Awal Tulisan
Pada awalnya, apa yang
hadir? Apakah itu Allah, atau suatu hal yang lain? Ada banyak cara untuk
mengawali suatu tulisan dan juga mengawali suatu struktur gagasan. Namun, dalam
pandanganku tidak ada awal yang paling baik. Hal yang ada adalah pilihan kita,
dan selanjutnya kita harus mampu menghasilkan buah dari benih itu. Maka aku
sendiri telah memilih untuk mengawali tulisanku dengan kenyataan tersebut,
bahwa tidak ada awal yang sempurna, kecuali jika Allah sendiri yang menulis,
maka awal itu pastilah akan menjadi sempurna. Namun barangkali tidak, karena
sekalipun Allah adalah sempurna, ciptaan-Nya tidaklah sempurna. Bagaimanapun
juga, sekarang kita harus memperkerjakan awal ini menjadi suatu tulisan yang
bermakna.
Filsafat dan
Teologi
Kebenaran seringkali
dipandang harus disertai berbagai bukti yang berasal dari pemikiran orang lain.
Tidak ada lagi pemikiran asli, dalam satu sudut pandang ini sangat benar dan
aku pun percaya dengan pandangan ini. Maka, rasanya upayaku untuk menembus
benteng ini akan sia-sia. Namun aku menulis atas perintah Allah, dan bukan atas
kemauanku sendiri, dan perintah Allah adalah menulis atas dasar pengalamanku
sendiri. Maka segala pemahaman dan pengertian yang tercatat di dalam tulisan
ini berasal dari pengalamanku sendiri pula, bukan dari buku-buku yang tidak
pernah aku baca.
Filsafat adalah upaya
pencarian manusia terhadap kebenaran, terhadap kenyataan yang sungguh nyata. Setidaknya
ini adalah pengalamanku, bagaimana aku bergulat dengan filsafat selama
bertahun-tahun. Tujuan akhir filsafat dalam pengalamanku adalah Allah dan hanya
Allah semata. Filsafat adalah upaya manusia untuk mencapai Allah dengan lebih
dekat lagi, menembus segala doktrin dan ritual. Namun, karena ini adalah upaya
manusia, maka kita ditakdirkan untuk jatuh dan gagal berkali-kali, hingga kita
mencapai suatu kegelapan akal budi di mana kita tidak dapat melakukan apapun
lagi.
Dalam sejarah,
berdasarkan pengamatanku yang samar-samar, filsafat menjauh dari pembicaraan
tentang yang Ilahi dan menjadi pembicaraan tentang dunia yang terlihat saja. Namun
dalam seluruh sejarah filsafat, dalam hatiku selalu ada secercah cahaya yang
Ilahi. Filsafat bukan hanya tentang akal budi dan pikiran yang baik saja, tapi
juga tentang hati nurani yang baik pula. Manusia kerap kali tidak menyadari
bahwa mereka dan pikiran mereka dikendalikan oleh berbagai variabel yang tidak
mereka sadari, sehingga pikiran mereka diwarnai oleh sejarah mereka secara
tidak sadar. Hal ini menyebabkan keberagaman pemikiran manusia.
Keberagaman sekarang
dianggap sebagai hal yang baik, tapi tidak semua keberagaman itu baik. Ada
batas dari keberagaman, dan salah satu batas itu adalah kebenaran. Filsafat
yang terpecah-pecah, atau beragam, telah memisahkan manusia dari penciptanya,
dan karena itu timbul suatu cerita kemanusiaan dengan maknanya tersendiri. Cerita
tentang manusia tidak lagi melulu tentang pencipta dan ciptaan, tapi suatu
kumpulan yang berusaha menentukan diri mereka sendiri. Di sinilah filsafat lama
kelamaan mulai berbicara tentang manusia saja dan tindakan mereka, bukan
tentang Sang Ilahi lagi.
