Thursday, March 3, 2022

Kebenaran Kontekstual

Kebenaran tidak dapat dimutlakkan secara sederhana dan mudah karena setiap manusia memiliki pandangan mereka masing-masing, gagasan ini diutarakan dalam (hyperlink). Kebenaran memang mutlak dan objektif, tapi ada 2 kebenaran, atau tepatnya ada kebenaran dan ada satu hal lain yang juga disebut kebenaran. Hal itu lebih tepatnya adalah kepercayaan ketimbang kebenaran. Kebenaran adalah suatu hal yang ada di luar, nyata dan tidak dapat disalahkan. Kepercayaan adalah suatu hal yang ada di dalam dan dapat salah.

Maka judul yang aku tulis agak menyesatkan, tapi apa yang tertulis tetap kutulis. Jadi ini bukan tentang kebenaran kontekstual, tapi kepercayaan yang kontekstual. Apa yang dapat kita yakini sebagai benar, yaitu apa yang kita percaya pada akhirnya bersifat kontekstual. Artinya tidak selalu dan rasanya tidak dapat sesuai secara mutlak dengan kebenaran itu sendiri. Kita dapat mendekati kebenaran, tapi kita dapat memperolehnya secara pasti, kecuali saat kita sudah meninggal di mana kita bersatu dengan Kebenaran itu sendiri.

Sekarang aku akan menjelaskan makna kontekstual. Artinya suatu kepercayaan berasal dari suatu konteks tertentu, di mana jika konteks itu digantikan, maka kepercayaannya akan berubah pula. Dalam suatu rumusan, berdasarkan konteks A, maka ada kepercayaan B. Berdasarkan aksioma-aksioma A, B, dan C, diperoleh kepercayaan D. Jadi, selama kita tahu cara menyesuaikan konteksnya, apapun dapat dibuktikan sebagai benar, dan karena itu kebenaran hampir mustahil untuk diperoleh hanya dengan akal budi.

Namun bukan berarti bahwa tidak ada harapan sama sekali untuk suatu kepercayaan yang benar yang sungguh sesuai dengan kebenaran. Hal ini membutuhkan hati yang baik. Hati yaitu perasaan jiwa yang baik dibutuhkan untuk membantu menuntun kita kepada kebenaran yang sejati yaitu Allah dan Yesus Kristus. Bersama dengan akal budi, hati yang baik akan memampukan kita untuk melihat keseluruhan kenyataan sehingga kita mampu memperoleh kebenaran. Namun bukan dalam cakupan tulisan ini untuk mendalami tentang peran hati dalam pencarian kebenaran.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...