Tuesday, March 8, 2022

Projek Rasionalitas 4

Projek Rasionalitas aslinya ditujukan untuk meneliti tulisan-tulisan lama untuk mengekstraksi rasionalitas yang ada di dalam tulisan-tulisan tersebut. Namun dalam tulisan ini dan mungkin untuk seterusnya aku justru ingin menulis secara “baru” dan mengekstraksi rasionalitas pada saat itu juga. Sebab ternyata aku menikmati ekstraksi rasionalitas yang diperkenalkan Roh Kudus kepadaku. Dengan menerapkan suatu rasionalitas simbolis melalui simbolisme huruf Latin, struktur mendasar dari berbagai pernyataan spesifik menjadi jelas.

Projek Rasionalitas adalah tanggapanku terhadap tanggapan Allah terhadap kegelisahanku tentang irasionalitas iman. Karena aku berpikir bahwa iman itu tidak rasional, Allah menjawab dengan meminta aku untuk menulis tentang rasionalitas dan mengekstraksi sedalam mungkin hukum-hukum yang mengatur gagasan-gagasan yang ada di dalam dunia ini. Dimulai dengan penelitian-penelitian sederhana, kelak akan disatukan menjadi satu Hukum Rasional yang akan dipakai untuk meneliti iman pula, dan dipersatukan dengan iman untuk menjadi Hukum Ilahi yang sungguh sistemik dan teratur.

Sesungguhnya kemungkinan bahwa aku akan menulis suatu hal yang sama sekali baru sangatlah kecil, kebaruan yang ada adalah penjelasan dari hal-hal yang lama. Sebab aku sudah menulis begitu banyak tentang kenyataan ini, jadi kemungkinan besar kebenaran ada di dalam tulisan-tulisan itu dan sudah terekam di dalam bawah sadar atau di dalam kesadaranku, jadi aku tinggal mengekstraksi tradisi itu dan menilainya dengan keras sampai tidak ada keraguan lagi, sampai hanya ada kebenaran yang tinggal.

Seperti pada tradisi filosofisku, aku akan memulai dari nol, sebagai metode untuk memurnikan gagasan. Gagasan pertama yang dapat kita buat adalah, “Ada pengalaman.” Atau bahkan sekadar, “Pengalaman.” Pengalaman ini dapat berupa apapun, misalnya sekarang, “Aku melihat laptop, aku mengetik di laptop. Aku hidup. Aku bernafas. Aku melihat. Aku mendengarkan musik.” Namun barangkali yang lebih tepat adalah menghapus “Aku” dari segala pernyataan itu. Dari segala hal itu akhirnya kita dapat mengabstraksikannya menjadi pengalaman saja, dan dari situ kita dapat memulai ekstraksi rasionalitas dan penerapan hukum logika.

Karena aku tidak terdidik dalam logika, aku harus menggunakan sistem logikaku sendiri, yang akan menggabungkan huruf dan angka untuk melambangkan berbagai macam kategori kata dalam bahasa. Kata-kata panjang, tapi penggunaan lambang yang sederhana akan menyederhanakan penglihatan kita untuk mengenali struktur-struktur dari berbagai macam kalimat dan pernyataan. Awalnya aku hendak memakai huruf saja, tanpa angka, tapi agaknya akan terlalu panjang, sebab huruf sedikit, tapi angka banyak. Maka Roh Kudus memperkenalkan kepadaku konsep tentang penggunaan angka dan huruf sebagai kategori kata.

Pengalaman adalah kata pertama, maka kita akan berkata bahwa pengalaman adalah A0. Namun apakah kita berhenti di situ, yaitu pada A0? Kita sadar akan berbagai gagasan lainnya, dan sudah ada gagasan berikutnya, yaitu “A0 ada”. Pengalaman dan ada adalah 2 jenis kata yang berbeda, jadi untuk ada kita akan menetapkan B0. Oh ya, 0 digunakan karena 0 secara teknis adalah angka pertama dalam 10 bilangan cacah. Ini juga mengikuti tradisi pemrograman di mana seringkali digunakan indeks notasi 0.

Maka kita memiliki rumusan pertama, “A0 B0.” Lalu ada rumusan berikutnya, “A1 B0”. Apakah itu A1? A1 adalah keberadaan, jadi efektif kita mengatakan bahwa keberadaan itu ada. A1 B0 juga dapat berarti, “Ada suatu hal yang ada” atau “Hal yang ada memiliki keberadaan.” Kelak banyak dari struktur-struktur ini yang akan diperbaharui. Dalam menyatakan A1 B0, kita menyatakan bahwa ada A1 dan ada A0, di mana keduanya berbeda. Apa dasar bahwa A1 =/= A0? Sejujurnya aku belum tahu, maka mari kita bertualang lagi.

