Wednesday, April 6, 2022

Apapun Juga 1

Aku telah agak kehabisan ide untuk menulis, sebab aku baru saja menjalani proses spiritual yang sangat berat. Jadi aku hendak menulis apapun juga, seperti judul tulisan ini, kurang lebih aku akan melantur untuk waktu yang lama. Namun apa yang ingin aku lanturkan juga aku masih agak bingung, hahaha. Aku ingin menulis tentang Kitab Suci, tapi aku lelah juga melihat Kitab Suci. Kenikmatanku di dunia ini sudah sangat berkurang, ya karena aku terlalu melihat ke atas, ke arah surga. Aku tahu bahwa itu adalah masalah di pihakku.

Masalah itu adalah bahwa aku terlalu melekat kepada surga. Sehingga aku tidak dapat lagi bersukacita atas dunia yang fana ini. Aku tidak lagi menikmati dunia ini dan segala hiburannya, semuanya terkesan hampa dan fana. Ya sedikit saja yang menghibur aku, seperti beberapa anime, lagu-lagu. Namun baiklah aku maju terus dan melawan segala perasaanku. Kitab Suci bacaan pertama, mengisahkan tentang kumpulan orang tidak benar yang berprasangka pada orang baik dan hendak berencana melawan orang yang baik. Namun tertulis bahwa mereka ini sesat dan bahwa mereka tidak sadar akan ganjaran kesucian.

Pada bacaan Injil, kita melihat bagaimana orang Yahudi tidak memahami kitab mereka sendiri dan barangkali menambah-nambahkan pada Sabda Tuhan. Yesus membenarkan pemahaman mereka, bahwa makna asal yang tidak dikenal adalah “Allah Bapa”. Ini cukup menarik dan aku tidak begitu memahami. Apakah makna “tidak dikenal”? Bukankah orang Yahudi mengenal Allah? Tapi keagamaan orang Yahudi saat itu memang tidak begitu baik, dan barangkali ini sejalan dengan tradisi kabbalah Yahudi bahwa Allah itu yang tidak dapat dikenal. Jadi Yesus mengatakan itu sejalan dengan tradisi mistik Yahudi. Namun Yesus membuat Dia yang tidak dapat dikenal menjadi dapat dikenal dalam diri-Nya sendiri.

Bagian 2

Setelah segala kritik dan segala tulisan dibuat, kita harus beranjak ke arah kegiatan lainnya. Atau kita berharap bahwa kita dapat terus menulis sampai akhir hayat kita. Dasar-dasar pemahaman filosofis-teologis sudah ditetapkan, tinggal terus membangun ke atas sampai kepada kesempurnaan pikiran. Tentu kesempurnaan pikiran itu hanya dimiliki oleh Allah, tapi setidaknya kita dapat menulis dan berkarya sebaik mungkin yang dapat kita lakukan. Aku merasa aku tergesa-gesa untuk menulis tentang dunia nyata, tapi Allah memintaku untuk bersabar dan belajar dulu dan merangkai tulisan tentang dunia yang di atas dan di bawah. Artinya tulisanku tentang Dia harus disempurnakan.

Namun aku tidak di sini untuk menyempurnakan tulisan ini, aku di sini untuk melantur. Karena aku harus membuang waktu sebelum acara yang aku nantikan yaitu EJR Sesi 2. Masalahnya sekarang, karena aku sekadar membuang waktu untuk suatu acara, semuanya terasa menjadi hambar dan sulit dilakukan, berbeda jika aku melakukan ini untuk menikmati diriku. Sayangnya aku tidak lagi menikmati diriku, aku hanya hidup atas dasar kewajiban saja. Boleh dibilang ini salahku, karena aku terlalu lama memandang Allah dan surga sehingga aku tidak puas lagi dengan apapun yang ada di bumi ini. Ah sial. Sekarang aku hanya bisa hidup seperti robot yang tidak berperasaan, atau setidaknya melawan perasaanku dan hidup sesuai rasionalitas semata.

Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, mencapai kebahagiaan adalah perkara yang amat rasional, bukan sekadar emosional. Justru kalau kita bersikap emosional saat mencapai kebahagiaan, barangkali kita akan jatuh. Kasih, kunci dari kebahagiaan, bukanlah perkara perasaan, melainkan perkara kehendak. Perasaan kasih timbul dari kehendak kasih, kehendak untuk meringankan penderitaan sesama. Jika sebaliknya yang terjadi, kasih kita bergantung pada perasaan kita, namanya kita tidak mengasihi. Karena kita mengasihi secara bersyarat, sementara kasih sejati tidak bersyarat.

Kehidupan dalam Allah itu sederhana, kita saja yang membiarkan diri kita dikuasai oleh perasaan-perasaan yang tidak teratur sehingga menjadi rumit, akan ditambah kerumitannya saat kita memilih untuk berdosa, di situ semuanya akan menjadi sangat rumit. Allah sudah menyediakan jalan yang mudah dan sederhana, tapi kita menolak dan mencari berbagai cara lain yang lebih sulit, rumit, dan sebenarnya tidak ada jaminan akan berhasil. Aku hendak memberikan suatu contoh, misalnya di dalam struktur kapitalis.

Orang-orang mengeluhkan kesenjangan sosial, pertama sadarilah hai orang buta bahwa tatanan yang kamu tinggali itulah yang menyebabkan kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial tidak lahir dari permukaan sistem, tapi dari esensi sistem itu sendiri yang menghasilkan kesenjangan sosial, stratifikasi sosial, hierarki sosial, ketidaksetaraan, dan segala bentuk ketidakadilan dan kejahatan sosial lainnya. Kapitalisme dirancang untuk melayani para kapitalis, untuk melayani suatu berhala yang tidak ada makna intrinsiknya sama sekali, bukan untuk melayani manusia-manusia yang sungguh bermakna secara intrinsik.

Jadi saat kamu tahu bahwa kapitalisme itu tidak dirancang untuk melayani manusia melainkan melayani mammon, mengapa kamu masih memegang sistem dosa itu? Preteli saja, bakar di tungku api yang membara, dan gantikan dengan sistem yang dirancang untuk melayani manusia dan esensinya adalah melayani manusia. Hai manusia, ya ini sulit, tapi harus dilakukan, kalau tidak ya siklusnya tidak akan pernah berhenti. Kamu berkata bahwa manusia memiliki psike tertentu, siapa bilang? Apa buktinya? Berikan buktinya kepadaku, dan aku akan belajar keras hanya untuk membuktikan bahwa bukti yang kamu berikan adalah sampah.

Gereja telah membuktikan bahwa manusia dapat hidup demi suatu makna yang lebih tinggi dari sekadar keberhasilan finansial atau “kebebasan finansial” dan keselamatan raga. Justru lebih baik bagi manusia untuk hidup demi makna yang lebih tinggi ini daripada tenggelam di dalam harta benda yang dapat hilang dirusak bencana, pencuri, dan ngengat. Rancanglah ekonomi yang akan membuat manusia bekerja bukan hanya untuk mammon atau dunia ini, tapi bekerja demi suatu nilai yang lebih tinggi, yaitu bekerja bagi perwujudan dirinya sendiri, bagi Allah, dan bagi sesama. Itulah yang ideal, bukan sampah yang sekarang menguasai kita.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...