Wednesday, March 9, 2022

Renungan 9 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Izinkan aku untuk berceloteh kepada Anda semua, mengganggu Anda dengan bunyi notifikasi WA, dan mengisi grup WA kita dengan perkataan-perkataan yang barangkali “kurang berharga” dibandingkan dengan pesan-pesan lainnya. Setelah seorang dari lingkunganku mengingatkan aku tentang membagikan tulisan dan renungan, batinku langsung bekerja dan berusaha menilai apakah ini kehendak Allah atau bukan. Dalam waktu yang cepat, jiwaku memutuskan bahwa ini adalah kehendak Allah, tindakan apapun yang dinilai dapat membantu dalam iman orang banyak adalah tindakan yang baik dan inspirasinya berasal dari Allah.

Ketiga grup WA yang menjadi penerima renunganku ini adalah grup-grup yang dibentuk atas dasar persekutuan iman. Maka aku berpikir bahwa tidak salah bagiku untuk membagikan buah permenunganku atas berbagai hal yang menurutku layak untuk dibagikan demi inspirasi iman. Aku harus jujur bahwa dalam menuliskan tulisanku ini ada rasa takut, hal ini selalu terjadi setiap kali aku hendak menulis kepada orang banyak. Apakah ini sungguh kehendak Allah ataukah ini keegoisanku sendiri? Namun Allah selalu menyentuh budiku dan mengingatkan, bahwa Dia ingin orang mendengarkan apa yang ingin Dia sampaikan kepada anak-anak-Nya.

Renungan-renungan amatiran ini memang tidak memiliki persetujuan Gereja, setidaknya untuk sekarang. Namun harapanku adalah ini dapat menyampaikan pesan Allah bagi kita semua. Jikalau ada dari Anda sekalian yang memiliki kritik terhadap perkataanku ini, hendaklah dia menyatakannya secara jujur dan terbuka di hadapanku. Pada renungan pertama kali ini, aku mungkin akan membaginya menjadi 2 bagian, renungan pertama akan berisi renungan bacaan hari ini dan renungan kedua akan merenungkan pengalaman rohaniku.

Dalam program renungan ini, aku akan merenungkan semua bacaan yang disajikan oleh kalender liturgi pada hari itu. Bacaan hari ini yang berasal dari Kitab Yunus dan Injil Lukas semuanya mengisahkan tentang pertobatan. Aku rasa kita semua tahu tentang pertobatan dan maknanya, maka aku tidak akan terlalu mendalami hal tersebut. Namun ada hal yang lebih menyentuh jiwaku, yaitu perbedaan situasi antara kedua kondisi. Pada situasi pertama, Allah mengirimkan Yunus untuk pertobatan Niniwe, dan pada situasi kedua, Allah sendiri yang menjadi nabi demi pertobatan orang banyak.

Perbedaannya adalah apa yang terjadi setelah kedua nabi mengumandangkan pesan Allah. Pada situasi pertama, kota Niniwe bertobat dan Allah tidak jadi menghukum mereka. Pada situasi kedua, Allah sendiri bersabda bahwa “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.” Di sisa bacaan Injil, sepertinya maksud Yesus adalah tidak seperti Niniwe, orang-orang yang dihadapi Yesus tidak bertobat saat mendengarkan Yesus. Mereka hanya terpesona pada mukjizat-mukjizat dan kehebatan duniawi yang mereka tangkap dari kehadiran Yesus. Mereka tidak sepenuhnya peduli pada Yesus ataupun apa yang Dia sampaikan dalam intinya.

Aku merasa takut menuliskan renungan ini, karena rasanya Yesus menegur bukan hanya mereka, tapi Yesus menegur Gereja dan artinya kita semua yang tergabung dalam Gereja-Nya. Aku bukan orang yang senang berprasangka buruk, karena aku tidak mengenal setiap dari saudara-saudariku ini. Dariku sendiri, aku hanya dapat berkata supaya kita tidak menjadi seperti angkatan yang jahat, melainkan seperti Niniwe. Marilah kita meneladani Niniwe yang bertobat setelah mendengar manusia, dan bukan seperti angkatan yang jahat yang tidak bertobat setelah Allah sendiri hadir di antara mereka.

Tentu bukan kebetulan bahwa banyak bacaan pada masa-masa ini akan berbunyi pertobatan, karena memang kita berada pada masa prapaskah yaitu masa pertobatan. Pesan terakhirku hanyalah seperti ini, marilah kita merenungkan dan merefleksikan bagi diri kita masing-masing. Apakah kita ini seperti Niniwe, yang sudah bertobat sekalipun baru bertemu dengan manusia, ataukah kita ini seperti angkatan yang ditegur Yesus, yang berkeras hati sekalipun sudah bertemu dengan Allah? Maafkan aku jika pesan ini entah terlalu panjang atau tidak dapat dipahami. Semoga Allah menyertai, memberkati, dan hadir di dalam diri kita semua.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...