Friday, April 1, 2022

Tulisan Pertama Edisi 1

Awal Tulisan

Pada awalnya, apa yang hadir? Apakah itu Allah, atau suatu hal yang lain? Ada banyak cara untuk mengawali suatu tulisan dan juga mengawali suatu struktur gagasan. Namun, dalam pandanganku tidak ada awal yang paling baik. Hal yang ada adalah pilihan kita, dan selanjutnya kita harus mampu menghasilkan buah dari benih itu. Maka aku sendiri telah memilih untuk mengawali tulisanku dengan kenyataan tersebut, bahwa tidak ada awal yang sempurna, kecuali jika Allah sendiri yang menulis, maka awal itu pastilah akan menjadi sempurna. Namun barangkali tidak, karena sekalipun Allah adalah sempurna, ciptaan-Nya tidaklah sempurna. Bagaimanapun juga, sekarang kita harus memperkerjakan awal ini menjadi suatu tulisan yang bermakna.

Filsafat dan Teologi

Kebenaran seringkali dipandang harus disertai berbagai bukti yang berasal dari pemikiran orang lain. Tidak ada lagi pemikiran asli, dalam satu sudut pandang ini sangat benar dan aku pun percaya dengan pandangan ini. Maka, rasanya upayaku untuk menembus benteng ini akan sia-sia. Namun aku menulis atas perintah Allah, dan bukan atas kemauanku sendiri, dan perintah Allah adalah menulis atas dasar pengalamanku sendiri. Maka segala pemahaman dan pengertian yang tercatat di dalam tulisan ini berasal dari pengalamanku sendiri pula, bukan dari buku-buku yang tidak pernah aku baca.

Filsafat adalah upaya pencarian manusia terhadap kebenaran, terhadap kenyataan yang sungguh nyata. Setidaknya ini adalah pengalamanku, bagaimana aku bergulat dengan filsafat selama bertahun-tahun. Tujuan akhir filsafat dalam pengalamanku adalah Allah dan hanya Allah semata. Filsafat adalah upaya manusia untuk mencapai Allah dengan lebih dekat lagi, menembus segala doktrin dan ritual. Namun, karena ini adalah upaya manusia, maka kita ditakdirkan untuk jatuh dan gagal berkali-kali, hingga kita mencapai suatu kegelapan akal budi di mana kita tidak dapat melakukan apapun lagi.

Dalam sejarah, berdasarkan pengamatanku yang samar-samar, filsafat menjauh dari pembicaraan tentang yang Ilahi dan menjadi pembicaraan tentang dunia yang terlihat saja. Namun dalam seluruh sejarah filsafat, dalam hatiku selalu ada secercah cahaya yang Ilahi. Filsafat bukan hanya tentang akal budi dan pikiran yang baik saja, tapi juga tentang hati nurani yang baik pula. Manusia kerap kali tidak menyadari bahwa mereka dan pikiran mereka dikendalikan oleh berbagai variabel yang tidak mereka sadari, sehingga pikiran mereka diwarnai oleh sejarah mereka secara tidak sadar. Hal ini menyebabkan keberagaman pemikiran manusia.

Keberagaman sekarang dianggap sebagai hal yang baik, tapi tidak semua keberagaman itu baik. Ada batas dari keberagaman, dan salah satu batas itu adalah kebenaran. Filsafat yang terpecah-pecah, atau beragam, telah memisahkan manusia dari penciptanya, dan karena itu timbul suatu cerita kemanusiaan dengan maknanya tersendiri. Cerita tentang manusia tidak lagi melulu tentang pencipta dan ciptaan, tapi suatu kumpulan yang berusaha menentukan diri mereka sendiri. Di sinilah filsafat lama kelamaan mulai berbicara tentang manusia saja dan tindakan mereka, bukan tentang Sang Ilahi lagi.

