Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
Pada hari ini kita
diberikan 2 bacaan yang bermakna banyak tapi cukup baik untuk kita pahami dan
kita renungkan. Bacaan pertama berasal dari Kitab Hosea, dan tercatat perkataan
Allah. Allah digambarkan sebagai pribadi yang menghajar atau melukai tapi juga
menyembuhkan kita. Ini adalah gambaran yang menarik menurutku, karena aku
sendiri merasakannya. Bagaimana Allah terkadang menghantam hati dan jiwaku saat
aku berdosa, tapi setelah itu memeluk aku kembali untuk menyembuhkan aku. Hal
ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa Allah itu Mahaadil tapi juga Maharahim.
Namun setelah itu
Allah menyatakan bagaimana kasih setia Efraim dan Yehuda seperti kabut pagi,
artinya samar-samar atau cepat hilang. Dia pun menggunakan perantaraan
nabi-nabi untuk menghantam mereka, yang dimaksud adalah Israel. Pada akhirnya
Allah menyatakan bahwa Dia lebih suka kasih setia dan pengenalan akan Dia
daripada korban. Sebelumnya korban memang penting sebagai simbol dan peristiwa
yang harafiah, tapi tanpa hati yang benar, semua itu menjadi sia-sia. Sama saja
kalau kita merayakan Ekaristi tanpa disposisi batin yang tepat, bisa jadi
sia-sia apa yang kita lakukan.
Aku merasa tersentuh
membaca perkataan ini, karena artinya Allah memperhatikan paling pertama bukan tindakan
fisik atau yang ada di luar, tapi yang ada di dalam, yang tidak terlihat oleh
mata manusia yaitu hati kita. Allah mengenali kita dengan begitu intim dan lebih
memahami diri kita sendiri daripada kita sendiri. Aku memang tidak pernah takut
dengan penghakiman karena tindakan luar, tapi aku diteguhkan bahwa Allah
mengasihi bukan hanya di titik permukaan saja, melainkan Dia mengasihi sampai ke
dalam dan ke intisari manusia.
Pada bacaan Injil,
Yesus mengajarkan suatu hal yang sangat jelas, supaya kita rendah hati dan
tidak sombong seperti beberapa orang farisi dan Yahudi di masa hidup Yesus. Hari
ini aku baru saja mengikuti misa acies Legio Maria, dan aku hendak memparafrase
apa yang aku dengar, sepertinya dari Romo Lukas Sulaeman. Doa orang farisi
berbau bukan hanya sombong tapi juga bukan doa sebenarnya, karena hanya
bermonolog tentang kehebatan diri sendiri. Pada akhirnya timbul suatu “kemandirian”
di mana seorang bergantung dan percaya hanya pada diri mereka sendiri. Ini
berbalik dari si pemungut cukai yang hanya memiliki Allah sebagai harapannya.
Aku ingin berkata bahwa
aku seperti si pemungut cukai, yang dibenarkan Allah. Namun itu sama saja
dengan meninggikan diri karena aku berkata, “Lihat, aku ini rendah hati.” Itu
pun adalah sebentuk kesombongan. Akhirnya aku hanya dapat berkata, “Aku
berusaha untuk menjadi rendah hati, tapi barangkali si pemungut cukai masih
lebih dibenarkan oleh Allah.” Karena sesungguhnya aku merasa sungguh hina di
hadapan Allah, sebagai anak yang tidak tahu terima kasih. Seorang yang
diberikan begitu banyak rahmat tapi terus membuangnya sia-sia. Dalam masa
pertobatan ini, jika memang kita berdosa, marilah kita sadari dan kita serahkan
diri kita kepada Allah, bergantung pada Dia saja dan berharap kepada Dia saja.
Tuhan memberkati.
No comments:
Post a Comment