Tentang Kitab Suci. Aku hendak menuliskan apa yang aku pahami tentang Kitab Suci. Kitab Suci memiliki sejarah yang panjang, Perjanjian Lama yang ditulis sejak sebelum Yesus hadir dan Perjanjian Baru yang ditulis sedikit waktu setelah Yesus diangkat ke surga. Setiap kitab dalam Kitab Suci ditulis oleh manusia yang terinspirasi oleh Roh Kudus. Artinya, sekalipun para penulis tidak menulis seolah-olah mereka dirasuki Roh Kudus, mereka dikendalikan Roh Kudus dalam suatu cara sehingga mereka menulis hanya apa yang diinginkan Roh Kudus tertulis, artinya tulisan-tulisan itu tidak dapat salah.
Namun harus dipahami
bahwa Kitab Suci tidak hadir secara langsung, melainkan diawali oleh suatu hal yang
bernama Tradisi Suci. Tradisi Suci adalah wahyu Ilahi yang diturunkan dan
diwariskan secara lisan. Maka Kitab Suci seperti rangkuman dari Tradisi Suci
yang sudah ada sejak sebelum Yesus hadir. Kitab Suci kurang lebih adalah
bagian-bagian paling penting dari Tradisi Suci sehingga dituliskan, setidaknya
itu adalah pemahamanku. Namun Kitab Suci tidak meniadakan atau membuat Tradisi
Suci tidak penting lagi, karena Kitab Suci berasal dari Tradisi Suci.
Membaca Kitab Suci sangat
baik bagi jiwa. Sebab untaian kata yang tertulis dalam kertas halaman Kitab Suci
sekalipun ditulis oleh tangan manusia, tapi direncanakan oleh akal budi Allah.
Sebenarnya tanpa konteks Ilahi, kata-kata itu tidak penting dan tidak bermakna.
Namun karena kata-kata ini menunjuk kepada Allah dan menjelaskan Allah secara
tepat, kata-kata ini menjadi hidup dan dapat mempengaruhi jiwa. Allah dan
segala sabda-Nya sesungguhnya satu, jadi saat kita membaca perkataan Ilahi,
kita sebenarnya membaca Allah dan membiarkan Allah menyentuh jiwa kita.
Saat Allah menyentuh
jiwa kita dan masuk bertahta di inti jiwa kita, kita pelan-pelan diubahkan
menjadi manusia yang baru. Pertama, Kitab Suci mengubah moralitas kita secara
perlahan-lahan, karena merasuki hati kita dengan perkataan Ilahi yang mulai mengalahkan
kegelapan jiwa kita dan menggantinya menjadi terang Ilahi. Kedua, membaca Kitab
Suci haruslah dalam suasana doa, karena di situ terjadi konteks Ilahi sehingga
perkataan Kitab Suci sungguh menjadi Sabda Tuhan. Kalau tidak, semuanya akan
seperti buku manusia biasa yang mati dan tidak berdaya.
No comments:
Post a Comment