Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
Aku hendak menceritakan perasaanku saat membaca bacaan-bacaan pada hari ini. Sejak melihat kata “Naaman”, aku segera mengingat suatu pengalaman yang tidak enak. Aku menulis renungan tentang cerita atau poin yang serupa dengan yang dikisahkan dalam kedua bacaan itu. Aku hanya menarik keluar pesan yang Yesus sampaikan, tapi untuk itu aku ditolak. Katanya kenabian sudah melampaui atau di luar cakupanku. Hari ini, aku diberikan bacaan yang serupa kembali, dan aku rasa ini adalah pesan Allah bahwa aku harus mengatakan apa yang benar, dan aku tidak boleh menyerah dalam pewartaan kebenaran Ilahi. Maka beginilah yang disampaikan Allah dalam kedua bacaan.
Jika bacaan pertama dibaca secara terpisah dari bacaan Injil, ada satu pesan yang aku tangkap dalam batinku. Kita semua adalah penerus Kristus, Gereja adalah penerus Kristus di bumi. Maka kita semua meneruskan 3 tugas Kristus dalam cara yang lebih kecil, yaitu imam, nabi, raja. Sebagai nabi atau juga rasul Kristus, kita memiliki tugas perutusan kita masing-masing. Tugas itu tidak selalu terduga, sehingga kita harus selalu siap terhadap tugas tersebut. Mungkin kita diutus kepada tempat asal kita, tapi mungkin pula kita diutus kepada tempat yang jauh dari kampung halaman kita. Karena itu kita harus siap menanggapi panggilan Allah, ke mana pun Dia memanggil.
Namun dalam persatuan dengan Injil hari ini, maka Yesus menyatakan suatu kenyataan yang pedih, bahwa “seorang nabi tidak dihargai di tempat asalnya.” Artinya seorang yang diutus Allah tidak akan diterima tugasnya di tempat asalnya, sekalipun di situlah nabi tersebut harus bekerja oleh Allah. Namun aku rasa Yesus mengatakan ini juga untuk memperingatkan kita semua, supaya jangan sampai kenyataan itu terus terjadi. Barangkali Yesus berharap, dan kita harus berharap bersama-Nya, bahwa kelak akan ada masa di mana seorang nabi didukung dan disayangi oleh tempat asalnya.
Bagaimana kita dapat mewujudkan harapan itu? Karena sekarang masa prapaskah, jawaban singkatnya adalah pertobatan, jawaban lebih lengkapnya adalah merendahkan hati kita dan lebih banyak mendengarkan sesama kita. Karena di situlah Allah seringkali hadir untuk menegur ataupun memperingatkan kita akan banyak hal. Itulah esensi kenabian, Allah yang hadir dalam sesama bagi kita, untuk menolong kita, menjadi tanda bagi kita dalam seorang utusan-Nya yang merupakan wakil-Nya. Namun sekarang kita semua adalah nabi, sekalipun nabi yang cilik, maka kita harus mendengarkan sesama kita sebagai nabi, dan barangkali suara hati kita sendiri yang adalah Allah, barangkali kita adalah nabi bagi diri kita sendiri. Tuhan memberkati.
No comments:
Post a Comment