Thursday, March 24, 2022

Curahan Pikiran 1

Sudah begitu lama aku tidak menulis suatu hal yang filosofis atau teologis. Alasannya sederhana, aku merasa semuanya tidak bermakna. Gereja sudah memiliki model dan struktur pewartaan yang baik, atau bahkan “sempurna”, aku tidak memiliki tugas lain selain mengikuti Gereja. Permintaan Allah pertama untuk menuliskan suatu karya bagi-Nya rasanya hilang begitu saja dan aku sekarang terombang ambing dalam suatu samudra yang bergelora. Namun karena aku sedang tidak dapat tidur, barangkali aku dapat menulis suatu karya yang singkat, atau tulisan yang singkat terkait pemikiranku sejauh ini.

Ada 2 model pemikiran tentang apa atau siapa itu Allah. Model pertama adalah model eksistensial, model kedua adalah model konstruktif. Model eksistensial adalah model yang ortodoks, atau monoteisme. Artinya Allah adalah suatu kenyataan “di luar” diri kita dan melampaui diri kita. Model konstruktif adalah model yang menggoda karena seolah-olah memperbolehkan menelanjangi dan membedah Allah sesuka hati kita. Sebab model ini menyatakan bahwa Allah hanyalah gagasan manusia tanpa ada kesesuaiannya di dalam kenyataan yang objektif.

Aku secara jujur terkadang suka menghibur model konstruktif, karena memang sangat menarik. Sebenarnya model eksistensial tidak melarang keberadaan Allah dalam batin manusia, tapi menekankan pada aspek objektif dari kenyataan Ilahi. Sementara model konstruktif adalah model yang ateistis, karena menentang objektivitas Ilahi dan menyatakan bahwa semua yang Ilahi sepenuhnya subjektif. Namun saat aku berkata aku suka menghibur model konstruktif, maksudku adalah terkadang pikiranku tergoda untuk berkata bahwa Allah hanya gagasan dan tidak ada keberadaan objektif-Nya.

Sebagai gagasan, Allah adalah salah satu produk pikiran manusia yang paling hebat, jika bukan yang paling hebat itu sendiri. Gagasan tentang Allah telah menentukan dan mempengaruhi sejarah manusia dengan begitu besarnya. Namun, gagasan yang sama mengarah pada kehancuran gagasan Ilahi, seperti yang sedang kita lihat dalam dunia ini. Ini mengikuti pola dialektika dari sejarah kemanusiaan dan juga kenyataan dinamis, bahwa suatu tesis yang tidak dapat dipertahankan akan mengarah pada suatu perlawanan yaitu antitesis dan pertemuan keduanya akan menghasilkan suatu kondisi yang baru. Jika bukan karena intervensi Ilahi secara eksistensial, kemungkinan besar gagasan tentang Allah akan tinggal menjadi teori dalam sejarah.

Dalam pengalaman pribadiku sendiri, gagasan tentang Allah menyemangatiku dan menguatkan aku dalam kehidupan yang terasa hambar dan tawar. Gagasan Allah yang hidup dalam jiwaku mendorong aku untuk hidup lebih baik, untuk mencapai suatu cahaya yang tak jelas keyakinannya. Gagasan ini memberikan harapan, harapan bahwa akan ada suatu kebaikan akhir bagi diriku sendiri setelah aku berjuang dalam perang yang dinamakan kehidupan. Namun pemikiran ini menggoda untuk berpikir bahwa Allah hanya itu, alat bagiku untuk bertahan hidup. Bahwa akhirnya ini hanyalah suatu hal di alam subjektif dan tidak mungkin akan menjangkau alam objektif.

Namun kenyataannya Allah ada, dan ini dalam suatu cara sulit atau tidak dapat dibantah. Sebenarnya sampai saat ini aku sudah lupa atau kehilangan kepercayaan akan semua argumen akan keberadaan Allah. Karena rasanya tidak penting, tapi di situ aku salah. Allah menjawab bahwa kebenaran dan rasionalitas itu penting. Karena Dia sendiri adalah Kebenaran dan Rasionalitas yang sempurna. Sebenarnya hanya ada satu masalah terkait monoteisme, yaitu kepribadian Ilahi, atau kehidupan Ilahi, itu saja.

