Wednesday, March 2, 2022

Asumsi aksiomatis sebagai awal kepercayaan

Asumsi Aksiomatis

Mungkin Anda tidak meyakini hal ini, tapi dalam pandanganku, segala kepercayaan didasarkan pada beberapa asumsi aksiomatis yang membenarkan segala kepercayaan lainnya. Asumsi aksiomatis adalah suatu asumsi mendasar tentang kenyataan yang kita yakini sebagai kebenaran mendasar sehingga menjadi suatu aksioma. Aksioma ini aku katakan sebagai asumsi karena tidak ada dasar yang lebih mendasar lagi daripada asumsi-asumsi ini. Selain itu, asumsi ini juga adalah asumsi karena kita tidak mungkin membuktikan pernyataan-pernyataan ini.

Pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dibuktikan salah bersifat seperti itu karena berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Untuk aksioma, mereka berada di luar jangkauan manusia karena cakupan aksioma adalah seluruh kenyataan, sementara manusia pada dasarnya tidak dapat melihat seluruh kenyataan, melainkan hanya sebagian. Hal ini dapat menjadi masalah, sebab manusia harus menentukan suatu aksioma yang benar supaya dia dapat memahami seluruh kenyataan dengan baik. Kodrat kenyataan dalam pandangan manusia akan menentukan pemahaman berikutnya terhadap segala kenyataan yang lebih spesifik, yaitu alam kebendaan.

Asal-usul asumsi aksiomatis

Bagaimana cara seseorang menentukan aksiomanya? Proses penentuan aksioma dimulai dari saat jiwa diciptakan oleh Allah, dan pada saat tubuh manusia terbentuk dalam rahim ibunya. Dalam rahim, otak manusia mulai terbentuk, dan sesungguhnya tidak mungkin otak manusia sungguh kosong, melainkan jiwa sudah masuk dalam tubuh manusia sejak konsepsi atau pembuahan. Dalam otak manusia, atau dalam batin manusia yang masih di dalam rahim, sudah ada struktur-struktur pemahaman, atau kepercayaan fundamental yang memampukan manusia untuk belajar saat sudah keluar dari rahim ibunya.

Setelah dilahirkan, struktur batin manusia menerima lingkungannya ke dalam dirinya, dan ini akan mulai mempengaruhi struktur itu sendiri sehingga mulai terjadi entah perubahan kepercayaan fundamental atau penambahan kepercayaan fundamental ke dalam batin manusia. Proses pendidikan manusia oleh dunia dan Allah secara bersama akan membentuk batin manusia sampai dia dewasa, dan sampai dia menyadari adanya aksioma dan menentukan aksioma itu secara sadar dan mandiri.

Umumnya, manusia tidak mempertanyakan kepercayaan-kepercayaan fundamentalnya sampai muncul suatu titik balik, entah karena dunia atau karena Allah, sehingga mereka harus mempertanyakan seluruh kenyataan mereka dan menentukan suatu aksioma yang baru. Pada saat itu mereka berjumpa dengan keputusan pertama, yaitu untuk melanjutkan hidup dengan kenyataan yang sekarang, atau mulai berpikir dan menentukan aksioma yang baru. Jika mereka memilih pilihan pertama, mungkin saja mereka seperti itu sampai akhir hayat atau kelak mereka pada akhirnya akan merasakan tekanan dan paksaan besar untuk sungguh mempertimbangkan aksioma yang dia miliki.

Pada pilihan kedua, manusia harus mempertimbangkan seluruh hidupnya dan kepercayaannya untuk sampai pada aksioma yang disadari ini. Ada 2 kemungkinan, entah dia menemukan bahwa aksioma yang selama ini dia pegang layak dia pegang, dan karena itu dia memperoleh pemahaman yang diperbaharui tentang keyakinan dirinya, atau dia menemukan adanya aksioma yang baru yang lebih layak dipegang, di mana dia harus menjalani siksaan berat untuk meninggalkan dirinya yang lama demi aksioma yang baru. Sekarang marilah kita memahami bagaimana proses pemutusan aksioma ini.

Pemutusan asumsi aksiomatis

Saat manusia sedang meneliti aksioma-aksioma yang hendak dia pegang atau buang, ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi. Manusia dapat memegang aksioma dan berpikir bahwa dia telah memperoleh suatu keyakinan yang pasti, berpikir bahwa aksioma yang dia pegang adalah dasar yang berdasar, dan bahwa aksioma itu sendiri terbukti. Namun ini bukan kepercayaan yang benar dalam pandanganku. Kemungkinan yang kedua adalah manusia menyadari dan memahami sifat aksioma sebagai dasar yang tidak berdasar, karena itu mengakui bahwa tidak ada yang sungguh pasti di dalam dunia ini selain pengalaman paling dekatnya.

Kepercayaan kedua memiliki implikasi bagi pemutusan aksioma. Implikasi itu adalah bahwa aksioma menjadi kepercayaan yang suprarasional, yaitu melampaui akal budi atau di atas akal budi. Sebab aksioma tidak dapat dibuktikan secara rasional, karena itu dia tidak rasional dan justru aksiomalah yang menjadi dasar dari segala proses akal budi. Maka aksioma harus ditentukan bukan secara acak, tapi oleh daya jiwa yang lain, yaitu hati. Hati tidak merujuk pada emosi di permukaan, melainkan perasaan dan rasa yang jauh di dalam, dialah yang mengenal kebenaran.

Dari aksioma-aksioma yang ada, hati manusia akan menunjuk kepadanya apa aksioma yang benar. Namun hati manusia tidak selalu tepat, hati dapat salah, atau dapat terjadi keterpisahan dalam pribadi manusia sehingga dia buta terhadap hatinya sendiri. Maka pada akhirnya keputusan manusia terkait aksiomanya adalah cerminan dari pribadi manusia itu sendiri. Jika aksioma itu ternyata benar, maka manusia itu kemungkinan besar sudah berada pada jalan yang benar. Jika aksioma itu belum benar, maka kemungkinan besar dia masih mencari jalan yang benar.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...