Pikiran 1: Landasan Iman
Sebelum pikiran-pikiran
lainnya, aku tertarik untuk membahas tentang landasan iman. Sebelumnya aku
diminta Allah untuk menulis tentang iman pula, tapi karena aku jatuh dalam
kegelapan, Allah menarik aku dari tugas itu. Sekarang, aku tidak menulis atas
permintaan Allah, tapi atas kehendakku sendiri. Namun semua tulisan ini akan
berisi tentang Allah dan berhubungan tentang Allah. Barangkali dalam tulisan
ini, aku hendak menghadapi keraguanku sendiri dalam iman.
Seorang imam yang aku
kenal pernah mengatakan kepadaku bahwa, “Sekarang bukan lagi waktu untuk
membuktikan ini dan itu, melainkan untuk menghayatinya.” Perkataan yang
bijaksana, kalau aku boleh berkata seperti itu. Namun, aku tidak dapat setuju
sepenuhnya, karena landasan iman bagi setiap orang berbeda, dan tidak dapat
diseragamkan. Bagi setiap orang, pembuktian kebenaran berbeda dan tingkat
kepuasan intelektual manusia berbeda-beda pula. Artinya sejumlah bukti X
mungkin cukup bagi satu orang, tapi bagi orang lain hal itu tidak cukup.
Aku tergolong orang
yang membutuhkan bukti yang sedikit untuk percaya kepada Allah. Sebab aku telah
melihat bahwa Allah yang kita sembah melampaui akal budi dan tidak dapat
dijangkau dengan rasionalitas bagaimanapun juga. Walaupun ada konsepsi Allah mirip
dengan monoteisme Kristiani yang dapat dirasionalkan atas dasar pengalaman
kita, monoteisme Kristiani atau Allah dalam pandangan Kristiani sangat sulit
dirasionalkan secara murni, melainkan harus diterima dengan iman atas dasar
pengalaman langsung akan Allah itu sendiri. Sebenarnya ada suatu jalur
pembuktian dan itu yang akan aku jelaskan.
Pikiran 1.1: Sebab
Pertama
Dalam dunia ini, kita
dapat merasionalkan konsep Sebab Pertama. Hal ini mengambil akarnya dari
pemahaman bahwa jika suatu hal berubah, pastilah ada sebab dari perubahannya. Contohnya,
bola bergerak karena ditendang. Mobil bergerak karena dikendarai oleh manusia.
Namun hal ini berkembang menjadi pemahaman yang lebih tinggi, yaitu dengan
bertanya, “Mengapa harus seperti itu?” Artinya, semua ini terjadi karena ada keteraturan
yang lebih tinggi yang mengatur segala sesuatu. Untuk sementara hal ini dapat
kita katakan sebagai Hukum.
Pada akhirnya,
haruslah ada satu Hukum, baik Hukum yang sederhana atau Hukum yang kompleks. Hukum
adalah sebab yang sesungguhnya, dialah yang mengatur segalanya menjadi seperti
ini. Jika Hukum berkata yang lain, maka pasti dunia ini akan menjadi yang lain.
Bukan kita yang memegang kuasa, melainkan Hukum. Kalau kita mengakui bahwa ada
satu kenyataan, maka di atas satu kenyataan, adalah Hukum itu, yang dapat kita
sebut pula sebagai Sebab Pertama. Sebab Pertama adalah kesatuan segala Hukum,
yang menjadi penentu rupa kenyataan ini.
Dalam suatu pembahasan
yang dahulu, aku menetapkan bahwa Hukum, dan karena itu Sebab Pertama, harus
bersifat intelektual. Artinya Sebab Pertama memiliki suatu perangkat di dalam
dirinya yang mirip dengan pikiran kita, atau tepatnya pikiran kita yang mirip
dengan pikirannya. Sebab untuk mengeksekusi atau melaksanakan satu perintahnya,
Sebab Pertama harus mampu menyadari kenyataan itu sendiri untuk memberlakukan
kenyataan. Barangkali untuk memahami konsep ini aku akan menyodorkan suatu
contoh.
Anggaplah dalam Sebab
Pertama terkandung hukum gravitasi menurut relativitas umum. Hal ini mendikte
bagaimana interaksi antara benda bermassa dengan ruang-waktu itu sendiri. Misalnya
hal ini mewujud pada suatu hukum kecil di mana suatu asteroid menghantam bumi, contohnya
saat terjadi kepunahan massal dinosaurus. Hukum ini harus mengetahui kenyataan
yang ada secara persis dan tepat untuk mengeksekusi rangkaian peristiwa
tersebut. Jika Hukum ini tidak tahu, maka akan terjadi kekacauan.
Barangkali ini masih
kurang jelas, anggaplah ada hukum yang berbunyi, “Jika waktu X dan kondisi Y,
akan terjadi Z.” Ini adalah penyederhanaan abstrak. Hukum ini tidak dapat dikatakan
sekadar melaksanakan ini, melainkan dia harus tahu tentang waktu X, kondisi Y,
dan peristiwa Z. Hukum harus dapat mengetahui waktu yang sedang berlaku dan
kondisi yang sedang berlaku secara tepat, sehingga dapat dibandingkan dengan
kondisi nyata yang berlaku untuk menentukan apakah Hukum itu harus dieksekusi
atau tidak. Tanpa pengetahuan seperti itu, Hukum akan berantakan dan artinya
Hukum itu bukan Hukum.