 

Karena itu, timbullah suatu gerakan dari Allah untuk menarik kembali hati manusia kepada-Nya, dengan suatu hal bernama teologi. Teologi adalah anugrah dari Allah, pewahyuan dari-Nya tentang Dia dan tentang kita yang diterjemahkan kepada bahasa manusia menggunakan filsafat. Teologi bukanlah hasil upaya manusia, tapi pemberian dari Sang Ilahi, supaya kita dapat semakin mengenal Dia. Maka teologi dipertentangkan dengan filsafat yang merupakan upaya manusia mencari Allah, karena teologi adalah upaya Allah dalam memanggil dan mencari manusia yang sudah meninggalkan Dia.

Pada masa kini, seringkali kesannya teologi kalah oleh filsafat dan ilmu-ilmu dunia. Namun karena teologi adalah tindakan Allah sendiri, maka pada akhirnya teologi akan berhasil dalam tujuannya, yaitu mempersatukan kembali Allah dan manusia. Namun untuk itu, dibutuhkan kerjasama antara manusia dan Allah. Allah yang memberikan, dan manusia yang harus menerima dan kalau perlu, mencari Dia. Saat persatuan ini terjadi, maka filsafat akan kembali kepada asalnya, yaitu upaya pencarian manusia terhadap Allah. Di situ akan terjadi suatu perkawinan, yaitu antara filsafat dan teologi.

Dalam tulisan ini, perkawinan itulah yang hendak aku ungkapkan dalam pengalaman-pengalaman filosofis dan teologisku. Maka tulisanku bukan hanya filosofis atau teologis, tapi bercorak keduanya. Tulisanku adalah suatu upaya untuk bagi diriku sendiri pada awalnya, dan barangkali berikutnya bagi orang lain, mempersatukan kembali pikiran manusia dan pikiran Allah, dan akhirnya manusia dan Allah sendiri. Hal ini harus terjadi, karena manusia hanya menemukan kepenuhan maknanya di dalam Allah, penciptanya. Ya, di luar Allah ada suatu makna, tapi itu pun berasal dari Allah. Sebab segala berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Kepribadian Tulisan Ini

Tulisan ini bukan hasil studi yang komprehensif terhadap berbagai pemikiran yang tercatat dalam berbagai tulisan, dan menilai semua pemikiran tersebut. Tulisan ini adalah rekaman pengalaman pribadiku terhadap kenyataan sehingga berbuah menjadi suatu pemahaman tertentu tentang kenyataan. Maka tidak ada klaim kebenaran di dalam tulisan ini, melainkan ada klaim kepercayaan. Artinya, aku percaya bahwa apa yang aku alami dan apa yang aku ketahui adalah benar, tapi aku juga percaya bahwa aku mungkin saja salah.

Karena itu, tulisan ini tidak bersumber, selain dari pengalamanku sendiri. Lagipula, aku tidak menulis untuk meyakinkan orang terhadap suatu gagasan tertentu. Aku menulis atas perintah Allah, dan barangkali selain itu aku menulis hanya karena menulis tentang diriku sendiri itu sedikit saja menghibur hatiku. Anggaplah tulisan ini seperti suatu otobiografi filosofis dan teologis. Rekaman dan catatan dari pemikiranku sendiri yang pertama-tama ditulis bukan untuk orang lain tapi untuk diriku sendiri. Andaikan tulisan ini ditujukan kepada orang lain, pastilah sudah ada puluhan jika bukan ratusan sitasi dan referensi di dalam daftar pustaka yang panjang.

 

 

Dulu, argumenku untuk tidak menggunakan sumber adalah karena tidak ada yang memiliki monopoli terhadap kebenaran. Argumen ini masih sedikit berlaku, karena aku cenderung meragukan segala pemikiran kecuali aku sendiri telah melihat bahwa pemikiran itu baik dan benar. Jadi aku cenderung percaya kepada diriku sendiri dan bukan kepada orang lain. Hal ini masih cenderung berlaku, maka kepercayaanku bukan berdasar pada otoritas, tapi berdasarkan penglihatan dan pengalamanku sendiri, sebagaimana yang akan tertulis dalam tulisan ini.

