Kebenaran tidak dapat dimutlakkan secara sederhana dan mudah karena setiap manusia memiliki pandangan mereka masing-masing, gagasan ini diutarakan dalam (hyperlink). Kebenaran memang mutlak dan objektif, tapi ada 2 kebenaran, atau tepatnya ada kebenaran dan ada satu hal lain yang juga disebut kebenaran. Hal itu lebih tepatnya adalah kepercayaan ketimbang kebenaran. Kebenaran adalah suatu hal yang ada di luar, nyata dan tidak dapat disalahkan. Kepercayaan adalah suatu hal yang ada di dalam dan dapat salah.
Maka judul yang aku
tulis agak menyesatkan, tapi apa yang tertulis tetap kutulis. Jadi ini bukan tentang
kebenaran kontekstual, tapi kepercayaan yang kontekstual. Apa yang dapat kita
yakini sebagai benar, yaitu apa yang kita percaya pada akhirnya bersifat
kontekstual. Artinya tidak selalu dan rasanya tidak dapat sesuai secara mutlak
dengan kebenaran itu sendiri. Kita dapat mendekati kebenaran, tapi kita dapat
memperolehnya secara pasti, kecuali saat kita sudah meninggal di mana kita bersatu
dengan Kebenaran itu sendiri.
Sekarang aku akan
menjelaskan makna kontekstual. Artinya suatu kepercayaan berasal dari suatu
konteks tertentu, di mana jika konteks itu digantikan, maka kepercayaannya akan
berubah pula. Dalam suatu rumusan, berdasarkan konteks A, maka ada kepercayaan
B. Berdasarkan aksioma-aksioma A, B, dan C, diperoleh kepercayaan D. Jadi,
selama kita tahu cara menyesuaikan konteksnya, apapun dapat dibuktikan sebagai
benar, dan karena itu kebenaran hampir mustahil untuk diperoleh hanya dengan
akal budi.
Namun bukan berarti
bahwa tidak ada harapan sama sekali untuk suatu kepercayaan yang benar yang
sungguh sesuai dengan kebenaran. Hal ini membutuhkan hati yang baik. Hati yaitu
perasaan jiwa yang baik dibutuhkan untuk membantu menuntun kita kepada
kebenaran yang sejati yaitu Allah dan Yesus Kristus. Bersama dengan akal budi,
hati yang baik akan memampukan kita untuk melihat keseluruhan kenyataan
sehingga kita mampu memperoleh kebenaran. Namun bukan dalam cakupan tulisan ini
untuk mendalami tentang peran hati dalam pencarian kebenaran.
No comments:
Post a Comment