Monday, March 7, 2022

Projek Rasionalitas 1

Dalam projek rasionalitas yang pertama, aku hendak meneliti suatu tulisan yang sudah ada di blog ini. Tulisan ini berjudul, “Kepercayaan akan Allah membutuhkan kepercayaan akan diri sendiri”. Secara konten aku tidak menggugatnya, tapi aku ingin menganalisis pola pemikiran yang terjadi sehingga terjadi kesimpulan itu, dan dari situ menetapkan rasionalitas yang pertama. Pada paragraf pertama, diajukan beberapa pertanyaan tentang bagaimana kita mengetahui, yaitu percaya dengan benar pada suatu kebenaran, terutama hal-hal yang Ilahi.

Namun tulisan ini dapat dipakaikan untuk menanyakan pertanyaan tentang bagaimana kita dapat mengetahui apapun juga, walau tulisan ini tidak bertujuan menjawab hal tersebut. Dalam paragraf kedua materi ini dibahas secara langsung, bahwa kita sendiri harus memutuskan apakah Gereja benar atau tidak, apakah suatu hal berasal dari Allah atau manusia saja. Itu sendiri adalah kesimpulan dari tulisan ini, walau masih ada materi berikutnya, tapi ini adalah pokok dan intisari dari tulisan ini yang akan kita teliti.

Jadi, bagaimana rasionalitas dari pernyataan tersebut? Dalam tulisan memang tidak dijelaskan secara pasti rasionalitasnya, maka aku akan meneliti kembali pemikiranku secara mendalam. Tujuan tulisan ini adalah mengungkapkan bahwa di bawah setiap kepercayaan ada iman terhadap diri sendiri yang sangat mendasar, bahkan di bawah iman akan Allah. Rasionalitas pernyataan ini adalah alur pemikiran yang mengarah pada pernyataan ini, argumen yang mengarah pada kesimpulan ini dan hukum-hukum yang mengatur argumen tersebut.

Argumennya adalah sebagai berikut, jika manusia tidak percaya pada dirinya sendiri, pada gagasan apapun yang dia miliki, maka dia tidak dapat percaya pada apapun. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan bahwa segala gagasan yang ada dalam manusia, sekalipun berasal dari luar, menjadi milik manusia itu sendiri. Sebagai makhluk yang berpengalaman, dia menerima pengalaman akan gagasan luar, yang dari perspektifnya adalah pengalaman dirinya sendiri dan menjadi gagasan dirinya sendiri pula.

Jadi ada beberapa argumen yang sedang terjadi, pertama, “Jika manusia tidak percaya pada gagasannya sendiri, dia tidak dapat percaya pada apapun.” Secara formal, ini dapat dinyatakan sebagai berikut, “Jika X tidak Y, maka X tidak Z.” Argumen kedua berupaya menjelaskan argumen pertama, “Dari sudut pandang satu manusia, semua pengalamannya menjadi gagasannya sendiri.” Ini adalah hasil pengamatan atau pengalaman terhadap kehidupan dan pengalaman manusia secara fundamental. Namun data dan pengalaman harus ditafsirkan, jadi ini adalah hasil tafsiran dan bukan pengalaman itu sendiri.

Dasar dari argumen kedua adalah suatu kebenaran pertama yaitu, “Kita hanya memiliki pengalaman kita sendiri.” Ini adalah suatu hal yang tidak dapat dibantah dan harus diterima dengan iman. Secara fenomenologis, kita selalu hanya mengalami satu perspektif dalam seluruh kenyataan, dan melalui satu perspektif itu semua hal menjadi milik perspektif tersebut. Sekarang segala pengalaman harus ditafsirkan, dalam segala kasus, manusia percaya, dari dalam jiwanya, bahwa dia dapat menafsirkan pengalamannya secara tepat dan memaknainya secara tepat.