Karena itu, timbullah
suatu gerakan dari Allah untuk menarik kembali hati manusia kepada-Nya, dengan
suatu hal bernama teologi. Teologi adalah anugrah dari Allah, pewahyuan
dari-Nya tentang Dia dan tentang kita yang diterjemahkan kepada bahasa manusia
menggunakan filsafat. Teologi bukanlah hasil upaya manusia, tapi pemberian dari
Sang Ilahi, supaya kita dapat semakin mengenal Dia. Maka teologi
dipertentangkan dengan filsafat yang merupakan upaya manusia mencari Allah,
karena teologi adalah upaya Allah dalam memanggil dan mencari manusia yang
sudah meninggalkan Dia.
Pada masa kini,
seringkali kesannya teologi kalah oleh filsafat dan ilmu-ilmu dunia. Namun
karena teologi adalah tindakan Allah sendiri, maka pada akhirnya teologi akan
berhasil dalam tujuannya, yaitu mempersatukan kembali Allah dan manusia. Namun
untuk itu, dibutuhkan kerjasama antara manusia dan Allah. Allah yang
memberikan, dan manusia yang harus menerima dan kalau perlu, mencari Dia. Saat
persatuan ini terjadi, maka filsafat akan kembali kepada asalnya, yaitu upaya
pencarian manusia terhadap Allah. Di situ akan terjadi suatu perkawinan, yaitu
antara filsafat dan teologi.
Dalam tulisan ini,
perkawinan itulah yang hendak aku ungkapkan dalam pengalaman-pengalaman
filosofis dan teologisku. Maka tulisanku bukan hanya filosofis atau teologis,
tapi bercorak keduanya. Tulisanku adalah suatu upaya untuk bagi diriku sendiri
pada awalnya, dan barangkali berikutnya bagi orang lain, mempersatukan kembali
pikiran manusia dan pikiran Allah, dan akhirnya manusia dan Allah sendiri. Hal
ini harus terjadi, karena manusia hanya menemukan kepenuhan maknanya di dalam
Allah, penciptanya. Ya, di luar Allah ada suatu makna, tapi itu pun berasal
dari Allah. Sebab segala berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Kepribadian Tulisan
Ini
Tulisan ini bukan
hasil studi yang komprehensif terhadap berbagai pemikiran yang tercatat dalam
berbagai tulisan, dan menilai semua pemikiran tersebut. Tulisan ini adalah
rekaman pengalaman pribadiku terhadap kenyataan sehingga berbuah menjadi suatu
pemahaman tertentu tentang kenyataan. Maka tidak ada klaim kebenaran di dalam
tulisan ini, melainkan ada klaim kepercayaan. Artinya, aku percaya bahwa apa
yang aku alami dan apa yang aku ketahui adalah benar, tapi aku juga percaya
bahwa aku mungkin saja salah.
Karena itu, tulisan
ini tidak bersumber, selain dari pengalamanku sendiri. Lagipula, aku tidak
menulis untuk meyakinkan orang terhadap suatu gagasan tertentu. Aku menulis
atas perintah Allah, dan barangkali selain itu aku menulis hanya karena menulis
tentang diriku sendiri itu sedikit saja menghibur hatiku. Anggaplah tulisan ini
seperti suatu otobiografi filosofis dan teologis. Rekaman dan catatan dari
pemikiranku sendiri yang pertama-tama ditulis bukan untuk orang lain tapi untuk
diriku sendiri. Andaikan tulisan ini ditujukan kepada orang lain, pastilah
sudah ada puluhan jika bukan ratusan sitasi dan referensi di dalam daftar
pustaka yang panjang.
Dulu, argumenku untuk
tidak menggunakan sumber adalah karena tidak ada yang memiliki monopoli
terhadap kebenaran. Argumen ini masih sedikit berlaku, karena aku cenderung
meragukan segala pemikiran kecuali aku sendiri telah melihat bahwa pemikiran
itu baik dan benar. Jadi aku cenderung percaya kepada diriku sendiri dan bukan
kepada orang lain. Hal ini masih cenderung berlaku, maka kepercayaanku bukan
berdasar pada otoritas, tapi berdasarkan penglihatan dan pengalamanku sendiri,
sebagaimana yang akan tertulis dalam tulisan ini.
