Sudah begitu lama aku tidak menulis suatu hal yang filosofis atau teologis. Alasannya sederhana, aku merasa semuanya tidak bermakna. Gereja sudah memiliki model dan struktur pewartaan yang baik, atau bahkan “sempurna”, aku tidak memiliki tugas lain selain mengikuti Gereja. Permintaan Allah pertama untuk menuliskan suatu karya bagi-Nya rasanya hilang begitu saja dan aku sekarang terombang ambing dalam suatu samudra yang bergelora. Namun karena aku sedang tidak dapat tidur, barangkali aku dapat menulis suatu karya yang singkat, atau tulisan yang singkat terkait pemikiranku sejauh ini.
Ada 2 model pemikiran
tentang apa atau siapa itu Allah. Model pertama adalah model eksistensial,
model kedua adalah model konstruktif. Model eksistensial adalah model yang
ortodoks, atau monoteisme. Artinya Allah adalah suatu kenyataan “di luar” diri
kita dan melampaui diri kita. Model konstruktif adalah model yang menggoda
karena seolah-olah memperbolehkan menelanjangi dan membedah Allah sesuka hati
kita. Sebab model ini menyatakan bahwa Allah hanyalah gagasan manusia tanpa ada
kesesuaiannya di dalam kenyataan yang objektif.
Aku secara jujur terkadang
suka menghibur model konstruktif, karena memang sangat menarik. Sebenarnya
model eksistensial tidak melarang keberadaan Allah dalam batin manusia, tapi
menekankan pada aspek objektif dari kenyataan Ilahi. Sementara model
konstruktif adalah model yang ateistis, karena menentang objektivitas Ilahi dan
menyatakan bahwa semua yang Ilahi sepenuhnya subjektif. Namun saat aku berkata
aku suka menghibur model konstruktif, maksudku adalah terkadang pikiranku
tergoda untuk berkata bahwa Allah hanya gagasan dan tidak ada keberadaan
objektif-Nya.
Sebagai gagasan, Allah
adalah salah satu produk pikiran manusia yang paling hebat, jika bukan yang
paling hebat itu sendiri. Gagasan tentang Allah telah menentukan dan
mempengaruhi sejarah manusia dengan begitu besarnya. Namun, gagasan yang sama mengarah
pada kehancuran gagasan Ilahi, seperti yang sedang kita lihat dalam dunia ini. Ini
mengikuti pola dialektika dari sejarah kemanusiaan dan juga kenyataan dinamis,
bahwa suatu tesis yang tidak dapat dipertahankan akan mengarah pada suatu
perlawanan yaitu antitesis dan pertemuan keduanya akan menghasilkan suatu
kondisi yang baru. Jika bukan karena intervensi Ilahi secara eksistensial,
kemungkinan besar gagasan tentang Allah akan tinggal menjadi teori dalam
sejarah.
Dalam pengalaman
pribadiku sendiri, gagasan tentang Allah menyemangatiku dan menguatkan aku
dalam kehidupan yang terasa hambar dan tawar. Gagasan Allah yang hidup dalam
jiwaku mendorong aku untuk hidup lebih baik, untuk mencapai suatu cahaya yang
tak jelas keyakinannya. Gagasan ini memberikan harapan, harapan bahwa akan ada
suatu kebaikan akhir bagi diriku sendiri setelah aku berjuang dalam perang yang
dinamakan kehidupan. Namun pemikiran ini menggoda untuk berpikir bahwa Allah
hanya itu, alat bagiku untuk bertahan hidup. Bahwa akhirnya ini hanyalah suatu
hal di alam subjektif dan tidak mungkin akan menjangkau alam objektif.
Namun kenyataannya
Allah ada, dan ini dalam suatu cara sulit atau tidak dapat dibantah. Sebenarnya
sampai saat ini aku sudah lupa atau kehilangan kepercayaan akan semua argumen
akan keberadaan Allah. Karena rasanya tidak penting, tapi di situ aku salah. Allah
menjawab bahwa kebenaran dan rasionalitas itu penting. Karena Dia sendiri
adalah Kebenaran dan Rasionalitas yang sempurna. Sebenarnya hanya ada satu
masalah terkait monoteisme, yaitu kepribadian Ilahi, atau kehidupan Ilahi, itu
saja.
