Projek Rasionalitas 3 membahas bagian kedua dari tulisan tentang iman Ilahi dan iman pribadi, yaitu bagaimana iman Ilahi mendukung iman pribadi. Rasionalitas dari hal ini lebih sulit dan lebih membutuhkan iman daripada rasionalitas pertama. Rasionalitas pertama kurang lebih berdiri sendiri, iman pribadi membuktikan dirinya sendiri dan berakar pada kebenaran tentang modalitas. Namun rasionalitas kedua berakar dari kebenaran iman yang sulit didasarkan pada apapun juga. Kebenaran modalitas sebenarnya memiliki akar yang menarik juga, tapi untuk saat ini kita akan membahas rasionalitas kedua, Kebaikan Allah.
Sebenarnya bukan
tentang kebaikan Allah, tapi lebih kepada kehendak Allah. Dalam suatu wujud
rasional dapat kita bahasakan sebagai berikut, “Allah menghendaki ciptaan-Nya
untuk mengenal-Nya. Maka Allah menciptakan ciptaan yang dapat mengenal-Nya.” Hal
ini harus benar, karena adalah hal yang logis, atau setidaknya adalah
kemungkinan yang logis. Sebenarnya tidak ada yang melarang suatu entitas untuk
menghendaki sesuatu, lalu melakukan hal yang justru membuat kehendaknya tidak
terjadi. Namun jika entitas itu berpikir secara logis, dia akan melakukan hal
yang mengarah pada pemenuhan kehendaknya.
Rasionalitas atau
logika dari cara berpikir teleologis sangatlah sederhana, dia hanya menilai
bagaimana kesesuaian tindakan suatu benda dengan kehendak atau tujuan benda
tersebut. Jadi rasionalitas teleologis tidak berbicara tentang benar tidaknya
suatu pernyataan, melainkan menilai suatu tindakan menurut tujuan-tujuan yang
hendak dicapai dengan adanya tindakan tersebut. Ini adalah hasil pengalaman
manusia di mana kita memiliki berbagai kehendak dan tujuan yang ingin kita
penuhi, maka kita berusaha mencari cara untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut.
Makhluk yang rasional
adalah makhluk yang memenuhi 2 syarat, yaitu mengetahui jalan untuk memenuhi
tujuannya dan bertindak menurut jalan tersebut sehingga dia memiliki
kemungkinan lebih tinggi untuk mencapai tujuannya dibandingkan dengan kondisi
di mana dia tidak rasional. Allah adalah entitas yang paling rasional, dan
dalam pernyataan mistis, Allah adalah rasionalitas itu sendiri. Pembahasan tentang
rasionalitas Allah bukan fokus kita. Allah juga adalah Sebab Pertama dari
segala hal. Maka Dia yang menyebabkan segala ciptaan.
Dalam wahyu Ilahi,
kita tahu bahwa Allah ingin kita untuk mengenal Dia, maka secara rasional Allah
akan menyebabkan kita untuk mengenal Dia, dan artinya untuk kita mampu mengenal
Dia. Jadi secara simbolik, jika A adalah Allah, B adalah rasional, C adalah
sebab pertama, D adalah kehendak, E adalah sebab, dan F adalah variabel kehendak,
maka, JIKA AB, AC, ADF, MAKA AEF. Jika F adalah kondisi yang berbunyi, “ciptaan-Nya
mengenal Dia”, maka ini akan membuktikan kebenaran tentang kemampuan kita untuk
mengenal Allah dengan benar.
No comments:
Post a Comment