Pencarian Makna
Manusia mencari makna
hidupnya. Ini adalah suatu perilaku yang eksklusif pada manusia, kita tidak
melihat hewan-hewan lainnya bergumul tentang makna hidup mereka. Pergumulan dan
perjalanan untuk menemukan makna hidup dan memenuhi makna tersebut melampaui
sekadar pertahanan hidup. Memang ada kondisi di mana dalam kondisi penuh ancaman,
ketahanan hidup menjadi satu-satunya makna yang sungguh nyata. Namun, ada juga
pandangan lain di mana ada yang lebih berharga dan bermakna daripada kelangsungan
hidup biologis semata, dan ini tidak eksklusif pada agama.
Apakah makna hidup yang
sejati? Dalam pandanganku, makna itu ada di depan mata, tapi ada tirai yang
tebal sehingga sulit untuk melihatnya secara jelas. Sehingga aku dapat
mengatakannya secara samar-samar, tapi aku tidak mampu menjelaskannya dengan
mendetil. Mayoritas manusia setuju bahwa makna umum kehidupan adalah
kebahagiaan. Namun, hal yang menjadi pertanyaan sampai saat ini adalah apa kebahagiaan
itu? Dalam arti, apa yang akan membuat kita bahagia? Apa yang mengarahkan kita
kepada kebahagiaan? Itulah pergumulan abadi manusia.
Tulisan ini
menggambarkan perjalananku mencari makna tersebut, baik makna bagi diriku
sendiri ataupun makna bagi dunia ini. Sepanjang sejarah perjalananku, aku
menyadari bahwa makna itu sekalipun bersifat sentimental, harus diteliti dengan
rasionalitas tinggi. Maka perkara kebahagiaan tidak dapat dibicarakan dengan
hati nurani saja, tapi juga dimusyawarahkan dengan kepala dingin. Sebab, kita tidak
tinggal di dalam kenyataan yang anarkis, melainkan tunduk pada hukum-hukum yang
tidak dapat dilawan. Maka hukum ini harus kita pahami untuk mampu mencapai
kebahagiaan.
Cara kita memperoleh
hukum ini adalah dengan kebenaran. Karena itu dalam pengalamanku, kebenaran dan
kebahagiaan terkait dengan erat. Kebenaran yang kita cari terutama adalah kebenaran
tentang kebahagiaan, atau makna sejati hidup manusia. Namun untuk mencapai itu,
kita harus memahami kebenaran pemerintahan tertinggi yang menguasai kita, yaitu
pemerintahan kenyataan dan hukum kenyataan. Sebab ternyata, kebahagiaan bukanlah
objek tertinggi di dalam hukum kenyataan, melainkan hanyalah subjek yang kurang
lebih setara dengan manusia yang mencarinya. Jadi, untuk menentukan makna hidup
yang sejati kita harus menguasai kenyataan dulu, baru dari situ kita dapat
melihat segala hal dan membuat keputusan kita.
Kebenaran Pertama
Saat orang berkata “kebenaran
pertama”, ada banyak hal yang dapat dimaksudkan. Kebenaran pertama mungkin saja
berarti kebenaran yang paling mulia, atau yang paling penting. Namun maksudku
adalah kebenaran pertama yang dapat kita ketahui. Menurut Descartes, kebenaran
ini adalah tentang keberadaan diri sendiri. Namun aku melihatnya dalam cara
lain. Kita tidak secara langsung melihat diri kita sendiri. Dalam suatu
perumpamaan, kita tidak dapat melihat wajah kita secara langsung. Kita
pertama-tama tidak melihat subjek, tapi kita melihat objek. Seluruh hidup kita
hal pertama yang tampil adalah objek-objek, benda-benda.
Berikutnya kita pun
tidak secara langsung memiliki benda-benda itu. Tergantung kepercayaan pertama
yang kita miliki, hal yang kita miliki hanyalah penampilan, penampakan, dan
rasa dari segala benda itu, yang kita namakan pengalaman. Begitu kita menyadari
bahwa kita hanya memiliki pengalaman, kita mulai mempertanyakan apakah ada
keberadaan di balik pengalaman atau semuanya pada dasarnya hanyalah pengalaman.