Pencarian Makna

Manusia mencari makna hidupnya. Ini adalah suatu perilaku yang eksklusif pada manusia, kita tidak melihat hewan-hewan lainnya bergumul tentang makna hidup mereka. Pergumulan dan perjalanan untuk menemukan makna hidup dan memenuhi makna tersebut melampaui sekadar pertahanan hidup. Memang ada kondisi di mana dalam kondisi penuh ancaman, ketahanan hidup menjadi satu-satunya makna yang sungguh nyata. Namun, ada juga pandangan lain di mana ada yang lebih berharga dan bermakna daripada kelangsungan hidup biologis semata, dan ini tidak eksklusif pada agama.

Apakah makna hidup yang sejati? Dalam pandanganku, makna itu ada di depan mata, tapi ada tirai yang tebal sehingga sulit untuk melihatnya secara jelas. Sehingga aku dapat mengatakannya secara samar-samar, tapi aku tidak mampu menjelaskannya dengan mendetil. Mayoritas manusia setuju bahwa makna umum kehidupan adalah kebahagiaan. Namun, hal yang menjadi pertanyaan sampai saat ini adalah apa kebahagiaan itu? Dalam arti, apa yang akan membuat kita bahagia? Apa yang mengarahkan kita kepada kebahagiaan? Itulah pergumulan abadi manusia.

Tulisan ini menggambarkan perjalananku mencari makna tersebut, baik makna bagi diriku sendiri ataupun makna bagi dunia ini. Sepanjang sejarah perjalananku, aku menyadari bahwa makna itu sekalipun bersifat sentimental, harus diteliti dengan rasionalitas tinggi. Maka perkara kebahagiaan tidak dapat dibicarakan dengan hati nurani saja, tapi juga dimusyawarahkan dengan kepala dingin. Sebab, kita tidak tinggal di dalam kenyataan yang anarkis, melainkan tunduk pada hukum-hukum yang tidak dapat dilawan. Maka hukum ini harus kita pahami untuk mampu mencapai kebahagiaan.

Cara kita memperoleh hukum ini adalah dengan kebenaran. Karena itu dalam pengalamanku, kebenaran dan kebahagiaan terkait dengan erat. Kebenaran yang kita cari terutama adalah kebenaran tentang kebahagiaan, atau makna sejati hidup manusia. Namun untuk mencapai itu, kita harus memahami kebenaran pemerintahan tertinggi yang menguasai kita, yaitu pemerintahan kenyataan dan hukum kenyataan. Sebab ternyata, kebahagiaan bukanlah objek tertinggi di dalam hukum kenyataan, melainkan hanyalah subjek yang kurang lebih setara dengan manusia yang mencarinya. Jadi, untuk menentukan makna hidup yang sejati kita harus menguasai kenyataan dulu, baru dari situ kita dapat melihat segala hal dan membuat keputusan kita.

Kebenaran Pertama

Saat orang berkata “kebenaran pertama”, ada banyak hal yang dapat dimaksudkan. Kebenaran pertama mungkin saja berarti kebenaran yang paling mulia, atau yang paling penting. Namun maksudku adalah kebenaran pertama yang dapat kita ketahui. Menurut Descartes, kebenaran ini adalah tentang keberadaan diri sendiri. Namun aku melihatnya dalam cara lain. Kita tidak secara langsung melihat diri kita sendiri. Dalam suatu perumpamaan, kita tidak dapat melihat wajah kita secara langsung. Kita pertama-tama tidak melihat subjek, tapi kita melihat objek. Seluruh hidup kita hal pertama yang tampil adalah objek-objek, benda-benda.

