Monday, March 7, 2022

Projek Rasionalitas 3

Projek Rasionalitas 3 membahas bagian kedua dari tulisan tentang iman Ilahi dan iman pribadi, yaitu bagaimana iman Ilahi mendukung iman pribadi. Rasionalitas dari hal ini lebih sulit dan lebih membutuhkan iman daripada rasionalitas pertama. Rasionalitas pertama kurang lebih berdiri sendiri, iman pribadi membuktikan dirinya sendiri dan berakar pada kebenaran tentang modalitas. Namun rasionalitas kedua berakar dari kebenaran iman yang sulit didasarkan pada apapun juga. Kebenaran modalitas sebenarnya memiliki akar yang menarik juga, tapi untuk saat ini kita akan membahas rasionalitas kedua, Kebaikan Allah.

Sebenarnya bukan tentang kebaikan Allah, tapi lebih kepada kehendak Allah. Dalam suatu wujud rasional dapat kita bahasakan sebagai berikut, “Allah menghendaki ciptaan-Nya untuk mengenal-Nya. Maka Allah menciptakan ciptaan yang dapat mengenal-Nya.” Hal ini harus benar, karena adalah hal yang logis, atau setidaknya adalah kemungkinan yang logis. Sebenarnya tidak ada yang melarang suatu entitas untuk menghendaki sesuatu, lalu melakukan hal yang justru membuat kehendaknya tidak terjadi. Namun jika entitas itu berpikir secara logis, dia akan melakukan hal yang mengarah pada pemenuhan kehendaknya.

Rasionalitas atau logika dari cara berpikir teleologis sangatlah sederhana, dia hanya menilai bagaimana kesesuaian tindakan suatu benda dengan kehendak atau tujuan benda tersebut. Jadi rasionalitas teleologis tidak berbicara tentang benar tidaknya suatu pernyataan, melainkan menilai suatu tindakan menurut tujuan-tujuan yang hendak dicapai dengan adanya tindakan tersebut. Ini adalah hasil pengalaman manusia di mana kita memiliki berbagai kehendak dan tujuan yang ingin kita penuhi, maka kita berusaha mencari cara untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut.

Makhluk yang rasional adalah makhluk yang memenuhi 2 syarat, yaitu mengetahui jalan untuk memenuhi tujuannya dan bertindak menurut jalan tersebut sehingga dia memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mencapai tujuannya dibandingkan dengan kondisi di mana dia tidak rasional. Allah adalah entitas yang paling rasional, dan dalam pernyataan mistis, Allah adalah rasionalitas itu sendiri. Pembahasan tentang rasionalitas Allah bukan fokus kita. Allah juga adalah Sebab Pertama dari segala hal. Maka Dia yang menyebabkan segala ciptaan.

Dalam wahyu Ilahi, kita tahu bahwa Allah ingin kita untuk mengenal Dia, maka secara rasional Allah akan menyebabkan kita untuk mengenal Dia, dan artinya untuk kita mampu mengenal Dia. Jadi secara simbolik, jika A adalah Allah, B adalah rasional, C adalah sebab pertama, D adalah kehendak, E adalah sebab, dan F adalah variabel kehendak, maka, JIKA AB, AC, ADF, MAKA AEF. Jika F adalah kondisi yang berbunyi, “ciptaan-Nya mengenal Dia”, maka ini akan membuktikan kebenaran tentang kemampuan kita untuk mengenal Allah dengan benar.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...