Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Ini adalah renungan kedua yang aku buat kepada saudara pada hari ini. Renungan ini tidak berisi renungan Kitab Suci, tapi pada akhirnya tetap berkaitan dengan Allah dan Sabda-Nya. Aku merasa agak aneh untuk menulis tentang perasaan pribadiku kepada begitu orang banyak, aku pun mempertanyakan faedahnya, tapi Allah begitu mendesak aku untuk menulis ini. Sebab kami tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai dengan tulisan ini.
Secara singkat, dalam
hidupku aku mencari Allah. Sejak aku kelas 7, aku mencari Allah dengan begitu
mendalam, dan sampai sekarang aku pun masih terbakar hatinya untuk mencapai
Dia. Aku kehilangan ibuku, jadi barangkali itu salah satu pemicu aku begitu
terobsesi dengan Allah, untuk melaksanakan kehendak Allah dan melayani Dia
dengan sempurna. Namun perjalanan iman ini naik turun. Ada kalanya aku merasa
dekat dengan Dia, dan ada kalanya aku merasa bahkan tidak berhubungan
dengan-Nya, ini biasa, sangat biasa. Penghiburan dan kekeringan rohani pastinya
dialami setiap orang.
Sejak dulu aku merasa
tertarik hanya dengan apa yang dikatakan Allah sebagai kehendak utama-Nya,
yaitu keselamatan jiwa-jiwa. Semua upayaku dalam hidup aku pikir terarah hanya
kepada tujuan itu, dalam rangka mengarah pada Allah. Namun aku harus mengakui
bahwa aku bukan orang yang sungguh kudus atau baik untuk mampu menjadi contoh
yang baik dalam perjalanan kepada Allah. Ada kalanya aku hidup demi keegoisanku
sendiri, dan bukan untuk Allah, walaupun kesannya mengarah kepada Allah, tapi
sesungguhnya aku hanya mengarah pada diriku sendiri.
Lalu suatu saat aku
diubahkan dan pelan-pelan aku diubahkan. Aku mulai menanggalkan keegoisanku dan
aku mulai sungguh mengarah pada Allah. Pada akhirnya, aku merasa tidak ada
makna dalam hidup selain makna yang berasal dari Allah dan berkaitan dengan Allah.
Aku menginginkan Allah dengan begitu mendalam sampai seringkali air mata
bercucuran dan mengalir pada wajahku. Belakangan ini aku merasakan Allah
menyampaikan padaku, bahwa ini adalah waktu bagiku untuk mulai melaksanakan kehendak-Nya,
yaitu upaya demi keselamatan jiwa-jiwa.
Upaya yang paling
sederhana dalam keselamatan jiwa-jiwa adalah berbicara, atau dalam istilah
kita, mewarta. Namun aku tidak tahu apa yang harus aku wartakan, dan aku tidak
tahu kepada siapa aku harus mewarta. Lalu, Allah tiba-tiba mengirimkan suatu
pertanda melalui seorang dari lingkunganku, siapa yang harus pertama kali
mendengarkan pewartaanku dan apa yang harus kuwartakan. Namun aku masih tidak
yakin dan aku masih ketakutan, bagaimana jika aku salah, bagaimana jika aku
sebenarnya hanya seorang yang egois, yang berasumsi tentang iman saudara-saudarinya,
yang menghakimi, yang menilai, dan seterusnya.
Allah tidak menyerah,
Dia terus mendesakku untuk menulis tulisan ini dan membagikannya kepada saudara-saudari,
Dia terus meneguhkanku, dan terjadi suatu pertempuran rohani antara kuasa roh
baik dan kuasa roh jahat. Kuasa roh baik terus meneguhkan, menguatkan, dan menyatakan
bahwa apa yang jelas baik bagiku dan tidak bertentangan dengan ajaran Allah
dalam Gereja, justru terinspirasi dari-Nya, pastilah baik. Namun kuasa roh
jahat terus menampilkan ancaman-ancaman palsu, misalnya aku ditolak atau malah
ditegur karena pesanku atau bagaimana.
Akhirnya aku
mengabaikan alasan-alasan palsu itu, dan aku tetap menulis karena Allah yang
meminta aku untuk menulis. Maka, setelah beberapa paragraf aku berputar-putar,
Allah menunjukku untuk menulis langsung apa yang Dia ingin sampaikan melalui
tanganku. Allah memanggil aku untuk memanggil saudara-saudariku untuk menjadi
kudus, untuk bersama-sama menjadi kudus dalam kehidupan kita masing-masing. Namun
sekarang mulailah kembali waktu untuk menuliskan keraguanku.
Mengapa Allah ingin
aku untuk mewartakan dan menawarkan kekudusan kepada orang-orang di sekitarku? Hal
ini menandakan bahwa orang-orang di sekitarku membutuhkan kekudusan yang lebih.
Sebab apakah Allah dominan hadir kepada orang kudus atau dominan hadir kepada
orang yang, mohon maaf, “kurang kudus”? Dalam Injil kita pernah membaca kisah
di mana Yesus mengatakan bahwa orang sakitlah yang membutuhkan tabib, dan Dia
hadir bagi kita, orang-orang sakit ini.
Mengapa pula Allah
memilih aku secara khusus? Aku tidak merasa layak untuk tugas ini, aku tidak
merasa seperti orang yang mampu. Aku tidak terpelajar dalam Sabda-Nya. Aku tidak
selalu mampu untuk melaksanakan kehendak-Nya dalam kehidupan harianku. Namun
saat aku melihat sekitarku, rasanya entah semua orang yang seperti aku
tersembunyi atau aku sendirian di dalam panggilanku dan pengalamanku. Pada
akhirnya, aku tidak dapat lari dari Allah, dan aku harus memutuskan dengan segera,
karena Allah tidak mau menunggu “persetujuan Gereja” atau lainnya, Allah ingin
aku bertindak atas iman kepada-Nya saja.
Apa yang sebenarnya
aku inginkan dengan menulis tulisan ini? Aku tidak tahu. Aku hanya menulis dan
menyampaikan kepada saudara karena Allah ingin saudara membaca tulisan ini. Aku
menginginkan tanggapan, tapi yang sebenarnya ingin suatu tanggapan adalah
Allah. Namun keinginanku begitu melebur dengan keinginan Allah sehingga aku
sulit membedakannya. Pada akhirnya, jika ada satu jiwa saja yang imannya
dikuatkan dan hendak mengejar hidup kekudusan, di dalam situasi apapun hidup
mereka, aku sangat bersyukur dan pastilah Allah sangat menghargainya. Tuhan menyertai,
memberkati, dan hadir di dalam diri kita semua.
No comments:
Post a Comment