Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Izinkan aku untuk berceloteh kepada Anda semua, mengganggu Anda dengan bunyi notifikasi WA, dan mengisi grup WA kita dengan perkataan-perkataan yang barangkali “kurang berharga” dibandingkan dengan pesan-pesan lainnya. Setelah seorang dari lingkunganku mengingatkan aku tentang membagikan tulisan dan renungan, batinku langsung bekerja dan berusaha menilai apakah ini kehendak Allah atau bukan. Dalam waktu yang cepat, jiwaku memutuskan bahwa ini adalah kehendak Allah, tindakan apapun yang dinilai dapat membantu dalam iman orang banyak adalah tindakan yang baik dan inspirasinya berasal dari Allah.
Ketiga grup WA yang
menjadi penerima renunganku ini adalah grup-grup yang dibentuk atas dasar
persekutuan iman. Maka aku berpikir bahwa tidak salah bagiku untuk membagikan
buah permenunganku atas berbagai hal yang menurutku layak untuk dibagikan demi
inspirasi iman. Aku harus jujur bahwa dalam menuliskan tulisanku ini ada rasa
takut, hal ini selalu terjadi setiap kali aku hendak menulis kepada orang
banyak. Apakah ini sungguh kehendak Allah ataukah ini keegoisanku sendiri? Namun
Allah selalu menyentuh budiku dan mengingatkan, bahwa Dia ingin orang
mendengarkan apa yang ingin Dia sampaikan kepada anak-anak-Nya.
Renungan-renungan
amatiran ini memang tidak memiliki persetujuan Gereja, setidaknya untuk
sekarang. Namun harapanku adalah ini dapat menyampaikan pesan Allah bagi kita
semua. Jikalau ada dari Anda sekalian yang memiliki kritik terhadap perkataanku
ini, hendaklah dia menyatakannya secara jujur dan terbuka di hadapanku. Pada
renungan pertama kali ini, aku mungkin akan membaginya menjadi 2 bagian,
renungan pertama akan berisi renungan bacaan hari ini dan renungan kedua akan
merenungkan pengalaman rohaniku.
Dalam program renungan
ini, aku akan merenungkan semua bacaan yang disajikan oleh kalender liturgi
pada hari itu. Bacaan hari ini yang berasal dari Kitab Yunus dan Injil Lukas
semuanya mengisahkan tentang pertobatan. Aku rasa kita semua tahu tentang
pertobatan dan maknanya, maka aku tidak akan terlalu mendalami hal tersebut.
Namun ada hal yang lebih menyentuh jiwaku, yaitu perbedaan situasi antara kedua
kondisi. Pada situasi pertama, Allah mengirimkan Yunus untuk pertobatan Niniwe,
dan pada situasi kedua, Allah sendiri yang menjadi nabi demi pertobatan orang
banyak.
Perbedaannya adalah apa yang terjadi setelah kedua nabi mengumandangkan pesan Allah. Pada situasi pertama, kota Niniwe bertobat dan Allah tidak jadi menghukum mereka. Pada situasi kedua, Allah sendiri bersabda bahwa “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.” Di sisa bacaan Injil, sepertinya maksud Yesus adalah tidak seperti Niniwe, orang-orang yang dihadapi Yesus tidak bertobat saat mendengarkan Yesus. Mereka hanya terpesona pada mukjizat-mukjizat dan kehebatan duniawi yang mereka tangkap dari kehadiran Yesus. Mereka tidak sepenuhnya peduli pada Yesus ataupun apa yang Dia sampaikan dalam intinya.
Aku merasa takut
menuliskan renungan ini, karena rasanya Yesus menegur bukan hanya mereka, tapi
Yesus menegur Gereja dan artinya kita semua yang tergabung dalam Gereja-Nya. Aku
bukan orang yang senang berprasangka buruk, karena aku tidak mengenal setiap
dari saudara-saudariku ini. Dariku sendiri, aku hanya dapat berkata supaya kita
tidak menjadi seperti angkatan yang jahat, melainkan seperti Niniwe. Marilah
kita meneladani Niniwe yang bertobat setelah mendengar manusia, dan bukan
seperti angkatan yang jahat yang tidak bertobat setelah Allah sendiri hadir di
antara mereka.
Tentu bukan kebetulan
bahwa banyak bacaan pada masa-masa ini akan berbunyi pertobatan, karena memang
kita berada pada masa prapaskah yaitu masa pertobatan. Pesan terakhirku
hanyalah seperti ini, marilah kita merenungkan dan merefleksikan bagi diri kita
masing-masing. Apakah kita ini seperti Niniwe, yang sudah bertobat sekalipun
baru bertemu dengan manusia, ataukah kita ini seperti angkatan yang ditegur
Yesus, yang berkeras hati sekalipun sudah bertemu dengan Allah? Maafkan aku
jika pesan ini entah terlalu panjang atau tidak dapat dipahami. Semoga Allah
menyertai, memberkati, dan hadir di dalam diri kita semua.
No comments:
Post a Comment