihatanku.
Dalam pembangunan masyarakat,
manusia memiliki 2 perjumpaan, perjumpaan dengan Allah dan perjumpaan dengan
sesama. Perjumpaan manusia dengan Allah dapat terjadi dalam berbagai wujud,
baik itu melalui pengalaman adikodrati atau pengalaman kodrati. Dalam kondisi
manapun, manusia memiliki 2 pilihan, yaitu menerima atau menolak Allah. Orang
yang menerima Allah akan selamat, dan orang yang menolak Allah akan menderita.
Namun penerimaan akan Allah bukan hanya penerimaan akan Tuhan yang Maha Esa,
melainkan penerimaan akan Kristus dan segala pengajaran-Nya.
Maka seorang yang
percaya akan Allah tapi menolak Yesus tidak dapat dikatakan menyembah Allah
secara penuh, melainkan mereka percaya pada Allah secara samar-samar atau
kepada bayangan-Nya. Inilah yang terjadi pada agama-agama non-Kristiani, mereka
tidak memiliki kepenuhan kebenaran, walaupun sinar cahaya kebenaran Ilahi tetap
menjangkau mereka melalui akal budi. Sekalipun mereka tidak memahami Allah
secara penuh, kasih Allah tetap mengalir kepada mereka dan seringkali rahmat
Allah yang luar biasa tetap turun kepada mereka.
Oleh sebab itu kita
harus mengikuti sikap Allah kepada mereka, yaitu mengasihi mereka karena mereka
tetaplah sesama kita. Sesama artinya manusia, dan Yesus menganggap semua
manusia adalah manusia. Namun kita sebagai umat Kristiani wajib mewartakan
Injil kepada mereka sejauh mereka menerima pewartaan kita. Dialog dan relasi
yang baik harus dijalin antara umat beragama, dan umat Kristiani wajib menjadi
teladan cinta kasih di antara umat beragama. Kebebasan beragama harus
dipertahankan, agama Kristiani tidak boleh dipaksakan kepada manusia, melainkan
diterima secara bebas oleh manusia.
Di sisi lain, umat
Kristiani harus bertahan dalam iman mereka sekalipun mereka ditindas. Bertahan dalam
iman bukan hanya berarti tetap percaya dalam batin, melainkan dalam tindakan
juga. Artinya bertahan dalam kasih, tidak menggunakan kekerasan dalam perlawanan
melawan para penindas. Jika ini berarti mengorbankan nyawa, biarlah kita mati
dengan bangga bersama Kristus yang tersalibkan. Keselamatan jiwa kita lebih penting
daripada tubuh fana ini, jangan sampai kita mengutamakan keselamatan raga di
atas keselamatan jiwa.
Dalam perjumpaan dengan
sesama manusia, bagaimanapun juga, manusia kembali dipersembahkan 2 pilihan,
yaitu untuk mengasihi atau membenci, menerima atau menolak. Jika manusia
mengasihi, dia harus mengasihi seperti Allah mengasihi, yaitu secara tidak
bersyarat. Kalau manusia mengasihi yang satu dan membenci yang lain, dia
sesungguhnya tidak memiliki kasih sama sekali, bahkan tidak untuk dirinya
sendiri. Dia hanya memiliki egoisme, dan sesungguhnya dia membenci dirinya
sendiri karena telah menolak jalan keselamatan. Ingatlah perkataan Kristus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku.”
Jadi, jika kita
menolak sesama kita, kita juga menolak Kristus dan Allah dalam cara yang sangat
konkrit. Aku rasa Allah lebih berkenan kepada mereka yang menolak dan menyangkal
Allah secara abstrak, tapi sesungguhnya adalah hamba dan pelayan-Nya yang
paling setia secara konkrit, ketimbang mereka yang munafik dalam iman mereka. Pertimbangan
pilihan ini, antara kasih dan tidak mengasihi, harus kita pikirkan dalam setiap
perjumpaan kita dengan sesama, dan kita harus selalu memilih kasih, sekalipun
kasih merugikan kita di jangka pendek. Sebab kasih adalah Kristus, dan Kristus
adalah keselamatan kita.
Kita dapat membahas
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat manusia memutuskan untuk berdosa dan
membangun masyarakat di atas dosa. Namun kita sudah melihatnya, kita sedang hidup
di dalam dunia itu. Hal yang perlu kita pelajari adalah Kerajaan Allah. Saat sekumpulan
manusia yang mengenal Hukum Cinta Kasih saling berjumpa dan memutuskan untuk
saling mengasihi, akan terjadi suatu masyarakat atau kelompok sosial yang sungguh
ajaib. Inilah yang Allah harapkan dari Israel dari dulu sampai sekarang, dan
sekarang Allah mengharapkan dan meminta kita, Israel yang baru yaitu Gereja,
untuk menjadi masyarakat dan peradaban cinta kasih itu.
