Friday, April 1, 2022

Tentang Allah

Inilah tulisan tentang kepercayaanku kepada Allah, sebagaimana yang dinyatakan Allah kepadaku. Pertama, dalam pengalamanku aku tidak dapat menemukan bukti yang sungguh rasional tentang keberadaan Allah. Setiap kali aku menemukan semacam argumen untuk keberadaan Allah, mereka hanya menunjukkan bahwa Allah tidak irasional, tapi tidak secara eksplisit membuktikan keberadaan Allah. Selalu ada lubang atau cela dalam masing-masing argumen. Allah sendiri menunjukkan berbagai tanda dan argumen, tapi acap kali aku tidak dapat menjelaskannya kembali ke dalam kata-kata. Namun ada banyak sekali tanda dalam filsafat yang menunjuk pada apa dan siapa itu Allah.

Tanda 1 – Hukum

Dalam refleksiku terhadap kenyataan, nyata bagiku bahwa kita diatur oleh suatu keteraturan yang tak terlihat. Hal ini aku namakan hukum, karena bertindak seperti hukum negara yang mengatur warganya, hukum kenyataan mengatur benda-benda seperti kita. Ini menunjuk pada kekuasaan Allah, bahwa Allah Mahakuasa. Aku lalu menyadari bahwa hukum-hukum ini menyatu menjadi satu kesatuan hukum. Secara metafisik, setiap hukum ini membentuk satu entitas yang Santo Thomas Aquinas sebut sebagai Sebab Pertama atau Causa Prima. Sebagai penjelas, keteraturan artinya hukum yang menetapkan alur kenyataan. Ini adalah sebab tingkat kedua atau tingkat tinggi, atau sebab dari sebab.

Kenapa hukum ini harus satu dalam Sebab Pertama? Karena keteraturan ini bersifat rohani, alias tidak berbadan, tidak berwujud, dan tidak bermateri ataupun berenergi. Segala yang rohani tidak mengikuti hukum ruang dan waktu. Jadi Sebab Pertama berada pada kondisi yang kekal, dalam satu titik kenyataan, di situlah Sebab Pertama. Lalu, Sebab Pertama mengandung segala benda yang ada dalam wujud rohani-relatif. Ini sudah menunjuk pada kenyataan bahwa Allah adalah kesatuan segala kenyataan dalam satu titik kenyataan yang sederhana. Namun hanya dengan hukum, kita hanya melihat bayangan Allah, tanpa memperoleh sosok yang di baliknya.

Menurut Allah, Sebab Pertama, dan setiap hukum, memiliki kecerdasan yang tidak terbatas. Sebab Pertama juga memiliki kehendak-Nya sendiri, dalam kata lain, Allah hendak mengatakan bahwa Sebab Pertama adalah Allah itu sendiri. Namun, aku sulit memahami bagaimana hukum dapat memiliki kecerdasan. Hukum adalah program, bagaimana program ini dapat memiliki suatu kecerdasan? Namun, kalau direnungkan juga tidak di luar akal. Suatu program membutuhkan mekanisme untuk bekerja secara tepat, kalau tidak akan gagal. Barangkali mekanisme itu adalah kecerdasan.

Tanda 2 – Kebenaran

Kita mengenal bahwa ada kebenaran. Apakah itu kebenaran? Kebenaran adalah suatu benda rohani yang merupakan catatan abstrak rohani, atau informasi murni tentang seluruh kenyataan. Kembali lagi pada konsep bahwa Sebab Pertama mengandung semua benda, Kebenaran juga mengandung semua benda dan karena itu juga menunjuk pada Allah. Namun tidak ada jalur untuk menyimpulkan bahwa Kebenaran itu adalah Allah, walaupun jelas sekali menunjuk pada kodrat Allah sebagai kesatuan kenyataan yang tunggal dan sederhana.

Pada Akhirnya

Akalku habis pada 2 tanda itu, ada banyak tanda yang menunjuk pada Allah, tapi ternyata memang kenyataan Ilahi bukan diketahui, tapi diimani. Ada alasan tertentu mengapa iman memiliki konotasi sebagai kepercayaan yang “tidak berdasar”. Karena saat kita hendak percaya kepada Allah, kita harus melepas segala kepercayaan kita yang lama, dan melompat ke dalam suatu kegelapan yang tidak jelas. Kegelapan itu adalah Allah, atau Allah akan menangkap kita dan menyelamatkan kita dari kegelapan dalam yang tidak berarti.

 

 

Dalam pandangan lain, kepastian terdalam kita adalah Allah adalah suatu gagasan yang menghibur dan mengasihi kita, seperti suatu teman imajiner yang sangat berkuasa dan mampu mempengaruhi diri kita. Namun, itu adalah bayangan dari Allah yang sejati, dan pada akhirnya kita hanya mampu memikirkan tentang Allah karena kita dikaruniai imajinasi yang sangat luas. Oleh imajinasi itu, kita dihubungkan dengan Allah dan jiwa kita mampu melihat Allah. Melalui daya imajinatif, Allah mewahyukan Diri kepada setiap pribadi kita. Namun jiwa kita yang ada di dalam begitu melihat Allah segera membuat keputusan, untuk menerima atau menolak Allah.