Itu bukan satu-satunya pendekatan, ada pendekatan lain, yaitu bahwa ini semua
permainan kata-kata, bahwa apapun istilah atau gaya bahasa yang kita gunakan,
semua menunjuk pada kenyataan yang sama.
Secara intuitif kita
mengenali bahwa ada suatu hal yang dinamakan benda dan keberadaan, suatu esensi
yang terpisah dari sekadar pengalaman. Intuisi ini menyatakan bahwa benda
mengakibatkan pengalaman saat berinteraksi atau bersentuhan dengan kesadaran
kita. Namun ada pandangan lain yang aku sendiri pegang, bahwa benda yang ada
hanyalah pengalaman, atau keduanya adalah satu kesatuan, walau tidak sama
sepenuhnya. Apapun tafsir terhadap kenyataan ini tidak begitu penting pada saat
ini. Hal yang penting adalah kita tahu ada kebenaran pertama yang dapat kita ketahui,
yaitu adanya pengalaman.
Tafsir Pengalaman
Setelah beroleh
kebenaran pertama, bahwa ada pengalaman, bagaimana kita memaknai dan menafsirkan
pengalaman-pengalaman kita? Cukup mudah untuk berkata, “Aku melihat ini,” atau,
“Aku melihat itu.” Lalu, “Aku mendengar ini, aku mendengar itu.” Namun apa
maksud dari segala pengalaman itu? Dalam hidup kita diajarkan bagaimana cara
memaknai segala pengalaman ini. Namun dalam tulisan ini aku hendak
mengungkapkan cara mempertanyakan makna segalanya dalam pandanganku sendiri,
dan memulai suatu tafsir yang baru.
Intuisi atau
Kepercayaan dan Asumsi Aksiomatis
Cara kita menafsir
pengalaman kita ditentukan oleh suatu hal yang dinamakan dengan intuisi, tapi
intuisi hanyalah kata selubung untuk suatu hal yang aku namakan kepercayaan dan
asumsi aksiomatis. Kepercayaan dan asumsi aksiomatis adalah serangkaian
kepercayaan dan asumsi, artinya hal-hal yang kita pandang benar, yang
aksiomatis, artinya menjadi dasar segala kepercayaan kita, bahkan mendahului kebenaran
pertama tentang pengalaman. Kebenaran tentang pengalaman memiliki dasar yaitu
dirinya sendiri, tapi kepercayaan aksiomatis tidak jelas karena berada dalam
alam bawah sadar yang gelap dan samar.
Dari mana asal
kepercayaan aksiomatis? Tidak jelas pula, mungkin saja ada kepercayaan yang
asli dari jiwa, artinya saat manusia diciptakan dia sudah memiliki kepercayaan
itu, atau mungkin saja saat manusia tumbuh, lingkungan mengisi dan membentuk
kepercayaan tersebut di dalam diri mereka. Namun tidak begitu penting, apapun
asalnya, kepercayaan aksiomatis sudah ada di dalam diri kita sebelum saat
sekarang, dan karena itu kita memiliki kepercayaan-kepercayaan tertentu dan
memahami dunia dalam cara tertentu. Jadi mungkin saja kepercayaan kita saat ini
bukanlah salah kita, tapi begitu kita sadar, hal ini menjadi tanggung jawab
kita.
Kepercayaan tentang
Pengalaman dan Keberadaan
Kepercayaan pertama
yang dapat kita bahas adalah tentang relasi antara pengalaman dan keberadaan. Kebenaran
pertama menyatakan adanya pengalaman, tapi kebenaran itu juga menyiratkan bahwa
adanya keberadaan. Jadi dari kebenaran pertama segera timbul kebenaran kedua
yaitu tentang keberadaan. Namun, relasi antara pengalaman dan keberadaan tidak
langsung nampak, dan kodrat sejati kedua hal ini juga tidak langsung jelas.
