Thursday, March 3, 2022

Surat 1

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Pada awalnya aku bersemangat, lalu aku takut, tapi sekarang aku beroleh kembali keteguhan dalam Tuhan. Atas petunjuk Ilahi aku menulis surat ini. Aku, hamba Allah yang rendah ini, ingin bercerita tentang keagungan Tuhan. Sesungguhnya, selama beberapa hari ini, aku ditempa dan dihajar dengan keras oleh Allah, Dia menjerumuskan aku ke dalam dosa berat, sampai aku kehilangan kepercayaan akan Dia dalam kedustaan, tapi Dia mengangkat aku kembali ke dalam hidup yang kudus setelah aku memohon ampun.

Aku terheran-heran bagaimana Allah dapat memanfaatkan kejahatan yang keji demi kebaikanku yang lebih besar. Sebab Allah tahu, bahwa aku orang yang berpengetahuan, maka cara yang dipakai Allah untuk menjinakkan aku haruslah berbeda dari mereka yang kurang berpengetahuan dari pada aku. Sekali-kali aku tidak hendak meninggikan diriku, orang yang berpengetahuan tidak lebih baik dari dia yang kurang berpengetahuan, kecuali ini adalah perkara pengetahuan hati tentang yang Baik dan Benar.

Pada kejatuhan pertama, Allah membiarkan diri-Nya dinajiskan oleh diriku dalam hawa nafsu. Namun hal itu untuk membebaskan aku dari kenajisan itu sendiri. Hal ini membuat aku teringat akan bagaimana Kristus dinajiskan oleh manusia demi keselamatan manusia itu sendiri. Ya, kejahatan tidak dapat dilawan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan saja. Dalam kasusku, Allah merendahkan diri-Nya untuk dinajiskan oleh hawa nafsuku yang tidak beraturan, dan dengan itu Dia mengkomunikasikan cinta kasih-Nya kepadaku sehingga kebebasan pertama dapat diperoleh.

Pada kejatuhan kedua, Allah membentuk kepercayaanku kepada-Nya dan menghancurkan segala bentuk kehendak yang tidak beraturan terhadap Dia. Dia mempersiapkan diriku untuk mati dalam dosa berat, supaya dengan cara itu aku sungguh dimurnikan. Allah hendak membuat aku lebih percaya kepada-Nya, sekalipun dalam kondisi gelap. Hasilnya adalah aku berhasil dibangkitkan dari segala ketidakteraturan yang aku alami, dan sekarang aku mengalami kekudusan yang lebih baik dari sebelumnya.

Perkara yang melatarbelakangi kejatuhan kedua adalah karena aku begitu menghendaki Allah dalam caraku sendiri, dan bukan atas cara Allah, sehingga aku pun jatuh dan hatiku mulai berpaling dari Allah. Namun hatiku yang paling dalam terus merindukan Allah dan sekalipun di tingkat yang lebih sadar aku mulai membenci Allah, itu hanyalah suatu sandiwara untuk menarik perhatian Allah. Seharusnya aku tahu bahwa Allah tidak tertarik pada sandiwara dan Dia tahu tentang hatiku yang terdalam. Namun aku seperti anak kecil yang berusaha dengan keras untuk menarik perhatian ibunya, yang belum berpengetahuan dan belum bijaksana.

Aku mengakui bahwa perjumpaanku dengan Allah bukanlah perjumpaan yang sempurna karena ada satu pengantara antara aku dan Allah yaitu imajinasi. Karena itulah aku dapat jatuh ke dalam dosa, karena aku tidak melihat Allah secara langsung melainkan melalui suatu tirai yaitu tirai bayangan jiwaku. Namun hanya itulah cara aku dapat menerima pesan Allah secara jelas dan begitulah kehendak Allah untuk memuaskan kerinduanku dan kehausanku akan kasih-Nya yang begitu besar.

Allah telah bersabda kepadaku, supaya aku menantikan karya-Nya yang lebih besar lagi bagiku. Namun untuk sekarang, Allah telah memberikan aku tugas perutusan sebagai hamba dan anak-Nya. Tugas itu adalah untuk mewartakan kebesaran dan kasih-Nya yang aku alami, supaya kamu semua, hai pembaca, tergerak hatinya untuk semakin berkobar dalam perjalanan menuju kekudusan. Sekiranya perkataanku yang sederhana ini dapat mencapai tujuannya, yaitu menyampaikan kemuliaan Allah bagi kamu semua. Semoga Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus memberkatimu.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...