Wednesday, March 23, 2022

Renungan 23 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Aku merasa seolah-olah Allah memberikan aku bacaan-bacaan yang sulit untuk direnungkan atau ditafsirkan atau setidaknya menantang. Namun ini adalah panggilan Ilahi jadi mau tidak mau aku harus mengerjakannya. Pada hari ini kita diingatkan tentang hukum Taurat. Pada bacaan pertama Musa mulai memberikan peraturan-peraturan Taurat kepada bangsa Israel. Di situ muncul beberapa kata yang menarik perhatianku, yaitu “kebijaksanaan”, “akal budi”, “dekat”, dan “adil”. Hal ini memberikan kita beberapa petunjuk mengenai kodrat hukum Taurat.

Hukum Taurat disusun Allah sedemikian rupa sehingga membuat para pelaksananya, dalam hal ini bangsa Israel, bijaksana dan berakal budi. Hal ini dapat diterima dengan iman bahwa jika kita melaksanakan hukum Tuhan kita akan menjadi lebih dekat dan serupa dengan Allah, termasuk dalam kebijaksanaan-Nya. Hukum Taurat adalah lambang kedekatan Allah dengan bangsa-Nya, bahwa Allah begitu dekat sehingga mau menyampaikan peraturan-peraturan-Nya sendiri kepada Israel. Hukum Taurat adalah adil, karena Allah adalah adil, maka hukum-Nya pasti adil dan lebih adil dari segala hukum manusia.

Segala ini dilanjutkan sekian ratus tahun berikutnya oleh Yesus dalam Injil. Yesus menyatakan bahwa Dia tidak akan menghapus hukum Taurat melainkan “menggenapinya”. Apakah maksud menggenapi hukum Taurat, dan lebih penting lagi apa yang dimaksud Yesus dengan “hukum Taurat”? Sepertinya Yesus memiliki pemahaman-Nya tersendiri tentang esensi hukum Taurat, yang adalah roh dari huruf 613 hukum Taurat. Sesungguhnya hukum Taurat adalah nubuat akan Kristus, bahwa kelak akan ada seorang manusia yang akan taat sepenuhnya pada Allah, dan itu digenapi oleh Yesus Kristus.

Maka tidak mungkin maksud Yesus adalah bahwa kita harus mengikuti seluruh huruf hukum Taurat sampai sekecil-kecilnya. Karena setahuku, sejak sejarah Gereja awal pun para rasul tidak pernah mengatakan bahwa kita harus menaati hukum Musa secara penuh. Artinya hukum Taurat yang dimaksud Yesus dan hukum Musa tidak sepenuhnya sama. Kalau ya, artinya seluruh Gereja sudah membangkang Kristus, tapi tentu tidak seperti itu. Maksud Yesus yang terdalam adalah tentu saja perintah tertinggi dalam hukum Taurat dan seluruh kitab para nabi, yaitu untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

Kalau hukum Taurat yang dikatakan Yesus artinya adalah hukum Tuhan, dan roh hukum yang di balik 613 hukum Taurat, artinya jelas. Yesus menegaskan bahwa siapapun yang mengubah hukum Tuhan akan menempati tempat yang rendah di dalam kerajaan Allah. Namun barangsiapa yang menaati seluruh hukum Tuhan secara rohani, maka dia akan menempati tempat tinggi di kerajaan Sorga. Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk terus menaati hukum Tuhan tanpa melalaikan satu pun. Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...