Sementara itu, tidak ada metode yang nampak untuk mengetahui hal-hal ini, kepercayaan
yang kita miliki seolah-olah ada begitu saja dan kita harus meneliti
masing-masing dan membuat keputusan.
Kepercayaan pertama,
bahwa pengalaman adalah subtipe dari keberadaan. Kalau kita gambarkan dalam
suatu himpunan, ada himpunan keberadaan dan di dalamnya ada himpunan
pengalaman. Maka semua pengalaman adalah keberadaan, tapi tidak semua keberadaan
adalah pengalaman. Kepercayaan ini juga percaya bahwa relasi antara keberadaan
dan pengalaman adalah relasi sebab dan akibat. Keberadaan adalah sebab dan
pengalaman adalah akibat. Hal ini menyiratkan keterkaitan di permukaan, tapi
perpisahan di kedalaman seluruh keberadaan.
Kepercayaan kedua,
bahwa pengalaman dan keberadaan sederajat dan setara. Dalam himpunan, himpunan pengalaman
dan keberadaan berbeda, tapi menempati ruang himpunan yang sama. Artinya semua
keberadaan adalah pengalaman dan semua pengalaman juga adalah keberadaan. Dengan
itu relasi antara keberadaan dan pengalaman adalah relasi kesatuan, dan bukan
relasi sebab dan akibat. Sebab relasi sebab dan akibat menandakan
ketidaksetaraan atau kesenjangan antara kedua hal ini. Bertentangan dengan
kepercayaan pertama, ada kesatuan di kedalaman keberadaan.
Ada beberapa gagasan
lain yang kurang tepat walau dekat dengan kebenaran. Misalnya gagasan bahwa kedua
himpunan adalah satu himpunan saja. Ini salah karena kepercayaan kuat tentang
keberadaan dan pengalaman. Pengalaman adalah suatu benda yang jelas dan tegas,
yang secara langsung nampak bagi kita, karena itulah esensi dari suatu
penampakan. Sementara keberadaan merujuk pada kehadiran abstrak atau kemampuan
suatu benda untuk mempengaruhi yang lainnya, dan juga berada sebagai dirinya sendiri.
Gagasan yang kurang
tepat berikutnya adalah kedua himpunan sama sekali terpisah. Ini salah karena
jelas-jelas pengalaman adalah suatu keberadaan. Ada pula gagasan bahwa himpunan
pengalaman adalah himpunan yang lebih besar. Ini salah karena semua pengalaman
adalah keberadaan, tidak mungkin ada pengalaman yang bukan keberadaan. Namun
konsep suatu benda yang ada di luar keberadaan juga akan memunculkan pertanyaan
dan masalahnya sendiri. Karena itu, 2 kepercayaan yang dapat dipertimbangkan
dengan serius hanyalah kepercayaan 1 dan kepercayaan 2.
Aku sendiri adalah
pemercaya kepercayaan 2, bahwa setiap keberadaan adalah keberadaan dan
pengalaman secara sekaligus. Namun aku tidak begitu tahu apa bukti atau dasar
dari kepercayaan 2. Namun kita dapat berbicara atau menulis panjang dan lebar
tentang kedua kepercayaan ini. Implikasi dari kepercayaan 1 adalah pada
dasarnya keberadaan dan pengalaman terpisah. Sehingga tanpa pengalaman,
keberadaan dapat tetap ada, tapi tanpa keberadaan pengalaman tidak akan ada. Hal
ini menandakan ada 2 kelompok keberadaan dengan posisi tidak setara. Anggaplah
ada benda dan ada gambar benda. Tanpa benda, tidak ada gambar, tapi benda dapat
bertahan tanpa gambar.
Implikasi dari
kepercayaan 2 adalah pada dasarnya keberadaan dan pengalaman tersatukan.