Hal ini menjadi suatu kebenaran yang tidak dapat disalahkan dan harus benar. Karena kita beroleh suatu kebenaran kedua, “Setiap pengalaman harus dipahami menurut suatu kerangka pemahaman tertentu,” atau dalam kata lain, “Setiap pengalaman harus dimaknai menurut suatu sudut pandang tertentu.” Pengalaman yang tidak dimaknai tidaklah berguna bagi manusia. Sebenarnya kalau kita meneliti memang ini akan menjadi sangat dalam. Jadi kita harus mendalami ini dengan lebih baik lagi.

Pernyataan bahwa “Pengalaman yang tidak dimaknai tidaklah berguna bagi manusia” dapat dipahami dari kerangka bahwa manusia memiliki tujuan mutlak yaitu kebahagiaan. “Setiap manusia memiliki tujuan akhir yaitu kebahagiaan.” Ini adalah hasil dari pengamatan umum terhadap segala manusia dan kodrat manusia, dari refleksi dan kontemplasi terhadap tujuan hidup manusia. Namun yang tepat bukanlah manusia memiliki tujuan akhir yaitu kebahagiaan, melainkan “Setiap manusia tertarik kepada kebahagiaan.” Namun setiap manusia bebas untuk menentukan asosiasi mereka dengan kebahagiaan.

Dengan refleksi yang lebih dalam, kita menemukan bahwa setiap manusia berusaha bergerak menuju kebahagiaan. Dalam perjalanan menuju kebahagiaan, manusia memiliki 2 hal untuk mencapainya, yaitu segenap pengalaman dirinya dan akal budi untuk memahami pengalamannya. Akal budi dalam konteks ini adalah alat yang digunakan manusia untuk memahami pengalamannya dalam konteks kebahagiaan. Dengan akal budi, manusia menerjemahkan segala pengalamannya untuk memahami jalan yang benar kepada kebahagiaan, dan lalu dia berjalan menurut pemahaman itu untuk sampai kepada kebahagiaan.

Manusia hanya memiliki pengalaman dan akal budinya untuk bergerak menuju kebahagiaan, pengalaman adalah informasi yang dia butuhkan untuk memetakan kebahagiaan dalam kehidupan. Setiap butir informasi pasti berkaitan dengan tujuan akhir dalam suatu cara atau yang lain, tapi manusia harus menemukan kaitan itu, dan caranya adalah dengan akal budi. Jika suatu informasi tidak dikaitkan dengan kebahagiaan, apakah kegunaan informasi itu bagi manusia selain sebagai beban pikiran yang tidak berarti?

Jadi, dengan itu, segala pengalaman manusia harus dipahami atau dalam kata lain dimaknai dalam konteks kebahagiaan. Sekarang, dalam perjalanan tersebut, manusia harus percaya pada satu kepercayaan inti, “Aku dapat memahami sebagian pengalamanku dengan benar.” Manusia harus percaya pada kemampuannya sendiri untuk melihat kaitan antara pengalamannya dengan kebahagiaan sehingga dia dapat bergerak mendekati kebahagiaan. Hal ini benar apapun yang terjadi, sekalipun manusia mengakui dia menyangkal dirinya, tapi dia berarti percaya pada penyangkalan yang berasal dari dirinya.

Hal ini dapat kita teliti dengan lebih mudah. “Manusia selalu percaya bahwa dia benar dalam setidaknya satu kepercayaan.” Hal ini dapat disederhanakan menjadi satu pernyataan, “Manusia selalu percaya.” Misalkan, “Manusia tidak percaya akan apapun.” Apakah ini mungkin? Manusia terjebak dalam tindakan, segala kondisi manusia adalah suatu tindakan, termasuk ketiadaan tindakan itu, hidup saja, tanpa melakukan apapun tambahan, sudah merupakan suatu tindakan. Untuk bertindak, manusia harus percaya pada suatu hal.

