Saturday, March 12, 2022

Beberapa Pikiran Sekaligus

Pikiran 1: Landasan Iman

Sebelum pikiran-pikiran lainnya, aku tertarik untuk membahas tentang landasan iman. Sebelumnya aku diminta Allah untuk menulis tentang iman pula, tapi karena aku jatuh dalam kegelapan, Allah menarik aku dari tugas itu. Sekarang, aku tidak menulis atas permintaan Allah, tapi atas kehendakku sendiri. Namun semua tulisan ini akan berisi tentang Allah dan berhubungan tentang Allah. Barangkali dalam tulisan ini, aku hendak menghadapi keraguanku sendiri dalam iman.

Seorang imam yang aku kenal pernah mengatakan kepadaku bahwa, “Sekarang bukan lagi waktu untuk membuktikan ini dan itu, melainkan untuk menghayatinya.” Perkataan yang bijaksana, kalau aku boleh berkata seperti itu. Namun, aku tidak dapat setuju sepenuhnya, karena landasan iman bagi setiap orang berbeda, dan tidak dapat diseragamkan. Bagi setiap orang, pembuktian kebenaran berbeda dan tingkat kepuasan intelektual manusia berbeda-beda pula. Artinya sejumlah bukti X mungkin cukup bagi satu orang, tapi bagi orang lain hal itu tidak cukup.

Aku tergolong orang yang membutuhkan bukti yang sedikit untuk percaya kepada Allah. Sebab aku telah melihat bahwa Allah yang kita sembah melampaui akal budi dan tidak dapat dijangkau dengan rasionalitas bagaimanapun juga. Walaupun ada konsepsi Allah mirip dengan monoteisme Kristiani yang dapat dirasionalkan atas dasar pengalaman kita, monoteisme Kristiani atau Allah dalam pandangan Kristiani sangat sulit dirasionalkan secara murni, melainkan harus diterima dengan iman atas dasar pengalaman langsung akan Allah itu sendiri. Sebenarnya ada suatu jalur pembuktian dan itu yang akan aku jelaskan.

Pikiran 1.1: Sebab Pertama

Dalam dunia ini, kita dapat merasionalkan konsep Sebab Pertama. Hal ini mengambil akarnya dari pemahaman bahwa jika suatu hal berubah, pastilah ada sebab dari perubahannya. Contohnya, bola bergerak karena ditendang. Mobil bergerak karena dikendarai oleh manusia. Namun hal ini berkembang menjadi pemahaman yang lebih tinggi, yaitu dengan bertanya, “Mengapa harus seperti itu?” Artinya, semua ini terjadi karena ada keteraturan yang lebih tinggi yang mengatur segala sesuatu. Untuk sementara hal ini dapat kita katakan sebagai Hukum.

Pada akhirnya, haruslah ada satu Hukum, baik Hukum yang sederhana atau Hukum yang kompleks. Hukum adalah sebab yang sesungguhnya, dialah yang mengatur segalanya menjadi seperti ini. Jika Hukum berkata yang lain, maka pasti dunia ini akan menjadi yang lain. Bukan kita yang memegang kuasa, melainkan Hukum. Kalau kita mengakui bahwa ada satu kenyataan, maka di atas satu kenyataan, adalah Hukum itu, yang dapat kita sebut pula sebagai Sebab Pertama. Sebab Pertama adalah kesatuan segala Hukum, yang menjadi penentu rupa kenyataan ini.

Dalam suatu pembahasan yang dahulu, aku menetapkan bahwa Hukum, dan karena itu Sebab Pertama, harus bersifat intelektual. Artinya Sebab Pertama memiliki suatu perangkat di dalam dirinya yang mirip dengan pikiran kita, atau tepatnya pikiran kita yang mirip dengan pikirannya. Sebab untuk mengeksekusi atau melaksanakan satu perintahnya, Sebab Pertama harus mampu menyadari kenyataan itu sendiri untuk memberlakukan kenyataan. Barangkali untuk memahami konsep ini aku akan menyodorkan suatu contoh.

Anggaplah dalam Sebab Pertama terkandung hukum gravitasi menurut relativitas umum. Hal ini mendikte bagaimana interaksi antara benda bermassa dengan ruang-waktu itu sendiri. Misalnya hal ini mewujud pada suatu hukum kecil di mana suatu asteroid menghantam bumi, contohnya saat terjadi kepunahan massal dinosaurus. Hukum ini harus mengetahui kenyataan yang ada secara persis dan tepat untuk mengeksekusi rangkaian peristiwa tersebut. Jika Hukum ini tidak tahu, maka akan terjadi kekacauan.

Barangkali ini masih kurang jelas, anggaplah ada hukum yang berbunyi, “Jika waktu X dan kondisi Y, akan terjadi Z.” Ini adalah penyederhanaan abstrak. Hukum ini tidak dapat dikatakan sekadar melaksanakan ini, melainkan dia harus tahu tentang waktu X, kondisi Y, dan peristiwa Z. Hukum harus dapat mengetahui waktu yang sedang berlaku dan kondisi yang sedang berlaku secara tepat, sehingga dapat dibandingkan dengan kondisi nyata yang berlaku untuk menentukan apakah Hukum itu harus dieksekusi atau tidak. Tanpa pengetahuan seperti itu, Hukum akan berantakan dan artinya Hukum itu bukan Hukum.