Berikutnya kita pun tidak secara langsung memiliki benda-benda itu. Tergantung kepercayaan pertama yang kita miliki, hal yang kita miliki hanyalah penampilan, penampakan, dan rasa dari segala benda itu, yang kita namakan pengalaman. Begitu kita menyadari bahwa kita hanya memiliki pengalaman, kita mulai mempertanyakan apakah ada keberadaan di balik pengalaman atau semuanya pada dasarnya hanyalah pengalaman. Itu bukan satu-satunya pendekatan, ada pendekatan lain, yaitu bahwa ini semua permainan kata-kata, bahwa apapun istilah atau gaya bahasa yang kita gunakan, semua menunjuk pada kenyataan yang sama.

Secara intuitif kita mengenali bahwa ada suatu hal yang dinamakan benda dan keberadaan, suatu esensi yang terpisah dari sekadar pengalaman. Intuisi ini menyatakan bahwa benda mengakibatkan pengalaman saat berinteraksi atau bersentuhan dengan kesadaran kita. Namun ada pandangan lain yang aku sendiri pegang, bahwa benda yang ada hanyalah pengalaman, atau keduanya adalah satu kesatuan, walau tidak sama sepenuhnya. Apapun tafsir terhadap kenyataan ini tidak begitu penting pada saat ini. Hal yang penting adalah kita tahu ada kebenaran pertama yang dapat kita ketahui, yaitu adanya pengalaman.

Tafsir Pengalaman

Setelah beroleh kebenaran pertama, bahwa ada pengalaman, bagaimana kita memaknai dan menafsirkan pengalaman-pengalaman kita? Cukup mudah untuk berkata, “Aku melihat ini,” atau, “Aku melihat itu.” Lalu, “Aku mendengar ini, aku mendengar itu.” Namun apa maksud dari segala pengalaman itu? Dalam hidup kita diajarkan bagaimana cara memaknai segala pengalaman ini. Namun dalam tulisan ini aku hendak mengungkapkan cara mempertanyakan makna segalanya dalam pandanganku sendiri, dan memulai suatu tafsir yang baru.

Intuisi atau Kepercayaan dan Asumsi Aksiomatis

Cara kita menafsir pengalaman kita ditentukan oleh suatu hal yang dinamakan dengan intuisi, tapi intuisi hanyalah kata selubung untuk suatu hal yang aku namakan kepercayaan dan asumsi aksiomatis. Kepercayaan dan asumsi aksiomatis adalah serangkaian kepercayaan dan asumsi, artinya hal-hal yang kita pandang benar, yang aksiomatis, artinya menjadi dasar segala kepercayaan kita, bahkan mendahului kebenaran pertama tentang pengalaman. Kebenaran tentang pengalaman memiliki dasar yaitu dirinya sendiri, tapi kepercayaan aksiomatis tidak jelas karena berada dalam alam bawah sadar yang gelap dan samar.

Dari mana asal kepercayaan aksiomatis? Tidak jelas pula, mungkin saja ada kepercayaan yang asli dari jiwa, artinya saat manusia diciptakan dia sudah memiliki kepercayaan itu, atau mungkin saja saat manusia tumbuh, lingkungan mengisi dan membentuk kepercayaan tersebut di dalam diri mereka. Namun tidak begitu penting, apapun asalnya, kepercayaan aksiomatis sudah ada di dalam diri kita sebelum saat sekarang, dan karena itu kita memiliki kepercayaan-kepercayaan tertentu dan memahami dunia dalam cara tertentu. Jadi mungkin saja kepercayaan kita saat ini bukanlah salah kita, tapi begitu kita sadar, hal ini menjadi tanggung jawab kita.

Kepercayaan tentang Pengalaman dan Keberadaan

Kepercayaan pertama yang dapat kita bahas adalah tentang relasi antara pengalaman dan keberadaan. Kebenaran pertama menyatakan adanya pengalaman, tapi kebenaran itu juga menyiratkan bahwa adanya keberadaan. Jadi dari kebenaran pertama segera timbul kebenaran kedua yaitu tentang keberadaan. Namun, relasi antara pengalaman dan keberadaan tidak langsung nampak, dan kodrat sejati kedua hal ini juga tidak langsung jelas. Sementara itu, tidak ada metode yang nampak untuk mengetahui hal-hal ini, kepercayaan yang kita miliki seolah-olah ada begitu saja dan kita harus meneliti masing-masing dan membuat keputusan.