Sehingga tanpa salah satu, yang lain akan hilang. Ibaratnya kalau tidak ada
benda tidak ada gambar, tapi kalau tidak ada gambar, maka tidak akan ada benda
juga. Jadi kedua hal, yaitu keberadaan dan pengalaman sama-sama membutuhkan,
sama-sama bergantung, sama-sama menyebabkan dan disebabkan oleh yang lain. Ini
adalah gagasan yang jarang kutemui di luar sana, tapi ada satu alasan aku
percaya pada kepercayaan ini. Namun belum waktunya untuk menyatakan alasannya, dan
sejauh ini sudah cukup pembahasan tentang kepercayaan ini. Kelak akan ada
cahaya yang menerangkan kepercayaan ini.
Kepercayaan tentang
Perubahan
Suatu pengalaman yang
kita alami secara konsisten adalah perubahan. Perubahan terkesan jelas, proses
berawal dan berakhirnya berbagai pengalaman. Namun makna perubahan juga tidak
begitu jelas. Ada 2 kepercayaan yang dapat kita pertimbangkan, bahwa perubahan bersifat
ontologis, dan perubahan bersifat fenomenal. Perubahan ontologis artinya
ontologi, atau keberadaan benda-benda sungguh berawal dan berakhir. Perubahan
fenomenal artinya hanya fenomena, atau pengalaman benda-benda yang berawal dan
berakhir, dan itu pun juga hanya suatu fenomena, atau gejala, bukan kenyataan
yang sejati.
Mungkin pembaca
berpikir, bahwa jika aku memegang kepercayaan kesatuan ontologi-fenomena, maka
aku harus percaya pada kepercayaan ontologis. Kenyataannya tidak, dan aku akan
menjelaskan. Sebab aku percaya bahwa kesatuan benda pada dasarnya kekal. Kita
hanya bergerak dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. Namun tidak dapat
dibantah bahwa dalam perubahan ada suatu awal dan akhir, tapi awal dan akhir
ini sifatnya subjektif, artinya hanya dari satu perspektif saja dan perspektif
itu yang berubah. Jadi segala kesan penciptaan dan kehancuran yang terjadi,
hanya terjadi dari suatu perspektif.
Kepercayaan tentang
Sebab dan Akibat
Ada suatu kepercayaan
tentang sebab dan akibat yang aku miliki. Hal ini adalah pertimbangan dari 2
kepercayaan, di mana salah satu kepercayaan jarang dipikirkan oleh orang lain. Kepercayaan
1 adalah kepercayaan permukaan, bahwa sebab dan akibat terjadi di alam yang
terlihat. Misalnya, bola melayang karena dilempar manusia. Namun kepercayaan 2
diperoleh dari mempertanyakan kepercayaan 1, mengapa bola melayang karena
dilempar manusia? Jawabannya sederhana, karena ada hukum yang mengatur
segalanya. Artinya sebab dan akibat yang sejati adalah hukum kenyataan
menentukan urut-urutan kejadian yang kita alami dalam alam yang terlihat.
Apakah hukum itu?
Hukum adalah semacam keteraturan tak terlihat dalam kenyataan ini yang menentukan
bagaimana segala kenyataan berlaku, secara khusus dalam perubahan. Namun, sebenarnya
hukum tidak hanya menentukan perubahan, tapi juga ketiadaan perubahan, maka
hukum juga menentukan segala sifat benda, dan artinya hukum menentukan segala
benda. Hukum ini tidak buta, hukum ini cerdas, karena dia dapat memahami
segalanya untuk menentukan segalanya, maka muncullah masalah berikutnya,
tentang kecerdasan hukum.
Kepercayaan tentang
Kecerdasan Hukum
Agaknya kita telah
melenceng jauh dari masalah pertama tentang keberadaan dan pengalaman, tapi aku
tidak peduli. Aku digerakkan oleh suatu daya yang tak terlihat, dan aku hendak
menyelesaikan semua ini hari ini juga. Apakah hukum mengetahui segala sesuatu? Ada
2 kemungkinan, hukum itu bodoh, atau hukum itu cerdas. Kebodohan hukum rasanya
sulit dipercaya, karena apa yang menjamin bahwa hukum itu akan bekerja dengan berhasil
jika tidak cerdas? Namun baiknya kita tunda dulu masalah ini sampai waktunya
tiba
No comments:
Post a Comment