Wednesday, March 2, 2022

Kepercayaan akan Allah membutuhkan kepercayaan akan diri sendiri

Sebagai orang beriman, aku dipanggil untuk percaya akan Allah, bukan hanya percaya bahwa Allah ada, tapi percaya kepada Firman Allah. Menariknya, kepercayaan ini, atau yang disebut dengan iman, membutuhkan kepercayaan akan diri sendiri, atau iman akan diri sendiri. Bagaimana memahami hal ini? Pemahaman ini dicapai dengan pertanyaan sederhana, bagaimana kita tahu bahwa suatu perkataan adalah Firman Allah? Mungkin solusi sederhananya adalah dengan menyatakan bahwa perkataan tersebut bersumber dari Gereja, tapi muncul pertanyaan berikutnya, apakah bukti bahwa Gereja benar?

Pada akhirnya kita dihadapkan dengan perkara bahwa kita sendiri yang harus memutuskan apakah Gereja benar atau tidak, apakah suatu pernyataan sungguh berasal dari Allah atau hanya dari manusia. Maka jika kita tidak memiliki kepercayaan pada kemampuan diri kita untuk mengenal kebenaran, hancurlah kita. Sekalipun kita memutuskan untuk tidak percaya, sebenarnya kita percaya bahwa kita tidak dapat dipercaya, dan kita mengimani hal tersebut sebagai benar, artinya kita tetap percaya pada diri ktia sendiri. Dari hal ini kita dapat menyimpulkan bahwa iman akan Allah pertama kali bersumber pada iman akan diri kita sendiri.

Namun ada cara lain untuk memandang ini, terutama dari segi moral. Kepercayaan akan diri yang mutlak dapat mengarahkan pada kesombongan rohani yang berbahaya bagi semua orang, bukan hanya bagi diri. Maka iman akan diri ini harus diseimbangkan dengan iman akan Allah. Sehingga kita percaya pada diri kita bukan karena kita percaya pada diri kita, tapi justru karena kita pertama kali percaya kepada Allah. Kita beriman bahwa Allah telah menciptakan kita dengan baik sehingga kita dapat mengenali Dia dengan baik. Dengan ini kita dapat menyimpulkan bahwa dalam perspektif ini, kepercayaan akan diri sendiri berdasar pada iman yang teguh akan Allah.

Pada akhirnya, iman akan diri sendiri dan iman akan Allah penting untuk mengarungi hidup ini. Iman akan diri sendiri penting karena menjadi dasar dari pengenalan akan Allah dan menjadi cara untuk memperkuat iman kepada Allah. Tanpa iman akan diri sendiri, segala kebenaran tidak dapat diperoleh. Iman akan Allah menjadi dasar dari iman akan diri sendiri dan memperbolehkan kita untuk percaya kepada diri kita sendiri. Tanpa iman akan Allah, kita tidak dibenarkan dalam kepercayaan diri kita. Kedua iman ini bekerjasama, dengan iman akan Allah sebagai iman yang lebih tinggi, untuk mengetahui kebenaran dunia ini dan hidup oleh Kebenaran itu.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...