Kepercayaan pertama, bahwa pengalaman adalah subtipe dari keberadaan. Kalau kita gambarkan dalam suatu himpunan, ada himpunan keberadaan dan di dalamnya ada himpunan pengalaman. Maka semua pengalaman adalah keberadaan, tapi tidak semua keberadaan adalah pengalaman. Kepercayaan ini juga percaya bahwa relasi antara keberadaan dan pengalaman adalah relasi sebab dan akibat. Keberadaan adalah sebab dan pengalaman adalah akibat. Hal ini menyiratkan keterkaitan di permukaan, tapi perpisahan di kedalaman seluruh keberadaan.

Kepercayaan kedua, bahwa pengalaman dan keberadaan sederajat dan setara. Dalam himpunan, himpunan pengalaman dan keberadaan berbeda, tapi menempati ruang himpunan yang sama. Artinya semua keberadaan adalah pengalaman dan semua pengalaman juga adalah keberadaan. Dengan itu relasi antara keberadaan dan pengalaman adalah relasi kesatuan, dan bukan relasi sebab dan akibat. Sebab relasi sebab dan akibat menandakan ketidaksetaraan atau kesenjangan antara kedua hal ini. Bertentangan dengan kepercayaan pertama, ada kesatuan di kedalaman keberadaan.

Ada beberapa gagasan lain yang kurang tepat walau dekat dengan kebenaran. Misalnya gagasan bahwa kedua himpunan adalah satu himpunan saja. Ini salah karena kepercayaan kuat tentang keberadaan dan pengalaman. Pengalaman adalah suatu benda yang jelas dan tegas, yang secara langsung nampak bagi kita, karena itulah esensi dari suatu penampakan. Sementara keberadaan merujuk pada kehadiran abstrak atau kemampuan suatu benda untuk mempengaruhi yang lainnya, dan juga berada sebagai dirinya sendiri.

Gagasan yang kurang tepat berikutnya adalah kedua himpunan sama sekali terpisah. Ini salah karena jelas-jelas pengalaman adalah suatu keberadaan. Ada pula gagasan bahwa himpunan pengalaman adalah himpunan yang lebih besar. Ini salah karena semua pengalaman adalah keberadaan, tidak mungkin ada pengalaman yang bukan keberadaan. Namun konsep suatu benda yang ada di luar keberadaan juga akan memunculkan pertanyaan dan masalahnya sendiri. Karena itu, 2 kepercayaan yang dapat dipertimbangkan dengan serius hanyalah kepercayaan 1 dan kepercayaan 2.

 

 

Aku sendiri adalah pemercaya kepercayaan 2, bahwa setiap keberadaan adalah keberadaan dan pengalaman secara sekaligus. Namun aku tidak begitu tahu apa bukti atau dasar dari kepercayaan 2. Namun kita dapat berbicara atau menulis panjang dan lebar tentang kedua kepercayaan ini. Implikasi dari kepercayaan 1 adalah pada dasarnya keberadaan dan pengalaman terpisah. Sehingga tanpa pengalaman, keberadaan dapat tetap ada, tapi tanpa keberadaan pengalaman tidak akan ada. Hal ini menandakan ada 2 kelompok keberadaan dengan posisi tidak setara. Anggaplah ada benda dan ada gambar benda. Tanpa benda, tidak ada gambar, tapi benda dapat bertahan tanpa gambar.

