Pada kedua bacaan hari ini, diperlihatkan kembali suatu kontras antara masa yang lalu dan masa yang sekarang. Namun di mana kemarin kita diperlihatkan dengan teguran, hari ini kita diperlihatkan dengan suatu penghiburan. Pada bacaan Perjanjian Lama dikisahkan siapapun yang menghadap raja tanpa dipanggil akan dihukum mati. Ini adalah wujud ketinggian hati manusia akibat dosa asal. Namun pada bacaan Perjanjian Baru dikisahkan bahwa aturan semacam itu tidak berlaku di antara kita dan Allah Bapa. Justru, kita diminta untuk meminta kepada-Nya supaya kita memperoleh.
Aku beberapa kali
dalam hidupku merasakan kehadiran Allah yang kuat, dan beberapa kali pula saat
aku merasakan Allah aku begitu ketakutan. Aku tidak tahu kenapa aku takut,
mungkin aku menyadari betapa besar Allah itu sehingga aku merasa takut akan
teguran-Nya. Namun pelan-pelan aku belajar untuk tidak takut di hadapan Allah,
dan melainkan mencintai-Nya. Injil hari ini meneguhkan aku bahwa Allah bukanlah
raja yang lalim yang membinasakan mereka yang terlalu dekat dengan-Nya. Allah
adalah Bapa dan sahabat kita yang siap menerima kita kapanpun juga.
Barangkali aku ingin
menutup pesan ini dengan renungan tambahan. Yesus memang meminta kita untuk meminta
kepada Allah, tapi apa yang harus kita minta kepada Allah? Salah satu petunjuknya
ada di doa Bapa Kami, “Berilah kami rezeki pada hari ini.” Dalam perkataan
awal, “Berilah kami roti pada hari ini.” Dalam arti, kita meminta kepada Bapa supaya
kita dicukupkan dalam kehidupan kita, tapi berikutnya timbul pertanyaan,
dicukupkan untuk apa? Hal ini berkaitan dengan tujuan besar kita yaitu untuk
melayani Allah dan menjadi sahabat-Nya. Artinya, kita meminta supaya dicukupkan
untuk melayani Allah dan menjadi sahabat-Nya.
Injil hari ini tidak
boleh ditafsirkan sebagai arti bahwa kita dapat menjadikan Allah sebagai
pesuruh kita yang menyediakan apapun yang kita inginkan. Barangkali kita, termasuk
aku, bersalah atas hal ini secara tidak sadar, sehingga kita harus merenungkan
pula, apa yang sungguh kita inginkan dari Allah? Apakah yang kita minta kepada
Allah berguna bagi tujuan besar kita di hadapan-Nya, atau hanya untuk
kesenangan pribadi? Hal ini memang sulit untuk direnungkan, aku pun kesulitan,
tapi baiklah kita berusaha untuk melihat kembali apakah yang kita minta sesuai
dengan yang Allah inginkan bagi kita, atau Allah hanyalah pesuruh kita.
No comments:
Post a Comment