Aku telah agak kehabisan ide untuk menulis, sebab aku baru saja menjalani proses spiritual yang sangat berat. Jadi aku hendak menulis apapun juga, seperti judul tulisan ini, kurang lebih aku akan melantur untuk waktu yang lama. Namun apa yang ingin aku lanturkan juga aku masih agak bingung, hahaha. Aku ingin menulis tentang Kitab Suci, tapi aku lelah juga melihat Kitab Suci. Kenikmatanku di dunia ini sudah sangat berkurang, ya karena aku terlalu melihat ke atas, ke arah surga. Aku tahu bahwa itu adalah masalah di pihakku.
Masalah itu adalah
bahwa aku terlalu melekat kepada surga. Sehingga aku tidak dapat lagi
bersukacita atas dunia yang fana ini. Aku tidak lagi menikmati dunia ini dan
segala hiburannya, semuanya terkesan hampa dan fana. Ya sedikit saja yang
menghibur aku, seperti beberapa anime, lagu-lagu. Namun baiklah aku maju terus
dan melawan segala perasaanku. Kitab Suci bacaan pertama, mengisahkan tentang
kumpulan orang tidak benar yang berprasangka pada orang baik dan hendak
berencana melawan orang yang baik. Namun tertulis bahwa mereka ini sesat dan
bahwa mereka tidak sadar akan ganjaran kesucian.
Pada bacaan Injil,
kita melihat bagaimana orang Yahudi tidak memahami kitab mereka sendiri dan
barangkali menambah-nambahkan pada Sabda Tuhan. Yesus membenarkan pemahaman
mereka, bahwa makna asal yang tidak dikenal adalah “Allah Bapa”. Ini cukup
menarik dan aku tidak begitu memahami. Apakah makna “tidak dikenal”? Bukankah
orang Yahudi mengenal Allah? Tapi keagamaan orang Yahudi saat itu memang tidak
begitu baik, dan barangkali ini sejalan dengan tradisi kabbalah Yahudi bahwa
Allah itu yang tidak dapat dikenal. Jadi Yesus mengatakan itu sejalan dengan
tradisi mistik Yahudi. Namun Yesus membuat Dia yang tidak dapat dikenal menjadi
dapat dikenal dalam diri-Nya sendiri.
Bagian 2
Setelah segala kritik
dan segala tulisan dibuat, kita harus beranjak ke arah kegiatan lainnya. Atau
kita berharap bahwa kita dapat terus menulis sampai akhir hayat kita. Dasar-dasar
pemahaman filosofis-teologis sudah ditetapkan, tinggal terus membangun ke atas
sampai kepada kesempurnaan pikiran. Tentu kesempurnaan pikiran itu hanya
dimiliki oleh Allah, tapi setidaknya kita dapat menulis dan berkarya sebaik
mungkin yang dapat kita lakukan. Aku merasa aku tergesa-gesa untuk menulis
tentang dunia nyata, tapi Allah memintaku untuk bersabar dan belajar dulu dan
merangkai tulisan tentang dunia yang di atas dan di bawah. Artinya tulisanku
tentang Dia harus disempurnakan.
Namun aku tidak di
sini untuk menyempurnakan tulisan ini, aku di sini untuk melantur. Karena aku
harus membuang waktu sebelum acara yang aku nantikan yaitu EJR Sesi 2.
Masalahnya sekarang, karena aku sekadar membuang waktu untuk suatu acara,
semuanya terasa menjadi hambar dan sulit dilakukan, berbeda jika aku melakukan
ini untuk menikmati diriku. Sayangnya aku tidak lagi menikmati diriku, aku
hanya hidup atas dasar kewajiban saja. Boleh dibilang ini salahku, karena aku
terlalu lama memandang Allah dan surga sehingga aku tidak puas lagi dengan
apapun yang ada di bumi ini. Ah sial. Sekarang aku hanya bisa hidup seperti
robot yang tidak berperasaan, atau setidaknya melawan perasaanku dan hidup
sesuai rasionalitas semata.
Seperti yang telah aku
katakan sebelumnya, mencapai kebahagiaan adalah perkara yang amat rasional,
bukan sekadar emosional. Justru kalau kita bersikap emosional saat mencapai
kebahagiaan, barangkali kita akan jatuh. Kasih, kunci dari kebahagiaan,
bukanlah perkara perasaan, melainkan perkara kehendak. Perasaan kasih timbul
dari kehendak kasih, kehendak untuk meringankan penderitaan sesama. Jika
sebaliknya yang terjadi, kasih kita bergantung pada perasaan kita, namanya kita
tidak mengasihi. Karena kita mengasihi secara bersyarat, sementara kasih sejati
tidak bersyarat.
Kehidupan dalam Allah
itu sederhana, kita saja yang membiarkan diri kita dikuasai oleh
perasaan-perasaan yang tidak teratur sehingga menjadi rumit, akan ditambah
kerumitannya saat kita memilih untuk berdosa, di situ semuanya akan menjadi
sangat rumit. Allah sudah menyediakan jalan yang mudah dan sederhana, tapi kita
menolak dan mencari berbagai cara lain yang lebih sulit, rumit, dan sebenarnya
tidak ada jaminan akan berhasil. Aku hendak memberikan suatu contoh, misalnya
di dalam struktur kapitalis.
Orang-orang
mengeluhkan kesenjangan sosial, pertama sadarilah hai orang buta bahwa tatanan
yang kamu tinggali itulah yang menyebabkan kesenjangan sosial. Kesenjangan
sosial tidak lahir dari permukaan sistem, tapi dari esensi sistem itu sendiri
yang menghasilkan kesenjangan sosial, stratifikasi sosial, hierarki sosial,
ketidaksetaraan, dan segala bentuk ketidakadilan dan kejahatan sosial lainnya. Kapitalisme
dirancang untuk melayani para kapitalis, untuk melayani suatu berhala yang
tidak ada makna intrinsiknya sama sekali, bukan untuk melayani manusia-manusia
yang sungguh bermakna secara intrinsik.
Jadi saat kamu tahu
bahwa kapitalisme itu tidak dirancang untuk melayani manusia melainkan melayani
mammon, mengapa kamu masih memegang sistem dosa itu? Preteli saja, bakar di
tungku api yang membara, dan gantikan dengan sistem yang dirancang untuk
melayani manusia dan esensinya adalah melayani manusia. Hai manusia, ya ini
sulit, tapi harus dilakukan, kalau tidak ya siklusnya tidak akan pernah
berhenti. Kamu berkata bahwa manusia memiliki psike tertentu, siapa bilang? Apa
buktinya? Berikan buktinya kepadaku, dan aku akan belajar keras hanya untuk
membuktikan bahwa bukti yang kamu berikan adalah sampah.
Gereja telah
membuktikan bahwa manusia dapat hidup demi suatu makna yang lebih tinggi dari
sekadar keberhasilan finansial atau “kebebasan finansial” dan keselamatan raga.
Justru lebih baik bagi manusia untuk hidup demi makna yang lebih tinggi ini
daripada tenggelam di dalam harta benda yang dapat hilang dirusak bencana, pencuri,
dan ngengat. Rancanglah ekonomi yang akan membuat manusia bekerja bukan hanya
untuk mammon atau dunia ini, tapi bekerja demi suatu nilai yang lebih tinggi,
yaitu bekerja bagi perwujudan dirinya sendiri, bagi Allah, dan bagi sesama.
Itulah yang ideal, bukan sampah yang sekarang menguasai kita.
No comments:
Post a Comment