Beginilah pemahamanku tentang manusia sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Allah kepadaku. Karena aku percaya kepada Kristus dan seluruh pewahyuan-Nya, maka pastilah akan bernada Kristiani dan kembali lagi kepada Kekristenan. Semoga pembelajaranku pada ajaran Gereja mengkonfirmasi pemahamanku tentang manusia. Pertama-tama, manusia adalah citra Allah. Artinya manusia diciptakan mirip dengan Allah, yaitu memiliki pengetahuan, kehendak bebas, dan kemampuan untuk mengasihi.
Manusia pertama-tama
diciptakan untuk satu tujuan saja, yaitu untuk berbahagia. Allah menciptakan
manusia supaya dia dapat hidup dan berbahagia. Jalan menuju kebahagiaan itu
ditunjukkan oleh Allah, yaitu Kristus, tapi manusia yang berkehendak bebas
mampu menolak jalan itu yang adalah Kristus. Penolakan terhadap Kristus adalah
apa yang kita kenal sebagai dosa. Karena Kristus adalah Allah, maka dosa sebenarnya
adalah penolakan terhadap Allah dan penolakan terhadap Kebaikan itu sendiri.
Jadi siapapun yang berdosa sebenarnya memilih untuk menderita selama-lamanya,
penderitaan kekal adalah maut.
Sebenarnya hanya ada
satu hukum yang Allah berikan kepada kita untuk mencapai kebahagiaan, yaitu
Hukum Cinta Kasih. Sementara itu Yesus sendiri adalah Kasih, karena Allah
adalah Kasih. HCK memerintahkan kita untuk melakukan 2 hal, mengasihi Allah dan
mengasihi sesama. Bagaimana cara kita mengasihi Allah? Ada 2 cara, dengan
menyembah-Nya dan dengan mengasihi sesama. Masalah penyembahan kepada Allah
sudah cukup jelas di dalam Gereja-Nya yang Kudus, tapi masalah mengasihi sesama
ini kurang jelas.
Sebenarnya mengasihi
Allah, menyembah-Nya, memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, semua itu demi kebaikan
kita. Ingatlah bahwa Hukum Cinta Kasih hanya memiliki satu tujuan, kebahagiaan
kita semata. Jadi, kasih kepada Allah, yaitu kasih kepada pribadi Allah,
bertujuan untuk membahagiakan kita. Mekanisme atau ekonomi persisnya bagiku
adalah misteri. Keinginanku saat ini adalah menuliskan konsekuensi dari Hukum
Cinta Kasih terhadap masyarakat, dan konsekuensinya adalah apa yang disebut
Yesus sebagai Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah, sesuai
pemahamanku, bukanlah tempat jasmani, melainkan suatu tempat rohani di mana
Allah meraja, dalam kata lain, di mana Hukum Cinta Kasih ditegakkan. Masalahnya,
Hukum Cinta Kasih jarang ditegakkan secara serius di dunia ini karena kedosaan
manusia. Dalam sejarah juga jarang ditegakkan, barangkali karena kita masih
terlalu “bodoh” di masa lalu. Namun sekarang, tidak ada lagi alasan kebodohan, sungguh
kita harus bertanggung jawab atas perbuatan kita, dan sungguh Allah akan
meminta pertanggungjawaban di saat Kristus kembali.
Namun bagaimana dunia
ini akan tampak jika Kerajaan Allah sungguh hadir di dunia ini? Kita telusuri
saja jalan logisnya saat setiap orang menaati Hukum Cinta Kasih. Pertama,
memang tidak akan ada kesempurnaan di bumi ini. Sebab manusia pasti akan gagal,
lalai, dan berdosa, itu adalah kodrat kita yang jatuh karena dosa Adam dan
Hawa. Namun kita dapat mengupayakan yang terbaik dan kita harus mengupayakan
yang terbaik, sayangnya, apakah kita mau? Apakah ada yang mau mengupayakan yang
terbaik?
Begini visi masyarakat
terbaik yang mungkin dalam pandanganku. Pertama, Allah menghendaki manusia yang
bebas dalam segala aspek. Kebebasan adalah kemampuan untuk berotonomi, maka
manusia harus mampu berotonomi di dalam masyarakat. Sepahamku, ini berkaitan
dengan prinsip subsidiaritas. Otonomi artinya satu hal, demokrasi. Rakyat yang dibodohi
oleh penguasa dalam suatu sistem oligarki bukanlah demokrasi sama sekali.
Demokrasi yang sejati melibatkan rakyat melampaui sekadar pemilu. Rakyat
sendiri harus menentukan dirinya sendiri, tapi apakah kita mau bergerak ke arah
situ?
Namun, lebih penting
dari kebebasan, Allah menghendaki manusia yang mengasihi dan saling melayani. Maka,
dalam segala tindakan sosial, manusia harus mengarahkannya kepada kasih kepada
sesama dan kasih kepada Allah. Hal ini terutama di dalam kerja. Dalam sistem
kapitalis yang berdosa saat ini, tidak ada kasih sama sekali, kecuali oleh
mereka yang cukup berani untuk menentang kuasa gelap. Maka harus ada sistem
yang menggantikan dosa sistemik ini, dan menjadikannya kasih sistemik.
Aku tidak menggunakan
istilah sosialisme karena Gereja memang menghindarinya dan bahkan mengecam
paham Marxis-Leninis. Hal ini dapat dimengerti karena Marxisme-Leninisme cukup
materialis dan ateis, ironis dalam upaya mereka menegakkan keadilan. Namun sebenarnya
sistem yang diidealkan aku dan Allah tidak jauh berbeda dari sosialisme, di
mana ada demokrasi ekonomi yang radikal dan kasih yang sistemik di dalam
ekonomi masyarakat. Artinya segala kegiatan ekonomi ditujukan bagi kebaikan
sesama semata, dan bukan untuk menumbuhkan kapital. Namun apakah kita mau
bergerak menuju arah tersebut?
Demikian pemahamanku
secara sementara tentang manusia dan masyarakat yang ideal. Jika kelak aku akan
menulis tambahan atau versi yang lebih baru, pastilah akan kutulis.
No comments:
Post a Comment