Karena kasih adalah
keselamatan, salah satu tindakan kasih yang dapat kita lakukan bagi sesama kita
adalah memberikan mereka kesempatan untuk mengasihi. Maka dalam masyarakat
Allah, setiap orang bekerja demi pemberdayaan sesamanya untuk semakin mampu
mengasihi. Selanjutnya, manusia bekerja sebagai mitra Allah, untuk mengasihi Allah
dan mengasihi sesama, untuk memperindah semesta yang sudah indah tapi rusak
karena dosa manusia. Artinya manusia kreatif dalam kasihnya, seperti Allah
kreatif dalam kasih-Nya. Manusia harus selalu menciptakan yang baru untuk
mewujudkan dirinya di dalam Allah dan bagi sesama.
Manusia yang mengasihi
artinya manusia yang bekerja sama, dan bukan bersaing, untuk mewujudkan
kebaikan bersama. Kerja sama ini terjadi dalam 2 dimensi, moral umum dan moral
spesifik. Dimensi moral umum adalah dimensi kenegaraan dan pemerintahan, yang
bertugas menjaga hukum. Segala hukum disusun bukan hanya untuk menjaga
ketertiban, tapi menjaga cinta kasih yang umum dan kebaikan umum. Hukum adalah
cara masyarakat mewujudkan kasihnya kepada dirinya sendiri, dengan
memperkenalkan kepada warganya batas-batas kasih baik dalam kewajiban, hak,
atau larangan.
Hukum harus disetujui
oleh setiap pihak yang terlibat dan tidak boleh mengorbankan satu orang pun,
kecuali yang bersangkutan rela berkorban demi sesamanya manusia. Kerelaan untuk
berkorban juga harus dipastikan berasal dari kebebasan manusia itu semata,
bukan karena manipulasi, indoktrinasi, apalagi paksaan. Hal ini menuntut
demokrasi, tapi demokrasi haruslah demokrasi yang terpimpin dan terbimbing oleh
hukum Ilahi. Artinya, Gereja dan hierarkinya berperan dalam memberikan nasihat
dan bimbingan dalam masyarakat, tapi hierarki tidak memiliki kuasa untuk
memaksakan kepada masyarakat hukum tertentu. Hierarki berperan sebagai sesama
manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama kepada umat awam.
Pada dimensi moral spesifik, yang dikenal juga sebagai dimensi ekonomi, semuanya adalah kaum buruh, tidak ada kelas kapitalis. Semuanya dimiliki secara bersama sebab diusahakan demi kepentingan bersama pula. Setiap pihak dalam ekonomi Ilahi bekerja sama untuk mewujudkan kelangsungan hidup, kualitas hidup, dan kebaikan bersama secara umum. Tidak ada uang, karena uang hanyalah cara untuk mengumpulkan kekuasaan dan menindas sesama. Hal yang ada hanyalah pertukaran umum.
Hierarki secara
sekuler barangkali tetap ada, tapi dalam konsep yang diperbaharui, bahwa
pemimpin adalah pelayan. Orang-orang yang paling tinggi justru harus paling
banyak melayani yang di bawah mereka, bukan sekadar memerintah apalagi
menguasai. Seperti yang telah aku tulis, pemberdayaan adalah suatu tema penting
dalam pekerjaan masyarakat Ilahi. Sebagaimana Yesus datang untuk melayani dan
bukan untuk dilayani. Maka hendaklah yang terbesar dari kita menjadi yang
terkecil dan menjadi pelayan yang paling banyak melayani.
Gereja dan “negara”
tidak disatukan, tapi harus bekerja sama. Gereja tidak boleh lelah menggaungkan
Injil Kristus kepada negara dan masyarakat sekuler. Gereja dan masyarakat harus
bekerja sama untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. Namun bagaimana
dengan kondisi saat ini? Dalam kesesakan dunia ini, hendaklah seluruh Gereja
Kristus menjadi garam dan terang dunia, menjadi teladan dan menginspirasi cinta
kasih di dalam dunia. Hendaklah setiap umat bergerak dan bersatu untuk
mewujudkan keadilan bagi mereka yang tertindas, memberi makan yang lapar, melawat
yang sakit, memberdayakan yang miskin, demi mewujudkan kasih yang sistemik dan
menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Demikianlah masyarakat menurut Allah.
No comments:
Post a Comment