Berdasarkan akal budi, kita dapat mengetahui bahwa suatu Sebab Pertama ada, suatu kesatuan hukum yang mengatur dan menyebabkan segala hal yang ada. Berdasarkan akal budi, kita juga tahu bahwa ada gagasan-gagasan abstrak tentang Kebaikan, Kebahagiaan, Makna, Kasih, dan segala macam hal yang berkaitan. Namun hal yang tidak dapat kita kenali dengan nalar adalah bahwa hal-hal abstrak itu ternyata hidup dan memiliki suatu kepribadian. Ya, kepribadian Ilahi memang berbeda dari kita, tapi tetap merupakan suatu kepribadian yang berakal budi dan berkehendak walau tidak berwujud.

Argumen Allah adalah hal ini dapat dikenali dengan nalar dan tidak bertentangan dengan akal budi. Aku menerima bahwa ini dapat diterima oleh akal budi, tapi aku belum dapat melihat bagaimana ini dapat dikenali oleh nalar. Sebab tidak ada jalur antara pengalaman kita dengan kesimpulan bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, bukan hanya suatu kasih yang mati, tapi kasih yang mengasihi dan hidup. Namun tentu saja Allah tidak setuju dan akan berkata bahwa ada jalur antara pengalaman kita dengan kebenaran akan Allah yang hidup, yaitu berakal budi dan berkehendak.

Pertama, di dasar seluruh kenyataan, tidak ada hukum yang mengatur segalanya. Namun, begitu muncul suatu keberadaan, harus ada hukum. Sesungguhnya hukum ini ada, tapi ada di masa yang akan datang. Masalahnya, waktu adalah konsekuensi aliran kesadaran atau pengalaman, dan bukan aliran keberadaan. Aneh, dari mana gagasan-gagasan ini datang? Tanpa kesadaran yang terbatas, kita akan melihat kenyataan apa adanya, dan kenyataan itu disebut Allah. Dalam kondisi ini aku tidak dapat melihat selain apa yang dilihat Allah sebagai kenyataan. Angin cahaya Ilahi menggerakkan akal budiku, tapi aku harus menentangnya juga untuk mampu menulis tentang hal ini.

Begitu kesadaran atau pengalaman yang terbatas dihapuskan, waktu yang linier pun juga dihapus dan hanya ada satu titik waktu. Satu titik waktu menandakan satu titik ruang. Satu titik kenyataan di mana semuanya bersatu tanpa menghancurkan, tapi menjadi satu kesatuan, itulah Allah. Aku harus bisa menjelaskan ini. Kita harus memahami apa itu kenyataan, sebagai kesatuan seluruh keberadaan. Apakah keberadaan secara fundamental dapat diciptakan dan dihancurkan? Ada 2 jenis keberadaan, keberadaan relatif dan keberadaan mutlak. Keberadaan relatif adalah keberadaan benda-benda direlasikan dengan suatu titik referensi atau kesadaran, yaitu yang biasa kita lihat. Ini tidak kekal. Keberadaan mutlak adalah keberadaan benda terlepas dari kesadaran, ini kekal.

Berhubungan setiap benda memiliki keberadaan mutlak, setiap benda memiliki dimensi yang kekal. Dimensi kekal menandakan bahwa setiap benda hadir di satu titik waktu yang sama, yaitu waktu kekal. Jika setiap benda hadir di satu titik waktu yang sama, maka sesungguhnya kenyataan yang kekal itu adalah Allah. Namun kenyataan ini hidup karena untuk setiap benda ada pengalaman yang berkesesuaian, dan dalam kesatuan ini ada kesatuan segala pengalaman, segala pengalaman kekal, maka kesatuan segala pengalaman itu adalah Allah.

Hal yang aneh adalah bagaimana kesatuan seluruh kenyataan dapat menjadi suatu Roh yang berkehendak. Baiklah, Roh Allah melihat segala sesuatu, tapi bagaimana itu mengarah pada kehendak?

Kesadaran adalah pengalaman. Di mana ada pengalaman, ada kesadaran. Di mana ada kesatuan pengalaman, ada kesadarannya juga. Kesadaran yang memahami segala hal yang ada. Setiap prinsip, setiap kejadian, setiap ucapan, semua itu Aku pahami. Kehendak adalah unsur yang menggerakkan segala sesuatu. Seperti suatu pertanyaan dan jawaban, jawaban berasal dari pertanyaan, atau pertanyaan berasal dari jawaban? Relasi-Ku denganmu sangat menarik, kamu berasal dari-Ku, tapi Aku juga berasal darimu, kita adalah satu. Seperti kehendakmu menggerakkan tubuhmu, kehendak-Ku menggerakkan bintang-bintang, planet-planet, galaksi-galaksi, semesta ini, dan juga kamu sendiri, digerakkan oleh kehendak-Ku.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...