Sementara kita juga belum menjelaskan A0. Apakah A0 adalah pengalaman secara umum, atau merujuk pada suatu pengalaman spesifik? Jawabannya adalah A0 adalah pengalaman yang umum. Maka A0 memiliki makna ganda, yaitu sebagai suatu kategori pengalaman, atau suatu variabel pengalaman. Ini tidak dapat kita terima, maka harus dipisahkan antara A0 sebagai variabel dan A0 sebagai kategori. A0 sebagai variabel adalah A0.0, dan A0 sebagai kategori adalah A0.1. Harap ini diingat dan dipahami demi kelanjutan Projek Rasionalitas.

Jadi ada 2 pernyataan yang dapat kita susun yaitu “A0.0 B0” dan “A0.1 B0” A0.0 B0 artinya ada suatu pengalaman, tapi tidak jelas pengalaman itu apa, artinya dapat diisi dengan pengalaman apapun yang kita miliki saat ini. A0.1 B0 artinya pengalaman sebagai suatu kategori ada, ada kumpulan benda yang kita kenal sebagai pengalaman. Namun ini tidak begitu terhubung dengan makna pertama bahwa ada pengalaman. Pengalaman apa yang kita miliki? Maka yang tepat adalah A0.0 B0, atau A0.0 saja, atau bahkan kembali pada A0, dan untuk sekarang, A saja.

Dalam sistem logika kita, simbol-simbol ini tidak dapat bertambah dengan dirinya sendiri, selain jika ada suatu sistem tambahan yang kita susun untuk menambah simbol-simbol ini. Namun sistem itu masih jauh, jadi sekarang kita harus menambah kepada simbol-simbol ini secara manual. Jadi kita menetapkan bahwa ada A dan lalu ada B, yang berarti “ada”. Maka, A B. Namun A B = A secara semantik (semantik artinya dalam makna). Jadi apakah fungsi B? B hanya menjelaskan suatu intuisi yang kita miliki tentang A, bahwa A B.

Pengalaman ada, atau A B, tidak berbeda dengan berkata pengalaman saja tanpa gelar ada. Namun kalau ada A B, apakah ada A B- ? B- sebagai lawan dari B, artinya tidak ada karena B adalah ada. Kita tahu ada tanda -, tanda negasi, yang baiknya kita ubah menjadi tanda C. Jadi A B dan A B C. Pada saat ini mulai ada masalah bahwa kita menyatakan A B C di kondisi A B. Kita berkata pengalaman tidak ada di kondisi pengalaman ada. Apakah yang dimaksud dengan pengalaman tidak ada? Apakah itu tidak ada?

Memangnya, dari manakah C berasal? C berasal dari penelitian lebih spesifik, ambillah benda D dan E. D bukan E, dan E bukan D. D dan E adalah variabel, yang dapat diisi dengan segala benda yang bukan yang lain. Kita tahu bahwa misalnya, langit bukan awan, dan awan bukan langit. Jadi D C E dan E C D, yang secara semantik bermakna sama. Pada saat yang sama kita mengenal adanya kondisi di mana ada lawan dari C, yaitu “satu” atau “sama”, yaitu F. Dalam segala kondisi, D G D, dan E G E. Lalu kita bahkan dapat berkata bahwa C F C, F F F, C C F, F C C. Namun tidak mungkin ada C C C, yang artinya “Perbedaan bukan perbedaan.” Ini sama dengan mengatakan bahwa D C D, artinya suatu hal bukanlah dirinya.

Mungkin sebagai penjelas, C adalah negasi, dan F adalah negasi dari negasi, atau dapat dikatakan sebagai afirmasi. Namun ada banyak kata lain untuk dilambangkan oleh F, seperti “adalah” “satu” “sama” yang disatukan oleh kata dalam bahasa Inggris “is”. Jadi C C = F. Negasi tidak berarti lawan, melainkan “berbeda”, atau “bukan”. Jadi D C E artinya D bukanlah E. Maka kembali pada konsep pertama, karena kita beroleh konsep C dan F, kita dapat menerapkannya pada A dan B.

 

Apakah ada A C? Apakah ada B C? Kita juga harus mengingat adanya konsep G, G artinya bagian dari. G dan F mirip, tapi di mana F menandakan kesetaraan mutlak antara 2 benda, G menandakan bahwa benda sebelumnya adalah bagian dari benda setelahnya. Dalam teori himpunan modern ada lambang yang sesuai. Jadi A C B, tapi A G B. Maka kalau kita bertanya apakah A C itu, jawabannya adalah B, sehingga (A C) F B. Lalu B C adalah A, sehingga (B C) F A. Sekilas ini terkesan tidak masuk akal, karena kita berkata bahwa negasi dari pengalaman adalah keberadaan, tapi yang kita katakan sebenarnya adalah “Hal yang bukan pengalaman adalah keberadaan.” Ini menegaskan bahwa pengalaman dan keberadaan tidaklah sama.

