Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita semua. Aku kembali lagi untuk membawa renungan bacaan harian. Kedua bacaan pada hari ini sangat berbeda, jadi aku akan membahas satu per satu, dan jika Roh Kudus membimbingku, sekiranya Dia dapat mempersatukan kedua bacaan. Dalam bacaan pertama, nabi Daniel mengakui segala dosanya dan juga dosa bangsanya kepada Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pertobatan yang harus kita lakukan senantiasa, terutama karena sekarang masa prapaskah.
Namun hal yang menarik
adalah Daniel juga mengakui dosa bangsanya, bukan hanya dosanya secara pribadi.
Ini menandakan bagaimana Daniel merasa ikut bertanggung jawab dan malu atas
dosa bangsanya. Terkadang kita lupa bahwa kita berpengaruh atas orang-orang di
sekitar kita, dan kita hidup dalam suatu jaringan sosial yang dinamakan dengan
masyarakat. Dalam kelupaan itu, kita beresiko menjadi batu sandungan bagi orang
lain, dan mengarahkan orang lain kepada dosa, sekalipun kita tidak sadar. Hal ini
dapat terjadi bukan hanya karena tindakan kita, tapi juga karena kita lalai dan
gagal untuk bertindak.
Namun bagaimana Daniel
bertindak seolah-olah dosa bangsanya adalah dosanya sendiri adalah bayangan
dari saat Kristus menanggung dosa kita. Perbedaannya adalah Yesus sungguh tidak
berdosa, kita bahkan tidak dapat berkata bahwa Dia berdosa atas kelalaian,
karena Yesus seumur hidupnya bertindak demi keselamatan umat manusia sampai Dia
mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Setiap tindakan pewartaan ataupun
mukjizat Yesus adalah upaya Yesus untuk mengarahkan manusia kepada iman yang
menyelamatkan. Dia bahkan mempersiapkan Gereja sebagai penerus-Nya supaya
manusia yang tidak pernah melihat-Nya dapat tetap beriman dan diselamatkan.
Dalam bacaan Injil,
Yesus mengajarkan supaya kita meniru Bapa kita dalam kemurahan hati-Nya dan
juga untuk menjaga tindakan kita kepada orang lain karena apa yang kita lakukan
kepada orang lain akan diperlakukan juga kepada kita. Hal ini bukan masalah
karma, karena kita tidak mengakui hukum karma, melainkan masalah tanggung jawab
kita dalam bertindak. Jika kita mengadili sesama kita, artinya kita percaya
bahwa manusia layak diadili, dan artinya kita pun harus diadili, karena itulah
yang baik bagi kita pula. Jika kita menghukum, kita percaya bahwa manusia layak
dihukum, dan artinya kita juga layak dihukum. Ini adalah masalah konsistensi, bagaimana
mungkin kita percaya satu ukuran baik untuk orang lain tapi saat ukuran itu
dipakaikan kepada kita, kita menolaknya? Jika itu terjadi, artinya kita tidak
sungguh peduli pada kebaikan, melainkan kita hanya melekat pada suatu dosa
kedustaan yang dinamakan dengan egoisme.
Allah mengajar kita
supaya kita dapat bertanggung jawab atas tindakan kita, dan sebenarnya kedua
bacaan memberikan petunjuk tentang kasih. Salah satu bentuk kasih adalah
menjaga sesama kita supaya mereka tidak berdosa, atau setidaknya kemungkinan
mereka untuk berdosa berkurang. Sebab baik secara langsung atau tidak langsung,
kita bertanggung jawab terhadap sesama yang paling dekat atau berinteraksi
dengan kita. Maka, jika kita ingin dilindungi dari dosa, hendaklah kita
membantu menjadi perantara perlindungan Allah kepada sesama kita dari dosa.
Masalah dia berdosa atau tidak adalah perkara berikutnya, hal yang penting
adalah kita sudah berusaha, sehingga orang lain akan berusaha dan berjuang bagi
kita pula.
No comments:
Post a Comment