Pada awal segala hal, hadirlah Allah dan hanya Allah. Tidak ada yang lain selain Allah, tapi di dalam Allah adalah segala sesuatu. Sebab Allah adalah kesatuan segala kenyataan secara tunggal. Allah bukan hanya benda-benda yang dikumpulkan menjadi suatu kumpulan atau kelompok, melainkan Dia adalah Kenyataan yang Satu dan Sederhana. Dalam diri-Nya ada segala kebenaran dan segala kebaikan, maka Dia adalah Kebenaran dan Kebaikan itu sendiri. Sebab Dia adalah yang Tunggal, yang melampaui segala perbedaan dan segala perlawanan. Ini saja yang dapat kita kenal tentang Dia menurut akal budi, selain itu Allah telah menyatakan diri-Nya dalam kitab Taurat, kitab para nabi, catatan para rasul, dan surat para rasul.
Pada titik pertama
waktu yang tercipta, waktu yang terbatas, Allah menyebabkan awal dari segala
keterbatasan, inilah yang dimaksud dengan penciptaan. Penciptaan sebagai suatu
“awal”, di mana ada masa sebelum awal dan masa setelah awal, adalah hasil
persepsi kita. Sesungguhnya tidak ada masa selain Allah sebelum awal waktu. Ada
banyak dunia yang diciptakan Allah, salah satunya adalah semesta kita ini.
Dalam semesta ini, diciptakanlah Allah menurut citra-Nya, manusia, yaitu
ciptaan tertinggi-Nya, ciptaan yang mencerminkan kemuliaan Allah dan karena itu
dia sendiri adalah mulia.
Segala hal ini terjadi
dari kebaikan Allah, dari kodrat Ilahi, bahwa kebaikan yang sempurna itu harus
diwujudkan. Perwujudan tertinggi dari kebaikan itu, Allah, adalah manusia. Tujuan
keberadaan manusia adalah untuk mewujudkan Allah, membuat Allah tampak di dalam
semesta ini. Sebab kebaikan, jika tidak tampak dan tidak berwujud, tidak ada
maknanya. Kebaikan yang tertinggi di dalam Allah dinamakan kasih, suatu
kebaikan abstrak yang berprinsip sebagai pemberian diri secara tak bersyarat,
tanpa mengharapkan imbalan dan tanpa mengharapkan pembalasan.
Kebaikan yang sempurna
berkuasa, mampu mewujudkan diri-Nya sendiri, mampu menjadikan segalanya demi
diri-Nya sendiri. Karena itu Kebaikan haruslah adalah Allah, yang berakal budi
dan berkehendak, keduanya bekerja dalam diri Allah untuk melaksanakan kuasa
Allah dalam kasih. Karena itu manusia adalah citra Allah, karena dia juga
berakal budi, berkehendak, dan berkuasa untuk mewujudkan kasih dan Allah di
dalam dunia ini. Dengan seluruh bumi manusia hendak mewujudkan Allah, tapi
sayangnya ada suatu hal yang terjadi, yang mengacaukan segalanya.
Dosa, pemberontakan
melawan Allah, adalah hal yang terjadi dan berakar dari hati manusia. Allah
memberikan manusia kebebasan, dan itu anugrah yang membuat manusia sungguh
manusia, artinya sungguh citra Allah. Allah adalah Kebebasan itu sendiri, maka
sepantasnya manusia juga bebas, supaya dia sungguh mengasihi dan mencintai
dengan sejati, yaitu dengan bebas. Namun dengan kebebasan itu pula manusia
mampu melawan kasih dan mengingkari dirinya sendiri. Itulah yang dilakukan
manusia pertama, nenek moyang kita, yaitu memberontak melawan Allah yang adalah
kasih, dan dengan cara itu kita telah memberontak melawan Kebaikan sendiri.
No comments:
Post a Comment