Maka dapat disimpulkan bahwa kita hanya dapat percaya kepada Allah karena Allah sendiri yang mewahyukan Diri kepada kita, atau kita percaya karena jiwa kita telah melihat Allah sekalipun melalui cermin, jendela, atau suatu tirai. Jika kita tidak pernah melihat Allah, untuk memikirkan Allah saja sudah mustahil. Namun kita hanya mengalami dunia yang terbatas, seluruh diri kita terbatas, tapi sudah ada banyak bayangan dari ketidakterbatasan sejati. Semua bayangan itu menunjuk kepada Allah.

Jadi, kepercayaan kepada Allah bukanlah proses yang deterministis yang pasti akan mengarah pada kepercayaan jika seorang mengikuti suatu argumen rasional. Kepercayaan kepada Allah kurang merupakan perkara rasional, ketimbang sebagai perkara hati nurani. Sebab secara rasional sudah pasti tidak ada jalur yang jelas antara dunia pengalaman kita dengan Allah. Namun dengan hati nurani yang baik, kita dapat memutuskan untuk menerima dan memilih untuk percaya kepada Allah. Beginilah yang telah aku alami bersama Allah. Hal ini bukan berarti argumen yang rasional untuk Allah tidak ada, hanya saja mungkin aku tidak cukup pandai atau bijaksana untuk memahami atau mengetahuinya.

Kodrat Ilahi 1 – Kesatuan

Kodrat Ilahi yang pertama adalah kesatuan. Kesatuan pertama berarti Allah itu satu atau tunggal, kedua berarti bahwa Allah adalah kesatuan segala kenyataan. Maka tanpa seluruh kenyataan tidak ada Allah, di sisi lain, tanpa Allah tidak ada kenyataan. Kesatuan ini bukan hanya kumpulan seperti kita mengumpulkan batu-batu dalam kantong. Kesatuan ini melibatkan kesatuan kodrati dari segala benda yang ada, menjadi satu kenyataan yang sederhana, dan ini yang kita kenali sebagai Allah.

Aku menulis di atas bahwa Allah sederhana, apa artinya? Artinya Allah tidak terbagi dan tidak dapat dibagi. Karena Allah bukan kumpulan benda-benda yang bisa dilepas-lepas sehingga nanti Allah menghilang kalau kumpulan itu kita pecahkan. Allah adalah kesatuan, artinya tidak dapat dipisahkan antara satu “unsur” dengan “unsur” yang lain. Karena Allah adalah kesatuan, maka antara satu benda dengan benda yang lain tidak ada pemisahan, tanpa menghilangkan benda-benda itu sendiri. Karena itu pada saat yang sama ada setidaknya 3 hal yang ada, Allah, benda 1, dan benda 2 yang terbatas.

Tambahan, karena ini juga, Allah hadir dalam satu titik kenyataan, baik secara ruang atau secara waktu. Karena itu Allah ada di segala waktu dan ada di segala ruang.

Kodrat Ilahi 2 – Ketidakterbatasan

Karena Allah adalah kesatuan segala kenyataan, maka Allah sungguh tidak terbatas. Allah adalah Ketidakterbatasan yang Sejati. Hal ini berarti di dalam Allah terkandung segala yang ada dan segala yang tiada, segala yang kita kenal dan segala yang tidak pernah kita kenal. Inilah pembeda utama antara Allah dan benda-benda, benda terbatas tapi Allah tidak terbatas. Selain ini, aku tidak dapat banyak berkomentar.

Kodrat Ilahi 3 – Sebab Pertama

Allah adalah Sebab Pertama dari segala hal, artinya segala hal berasal dari Allah, baik secara langsung atau secara tidak langsung. Secara lebih lengkap, keberadaan segala benda bergantung pada Allah saja. Hal ini juga agak sulit untuk dijelaskan, tapi yang pasti ini bukan berarti penciptaan adalah proses dalam waktu, melainkan tindakan Allah yang kekal yang membuat segala benda ada.

Kodrat Ilahi 4 – Kodrat

Allah adalah kesatuan kenyataan, tapi Dia juga adalah kodrat kenyataan. Artinya Dia adalah esensi dan kodrat dari segala benda yang ada. Dalam istilah yang sering aku gunakan, Allah adalah benda kategoris dari segala benda. Benda kategoris adalah suatu benda di mana dia adalah kategori yang murni. Misalkan kategori manusia, benda kategoris manusia adalah suatu benda yang hanya memiliki sifat, yaitu sifatnya sebagai manusia. Allah adalah seperti itu juga, dalam hal ini Allah adalah keberadaan murni. Suatu benda yang sifat tunggalnya adalah untuk ada. Maka setiap benda yang terbatas berbagi dalam keberadaan murni Allah.

