Sunday, March 27, 2022

Bagian Pertama

Tercatat tanggal 27 Maret 2022. Sejak beberapa tahun yang lalu, aku senang berfilsafat secara otodidak. Tujuannya berubah-ubah, mulai dari kesenangan pribadi, kehendak berevolusi, dan sekarang, tidak ada, karena aku merasa tidak lagi bergumul dalam “filsafat”. Awalnya, aku berpikir bahwa aku hendak memikirkan ulang segala hal yang telah dipikirkan dalam sejarah kemanusiaan dengan satu tujuan, membentuk suatu tatanan dunia yang baru (New World Order). Sebab aku berpikir bahwa masalah dunia sudah terlalu banyak dan kalau kita tidak bertindak, maka dunia ini akan memasuki kegelapan yang mengerikan, jika bukan runtuh sepenuhnya.

Namun, sekarang aku mempertanyakan pikiran itu. Apakah masalah dunia sungguh berat, apakah itu ilusi atau kenyataan? Seberapa besar dan mendesak masalah dunia itu? Lalu hal yang paling penting, apakah masalah dunia ini membutuhkan solusi yang revolusioner ataukah kita sudah berada di jalan yang “benar” untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dialami dunia saat ini? Kalau solusi yang revolusioner dibutuhkan, maka artinya kita harus menentang jalan yang sekarang ditempuh, tapi kalau tidak, artinya kita harus membuang semua konsep revolusi dan mendukung saja apa yang sedang dikerjakan oleh sistem. Ini adalah pilihan yang sulit dan membutuhkan studi yang besar, yang kemungkinan besar mustahil.

Pada akhirnya aku berserah kepada Allah dan bertanya kepada-Nya apa kebenaran dunia ini. Jawaban Allah kurang lebih sebagai berikut. Benar bahwa masalah, atau suatu penyakit, menjangkiti dunia sejak awal kemanusiaan. Jadi ini adalah penyakit yang kuno, bukan baru sama sekali, tapi mendarah daging dalam jiwa kemanusiaan. Namun kita tidak usah memikirkan ulang jalan kita, Allah sudah memberikan jawabannya dalam sejarah ribuan tahun Israel dan sekarang sejarah 2000 tahun Gereja. Masalahnya, kebanyakan manusia menolak jawaban atau solusi kesembuhan dari Allah, dan mengikuti jalan mereka masing-masing.

Karena itulah masalah dunia tetap terjadi, yaitu pemberontakan manusia terhadap Allah, alias dosa. Maka apa yang harus dilakukan umat beriman terhadap penyakit dosa sistemik ini? Jawaban Allah jelas, manusia beriman harus memerangi dosa dalam hidup mereka sendiri dan membantu orang lain memerangi dosa dalam hidupnya. Jika kita fokus dalam melawan dan menghancurkan dosa sampai ke akar-akarnya, maka perubahan, dan kesembuhan dunia akan terjadi dengan sendirinya. Namun panggilan Allah ini jelas tidak atau kurang ditanggapi bahkan oleh umat beriman. Sebab kalau panggilan ini sungguh diterima, harusnya dunia ini berada dalam kondisi yang jauh lebih baik.

Aku, sebagai seorang yang percaya, juga menerima panggilan itu. Namun aku merasa ada yang berbeda dengan diriku. Aku tidak tahu apa perbedaannya secara persis, apakah karena aku menyadari dengan lebih? Namun rasanya masih banyak juga orang yang sadar. Apakah karena aku mengkhawatirkan dengan berlebihan? Barangkali, tapi barangkali ada banyak orang lain pula yang ikut khawatir dengan kondisi dunia ini dan panggilan mereka. Orang-orang yang takut seperti aku, takut bahwa seharusnya lebih banyak orang yang menyadari dan menjawab panggilan Allah, bahwa upaya manusia saat ini tidak cukup.

Barangkali aku, atau kami, saja yang terlalu takut dan kurang percaya kepada Allah. Namun bahwa Allah membangkitkan kami secara khusus, yaitu manusia yang berkesadaran secara khusus untuk berperang, menandakan bahwa kesadaran ini memang dibutuhkan. Kebutuhan artinya ada suatu kondisi yang membutuhkan hal ini, dan dalam pikiranku ini hanya mengarah pada suatu hal, yaitu penyakit dosa yang semakin parah, dan juga bahwa upaya manusia memang tidak cukup. Jika semuanya cukup dan baik-baik saja, Allah tidak mungkin mengadakan pengalaman-pengalaman ini dan kesadaran ini. Karena tidak ada kebutuhan untuk memperingatkan manusia tentang segala hal ini.

Setiap dari kami pastinya menerima panggilan masing-masing yang berbeda. Kepadaku Allah memberikan satu tugas, yaitu untuk menulis, menulis sesuai dengan panduan-Nya dan perkataan-Nya. Karena inilah aku menulis tulisan ini, dan juga berbagai tulisan lainnya yang gagal. Apa yang harus aku tulis? Aku harus menulis tentang Allah, tentang Dia, dan mewartakannya kepada dunia. Namun aku bukan orang yang teramat pandai atau teramat bijaksana, aku jarang membaca buku, aku hanya bergantung kepada Allah. Maka alih-alih aku menulis atas dasar apa yang aku tahu, aku menulis atas dasar apa yang aku tidak tahu. Karena itu tulisan pertama ini hanya menyatakan apa yang aku tahu tentang Allah sebagaimana Dia menyatakannya kepadaku.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...