Implikasi dari kepercayaan 2 adalah pada dasarnya keberadaan dan pengalaman tersatukan. Sehingga tanpa salah satu, yang lain akan hilang. Ibaratnya kalau tidak ada benda tidak ada gambar, tapi kalau tidak ada gambar, maka tidak akan ada benda juga. Jadi kedua hal, yaitu keberadaan dan pengalaman sama-sama membutuhkan, sama-sama bergantung, sama-sama menyebabkan dan disebabkan oleh yang lain. Ini adalah gagasan yang jarang kutemui di luar sana, tapi ada satu alasan aku percaya pada kepercayaan ini. Namun belum waktunya untuk menyatakan alasannya, dan sejauh ini sudah cukup pembahasan tentang kepercayaan ini. Kelak akan ada cahaya yang menerangkan kepercayaan ini.

Kepercayaan tentang Perubahan

Suatu pengalaman yang kita alami secara konsisten adalah perubahan. Perubahan terkesan jelas, proses berawal dan berakhirnya berbagai pengalaman. Namun makna perubahan juga tidak begitu jelas. Ada 2 kepercayaan yang dapat kita pertimbangkan, bahwa perubahan bersifat ontologis, dan perubahan bersifat fenomenal. Perubahan ontologis artinya ontologi, atau keberadaan benda-benda sungguh berawal dan berakhir. Perubahan fenomenal artinya hanya fenomena, atau pengalaman benda-benda yang berawal dan berakhir, dan itu pun juga hanya suatu fenomena, atau gejala, bukan kenyataan yang sejati.

Mungkin pembaca berpikir, bahwa jika aku memegang kepercayaan kesatuan ontologi-fenomena, maka aku harus percaya pada kepercayaan ontologis. Kenyataannya tidak, dan aku akan menjelaskan. Sebab aku percaya bahwa kesatuan benda pada dasarnya kekal. Kita hanya bergerak dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. Namun tidak dapat dibantah bahwa dalam perubahan ada suatu awal dan akhir, tapi awal dan akhir ini sifatnya subjektif, artinya hanya dari satu perspektif saja dan perspektif itu yang berubah. Jadi segala kesan penciptaan dan kehancuran yang terjadi, hanya terjadi dari suatu perspektif.

Kepercayaan tentang Sebab dan Akibat

Ada suatu kepercayaan tentang sebab dan akibat yang aku miliki. Hal ini adalah pertimbangan dari 2 kepercayaan, di mana salah satu kepercayaan jarang dipikirkan oleh orang lain. Kepercayaan 1 adalah kepercayaan permukaan, bahwa sebab dan akibat terjadi di alam yang terlihat. Misalnya, bola melayang karena dilempar manusia. Namun kepercayaan 2 diperoleh dari mempertanyakan kepercayaan 1, mengapa bola melayang karena dilempar manusia? Jawabannya sederhana, karena ada hukum yang mengatur segalanya. Artinya sebab dan akibat yang sejati adalah hukum kenyataan menentukan urut-urutan kejadian yang kita alami dalam alam yang terlihat.

Apakah hukum itu? Hukum adalah semacam keteraturan tak terlihat dalam kenyataan ini yang menentukan bagaimana segala kenyataan berlaku, secara khusus dalam perubahan. Namun, sebenarnya hukum tidak hanya menentukan perubahan, tapi juga ketiadaan perubahan, maka hukum juga menentukan segala sifat benda, dan artinya hukum menentukan segala benda. Hukum ini tidak buta, hukum ini cerdas, karena dia dapat memahami segalanya untuk menentukan segalanya, maka muncullah masalah berikutnya, tentang kecerdasan hukum.

Kepercayaan tentang Kecerdasan Hukum

Agaknya kita telah melenceng jauh dari masalah pertama tentang keberadaan dan pengalaman, tapi aku tidak peduli. Aku digerakkan oleh suatu daya yang tak terlihat, dan aku hendak menyelesaikan semua ini hari ini juga. Apakah hukum mengetahui segala sesuatu? Ada 2 kemungkinan, hukum itu bodoh, atau hukum itu cerdas. Kebodohan hukum rasanya sulit dipercaya, karena apa yang menjamin bahwa hukum itu akan bekerja dengan berhasil jika tidak cerdas? Namun baiknya kita tunda dulu masalah ini sampai waktunya tiba

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...