Thursday, March 10, 2022

Panggilan Allah

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Ini adalah renungan kedua yang aku buat kepada saudara pada hari ini. Renungan ini tidak berisi renungan Kitab Suci, tapi pada akhirnya tetap berkaitan dengan Allah dan Sabda-Nya. Aku merasa agak aneh untuk menulis tentang perasaan pribadiku kepada begitu orang banyak, aku pun mempertanyakan faedahnya, tapi Allah begitu mendesak aku untuk menulis ini. Sebab kami tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai dengan tulisan ini.

Secara singkat, dalam hidupku aku mencari Allah. Sejak aku kelas 7, aku mencari Allah dengan begitu mendalam, dan sampai sekarang aku pun masih terbakar hatinya untuk mencapai Dia. Aku kehilangan ibuku, jadi barangkali itu salah satu pemicu aku begitu terobsesi dengan Allah, untuk melaksanakan kehendak Allah dan melayani Dia dengan sempurna. Namun perjalanan iman ini naik turun. Ada kalanya aku merasa dekat dengan Dia, dan ada kalanya aku merasa bahkan tidak berhubungan dengan-Nya, ini biasa, sangat biasa. Penghiburan dan kekeringan rohani pastinya dialami setiap orang.

Sejak dulu aku merasa tertarik hanya dengan apa yang dikatakan Allah sebagai kehendak utama-Nya, yaitu keselamatan jiwa-jiwa. Semua upayaku dalam hidup aku pikir terarah hanya kepada tujuan itu, dalam rangka mengarah pada Allah. Namun aku harus mengakui bahwa aku bukan orang yang sungguh kudus atau baik untuk mampu menjadi contoh yang baik dalam perjalanan kepada Allah. Ada kalanya aku hidup demi keegoisanku sendiri, dan bukan untuk Allah, walaupun kesannya mengarah kepada Allah, tapi sesungguhnya aku hanya mengarah pada diriku sendiri.

Lalu suatu saat aku diubahkan dan pelan-pelan aku diubahkan. Aku mulai menanggalkan keegoisanku dan aku mulai sungguh mengarah pada Allah. Pada akhirnya, aku merasa tidak ada makna dalam hidup selain makna yang berasal dari Allah dan berkaitan dengan Allah. Aku menginginkan Allah dengan begitu mendalam sampai seringkali air mata bercucuran dan mengalir pada wajahku. Belakangan ini aku merasakan Allah menyampaikan padaku, bahwa ini adalah waktu bagiku untuk mulai melaksanakan kehendak-Nya, yaitu upaya demi keselamatan jiwa-jiwa.

Upaya yang paling sederhana dalam keselamatan jiwa-jiwa adalah berbicara, atau dalam istilah kita, mewarta. Namun aku tidak tahu apa yang harus aku wartakan, dan aku tidak tahu kepada siapa aku harus mewarta. Lalu, Allah tiba-tiba mengirimkan suatu pertanda melalui seorang dari lingkunganku, siapa yang harus pertama kali mendengarkan pewartaanku dan apa yang harus kuwartakan. Namun aku masih tidak yakin dan aku masih ketakutan, bagaimana jika aku salah, bagaimana jika aku sebenarnya hanya seorang yang egois, yang berasumsi tentang iman saudara-saudarinya, yang menghakimi, yang menilai, dan seterusnya.

Allah tidak menyerah, Dia terus mendesakku untuk menulis tulisan ini dan membagikannya kepada saudara-saudari, Dia terus meneguhkanku, dan terjadi suatu pertempuran rohani antara kuasa roh baik dan kuasa roh jahat. Kuasa roh baik terus meneguhkan, menguatkan, dan menyatakan bahwa apa yang jelas baik bagiku dan tidak bertentangan dengan ajaran Allah dalam Gereja, justru terinspirasi dari-Nya, pastilah baik. Namun kuasa roh jahat terus menampilkan ancaman-ancaman palsu, misalnya aku ditolak atau malah ditegur karena pesanku atau bagaimana.

Akhirnya aku mengabaikan alasan-alasan palsu itu, dan aku tetap menulis karena Allah yang meminta aku untuk menulis. Maka, setelah beberapa paragraf aku berputar-putar, Allah menunjukku untuk menulis langsung apa yang Dia ingin sampaikan melalui tanganku. Allah memanggil aku untuk memanggil saudara-saudariku untuk menjadi kudus, untuk bersama-sama menjadi kudus dalam kehidupan kita masing-masing. Namun sekarang mulailah kembali waktu untuk menuliskan keraguanku.

Mengapa Allah ingin aku untuk mewartakan dan menawarkan kekudusan kepada orang-orang di sekitarku? Hal ini menandakan bahwa orang-orang di sekitarku membutuhkan kekudusan yang lebih. Sebab apakah Allah dominan hadir kepada orang kudus atau dominan hadir kepada orang yang, mohon maaf, “kurang kudus”? Dalam Injil kita pernah membaca kisah di mana Yesus mengatakan bahwa orang sakitlah yang membutuhkan tabib, dan Dia hadir bagi kita, orang-orang sakit ini.

Mengapa pula Allah memilih aku secara khusus? Aku tidak merasa layak untuk tugas ini, aku tidak merasa seperti orang yang mampu. Aku tidak terpelajar dalam Sabda-Nya. Aku tidak selalu mampu untuk melaksanakan kehendak-Nya dalam kehidupan harianku. Namun saat aku melihat sekitarku, rasanya entah semua orang yang seperti aku tersembunyi atau aku sendirian di dalam panggilanku dan pengalamanku. Pada akhirnya, aku tidak dapat lari dari Allah, dan aku harus memutuskan dengan segera, karena Allah tidak mau menunggu “persetujuan Gereja” atau lainnya, Allah ingin aku bertindak atas iman kepada-Nya saja.

Apa yang sebenarnya aku inginkan dengan menulis tulisan ini? Aku tidak tahu. Aku hanya menulis dan menyampaikan kepada saudara karena Allah ingin saudara membaca tulisan ini. Aku menginginkan tanggapan, tapi yang sebenarnya ingin suatu tanggapan adalah Allah. Namun keinginanku begitu melebur dengan keinginan Allah sehingga aku sulit membedakannya. Pada akhirnya, jika ada satu jiwa saja yang imannya dikuatkan dan hendak mengejar hidup kekudusan, di dalam situasi apapun hidup mereka, aku sangat bersyukur dan pastilah Allah sangat menghargainya. Tuhan menyertai, memberkati, dan hadir di dalam diri kita semua.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...