Sebagai penjelas dari projek rasionalitas 1, bahwa A C, A C B. Artinya, jika jiwa percaya, maka jiwa juga percaya bahwa dia mampu percaya dengan benar atau memiliki kepercayaan yang benar. Sekarang kita akan kembali pada penjelasan mengenai bagaimana ini berhubungan dengan kepercayaan pada Allah. Sesungguhnya kepercayaan pada Allah adalah bentuk spesifik dari A C, A C B. Bukan hanya kepercayaan pada Allah yang tunduk pada hukum A C, A C B, melainkan semua kepercayaan lainnya.
Mungkin yang aku
kehendaki adalah penjelasan runtut dari A C, A C B menuju kepercayaan akan
Allah. A C, A C B, yaitu “Jika jiwa percaya, jiwa percaya pada kemampuannya
untuk memiliki kepercayaan yang benar,” datang dari A C (A E D), A C B (A E D),
yaitu, “Jika jiwa percaya bahwa dia memiliki kepercayaan yang benar tentang D,
maka dia percaya bahwa dia mampu memiliki kepercayaan yang benar tentang D.”
Dalam hal ini kita tinggal mensubstitusikan kepercayaan tentang Allah ke dalam
D, sehingga segalanya berbunyi, “Jika jiwa percaya bahwa dia memiliki
kepercayaan yang benar tentang Allah, dia percaya bahwa dia mampu memiliki
kepercayaan yang benar tentang Allah.” Dalam rumusan paling lengkap, “Jika jiwa
percaya kepada Allah, dia percaya bahwa dia memiliki kepercayaan yang benar tentang
Allah, maka dia percaya bahwa dia mampu memiliki kepercayaan yang benar tentang
Allah.”
A C, A C B, sebenarnya
adalah suatu aplikasi dari “A, A B.” Dalam contoh itu, A adalah variabel pernyataan,
dan B adalah pernyataan mungkin, atau dapat. Maka dalam suatu rumusan bahasa
biasa, “Jika ada kenyataan A, maka kenyataan A mungkin.” Namun dalam aplikasinya
pada modalitas kepercayaan ada perpanjangan, “Jika (jiwa percaya) (dia benar),
(jiwa percaya) (dia dapat benar). Maka, jika jiwa tidak percaya bahwa dia dapat
benar, atau jiwa percaya bahwa dia tidak dapat benar, maka jiwa tidak percaya
bahwa dia benar, atau jiwa percaya bahwa dia tidak benar. Namun segala bentuk
kepercayaan akan mengarah pada rumusan yang sama, yaitu A C, A C B.
No comments:
Post a Comment