Setelah pencarian yang lama, aku akhirnya menemukan bahwa segala hal bertumpu pada iman. Apakah iman itu? Iman adalah kepercayaan yang tidak memiliki dasar pada akal budi, melainkan berdasar pada hal-hal yang melampaui akal budi. Iman tidak subrasional tapi suprarasional. Setiap orang beriman, baik itu akan suatu prinsip yang terbatas, atau akan prinsip yang amat tidak terbatas. Pada tulisan ini aku hendak mengeksplorasi bagaimana aku mencapai iman akan prinsip yang tidak terbatas, dan bagaimana konsekuensi dari iman tersebut.
Salah satu masalah
terbesar dalam filsafat adalah cara memulainya. Aku tidak pernah dapat
menghasilkan awal yang baik, maka aku menyerah dan melaksanakan segalanya
menurut perintah Allah saja. Namun salah satu pendekatan yang baik adalah
dengan mempertanyakan dasar dari segala kepercayaan. Hal itu menjadi masalah
karena begitu mencapai dasarnya, apa yang harus dilakukan? Ini masih menjadi
masalah bagiku sampai saat ini. Aku telah menemukan suatu dasar yang baik, tapi
selepas dari itu aku tidak tahu.
Bagaimana pencarian
tentang suatu dasar kepercayaan dapat mengarah pada iman? Aku tidak akan
menjelaskan secara panjang lebar, sebab tulisan ini akan menjadi cukup panjang
tanpa tambahan lagi. Namun aku akan berkata ini, jika semua kepercayaan
disederhanakan kita akan menemukan 2 unsur yaitu pengalaman dan kepercayaan
fundamental. Kepercayaan fundamental ini dapat dihilangkan, tapi begitu
dihilangkan kita hanya memiliki segumpal pengalaman yang sendirinya tidak
bermakna, bahkan kita tidak memiliki konsep tentang makna apapun juga.
Namun apakah dasar
dari pengalaman? Kita dapat tahu bahwa ada pengalaman, karena kenyataannya
memang ada pengalaman. Namun apakah itu suatu dasar yang dapat diterima secara
otomatis? Sesungguhnya ada kelompok orang yang bersikap skeptis terhadap segala
hal, sehingga mereka bahkan menyangkal keberadaan pengalaman karena mereka
meragukan segala pengetahuan. Jadi manusia, karena kehendak bebasnya, dapat
menolak suatu kepercayaan fundamental yang sesungguhnya sangat mendasar.
Maka, kepercayaan akan
pengalaman bukanlah suatu kepercayaan yang secara otomatis akan diterima oleh
manusia, melainkan adalah suatu keputusan yang harus kita ambil, dan keputusan
ini berdasarkan iman. Sebab dasar dari kepercayaan pengalaman bukan hanya
rasionalitas lainnya, tapi suatu perasaan hati yang baik bekerja sama dengan
rasionalitas atau akal budi yang baik. Namun ini baru lompatan iman yang
pertama, dan kepercayaan akan pengalaman tidak begitu sulit karena masih cukup
intuitif.
Hal yang lebih sulit
adalah bagaimana cara kita memaknai pengalaman? Apakah arti dari segala
pengalaman yang kita miliki? Secara intuitif kita segera memperoleh keberadaan
dan kesadaran dari pengalaman. Selain itu masih banyak kebenaran-kebenaran lain
yang diperoleh dari pengalaman, seperti tentang perbedaan dan perubahan. Namun
apakah ada suatu kepercayaan fundamental yang mengaitkan segalanya dan
mendasari segalanya?
Kepercayaan
fundamental yang mendasari segalanya berkaitan dengan relasi setiap hal dengan
hal yang lain. Namun sesungguhnya tidak ada dasar yang menyatakan bahwa
kepercayaan fundamental ini adalah suatu kepercayaan fundamental. Malah aku
merasa kepercayaan ini bagaikan suatu kepercayaan yang terpisah dari kenyataan
secara luas, sekalipun menjelaskan kenyataan itu. Rasanya tidak ada relevansi
antara kepercayaan ini dengan kepercayaan lainnya, tapi di sisi lain ini adalah
kepercayaan paling mendasar kedua setelah pengalaman.
Pertanyaan berikutnya
dari kebenaran tentang 3 unsur kenyataan yang telah aku temukan adalah relasi
antara pengalaman, kesadaran, dan keberadaan. Pertanyaan ini sebenarnya
mengarah pada kodrat kenyataan itu sendiri, apakah kenyataan secara keseluruhan
adalah kumpulan benda-benda saja, atau suatu kesatuan benda-benda? Kumpulan dan
kesatuan berbeda, sekalipun suatu kesatuan adalah kumpulan. Kumpulan menandakan
tingkatan keterpisahan yang lebih tinggi dari kesatuan, sementara kesatuan
adalah sesuai namanya, kondisi di mana segala benda bersatu dalam satu
kenyataan yang tunggal.
Bagaimana kita
membuktikan apakah kumpulan atau kesatuan yang benar? Jika kita menerima
kumpulan saja dan menolak kesatuan, pada akhirnya kita akan menolak Allah. Jika
kita menerima kesatuan pula serta dengan kumpulan, pada akhirnya kita menerima
Allah. Namun tidak ada bukti logis apapun yang dapat kita gunakan untuk membenarkan
satu keputusan apapun, maka hal ini harus diterima dengan iman. Seorang dapat
beriman akan Allah, atau beriman akan penolakannya kepada Allah, dan hanya satu
orang yang benar dari antara mereka berdua.
Aku adalah orang yang
percaya akan Allah, tapi seperti yang aku telah katakan, apakah ada relevansi
dari kepercayaan ini? Aku sulit menemukan relevansi apapun dari imanku terhadap
segala kenyataan lainnya. Hal ini ironis, karena Allah adalah kesatuan segala
kenyataan, maka ada keterpisahan antara Allah dengan diri-Nya sendiri. Selain
itu, pemahaman ini akan Allah tidaklah berguna dalam hidup kita, dan kelak kita
akan menemukan bahwa segala pemikiran tidaklah berguna di hadapan satu kebenaran
lain, yang hanya dapat aku pandang dari jauh, yaitu Kasih.
No comments:
Post a Comment