Inilah tulisan tentang kepercayaanku kepada Allah, sebagaimana yang dinyatakan Allah kepadaku. Pertama, dalam pengalamanku aku tidak dapat menemukan bukti yang sungguh rasional tentang keberadaan Allah. Setiap kali aku menemukan semacam argumen untuk keberadaan Allah, mereka hanya menunjukkan bahwa Allah tidak irasional, tapi tidak secara eksplisit membuktikan keberadaan Allah. Selalu ada lubang atau cela dalam masing-masing argumen. Allah sendiri menunjukkan berbagai tanda dan argumen, tapi acap kali aku tidak dapat menjelaskannya kembali ke dalam kata-kata. Namun ada banyak sekali tanda dalam filsafat yang menunjuk pada apa dan siapa itu Allah.
Tanda 1 – Hukum
Dalam refleksiku
terhadap kenyataan, nyata bagiku bahwa kita diatur oleh suatu keteraturan yang
tak terlihat. Hal ini aku namakan hukum, karena bertindak seperti hukum negara
yang mengatur warganya, hukum kenyataan mengatur benda-benda seperti kita. Ini
menunjuk pada kekuasaan Allah, bahwa Allah Mahakuasa. Aku lalu menyadari bahwa hukum-hukum
ini menyatu menjadi satu kesatuan hukum. Secara metafisik, setiap hukum ini
membentuk satu entitas yang Santo Thomas Aquinas sebut sebagai Sebab Pertama
atau Causa Prima. Sebagai penjelas, keteraturan artinya hukum yang menetapkan
alur kenyataan. Ini adalah sebab tingkat kedua atau tingkat tinggi, atau sebab
dari sebab.
Kenapa hukum ini harus
satu dalam Sebab Pertama? Karena keteraturan ini bersifat rohani, alias tidak
berbadan, tidak berwujud, dan tidak bermateri ataupun berenergi. Segala yang
rohani tidak mengikuti hukum ruang dan waktu. Jadi Sebab Pertama berada pada
kondisi yang kekal, dalam satu titik kenyataan, di situlah Sebab Pertama. Lalu,
Sebab Pertama mengandung segala benda yang ada dalam wujud rohani-relatif. Ini
sudah menunjuk pada kenyataan bahwa Allah adalah kesatuan segala kenyataan
dalam satu titik kenyataan yang sederhana. Namun hanya dengan hukum, kita hanya
melihat bayangan Allah, tanpa memperoleh sosok yang di baliknya.
Menurut Allah, Sebab
Pertama, dan setiap hukum, memiliki kecerdasan yang tidak terbatas. Sebab
Pertama juga memiliki kehendak-Nya sendiri, dalam kata lain, Allah hendak
mengatakan bahwa Sebab Pertama adalah Allah itu sendiri. Namun, aku sulit
memahami bagaimana hukum dapat memiliki kecerdasan. Hukum adalah program,
bagaimana program ini dapat memiliki suatu kecerdasan? Namun, kalau direnungkan
juga tidak di luar akal. Suatu program membutuhkan mekanisme untuk bekerja
secara tepat, kalau tidak akan gagal. Barangkali mekanisme itu adalah
kecerdasan.
Tanda 2 – Kebenaran
Kita mengenal bahwa
ada kebenaran. Apakah itu kebenaran? Kebenaran adalah suatu benda rohani yang
merupakan catatan abstrak rohani, atau informasi murni tentang seluruh
kenyataan. Kembali lagi pada konsep bahwa Sebab Pertama mengandung semua benda,
Kebenaran juga mengandung semua benda dan karena itu juga menunjuk pada Allah. Namun
tidak ada jalur untuk menyimpulkan bahwa Kebenaran itu adalah Allah, walaupun
jelas sekali menunjuk pada kodrat Allah sebagai kesatuan kenyataan yang tunggal
dan sederhana.
Pada Akhirnya
Akalku habis pada 2
tanda itu, ada banyak tanda yang menunjuk pada Allah, tapi ternyata memang
kenyataan Ilahi bukan diketahui, tapi diimani. Ada alasan tertentu mengapa iman
memiliki konotasi sebagai kepercayaan yang “tidak berdasar”. Karena saat kita
hendak percaya kepada Allah, kita harus melepas segala kepercayaan kita yang lama,
dan melompat ke dalam suatu kegelapan yang tidak jelas. Kegelapan itu adalah
Allah, atau Allah akan menangkap kita dan menyelamatkan kita dari kegelapan
dalam yang tidak berarti.
Dalam pandangan lain,
kepastian terdalam kita adalah Allah adalah suatu gagasan yang menghibur dan
mengasihi kita, seperti suatu teman imajiner yang sangat berkuasa dan mampu
mempengaruhi diri kita. Namun, itu adalah bayangan dari Allah yang sejati, dan
pada akhirnya kita hanya mampu memikirkan tentang Allah karena kita dikaruniai
imajinasi yang sangat luas. Oleh imajinasi itu, kita dihubungkan dengan Allah
dan jiwa kita mampu melihat Allah. Melalui daya imajinatif, Allah mewahyukan Diri
kepada setiap pribadi kita. Namun jiwa kita yang ada di dalam begitu melihat
Allah segera membuat keputusan, untuk menerima atau menolak Allah.