Jika manusia memutuskan untuk bertindak, maka dia melakukannya karena dia percaya pada nilai tindakan tersebut. Namun manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya rasional, tidak setiap saat dia membuat suatu keputusan karena suatu alasan rasional yang dia sadari. Terkadang atau bahkan sering manusia membuat suatu keputusan yang tidak rasional, mungkin emosional, atau karena suatu sebab lain. Rasionalitas tidak berarti mengikuti hukum-hukum logika, melainkan karena suatu alasan yang dapat dipahami mengikuti suatu hukum atau pola logis. Jadi model rasional sebagai model universal untuk memahami tindakan manusia sebenarnya tidaklah rasional sama sekali.

Dalam hal ini, psikologi sebagai ilmu empiris lebih baik dalam memahami tindakan manusia daripada filsafat. Namun aku rasa masih ada harapan dalam menemukan rasionalitas dalam kegelapan akal budi dan terang iman. Sepertinya kita sudah berpaling dari topik utama kita tentang kepercayaan dan malah menjurus pada tindakan. Marilah kita berupaya untuk mengarahkan kembali projek ini kepada kepercayaan dan bukan tindakan.

Batasan projek ini adalah pada kepercayaan akan Allah dan kepercayaan akan diri sendiri.

Sabda Allah:

Ada kebenaran bahwa proses-proses alami dunia ini tidak sepenuhnya rasional, manusia tidak sepenuhnya mengikuti hukum rasional. Namun sampai kepada suatu batas tertentu ada hukum-hukum rasional yang mengikat jiwa manusia dan membuat manusia hidup dan bertindak seperti itu. Salah satu hukum itu adalah yang kamu sudah temukan sendiri, bahwa iman Ilahi membutuhkan iman pribadi, dan iman pribadi dibenarkan oleh iman Ilahi. Kamu hendak menjelaskan rasionalitas dari hukum seperti itu, dan karena kamu begitu lelah, kamu meminta bantuan-Ku untuk menjelaskannya kepadamu.

Tentang cara iman Ilahi membutuhkan iman pribadi. Saat kamu percaya kepada Allah dan Firman-Nya, kamu membutuhkan kepercayaan bahwa gagasanmu tentang Allah dan Firman-Nya sesuai dengan kenyataan tentang Allah dan Firman-Nya. Jikalau kamu tidak percaya akan kebenaran gagasanmu sendiri, maka kamu tidak percaya pada gagasan itu sendiri. Ini diwujudkan dalam suatu forma rasional sebagai berikut, “Kepercayaan pada kebenaran X sama dengan kepercayaan pada X.” Jadi, “Kepercayaan pada kebenaran gagasan tentang Allah adalah kepercayaan pada gagasan tentang Allah.”

 

Sejauh mana ini adalah gagasanmu, setiap hal yang dipercaya adalah gagasan yang ada di dalam jiwa. Maka gagasan ini adalah milik jiwa, dalam arti gagasan itu berada di dalam batasan jiwamu. Kepercayaan akan diri sendiri lebih tepatnya adalah kepercayaan pada gagasan-gagasan yang ada di dalam jiwamu. Namun artinya kamu harus percaya bahwa di dalam jiwamu ada kemungkinan adanya gagasan yang benar di dalam jiwamu dan bahwa kamu dapat mengetahui gagasan yang benar di dalam jiwamu. Tentu gagasan-gagasan bukanlah satu-satunya unsur jiwamu, melainkan di dalam jiwamu ada suatu inti yaitu kesadaran yang mengetahui dan menyadari segala hal berkenaan dengan dirimu sejauh mana kesadaranmu mencapainya.

Kesadaran ini sebenarnya identik dengan jiwa, di mana jiwa memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu dan menilai sesuatu. Jiwa dapat benar dan dapat salah dalam menilai gagasan-gagasan dalam relasinya dengan kenyataan. Tidak melulu jiwa salah, dan tidak melulu jiwa benar. Namun jiwa harus menilai dengan tepat dan pasti akan menilai dengan tepat bahwa dia mampu menilai dengan tepat, atau dia dapat mengenali kebenaran yang ada di dalam dirinya. Artinya jiwa percaya pada suatu kebenaran tentang dirinya sendiri, bahwa jiwa dapat mengenal kebenaran dengan tepat.