Kodrat Ilahi 5 – Pengalaman Murni

Sebagai konsekuensi dari kodrat-Nya sebagai kesatuan kenyataan dan kodrat, maka Allah juga adalah pengalaman murni. Karena itu, Allah mengalami segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu sebagai akibat dari pengalaman-Nya.

Kodrat Ilahi 6 - Kebaikan

Ini agak sulit dipahami tanpa suatu latar belakang. Namun suatu pertanyaan dapat diajukan, mengapa Allah pasti baik? Begini, kebaikan dan kejahatan bersifat “relatif”. Apa yang kita anggap jahat, di mata si penjahat adalah baik. Apa yang baik di mata kita, barangkali dianggap jahat dan keji oleh Allah. Jadi jika kejahatan seseorang dinilai berdasarkan nilai orang lain yang bukan dirinya sendiri, kebaikannya dinilai berdasarkan nilai-nilainya sendiri. Makhluk yang baik adalah makhluk yang mampu hidup sesuai nilai-nilainya sendiri, atau mencapai tujuannya. Maka makhluk yang tidak baik adalah makhluk yang gagal melaksanakan hal tersebut.

Apakah Allah dapat gagal? Jika Allah dapat gagal, maka Dia terbatas dan bukan Allah. Allah adalah Hukum itu sendiri, yang justru menentukan kegagalan atau keberhasilan. Allah tidak dapat gagal, karena kegagalan adalah keterbatasan. Maka dalam suatu sudut pandang mutlak Allah harus baik kalau Dia ada. Masalah apakah Dia baik di mata kita atau tidak adalah perkara lain, tapi secara objektif Allah baik karena Allah mengalami segala sesuatu dan artinya untuk segala keinginan yang ada terpenuhi di dalam Allah.

Dalam sudut pandang objektif lainnya, Allah adalah kebaikan itu sendiri, karena Allah adalah pemenuhan segala tujuan dan nilai yang kita miliki. Maka Allah tidak memerintahkan suatu hal karena hal itu baik, artinya kebaikan mendahului Allah. Justru suatu hal baik karena Allah memandang dan memilih hal tersebut baik. Artinya Allah mendahului kebaikan dan kalau kita renungkan ini tidak di luar akal, metafisika mendahului etika, keberadaan mendahului kebaikan.

Allah adalah Kasih

Bagaimana dengan relasi antara Allah dan benda-benda yang Dia ciptakan? Allah mengasihi tanpa syarat. Artinya Allah mengasihi segala hal yang ada, tidak terkecuali diri-Nya sendiri. Alasannya sangatlah rasional. Dengan mengasihi ciptaan, Dia mengasihi diri-Nya sendiri. Sebab Allah adalah kesatuan kenyataan, maka untuk mencapai kebahagiaan, Allah harus mengasihi kenyataan itu sendiri. Sebab kebahagiaan para makhluk, adalah kebahagiaan Ilahi itu sendiri.

Namun di sisi lain, ada suatu misteri, apakah Allah sungguh mengasihi hanya demi diri-Nya sendiri? Dari sudut pandang kita, Allah memberikan tanpa meminta balasan yang sepadan. Sebab Allah memberikan kepada kita diri-Nya yang tidak terbatas, sementara kita hanya dapat memberikan kepada Allah diri kita yang terbatas. Jadi jelas Allah mengasihi kita tanpa mengharapkan imbalan. Bagi Allah, mengasihi itu sendirilah yang merupakan kebahagiaan-Nya.

Namun ini dapat kita pahami kalau kita memahami sifat kasih. Kasih adalah orientasi diri untuk memberi kebaikan. Kenyataannya, kita akan paling berbahagia kalau kita paling mengasihi kasih itu sendiri, bukan benda-benda. Sebab dengan itu kita akan berbahagia kapanpun kita mengasihi, siapapun yang kita kasihi. Allah memahami ini dengan sangat baik, dan karena itu Dia sendiri adalah Kasih yang mengasihi dengan murni.

Yesus Kristus

Aku adalah seorang Kristen, tapi aku tidak tahu persis bukti tak terbantahkan yang menunjuk pada Yesus Kristus sebagai Allah yang Maha Esa. Barangkali keberadaan teks-teks Kitab Suci dan juga Gereja sebenarnya adalah bukti cukup untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan segala pewahyuan dalam garis Kristus adalah pewahyuan dari Allah yang Esa. Namun, dalam hatiku seolah-olah tertulis bahwa Yesus sungguh adalah Tuhan, bahwa Dia adalah juruselamat. Kelak aku akan menulis lebih dalam tentang Yesus dan Gereja-Nya yang kudus. Namun sekarang cukuplah sudah pembicaraanku tentang Allah.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...