Aku tahu bahwa dengan upayaku sendiri, aku tidak akan mampu mencapai Kebenaran, baik di hidup ini atau di hidup manapun juga. Namun dengan rahmat Allah aku percaya bahwa aku dapat melaksanakan apapun juga demi Allah. Masalahnya, apa yang aku pikir adalah baik dan demi Allah belum tentu sungguh baik dan demi Allah bagi diriku sendiri. Maka pencarianku akan Kebenaran belum tentu direstui Allah karena bisa jadi Dia memiliki rencana yang lebih baik dari Kebenaran itu.
Sesungguhnya aku telah menerima Kebenaran itu, setiap minggu aku menerima Dia dalam wujud suatu roti bundar pipih yang putih dan kecil, tidak lebih besar dari telapak tangan dan malah lebih kecil, itulah Ekaristi. Namun, begitu aku tidak menerima-Nya, aku kehausan, saat aku teringat oleh Dia, aku membutuhkan Dia dan menjadi sangat lapar dan haus akan Kebenaran. Ada 2 wujud penerimaan kebenaran, kebenaran yang sebagian-sebagian saja yaitu yang ada di dalam budi kita, dan Kebenaran yang penuh yaitu Ekaristi atau Tuhan kita Yesus Kristus sendiri.
Kehausan yang aku alami adalah kehausan akan integrasi kebenaran dengan budi dan jiwaku sendiri, atau kehausan akan kebenaran yang terpecah-pecah itu. Pada akhirnya kehausan semacam itu pun hanya dapat dipenuhi oleh Allah, Sang Kebenaran itu sendiri. Pada saat aku melihat Allah di akhirat, di situ lah pencarianku akhirnya berakhir. Sekarang aku pun telah melihat Allah, hanya saja tidak sempurna melainkan samar-samar seperti dalam cermin (1 Korintus 13:12), dan nanti aku akan melihat Dia muka ke muka.
Pemahaman ini baik untuk menghibur diri, tapi tidak cukup untuk menghancurkan kehausan yang aku alami. Maka aku harus menahan diri dan menikmati kesengsaraan ini sampai Allah sendiri memanggilku dan menjemputku ke alam keabadian. Lalu apakah alasan aku menulis, apakah alasan aku melakukan apapun juga? Alasannya adalah tidak lain dan tidak bukan semata-mata untuk mempersiapkan diriku untuk penglihatan Ilahi yang menakjubkan itu.
No comments:
Post a Comment