Monday, March 14, 2022

Renungan 14 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Aku kembali lagi untuk membawa renungan bacaan harian. Kedua bacaan pada hari ini sangat berbeda, jadi aku akan membahas satu per satu, dan jika Roh Kudus membimbingku, sekiranya Dia dapat mempersatukan kedua bacaan. Dalam bacaan pertama, nabi Daniel mengakui segala dosanya dan juga dosa bangsanya kepada Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pertobatan yang harus kita lakukan senantiasa, terutama karena sekarang masa prapaskah.

Namun hal yang menarik adalah Daniel juga mengakui dosa bangsanya, bukan hanya dosanya secara pribadi. Ini menandakan bagaimana Daniel merasa ikut bertanggung jawab dan malu atas dosa bangsanya. Terkadang kita lupa bahwa kita berpengaruh atas orang-orang di sekitar kita, dan kita hidup dalam suatu jaringan sosial yang dinamakan dengan masyarakat. Dalam kelupaan itu, kita beresiko menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan mengarahkan orang lain kepada dosa, sekalipun kita tidak sadar. Hal ini dapat terjadi bukan hanya karena tindakan kita, tapi juga karena kita lalai dan gagal untuk bertindak.

Namun bagaimana Daniel bertindak seolah-olah dosa bangsanya adalah dosanya sendiri adalah bayangan dari saat Kristus menanggung dosa kita. Perbedaannya adalah Yesus sungguh tidak berdosa, kita bahkan tidak dapat berkata bahwa Dia berdosa atas kelalaian, karena Yesus seumur hidupnya bertindak demi keselamatan umat manusia sampai Dia mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Setiap tindakan pewartaan ataupun mukjizat Yesus adalah upaya Yesus untuk mengarahkan manusia kepada iman yang menyelamatkan. Dia bahkan mempersiapkan Gereja sebagai penerus-Nya supaya manusia yang tidak pernah melihat-Nya dapat tetap beriman dan diselamatkan.

Dalam bacaan Injil, Yesus mengajarkan supaya kita meniru Bapa kita dalam kemurahan hati-Nya dan juga untuk menjaga tindakan kita kepada orang lain karena apa yang kita lakukan kepada orang lain akan diperlakukan juga kepada kita. Hal ini bukan masalah karma, karena kita tidak mengakui hukum karma, melainkan masalah tanggung jawab kita dalam bertindak. Jika kita mengadili sesama kita, artinya kita percaya bahwa manusia layak diadili, dan artinya kita pun harus diadili, karena itulah yang baik bagi kita pula. Jika kita menghukum, kita percaya bahwa manusia layak dihukum, dan artinya kita juga layak dihukum. Ini adalah masalah konsistensi, bagaimana mungkin kita percaya satu ukuran baik untuk orang lain tapi saat ukuran itu dipakaikan kepada kita, kita menolaknya? Jika itu terjadi, artinya kita tidak sungguh peduli pada kebaikan, melainkan kita hanya melekat pada suatu dosa kedustaan yang dinamakan dengan egoisme.

Allah mengajar kita supaya kita dapat bertanggung jawab atas tindakan kita, dan sebenarnya kedua bacaan memberikan petunjuk tentang kasih. Salah satu bentuk kasih adalah menjaga sesama kita supaya mereka tidak berdosa, atau setidaknya kemungkinan mereka untuk berdosa berkurang. Sebab baik secara langsung atau tidak langsung, kita bertanggung jawab terhadap sesama yang paling dekat atau berinteraksi dengan kita. Maka, jika kita ingin dilindungi dari dosa, hendaklah kita membantu menjadi perantara perlindungan Allah kepada sesama kita dari dosa. Masalah dia berdosa atau tidak adalah perkara berikutnya, hal yang penting adalah kita sudah berusaha, sehingga orang lain akan berusaha dan berjuang bagi kita pula.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...