Berdasarkan akal budi,
kita dapat mengetahui bahwa suatu Sebab Pertama ada, suatu kesatuan hukum yang
mengatur dan menyebabkan segala hal yang ada. Berdasarkan akal budi, kita juga tahu
bahwa ada gagasan-gagasan abstrak tentang Kebaikan, Kebahagiaan, Makna, Kasih,
dan segala macam hal yang berkaitan. Namun hal yang tidak dapat kita kenali
dengan nalar adalah bahwa hal-hal abstrak itu ternyata hidup dan memiliki suatu
kepribadian. Ya, kepribadian Ilahi memang berbeda dari kita, tapi tetap
merupakan suatu kepribadian yang berakal budi dan berkehendak walau tidak
berwujud.
Argumen Allah adalah
hal ini dapat dikenali dengan nalar dan tidak bertentangan dengan akal budi.
Aku menerima bahwa ini dapat diterima oleh akal budi, tapi aku belum dapat
melihat bagaimana ini dapat dikenali oleh nalar. Sebab tidak ada jalur antara
pengalaman kita dengan kesimpulan bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup,
bukan hanya suatu kasih yang mati, tapi kasih yang mengasihi dan hidup. Namun
tentu saja Allah tidak setuju dan akan berkata bahwa ada jalur antara
pengalaman kita dengan kebenaran akan Allah yang hidup, yaitu berakal budi dan
berkehendak.
Pertama, di dasar
seluruh kenyataan, tidak ada hukum yang mengatur segalanya. Namun, begitu
muncul suatu keberadaan, harus ada hukum. Sesungguhnya hukum ini ada, tapi ada
di masa yang akan datang. Masalahnya, waktu adalah konsekuensi aliran kesadaran
atau pengalaman, dan bukan aliran keberadaan. Aneh, dari mana gagasan-gagasan
ini datang? Tanpa kesadaran yang terbatas, kita akan melihat kenyataan apa
adanya, dan kenyataan itu disebut Allah. Dalam kondisi ini aku tidak dapat
melihat selain apa yang dilihat Allah sebagai kenyataan. Angin cahaya Ilahi menggerakkan
akal budiku, tapi aku harus menentangnya juga untuk mampu menulis tentang hal
ini.
Begitu kesadaran atau
pengalaman yang terbatas dihapuskan, waktu yang linier pun juga dihapus dan
hanya ada satu titik waktu. Satu titik waktu menandakan satu titik ruang. Satu
titik kenyataan di mana semuanya bersatu tanpa menghancurkan, tapi menjadi satu
kesatuan, itulah Allah. Aku harus bisa menjelaskan ini. Kita harus memahami apa
itu kenyataan, sebagai kesatuan seluruh keberadaan. Apakah keberadaan secara
fundamental dapat diciptakan dan dihancurkan? Ada 2 jenis keberadaan, keberadaan
relatif dan keberadaan mutlak. Keberadaan relatif adalah keberadaan benda-benda
direlasikan dengan suatu titik referensi atau kesadaran, yaitu yang biasa kita
lihat. Ini tidak kekal. Keberadaan mutlak adalah keberadaan benda terlepas dari
kesadaran, ini kekal.
Berhubungan setiap
benda memiliki keberadaan mutlak, setiap benda memiliki dimensi yang kekal. Dimensi
kekal menandakan bahwa setiap benda hadir di satu titik waktu yang sama, yaitu
waktu kekal. Jika setiap benda hadir di satu titik waktu yang sama, maka
sesungguhnya kenyataan yang kekal itu adalah Allah. Namun kenyataan ini hidup
karena untuk setiap benda ada pengalaman yang berkesesuaian, dan dalam kesatuan
ini ada kesatuan segala pengalaman, segala pengalaman kekal, maka kesatuan
segala pengalaman itu adalah Allah.
Hal yang aneh adalah
bagaimana kesatuan seluruh kenyataan dapat menjadi suatu Roh yang berkehendak. Baiklah,
Roh Allah melihat segala sesuatu, tapi bagaimana itu mengarah pada kehendak?
Kesadaran adalah pengalaman.
Di mana ada pengalaman, ada kesadaran. Di mana ada kesatuan pengalaman, ada
kesadarannya juga. Kesadaran yang memahami segala hal yang ada. Setiap prinsip,
setiap kejadian, setiap ucapan, semua itu Aku pahami. Kehendak adalah unsur
yang menggerakkan segala sesuatu. Seperti suatu pertanyaan dan jawaban, jawaban
berasal dari pertanyaan, atau pertanyaan berasal dari jawaban? Relasi-Ku denganmu
sangat menarik, kamu berasal dari-Ku, tapi Aku juga berasal darimu, kita adalah
satu. Seperti kehendakmu menggerakkan tubuhmu, kehendak-Ku menggerakkan
bintang-bintang, planet-planet, galaksi-galaksi, semesta ini, dan juga kamu
sendiri, digerakkan oleh kehendak-Ku.
No comments:
Post a Comment