1. Kekekalan Esensi
Setiap benda memiliki esensi dan aktualitas. Esensi adalah identitas dari suatu benda, dan aktualitas adalah hubungan atau relasi antara setiap benda dengan suatu kesadaran. Aktualitas benda memang tidaklah kekal, ini dibuktikan dari adanya perubahan pengalaman yang kita alami setiap saat. Namun esensi benda harus kekal, karena adanya intuisi bahwa ada kebenaran tentang segala hal yang ada. Kebenaran ini harus kekal, karena tanpa kebenaran ini maka segala hal akan lenyap.
Jadi setiap masa ada pada masanya, jika setelah berlangsung di dalam kesadaran, suatu masa lenyap, maka masa yang ada di depannya juga akan lenyap. Sebab keseluruhan kenyataan sesungguhnya adalah satu kesatuan di mana jika ada satu unsur yang hilang maka semua tatanan ini akan "runtuh". Namun pengetahuan tentang kekekalan esensi juga berasal dari iman kita akan kekekalan Allah. Jika Allah mengetahui segala sesuatu, dan Pengetahuan Ilahi sama dengan Kodrat Ilahi, dan Allah adalah kekal, maka segala esensi terkandung di dalam Kodrat Ilahi sebagai satu kesatuan dengan Kodrat Ilahi.
2. Misteri Yesus Kristus
Pada akhirnya wewenang terakhir dalam mendefinisikan doktrin memang ada pada magisterium Gereja. Maka manifestasi pikiran ini tidak berusaha mengatasi kuasa Gereja yang diberikan oleh Allah sendiri. Namun mengenali bahwa Allah adalah Ketidakterbatasan yang Sederhana (Simple Infinity), hasilnya adalah sulit untuk memahami bahwa Allah turun ke dunia untuk menjadi manusia Yesus Kristus. Tentu penalaran singkat akan menyingkap bahwa suatu Pribadi tidak dapat memegang kodrat Ilahi dan kodrat manusiawi dalam segala aspek pada saat yang sama.
Jadi jika Gereja menyatakan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, bukankah artinya pada beberapa aspek Yesus adalah manusia dan pada beberapa aspek Yesus adalah Allah, dan bukan pada seluruh aspek pada saat yang sama? Hal ini terutama benar saat Yesus belum dibangkitkan dan belum naik ke surga. Namun kita mengimani bahwa Yesus pun tetap manusia setelah naik ke surga dan saat ini di surga tetaplah manusia. Pada akhirnya aku hanya berpikir bahwa pada satu aspek, Yesus dan Allah adalah Satu, tapi pada aspek yang lain, Yesus dan Allah adalah 2 Entitas yang berbeda, karena adanya perbedaan-perbedaan esensial yang memisahkan Yesus dan Allah yang Murni. Namun, ini tidak menentang pokok iman bahwa Yesus adalah Tuhan, sebagaimana telah dibuktikan oleh sejarah Gereja.
3. Kesatuan Ilahi
Melanjutkan doktrin tentang kesederhanaan Ilahi, karena Allah adalah Simple Infinity, bukankah artinya kita dapat mengartikan Allah sebagai Kesatuan segala hal yang ada? Sebab, Pengetahuan Ilahi meliputi segala Pengalaman yang ada, dan karena itu ada Kesatuan Ilahi antara Allah dan segala hal yang ada. Sebab Kodrat Ilahi dan Pengetahuan Ilahi adalah satu dan sama, dan suatu benda tidak lain dan tidak bukan adalah pengalaman dari benda itu, maka Allah adalah Kesatuan segala hal.
4. Penciptaan
Karena Allah adalah kesatuan segala hal yang ada secara sederhana, maka aku berpikir bahwa konsep penciptaan dan perancangan memperoleh makna baru. Allah tentu tidak merancang atau mendesain seperti kita manusia mendesain dan merancang. Segala hal telah selesai bagi Allah, dan karena itu Allah juga tidak menciptakan seperti kita menciptakan. Aku pikir, bahwa penciptaan artinya bahwa segala hal bergantung pada Allah sebagai asal dan awal.
5. Kehendak Bebas
Aku merenungkan apakah makna kehendak bebas. Dan hasilnya adalah beberapa kemungkinan. Kemungkinan 1, kehendak bebas artinya manusia mampu memilih menurut dirinya sendiri, sejauh mana manusia adalah dirinya sendiri yaitu gabungan antara masa lalu dan faktor eksternal, ada kehendak bebas. Kemungkinan 2, kehendak bebas artinya manusia mampu memilih terlepas dari variabel apapun yang ada, artinya dasar pilihan manusia pada esensinya adalah ketiadaan, jika ini benar, manusia memiliki kehendak bebas.
Kemungkinan 3, ini yang barangkali salah dan radikal, bahwa jiwa, kesadaran, dan pengalaman manusia tercipta saat Allah sendiri yang memilih untuk masuk ke dalam kenyataan yang terbatas menjadi setiap individu manusia. Aku merasa kemungkinan yang ketiga tidak memiliki dasar apapun, kecuali pada pertanyaan tentang asal-usul kesadaran dan pengalaman manusia, kalau kita merenungkan bahwa pengalaman itu sendiri tidak dapat memiliki awal ataupun akhir.
Sejauh mana kehendak bebas manusia layak mendapatkan hukuman, hal ini dulu sering mengganggu diriku karena aku berpikir bahwa dalam konsepsi manapun manusia tidak layak menerima hukuman apapun, selain sebagai pengubah sikap dan perilaku manusia itu. Namun keadilan Ilahi menuntut bahwa setiap manusia menerima buah dari tindakannya, bukan untuk mengubah dirinya tapi sebagai ganjaran yang sesuai dari setiap tindakan manusia.
Pada akhirnya aku dituntun untuk memahami bahwa masalah kehendak bebas bukanlah masalah untuk aku renungkan mendalam. Karena kebenaran tentang kehendak bebas tidak mengubah apa yang harus kita lakukan dan kewajiban-kewajiban nyata kita yaitu kasih. Justru kenyataan tentang Keadilan Ilahi mendorong kita untuk semakin gencar dalam karya-karya kasih dan kerahiman, demi keselamatan jiwa-jiwa.
6. Kasih Kepada Keluarga
Bagaimana aku dapat mengasihi keluargaku dengan lebih baik? Aku menerima pikiran dari Allah bahwa hal ini harus dilakukan pelan-pelan, mungkin dengan mengobrol santai dulu dalam keluarga. Namun ini pun aku memiliki suatu ketakutan, dan karena itu aku menyampaikan tulisan ini untuk memperoleh suatu nasihat.
No comments:
Post a Comment