Sunday, March 6, 2022

Segalanya Berdasar pada Iman

Setelah pencarian yang lama, aku akhirnya menemukan bahwa segala hal bertumpu pada iman. Apakah iman itu? Iman adalah kepercayaan yang tidak memiliki dasar pada akal budi, melainkan berdasar pada hal-hal yang melampaui akal budi. Iman tidak subrasional tapi suprarasional. Setiap orang beriman, baik itu akan suatu prinsip yang terbatas, atau akan prinsip yang amat tidak terbatas. Pada tulisan ini aku hendak mengeksplorasi bagaimana aku mencapai iman akan prinsip yang tidak terbatas, dan bagaimana konsekuensi dari iman tersebut.

Salah satu masalah terbesar dalam filsafat adalah cara memulainya. Aku tidak pernah dapat menghasilkan awal yang baik, maka aku menyerah dan melaksanakan segalanya menurut perintah Allah saja. Namun salah satu pendekatan yang baik adalah dengan mempertanyakan dasar dari segala kepercayaan. Hal itu menjadi masalah karena begitu mencapai dasarnya, apa yang harus dilakukan? Ini masih menjadi masalah bagiku sampai saat ini. Aku telah menemukan suatu dasar yang baik, tapi selepas dari itu aku tidak tahu.

Bagaimana pencarian tentang suatu dasar kepercayaan dapat mengarah pada iman? Aku tidak akan menjelaskan secara panjang lebar, sebab tulisan ini akan menjadi cukup panjang tanpa tambahan lagi. Namun aku akan berkata ini, jika semua kepercayaan disederhanakan kita akan menemukan 2 unsur yaitu pengalaman dan kepercayaan fundamental. Kepercayaan fundamental ini dapat dihilangkan, tapi begitu dihilangkan kita hanya memiliki segumpal pengalaman yang sendirinya tidak bermakna, bahkan kita tidak memiliki konsep tentang makna apapun juga.

Namun apakah dasar dari pengalaman? Kita dapat tahu bahwa ada pengalaman, karena kenyataannya memang ada pengalaman. Namun apakah itu suatu dasar yang dapat diterima secara otomatis? Sesungguhnya ada kelompok orang yang bersikap skeptis terhadap segala hal, sehingga mereka bahkan menyangkal keberadaan pengalaman karena mereka meragukan segala pengetahuan. Jadi manusia, karena kehendak bebasnya, dapat menolak suatu kepercayaan fundamental yang sesungguhnya sangat mendasar.

Maka, kepercayaan akan pengalaman bukanlah suatu kepercayaan yang secara otomatis akan diterima oleh manusia, melainkan adalah suatu keputusan yang harus kita ambil, dan keputusan ini berdasarkan iman. Sebab dasar dari kepercayaan pengalaman bukan hanya rasionalitas lainnya, tapi suatu perasaan hati yang baik bekerja sama dengan rasionalitas atau akal budi yang baik. Namun ini baru lompatan iman yang pertama, dan kepercayaan akan pengalaman tidak begitu sulit karena masih cukup intuitif.

Hal yang lebih sulit adalah bagaimana cara kita memaknai pengalaman? Apakah arti dari segala pengalaman yang kita miliki? Secara intuitif kita segera memperoleh keberadaan dan kesadaran dari pengalaman. Selain itu masih banyak kebenaran-kebenaran lain yang diperoleh dari pengalaman, seperti tentang perbedaan dan perubahan. Namun apakah ada suatu kepercayaan fundamental yang mengaitkan segalanya dan mendasari segalanya?

Kepercayaan fundamental yang mendasari segalanya berkaitan dengan relasi setiap hal dengan hal yang lain. Namun sesungguhnya tidak ada dasar yang menyatakan bahwa kepercayaan fundamental ini adalah suatu kepercayaan fundamental. Malah aku merasa kepercayaan ini bagaikan suatu kepercayaan yang terpisah dari kenyataan secara luas, sekalipun menjelaskan kenyataan itu. Rasanya tidak ada relevansi antara kepercayaan ini dengan kepercayaan lainnya, tapi di sisi lain ini adalah kepercayaan paling mendasar kedua setelah pengalaman.

Pertanyaan berikutnya dari kebenaran tentang 3 unsur kenyataan yang telah aku temukan adalah relasi antara pengalaman, kesadaran, dan keberadaan. Pertanyaan ini sebenarnya mengarah pada kodrat kenyataan itu sendiri, apakah kenyataan secara keseluruhan adalah kumpulan benda-benda saja, atau suatu kesatuan benda-benda? Kumpulan dan kesatuan berbeda, sekalipun suatu kesatuan adalah kumpulan. Kumpulan menandakan tingkatan keterpisahan yang lebih tinggi dari kesatuan, sementara kesatuan adalah sesuai namanya, kondisi di mana segala benda bersatu dalam satu kenyataan yang tunggal.

Bagaimana kita membuktikan apakah kumpulan atau kesatuan yang benar? Jika kita menerima kumpulan saja dan menolak kesatuan, pada akhirnya kita akan menolak Allah. Jika kita menerima kesatuan pula serta dengan kumpulan, pada akhirnya kita menerima Allah. Namun tidak ada bukti logis apapun yang dapat kita gunakan untuk membenarkan satu keputusan apapun, maka hal ini harus diterima dengan iman. Seorang dapat beriman akan Allah, atau beriman akan penolakannya kepada Allah, dan hanya satu orang yang benar dari antara mereka berdua.

Aku adalah orang yang percaya akan Allah, tapi seperti yang aku telah katakan, apakah ada relevansi dari kepercayaan ini? Aku sulit menemukan relevansi apapun dari imanku terhadap segala kenyataan lainnya. Hal ini ironis, karena Allah adalah kesatuan segala kenyataan, maka ada keterpisahan antara Allah dengan diri-Nya sendiri. Selain itu, pemahaman ini akan Allah tidaklah berguna dalam hidup kita, dan kelak kita akan menemukan bahwa segala pemikiran tidaklah berguna di hadapan satu kebenaran lain, yang hanya dapat aku pandang dari jauh, yaitu Kasih.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...