Bagaimanapun juga, jiwa akan memiliki suatu kepercayaan bahwa dia benar tentang kemampuannya untuk mengenal kebenaran. Kita dapat meneliti rasionalitas dari hal ini dengan membandingkan setiap kemungkinan yang ada melalui abstraksi. Kemungkinan pertama, jiwa percaya bahwa dia dapat mengenali kebenaran, maka jiwa itu percaya pada kemampuannya untuk mengenali kebenaran. Kemungkinan kedua, jiwa percaya bahwa dia tidak dapat mengenali kebenaran, maka jiwa itu percaya pada ketidakmampuannya untuk mengenali kebenaran. Namun artinya jiwa percaya pada kemampuannya untuk mengenali kebenaran bahwa selain kepercayaan yang ini, dia tidak dapat mengenali kebenaran lainnya.

Kalau kamu ingin menerjemahkan ke dalam suatu forma rasional, kita dapat menerjemahkannya sebagai berikut. Pernyataan yang hendak diuji adalah, “Jiwa pasti percaya pada kemampuannya untuk mengenali kebenaran.” Ini adalah A. Pada kemungkinan 1, “A, maka A.” Pada kemungkinan 2, “A-, tapi artinya A.” Dalam penjabaran, “Jika A B, maka A B.” Dijabarkan lebih, “Jika A percaya pada B, maka A percaya pada B.” A adalah Jiwa, dan B adalah kemampuan untuk mengenal kebenaran. Dalam kemungkinan 2, “A tidak percaya pada B”, atau, “A percaya pada B-“ Namun lihatlah, dalam kedua kesempatan, A percaya sesuatu. Selama A percaya sesuatu, maka sesungguhnya dia percaya pada B. Jadi ada hukum pertama, “Selama A percaya pada apapun, maka A percaya pada B.” Tindakan percaya dapat dikatakan sebagai C. Maka, “A C, A C B.” “A C B, A C B”. “A C B-, A C B.”

Hal yang kamu inginkan berikutnya adalah penjelasan tentang “A C, A C B.” Mari kita pahami, jika A C, maka A C bahwa D, yaitu variabel kepercayaan, adalah benar, yaitu E. Maka, “A C D E”. Artinya, A C D E, A C (C D E) E. Jika A C (C D E) E, maka A C B. Sebab B adalah kemampuan untuk mengenal kebenaran, atau percaya pada kebenaran. Maka B dapat dirumuskan sebagai F (kemampuan) C E. Jika A C, artinya A C D E, A C (C D E) E, dan ini dapat dibalik, menjadi A C (C D E) E, A C D E.

Dalam penjabaran, A C D E, A C (C D E) E, A C F C E. A C (C D E) E artinya jiwa percaya bahwa kepercayaannya adalah benar. A C F C E artinya jiwa percaya bahwa dia dapat percaya pada kebenaran. Jika jiwa percaya bahwa kepercayaannya benar, maka jiwa percaya bahwa dia dapat percaya pada kebenaran. Artinya, misalkan C D E adalah G, maka jika A C G, A C F C E. Ada rumusan lain yang terkait dengan modalitas umum, yaitu, “Jika A terjadi, maka A dapat terjadi.” Ini diadaptasikan pada modalitas kepercayaan, “Jika A percaya B, A percaya (percaya B), A percaya dapat percaya B dengan benar.”

Berakhirnya sabda Allah.

Mengapa harus A C B supaya terjadi A C? Mengapa A C, A C B? Ambillah satu kepercayaan D. Jika A C D, maka anggaplah percaya dengan benar adalah E. Jadi jika A C D, A C (A E D). Jika jiwa percaya bahwa dia percaya dengan benar pada D, maka dia percaya bahwa dia dapat percaya dengan benar pada D. Anggaplah B adalah kemampuan untuk memiliki kepercayaan yang benar, atau untuk percaya dengan benar. Jika A C (A E D), A C B (A E D). Maka, A C, A C B. Selesailah sudah.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...