Kalau kita menggabungkan semua Hukum, maka muncullah Sebab Pertama yang harus mengetahui segala sesuatu secara adikodrati. Sebab Pertama ini harus berada di luar tatanan kenyataan yang dia sebabkan, dan karena itu dia hadir di segala kenyataan, karena tidak terikat oleh batasan kenyataan. Sebab Sebab Pertama adalah yang menentukan batasan dan menyebabkan batasan itu. Jadi sampai suatu titik tertentu, Sebab Pertama ini sangat mirip dengan konsep ketuhanan yang dipegang oleh Kekristenan, tapi ada suatu masalah yaitu moralitas dan kesadaran.

Sebab Pertama, atau SP, ditetapkan sebagai pengetahu segala sesuatu, tapi entitas yang mengetahui segala sesuatu haruslah menyadari dan mengalami segala sesuatu pula. Karena itu SP haruslah memahami rasa bahagia dan menyadari bahagia secara penuh. Dengan itu, SP juga mengetahui segala tatanan moral yang ada, karena kesadaran adalah sejenis pengetahuan pula, maka dengan ini SP adalah jelas Allah yang kita sembah. Aku tidak mengira bahwa ini akan sesederhana dan semudah ini.

Pikiran 1.2: Moralitas Allah

Moralitas secara permukaan sederhana, yaitu apa yang mengantar kita kepada yang baik atau membahagiakan dan apa yang menjauhkan kita dari yang buruk atau yang menyengsarakan. Kerumitannya terletak dalam menjawab pertanyaan, “Apa yang baik dan apa yang buruk?” Dalam hal ini kita tidak mempertanyakan esensi mereka, kita tahu betul esensinya. Namun pertanyaannya adalah apakah esensi ini dapat nyata secara murni, atau adakah suatu benda yang menyandang esensi itu?

Untuk memahami ini kita harus memahami apa itu esensi dan apa itu wujud. Wujud adalah suatu hal yang berbagi dalam esensi atau kodrat, tapi bukan kodrat itu sendiri. Anggaplah pesawat, suatu pesawat B-737 adalah benda yang berbagi dengan kodrat pesawat, mewarisi kodrat pesawat, tapi bukanlah kodrat tunggal pesawat. Kodrat tunggal justru tidak berwujud secara pasti, dan karena itu hanyalah suatu gagasan. Namun gagasan ini nyata dan mendasari segala pesawat yang ada, tanpa kodrat, semua pesawat akan hilang dan tidak akan pernah ada.

Maka, kodrat Kebaikan adalah suatu hal yang tidak dapat memiliki wujud tapi ada secara murni sebagai suatu abstraksi. Sesungguhnya segala kodrat dan esensi menyatu sebagai satu kodrat saja, yaitu kodrat Allah. Allah adalah kodrat yang mendasari segala kodrat, kodrat dari segala kodrat, esensi dari segala esensi. Karena itu Allah sendirilah yang merupakan kodrat kebaikan. Allah adalah Kebaikan murni yang menjadi dambaan setiap manusia. Dengan ini, kita hampir lengkap dalam landasan iman Kristiani.

Pikiran 1.3 Allah dan Sejarah

Bagaimana Allah berinteraksi dengan manusia yang Dia ciptakan dalam sejarah? Pada dasarnya Allah adalah Roh yang Mahakuasa, jadi Dia dapat saja mewujud dalam berbagai rupa kepada manusia. Namun sebagai Roh, Allah paling sering menyatakan diri-Nya melalui batin manusia secara rohani. Hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Perjanjian Lama, dan secara umum sejarah manusia. Pada titik tertentu, Allah sendiri datang sebagai manusia yaitu Yesus Kristus, dan sisanya adalah sejarah.

Hal yang menjadi masalah adalah bagaimana kita dapat yakin bahwa yang berbicara adalah Allah yang sama dengan hasil permenungan filosofis kita? Ya, Roh yang berbicara dapat mengklaim berbagai hal, dan semua itu bisa saja benar, tapi apakah Roh itu sungguh adalah Allah yang Mahatinggi dan Maha Esa? Yesus memang bangkit dari antara orang mati, tapi apakah itu menjadi bukti bahwa Dia adalah Allah? Sebenarnya, apakah mungkin untuk mengenali Roh apapun sebagai Allah yang Mahatinggi dan Maha Esa? Aku rasa tidak mungkin.

Maka iman yang sejati bukan dalam mengenali apakah ada Allah yang Maha Esa, melainkan dalam mengenali roh mana yang merupakan Roh Kudus, Roh Allah yang Maha Esa. Seharusnya Allah yang Maha Esa memahami masalah ini, dan karena itu Dia memberikan banyak tanda untuk meyakinkan manusia akan siapa diri-Nya. Namun sesekali ada manusia yang Dia berikan rahmat untuk melihat menembus segala sesuatu, misalnya aku. Namun kembali, setidaknya kita dapat berkata bahwa Allah yang kita kenal, “berasal” dari Allah yang Maha Esa. Maka dengan mendengarkan Allah yang mengeluarkan Kitab Suci, kita pun mendengarkan Dia yang Maha Esa.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...