Asumsi Aksiomatis
Mungkin Anda tidak
meyakini hal ini, tapi dalam pandanganku, segala kepercayaan didasarkan pada
beberapa asumsi aksiomatis yang membenarkan segala kepercayaan lainnya. Asumsi
aksiomatis adalah suatu asumsi mendasar tentang kenyataan yang kita yakini
sebagai kebenaran mendasar sehingga menjadi suatu aksioma. Aksioma ini aku
katakan sebagai asumsi karena tidak ada dasar yang lebih mendasar lagi daripada
asumsi-asumsi ini. Selain itu, asumsi ini juga adalah asumsi karena kita tidak
mungkin membuktikan pernyataan-pernyataan ini.
Pernyataan-pernyataan
yang tidak dapat dibuktikan salah bersifat seperti itu karena berada di luar jangkauan
pengalaman manusia. Untuk aksioma, mereka berada di luar jangkauan manusia
karena cakupan aksioma adalah seluruh kenyataan, sementara manusia pada
dasarnya tidak dapat melihat seluruh kenyataan, melainkan hanya sebagian. Hal
ini dapat menjadi masalah, sebab manusia harus menentukan suatu aksioma yang
benar supaya dia dapat memahami seluruh kenyataan dengan baik. Kodrat kenyataan
dalam pandangan manusia akan menentukan pemahaman berikutnya terhadap segala
kenyataan yang lebih spesifik, yaitu alam kebendaan.
Asal-usul asumsi
aksiomatis
Bagaimana cara
seseorang menentukan aksiomanya? Proses penentuan aksioma dimulai dari saat jiwa
diciptakan oleh Allah, dan pada saat tubuh manusia terbentuk dalam rahim
ibunya. Dalam rahim, otak manusia mulai terbentuk, dan sesungguhnya tidak
mungkin otak manusia sungguh kosong, melainkan jiwa sudah masuk dalam tubuh
manusia sejak konsepsi atau pembuahan. Dalam otak manusia, atau dalam batin
manusia yang masih di dalam rahim, sudah ada struktur-struktur pemahaman, atau
kepercayaan fundamental yang memampukan manusia untuk belajar saat sudah keluar
dari rahim ibunya.
Setelah dilahirkan,
struktur batin manusia menerima lingkungannya ke dalam dirinya, dan ini akan mulai
mempengaruhi struktur itu sendiri sehingga mulai terjadi entah perubahan kepercayaan
fundamental atau penambahan kepercayaan fundamental ke dalam batin manusia. Proses
pendidikan manusia oleh dunia dan Allah secara bersama akan membentuk batin
manusia sampai dia dewasa, dan sampai dia menyadari adanya aksioma dan
menentukan aksioma itu secara sadar dan mandiri.
Umumnya, manusia tidak
mempertanyakan kepercayaan-kepercayaan fundamentalnya sampai muncul suatu titik
balik, entah karena dunia atau karena Allah, sehingga mereka harus mempertanyakan
seluruh kenyataan mereka dan menentukan suatu aksioma yang baru. Pada saat itu
mereka berjumpa dengan keputusan pertama, yaitu untuk melanjutkan hidup dengan
kenyataan yang sekarang, atau mulai berpikir dan menentukan aksioma yang baru. Jika
mereka memilih pilihan pertama, mungkin saja mereka seperti itu sampai akhir
hayat atau kelak mereka pada akhirnya akan merasakan tekanan dan paksaan besar
untuk sungguh mempertimbangkan aksioma yang dia miliki.
Pada pilihan kedua,
manusia harus mempertimbangkan seluruh hidupnya dan kepercayaannya untuk sampai
pada aksioma yang disadari ini. Ada 2 kemungkinan, entah dia menemukan bahwa aksioma
yang selama ini dia pegang layak dia pegang, dan karena itu dia memperoleh
pemahaman yang diperbaharui tentang keyakinan dirinya, atau dia menemukan
adanya aksioma yang baru yang lebih layak dipegang, di mana dia harus menjalani
siksaan berat untuk meninggalkan dirinya yang lama demi aksioma yang baru. Sekarang
marilah kita memahami bagaimana proses pemutusan aksioma ini.
Pemutusan asumsi
aksiomatis
Saat manusia sedang
meneliti aksioma-aksioma yang hendak dia pegang atau buang, ada 2 kemungkinan
yang dapat terjadi. Manusia dapat memegang aksioma dan berpikir bahwa dia telah
memperoleh suatu keyakinan yang pasti, berpikir bahwa aksioma yang dia pegang
adalah dasar yang berdasar, dan bahwa aksioma itu sendiri terbukti. Namun ini
bukan kepercayaan yang benar dalam pandanganku. Kemungkinan yang kedua adalah
manusia menyadari dan memahami sifat aksioma sebagai dasar yang tidak berdasar,
karena itu mengakui bahwa tidak ada yang sungguh pasti di dalam dunia ini
selain pengalaman paling dekatnya.
Kepercayaan kedua
memiliki implikasi bagi pemutusan aksioma. Implikasi itu adalah bahwa aksioma
menjadi kepercayaan yang suprarasional, yaitu melampaui akal budi atau di atas
akal budi. Sebab aksioma tidak dapat dibuktikan secara rasional, karena itu dia
tidak rasional dan justru aksiomalah yang menjadi dasar dari segala proses akal
budi. Maka aksioma harus ditentukan bukan secara acak, tapi oleh daya jiwa yang
lain, yaitu hati. Hati tidak merujuk pada emosi di permukaan, melainkan
perasaan dan rasa yang jauh di dalam, dialah yang mengenal kebenaran.
Dari aksioma-aksioma
yang ada, hati manusia akan menunjuk kepadanya apa aksioma yang benar. Namun
hati manusia tidak selalu tepat, hati dapat salah, atau dapat terjadi keterpisahan
dalam pribadi manusia sehingga dia buta terhadap hatinya sendiri. Maka pada
akhirnya keputusan manusia terkait aksiomanya adalah cerminan dari pribadi
manusia itu sendiri. Jika aksioma itu ternyata benar, maka manusia itu
kemungkinan besar sudah berada pada jalan yang benar. Jika aksioma itu belum
benar, maka kemungkinan besar dia masih mencari jalan yang benar.
No comments:
Post a Comment