Maka dapat disimpulkan
bahwa kita hanya dapat percaya kepada Allah karena Allah sendiri yang
mewahyukan Diri kepada kita, atau kita percaya karena jiwa kita telah melihat
Allah sekalipun melalui cermin, jendela, atau suatu tirai. Jika kita tidak
pernah melihat Allah, untuk memikirkan Allah saja sudah mustahil. Namun kita
hanya mengalami dunia yang terbatas, seluruh diri kita terbatas, tapi sudah ada
banyak bayangan dari ketidakterbatasan sejati. Semua bayangan itu menunjuk
kepada Allah.
Jadi, kepercayaan
kepada Allah bukanlah proses yang deterministis yang pasti akan mengarah pada
kepercayaan jika seorang mengikuti suatu argumen rasional. Kepercayaan kepada
Allah kurang merupakan perkara rasional, ketimbang sebagai perkara hati nurani.
Sebab secara rasional sudah pasti tidak ada jalur yang jelas antara dunia pengalaman
kita dengan Allah. Namun dengan hati nurani yang baik, kita dapat memutuskan untuk
menerima dan memilih untuk percaya kepada Allah. Beginilah yang telah aku alami
bersama Allah. Hal ini bukan berarti argumen yang rasional untuk Allah tidak
ada, hanya saja mungkin aku tidak cukup pandai atau bijaksana untuk memahami atau
mengetahuinya.
Kodrat Ilahi 1 –
Kesatuan
Kodrat Ilahi yang pertama
adalah kesatuan. Kesatuan pertama berarti Allah itu satu atau tunggal, kedua
berarti bahwa Allah adalah kesatuan segala kenyataan. Maka tanpa seluruh
kenyataan tidak ada Allah, di sisi lain, tanpa Allah tidak ada kenyataan. Kesatuan
ini bukan hanya kumpulan seperti kita mengumpulkan batu-batu dalam kantong.
Kesatuan ini melibatkan kesatuan kodrati dari segala benda yang ada, menjadi
satu kenyataan yang sederhana, dan ini yang kita kenali sebagai Allah.
Aku menulis di atas
bahwa Allah sederhana, apa artinya? Artinya Allah tidak terbagi dan tidak dapat
dibagi. Karena Allah bukan kumpulan benda-benda yang bisa dilepas-lepas
sehingga nanti Allah menghilang kalau kumpulan itu kita pecahkan. Allah adalah
kesatuan, artinya tidak dapat dipisahkan antara satu “unsur” dengan “unsur”
yang lain. Karena Allah adalah kesatuan, maka antara satu benda dengan benda
yang lain tidak ada pemisahan, tanpa menghilangkan benda-benda itu sendiri. Karena
itu pada saat yang sama ada setidaknya 3 hal yang ada, Allah, benda 1, dan
benda 2 yang terbatas.
Tambahan, karena ini
juga, Allah hadir dalam satu titik kenyataan, baik secara ruang atau secara
waktu. Karena itu Allah ada di segala waktu dan ada di segala ruang.
Kodrat Ilahi 2 –
Ketidakterbatasan
Karena Allah adalah
kesatuan segala kenyataan, maka Allah sungguh tidak terbatas. Allah adalah
Ketidakterbatasan yang Sejati. Hal ini berarti di dalam Allah terkandung segala
yang ada dan segala yang tiada, segala yang kita kenal dan segala yang tidak
pernah kita kenal. Inilah pembeda utama antara Allah dan benda-benda, benda
terbatas tapi Allah tidak terbatas. Selain ini, aku tidak dapat banyak
berkomentar.
Kodrat Ilahi 3 – Sebab
Pertama
Allah adalah Sebab
Pertama dari segala hal, artinya segala hal berasal dari Allah, baik secara
langsung atau secara tidak langsung. Secara lebih lengkap, keberadaan segala
benda bergantung pada Allah saja. Hal ini juga agak sulit untuk dijelaskan,
tapi yang pasti ini bukan berarti penciptaan adalah proses dalam waktu,
melainkan tindakan Allah yang kekal yang membuat segala benda ada.
Kodrat Ilahi 4 – Kodrat
Allah adalah kesatuan
kenyataan, tapi Dia juga adalah kodrat kenyataan. Artinya Dia adalah esensi dan
kodrat dari segala benda yang ada. Dalam istilah yang sering aku gunakan, Allah
adalah benda kategoris dari segala benda. Benda kategoris adalah suatu benda di
mana dia adalah kategori yang murni. Misalkan kategori manusia, benda kategoris
manusia adalah suatu benda yang hanya memiliki sifat, yaitu sifatnya sebagai manusia.
Allah adalah seperti itu juga, dalam hal ini Allah adalah keberadaan murni.
Suatu benda yang sifat tunggalnya adalah untuk ada. Maka setiap benda yang
terbatas berbagi dalam keberadaan murni Allah.
