Aku menulis ini untuk menyatakan, atau tepatnya mempertanyakan makna segalanya. Apakah makna segalanya? Aku telah bekerja lama untuk menulis berbagai macam gagasan filosofis, yang aku pikir dapat bermakna. Namun setelah memahami lebih dalam, ternyata sedikit sekali yang bermakna, atau bahkan tidak ada yang bermakna. Apakah ada makna dari kepercayaan akan Allah sebagai kesatuan segala benda? Pertanyaanku mungkin lebih sebagai berikut, “Mengapa kita begitu terobsesi pada kepastian?”
Namun Allah
menjelaskan, bahwa ada makna dalam hal-hal ini, selama dapat dikaitkan dengan
Makna itu sendiri. Makna, dengan huruf besar, adalah tujuan segala keberadaan,
tindakan, dan kehidupan manusia. Ada 2 perspektif terhadap tujuan ini, ada
kumpulan yang menyatakan bahwa tujuan ini ada secara kekal dan harus kita taati,
tapi ada juga kumpulan yang menentang tujuan kekal dan membuat tujuan mereka
sendiri, berpikir bahwa mereka akan lenyap setelah bumi ini sehingga tidak ada
konsekuensi sama sekali dari perbuatan mereka di bumi.
Bagaimana kita
mengetahui mana pandangan yang benar? Sekali lagi ini adalah keputusan iman,
kita dapat percaya akan tujuan yang kekal atau kita dapat membangun tujuan kita
sendiri. Aku menerima tujuan yang kekal, dan di sini mulai timbul kebutuhan
untuk membuktikan atau menjelaskan tujuan yang kekal itu. Tujuan setiap manusia
harusnya sama, yaitu kebahagiaan. Jadi pembedaan antara tujuan kekal dan tujuan
yang dibangun bukan mempermasalahkan kebahagiaan, tapi cara mencapai
kebahagiaan atau asosiasi dengan kebahagiaan.
Hanya dalam diskusi
ini monoteisme menjadi penting dan bermakna, tanpa pembicaraan tentang makna, segalanya
pun tidak penting dibicarakan atau dilakukan. Tujuan yang kekal menyatakan
bahwa ada suatu kebahagiaan yang paling tinggi yang objektif dan ada tersendiri
dari manusia. Maka dinamakan kekal, karena kebahagiaan ini tidaklah berawal
ataupun berakhir, ada sejak sebelum ada manusia dan akan terus ada setelah
dunia ini berakhir. Mengapa monoteisme menjadi penting, karena Allah sebagai
kesatuan segala kenyataan, maka hanya Allah pula yang merupakan kemurnian
kebahagiaan, bahagia yang murni ialah Allah.
Tujuan yang dibangun
menyatakan bahwa kebahagiaan murni terjadi karena asosiasi yang kita bangun
sebagai manusia antara berbagai macam hal-hal duniawi dengan kebahagiaan. Dalam
hal duniawi, aku maksud yaitu segala hal yang bukan Allah. Karena manusia yang
konstruktif menentang Allah sebagai kebahagiaan yang murni dan kekal, bahwa
tidak ada bahagia yang murni, seperti tidak ada kemurnian yang lainnya. Maka sekalipun
orang dapat merujuk pada konsep-konsep moral yang rohani sebagai patokan
kebahagiaan, paling baik mereka lihat serpihan cahaya Allah, tapi tidak mungkin
kebahagiaan yang murni.
No comments:
Post a Comment