Saturday, March 26, 2022

Renungan 26 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Pada hari ini kita diberikan 2 bacaan yang bermakna banyak tapi cukup baik untuk kita pahami dan kita renungkan. Bacaan pertama berasal dari Kitab Hosea, dan tercatat perkataan Allah. Allah digambarkan sebagai pribadi yang menghajar atau melukai tapi juga menyembuhkan kita. Ini adalah gambaran yang menarik menurutku, karena aku sendiri merasakannya. Bagaimana Allah terkadang menghantam hati dan jiwaku saat aku berdosa, tapi setelah itu memeluk aku kembali untuk menyembuhkan aku. Hal ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa Allah itu Mahaadil tapi juga Maharahim.

Namun setelah itu Allah menyatakan bagaimana kasih setia Efraim dan Yehuda seperti kabut pagi, artinya samar-samar atau cepat hilang. Dia pun menggunakan perantaraan nabi-nabi untuk menghantam mereka, yang dimaksud adalah Israel. Pada akhirnya Allah menyatakan bahwa Dia lebih suka kasih setia dan pengenalan akan Dia daripada korban. Sebelumnya korban memang penting sebagai simbol dan peristiwa yang harafiah, tapi tanpa hati yang benar, semua itu menjadi sia-sia. Sama saja kalau kita merayakan Ekaristi tanpa disposisi batin yang tepat, bisa jadi sia-sia apa yang kita lakukan.

Aku merasa tersentuh membaca perkataan ini, karena artinya Allah memperhatikan paling pertama bukan tindakan fisik atau yang ada di luar, tapi yang ada di dalam, yang tidak terlihat oleh mata manusia yaitu hati kita. Allah mengenali kita dengan begitu intim dan lebih memahami diri kita sendiri daripada kita sendiri. Aku memang tidak pernah takut dengan penghakiman karena tindakan luar, tapi aku diteguhkan bahwa Allah mengasihi bukan hanya di titik permukaan saja, melainkan Dia mengasihi sampai ke dalam dan ke intisari manusia.

Pada bacaan Injil, Yesus mengajarkan suatu hal yang sangat jelas, supaya kita rendah hati dan tidak sombong seperti beberapa orang farisi dan Yahudi di masa hidup Yesus. Hari ini aku baru saja mengikuti misa acies Legio Maria, dan aku hendak memparafrase apa yang aku dengar, sepertinya dari Romo Lukas Sulaeman. Doa orang farisi berbau bukan hanya sombong tapi juga bukan doa sebenarnya, karena hanya bermonolog tentang kehebatan diri sendiri. Pada akhirnya timbul suatu “kemandirian” di mana seorang bergantung dan percaya hanya pada diri mereka sendiri. Ini berbalik dari si pemungut cukai yang hanya memiliki Allah sebagai harapannya.

Aku ingin berkata bahwa aku seperti si pemungut cukai, yang dibenarkan Allah. Namun itu sama saja dengan meninggikan diri karena aku berkata, “Lihat, aku ini rendah hati.” Itu pun adalah sebentuk kesombongan. Akhirnya aku hanya dapat berkata, “Aku berusaha untuk menjadi rendah hati, tapi barangkali si pemungut cukai masih lebih dibenarkan oleh Allah.” Karena sesungguhnya aku merasa sungguh hina di hadapan Allah, sebagai anak yang tidak tahu terima kasih. Seorang yang diberikan begitu banyak rahmat tapi terus membuangnya sia-sia. Dalam masa pertobatan ini, jika memang kita berdosa, marilah kita sadari dan kita serahkan diri kita kepada Allah, bergantung pada Dia saja dan berharap kepada Dia saja. Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...