Kodrat Ilahi 5 –
Pengalaman Murni
Sebagai konsekuensi
dari kodrat-Nya sebagai kesatuan kenyataan dan kodrat, maka Allah juga adalah
pengalaman murni. Karena itu, Allah mengalami segala sesuatu dan mengetahui
segala sesuatu sebagai akibat dari pengalaman-Nya.
Kodrat Ilahi 6 - Kebaikan
Ini agak sulit
dipahami tanpa suatu latar belakang. Namun suatu pertanyaan dapat diajukan,
mengapa Allah pasti baik? Begini, kebaikan dan kejahatan bersifat “relatif”. Apa
yang kita anggap jahat, di mata si penjahat adalah baik. Apa yang baik di mata
kita, barangkali dianggap jahat dan keji oleh Allah. Jadi jika kejahatan
seseorang dinilai berdasarkan nilai orang lain yang bukan dirinya sendiri,
kebaikannya dinilai berdasarkan nilai-nilainya sendiri. Makhluk yang baik
adalah makhluk yang mampu hidup sesuai nilai-nilainya sendiri, atau mencapai
tujuannya. Maka makhluk yang tidak baik adalah makhluk yang gagal melaksanakan
hal tersebut.
Apakah Allah dapat
gagal? Jika Allah dapat gagal, maka Dia terbatas dan bukan Allah. Allah adalah
Hukum itu sendiri, yang justru menentukan kegagalan atau keberhasilan. Allah tidak
dapat gagal, karena kegagalan adalah keterbatasan. Maka dalam suatu sudut
pandang mutlak Allah harus baik kalau Dia ada. Masalah apakah Dia baik di mata
kita atau tidak adalah perkara lain, tapi secara objektif Allah baik karena
Allah mengalami segala sesuatu dan artinya untuk segala keinginan yang ada
terpenuhi di dalam Allah.
Dalam sudut pandang
objektif lainnya, Allah adalah kebaikan itu sendiri, karena Allah adalah
pemenuhan segala tujuan dan nilai yang kita miliki. Maka Allah tidak
memerintahkan suatu hal karena hal itu baik, artinya kebaikan mendahului Allah.
Justru suatu hal baik karena Allah memandang dan memilih hal tersebut baik. Artinya
Allah mendahului kebaikan dan kalau kita renungkan ini tidak di luar akal,
metafisika mendahului etika, keberadaan mendahului kebaikan.
Allah adalah Kasih
Bagaimana dengan
relasi antara Allah dan benda-benda yang Dia ciptakan? Allah mengasihi tanpa
syarat. Artinya Allah mengasihi segala hal yang ada, tidak terkecuali diri-Nya
sendiri. Alasannya sangatlah rasional. Dengan mengasihi ciptaan, Dia mengasihi
diri-Nya sendiri. Sebab Allah adalah kesatuan kenyataan, maka untuk mencapai
kebahagiaan, Allah harus mengasihi kenyataan itu sendiri. Sebab kebahagiaan
para makhluk, adalah kebahagiaan Ilahi itu sendiri.
Namun di sisi lain,
ada suatu misteri, apakah Allah sungguh mengasihi hanya demi diri-Nya sendiri? Dari
sudut pandang kita, Allah memberikan tanpa meminta balasan yang sepadan. Sebab
Allah memberikan kepada kita diri-Nya yang tidak terbatas, sementara kita hanya
dapat memberikan kepada Allah diri kita yang terbatas. Jadi jelas Allah
mengasihi kita tanpa mengharapkan imbalan. Bagi Allah, mengasihi itu sendirilah
yang merupakan kebahagiaan-Nya.
Namun ini dapat kita
pahami kalau kita memahami sifat kasih. Kasih adalah orientasi diri untuk
memberi kebaikan. Kenyataannya, kita akan paling berbahagia kalau kita paling
mengasihi kasih itu sendiri, bukan benda-benda. Sebab dengan itu kita akan
berbahagia kapanpun kita mengasihi, siapapun yang kita kasihi. Allah memahami ini
dengan sangat baik, dan karena itu Dia sendiri adalah Kasih yang mengasihi
dengan murni.
Yesus Kristus
Aku adalah seorang
Kristen, tapi aku tidak tahu persis bukti tak terbantahkan yang menunjuk pada Yesus
Kristus sebagai Allah yang Maha Esa. Barangkali keberadaan teks-teks Kitab Suci
dan juga Gereja sebenarnya adalah bukti cukup untuk membuktikan bahwa Yesus adalah
Tuhan, dan segala pewahyuan dalam garis Kristus adalah pewahyuan dari Allah yang
Esa. Namun, dalam hatiku seolah-olah tertulis bahwa Yesus sungguh adalah Tuhan,
bahwa Dia adalah juruselamat. Kelak aku akan menulis lebih dalam tentang Yesus
dan Gereja-Nya yang kudus. Namun sekarang cukuplah sudah pembicaraanku tentang
Allah.
No comments:
Post a Comment