Kalau kita
menggabungkan semua Hukum, maka muncullah Sebab Pertama yang harus mengetahui
segala sesuatu secara adikodrati. Sebab Pertama ini harus berada di luar
tatanan kenyataan yang dia sebabkan, dan karena itu dia hadir di segala
kenyataan, karena tidak terikat oleh batasan kenyataan. Sebab Sebab Pertama
adalah yang menentukan batasan dan menyebabkan batasan itu. Jadi sampai suatu
titik tertentu, Sebab Pertama ini sangat mirip dengan konsep ketuhanan yang
dipegang oleh Kekristenan, tapi ada suatu masalah yaitu moralitas dan
kesadaran.
Sebab Pertama, atau
SP, ditetapkan sebagai pengetahu segala sesuatu, tapi entitas yang mengetahui
segala sesuatu haruslah menyadari dan mengalami segala sesuatu pula. Karena itu
SP haruslah memahami rasa bahagia dan menyadari bahagia secara penuh. Dengan
itu, SP juga mengetahui segala tatanan moral yang ada, karena kesadaran adalah
sejenis pengetahuan pula, maka dengan ini SP adalah jelas Allah yang kita
sembah. Aku tidak mengira bahwa ini akan sesederhana dan semudah ini.
Pikiran 1.2: Moralitas
Allah
Moralitas secara
permukaan sederhana, yaitu apa yang mengantar kita kepada yang baik atau membahagiakan
dan apa yang menjauhkan kita dari yang buruk atau yang menyengsarakan. Kerumitannya
terletak dalam menjawab pertanyaan, “Apa yang baik dan apa yang buruk?” Dalam
hal ini kita tidak mempertanyakan esensi mereka, kita tahu betul esensinya.
Namun pertanyaannya adalah apakah esensi ini dapat nyata secara murni, atau
adakah suatu benda yang menyandang esensi itu?
Untuk memahami ini
kita harus memahami apa itu esensi dan apa itu wujud. Wujud adalah suatu hal
yang berbagi dalam esensi atau kodrat, tapi bukan kodrat itu sendiri. Anggaplah
pesawat, suatu pesawat B-737 adalah benda yang berbagi dengan kodrat pesawat,
mewarisi kodrat pesawat, tapi bukanlah kodrat tunggal pesawat. Kodrat tunggal
justru tidak berwujud secara pasti, dan karena itu hanyalah suatu gagasan. Namun
gagasan ini nyata dan mendasari segala pesawat yang ada, tanpa kodrat, semua
pesawat akan hilang dan tidak akan pernah ada.
Maka, kodrat Kebaikan
adalah suatu hal yang tidak dapat memiliki wujud tapi ada secara murni sebagai
suatu abstraksi. Sesungguhnya segala kodrat dan esensi menyatu sebagai satu
kodrat saja, yaitu kodrat Allah. Allah adalah kodrat yang mendasari segala
kodrat, kodrat dari segala kodrat, esensi dari segala esensi. Karena itu Allah
sendirilah yang merupakan kodrat kebaikan. Allah adalah Kebaikan murni yang menjadi
dambaan setiap manusia. Dengan ini, kita hampir lengkap dalam landasan iman
Kristiani.
Pikiran 1.3 Allah
dan Sejarah
Bagaimana Allah
berinteraksi dengan manusia yang Dia ciptakan dalam sejarah? Pada dasarnya
Allah adalah Roh yang Mahakuasa, jadi Dia dapat saja mewujud dalam berbagai
rupa kepada manusia. Namun sebagai Roh, Allah paling sering menyatakan diri-Nya
melalui batin manusia secara rohani. Hal ini dapat kita lihat dalam sejarah
Perjanjian Lama, dan secara umum sejarah manusia. Pada titik tertentu, Allah
sendiri datang sebagai manusia yaitu Yesus Kristus, dan sisanya adalah sejarah.
Hal yang menjadi
masalah adalah bagaimana kita dapat yakin bahwa yang berbicara adalah Allah
yang sama dengan hasil permenungan filosofis kita? Ya, Roh yang berbicara dapat
mengklaim berbagai hal, dan semua itu bisa saja benar, tapi apakah Roh itu
sungguh adalah Allah yang Mahatinggi dan Maha Esa? Yesus memang bangkit dari
antara orang mati, tapi apakah itu menjadi bukti bahwa Dia adalah Allah?
Sebenarnya, apakah mungkin untuk mengenali Roh apapun sebagai Allah yang
Mahatinggi dan Maha Esa? Aku rasa tidak mungkin.
Maka iman yang sejati
bukan dalam mengenali apakah ada Allah yang Maha Esa, melainkan dalam mengenali
roh mana yang merupakan Roh Kudus, Roh Allah yang Maha Esa. Seharusnya Allah
yang Maha Esa memahami masalah ini, dan karena itu Dia memberikan banyak tanda
untuk meyakinkan manusia akan siapa diri-Nya. Namun sesekali ada manusia yang Dia
berikan rahmat untuk melihat menembus segala sesuatu, misalnya aku. Namun
kembali, setidaknya kita dapat berkata bahwa Allah yang kita kenal, “berasal”
dari Allah yang Maha Esa. Maka dengan mendengarkan Allah yang mengeluarkan Kitab
Suci, kita pun mendengarkan Dia yang Maha Esa.
No comments:
Post a Comment