Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
Kisah yang dikisahkan di Kitab Kejadian dan Injil pada hari ini membicarakan makna-makna yang mirip. Pada bacaan pertama, Yusuf adalah bayangan Kristus, dia adalah salah satu anak yang lebih muda tapi lebih dikasihi Israel (Yakub). Sama halnya dengan Kristus yang tampil sebagai hamba yang menderita, tapi ditinggikan oleh Bapa, karena memang Kristus itu sederajat dengan Allah karena Dialah Allah sendiri.
Yusuf dibuang oleh para saudaranya karena mereka iri kepada Yusuf. Aku tahu bahwa ada makna lain, tapi yang muncul dalam benakku adalah bagaimana kita tidak boleh iri kepada mereka yang seolah-olah menerima “lebih banyak” rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah mengasihi kita semua secara setara, persepsi manusia dan kegelapan jiwa manusia yang mengubah kenyataan itu menjadi suatu ilusi ketidakadilan, bahwa Allah mengasihi satu orang lebih dari yang lain. Ini tidak benar, Allah mengasihi kita semua secara setara, bahwa kita semua menerima suatu rahmat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mungkin secara matematis atau kuantitatif ada yang memiliki perbedaan rahmat dan hasil, tapi setiap tingkatan pun sama berharganya di hadapan Allah Bapa.
Karena keberagaman umat manusia, mau tidak mau harus ada yang “di atas” dan ada yang “di bawah”, tapi tetap setara dalam martabat. Maka yang di atas dan yang di bawah haruslah saling bekerja sama dan saling melengkapi, sehingga kesetaraan yang sejati dapat diperoleh, yaitu kesetaraan dalam persaudaraan. Setiap orang yang di bawah harus memahami bahwa ada hal-hal yang mereka miliki yang sebenarnya tidak dimiliki mereka yang di atas, dan dalam cara-cara tertentu mereka lebih baik daripada mereka yang di atas. Lalu setiap orang yang di atas harus memahami bahwa kelebihan rahmat mereka diperuntukkan pelayananan kepada mereka yang di bawah, dan bukan untuk kepentingan mereka sendiri, supaya jangan sampai mereka seperti orang kaya di dalam bacaan Injil sebelumnya.
Dalam bacaan Injil hari ini, perumpamaan ini jelas menceritakan tentang sejarah panjang hubungan Allah dan Israel, dan secara tidak langsung sejarah panjang hubungan Allah dan manusia. Para nabi dikirim kepada bangsa Israel dan kepada manusia, tapi mereka ditolak, sampai Putra Allah sendiri dibunuh oleh manusia. Karena ini Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari pada bangsa Israel dan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Adapula kita tahu bahwa bangsa yang baru adalah kita, Gereja. Maka, sebagai bangsa yang telah dipercayakan Kristus untuk menghasilkan buah Kerajaan Allah, jangan sampai Kerajaan ini diambil juga daripada kita dan diberikan lagi kepada suatu bangsa yang lain.
Sebenarnya ada suatu bagian dari perkataan Yesus yang tidak menembus kepalaku, yaitu tentang batu penjuru. Aku menangkap maknanya bahwa Yesus adalah batu itu yang dibuang oleh para tukang bangunan, dan justru menjadi batu penjuru. Artinya para pemimpin Israel membunuh Yesus dengan tangan orang Romawi, tapi Yesus menjadi justru menjadi batu penjuru di mana Kerajaan Allah didirikan. Dan secara lengkap, Yesus mencabut hak Kerajaan dari para tukang bangunan yang lama kepada tukang-tukang yang baru. Aku rasa begitulah pesan yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita pada hari ini. Tuhan memberkati.
No comments:
Post a Comment