Friday, April 1, 2022

Tentang Manusia

Beginilah pemahamanku tentang manusia sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Allah kepadaku. Karena aku percaya kepada Kristus dan seluruh pewahyuan-Nya, maka pastilah akan bernada Kristiani dan kembali lagi kepada Kekristenan. Semoga pembelajaranku pada ajaran Gereja mengkonfirmasi pemahamanku tentang manusia. Pertama-tama, manusia adalah citra Allah. Artinya manusia diciptakan mirip dengan Allah, yaitu memiliki pengetahuan, kehendak bebas, dan kemampuan untuk mengasihi.

Manusia pertama-tama diciptakan untuk satu tujuan saja, yaitu untuk berbahagia. Allah menciptakan manusia supaya dia dapat hidup dan berbahagia. Jalan menuju kebahagiaan itu ditunjukkan oleh Allah, yaitu Kristus, tapi manusia yang berkehendak bebas mampu menolak jalan itu yang adalah Kristus. Penolakan terhadap Kristus adalah apa yang kita kenal sebagai dosa. Karena Kristus adalah Allah, maka dosa sebenarnya adalah penolakan terhadap Allah dan penolakan terhadap Kebaikan itu sendiri. Jadi siapapun yang berdosa sebenarnya memilih untuk menderita selama-lamanya, penderitaan kekal adalah maut.

Sebenarnya hanya ada satu hukum yang Allah berikan kepada kita untuk mencapai kebahagiaan, yaitu Hukum Cinta Kasih. Sementara itu Yesus sendiri adalah Kasih, karena Allah adalah Kasih. HCK memerintahkan kita untuk melakukan 2 hal, mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Bagaimana cara kita mengasihi Allah? Ada 2 cara, dengan menyembah-Nya dan dengan mengasihi sesama. Masalah penyembahan kepada Allah sudah cukup jelas di dalam Gereja-Nya yang Kudus, tapi masalah mengasihi sesama ini kurang jelas.

Sebenarnya mengasihi Allah, menyembah-Nya, memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, semua itu demi kebaikan kita. Ingatlah bahwa Hukum Cinta Kasih hanya memiliki satu tujuan, kebahagiaan kita semata. Jadi, kasih kepada Allah, yaitu kasih kepada pribadi Allah, bertujuan untuk membahagiakan kita. Mekanisme atau ekonomi persisnya bagiku adalah misteri. Keinginanku saat ini adalah menuliskan konsekuensi dari Hukum Cinta Kasih terhadap masyarakat, dan konsekuensinya adalah apa yang disebut Yesus sebagai Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah, sesuai pemahamanku, bukanlah tempat jasmani, melainkan suatu tempat rohani di mana Allah meraja, dalam kata lain, di mana Hukum Cinta Kasih ditegakkan. Masalahnya, Hukum Cinta Kasih jarang ditegakkan secara serius di dunia ini karena kedosaan manusia. Dalam sejarah juga jarang ditegakkan, barangkali karena kita masih terlalu “bodoh” di masa lalu. Namun sekarang, tidak ada lagi alasan kebodohan, sungguh kita harus bertanggung jawab atas perbuatan kita, dan sungguh Allah akan meminta pertanggungjawaban di saat Kristus kembali.

Namun bagaimana dunia ini akan tampak jika Kerajaan Allah sungguh hadir di dunia ini? Kita telusuri saja jalan logisnya saat setiap orang menaati Hukum Cinta Kasih. Pertama, memang tidak akan ada kesempurnaan di bumi ini. Sebab manusia pasti akan gagal, lalai, dan berdosa, itu adalah kodrat kita yang jatuh karena dosa Adam dan Hawa. Namun kita dapat mengupayakan yang terbaik dan kita harus mengupayakan yang terbaik, sayangnya, apakah kita mau? Apakah ada yang mau mengupayakan yang terbaik?

Begini visi masyarakat terbaik yang mungkin dalam pandanganku. Pertama, Allah menghendaki manusia yang bebas dalam segala aspek. Kebebasan adalah kemampuan untuk berotonomi, maka manusia harus mampu berotonomi di dalam masyarakat. Sepahamku, ini berkaitan dengan prinsip subsidiaritas. Otonomi artinya satu hal, demokrasi. Rakyat yang dibodohi oleh penguasa dalam suatu sistem oligarki bukanlah demokrasi sama sekali. Demokrasi yang sejati melibatkan rakyat melampaui sekadar pemilu. Rakyat sendiri harus menentukan dirinya sendiri, tapi apakah kita mau bergerak ke arah situ?

Namun, lebih penting dari kebebasan, Allah menghendaki manusia yang mengasihi dan saling melayani. Maka, dalam segala tindakan sosial, manusia harus mengarahkannya kepada kasih kepada sesama dan kasih kepada Allah. Hal ini terutama di dalam kerja. Dalam sistem kapitalis yang berdosa saat ini, tidak ada kasih sama sekali, kecuali oleh mereka yang cukup berani untuk menentang kuasa gelap. Maka harus ada sistem yang menggantikan dosa sistemik ini, dan menjadikannya kasih sistemik.

Aku tidak menggunakan istilah sosialisme karena Gereja memang menghindarinya dan bahkan mengecam paham Marxis-Leninis. Hal ini dapat dimengerti karena Marxisme-Leninisme cukup materialis dan ateis, ironis dalam upaya mereka menegakkan keadilan. Namun sebenarnya sistem yang diidealkan aku dan Allah tidak jauh berbeda dari sosialisme, di mana ada demokrasi ekonomi yang radikal dan kasih yang sistemik di dalam ekonomi masyarakat. Artinya segala kegiatan ekonomi ditujukan bagi kebaikan sesama semata, dan bukan untuk menumbuhkan kapital. Namun apakah kita mau bergerak menuju arah tersebut?

Demikian pemahamanku secara sementara tentang manusia dan masyarakat yang ideal. Jika kelak aku akan menulis tambahan atau versi yang lebih baru, pastilah akan kutulis.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...