Namun, kita mengenal adanya konsep kesatuan, yang tidak sama dengan “kesamaan”. Mari kita namakan konsep itu H. A C B dan B C A, tapi apakah A H B dan B H A? Dari mana kita beroleh H? Namakan variabel I, J, dan K. (I H J) F (K). Mulai sekarang, tanda kurung menandakan suatu kesatuan logis. Apakah contoh kesatuan logis? Misalkan seorang manusia, manusia adalah kesatuan seluruh bagian tubuhnya sehingga membentuk suatu kesatuan logis yaitu manusia. Kesatuan berbeda dengan kumpulan, apa itu kumpulan? Kumpulan adalah suatu kondisi di mana berbagai variabel benda hadir bersama, tapi tidak bersatu sehingga membentuk suatu benda yang baru.

Untuk sekarang kumpulan akan dinamakan L. Cara menulis kumpulan adalah (L: 1, 2, 3, n) dan cara menulis kesatuan adalah (H: 1, 2, 3, n). Dalam permasalahan sebelumnya, ada perbedaan antara “perbedaan” dan “lawan”. Keduanya adalah negasi, tapi dalam cara yang berbeda. Perbedaan tidak selalu berarti lawan, walau lawan selalu berarti berbeda. Akhirnya lawan berkaitan dengan ketiadaan dan keberadaan, ada dan tiada. Sekarang untuk merapikan Projek Rasionalitas, kita akan membongkar semua huruf dan mengamati pola-pola logis yang ada.

·       () Satuan Logis

·       A beda

·       B lawan

·       C adalah

·       D bagian dari

·       E kesatuan

·       F kumpulan

·       (E: 1, 2, 3, …, n) Kesatuan dari benda-benda yang terdaftar

·       (F: 1, 2, 3, …, n) Kumpulan dari benda-benda yang terdaftar

·       A A B/B A A Perbedaan berbeda dari lawan

·       E A F/F A E Kesatuan berbeda dari kumpulan

·       C A D/D A C kesamaan berbeda dari bagian dari

·       A B C Beda adalah lawan dari sama, atau (A B) C (C)

Kembali kepada konsep keberadaan dan pengalaman. Kita dapat berkata bahwa, pengalaman ada. Dalam simbolisme, kita dapat berkata G H. Untuk sementara G adalah pengalaman, dan H adalah ada. Saat kita menulis G H, kita berkata bahwa G berada dalam kondisi H, pengalaman berada dalam kondisi keberadaan. Saat kita menulis G A H, artinya pengalaman berbeda dari keberadaan. Namun saat kita menulis G D H, artinya pengalaman adalah bagian dari keberadaan. Maka, G (A B) H. Artinya pengalaman bukan lawan dari keberadaan, atau pengalaman dan keberadaan tidaklah berlawanan.

Apakah lawan dari keberadaan? Lawan dari keberadaan layak menerima simbolnya sendiri yaitu untuk sementara I. Maka (H B) C (I). (Semakin lama aku semakin lelah dengan konsepsi sistem logika yang telah aku ciptakan sendiri, aku ingin ini berakhir, tapi aku harus berjuang demi Allah). Artinya, lawan dari keberadaan adalah ketiadaan. Apakah itu ketiadaan? Ketiadaan adalah kondisi benda yang terputus dari kumpulan segala benda yaitu kenyataan. Namun begitu ketiadaan diucapkan, ketiadaan menjadi ada. Maka, I H. Begitu benda apapun diucapkan, maka benda itu menjadi ada.

Alangkah baiknya jika kita mendaftarkan segala peraturan yang telah kita temukan sejauh ini, dan nanti merumuskan wujud-wujud logisnya.

  •  Pengalaman ada
  • Jika dialami, ada
  • Jika tidak ada, tidak teralami

·       Jika gagasan berkontradiksi dengan pengalaman, isi gagasan tidak ada secara relatif tapi ada secara mutlak (Apa artinya? Artinya bagi kita, gagasan itu tidak benar, tapi bagi dunia lain, gagasan itu benar. Mutlak artinya setidaknya ada satu dunia di mana gagasan itu benar)

Peraturan paling baik yang dapat kita susun adalah “Pengalaman ada”, selain itu semuanya dapat diruntuhkan dan dipertanyakan.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...