Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Pada awalnya aku bersemangat, lalu aku takut, tapi sekarang aku beroleh kembali keteguhan dalam Tuhan. Atas petunjuk Ilahi aku menulis surat ini. Aku, hamba Allah yang rendah ini, ingin bercerita tentang keagungan Tuhan. Sesungguhnya, selama beberapa hari ini, aku ditempa dan dihajar dengan keras oleh Allah, Dia menjerumuskan aku ke dalam dosa berat, sampai aku kehilangan kepercayaan akan Dia dalam kedustaan, tapi Dia mengangkat aku kembali ke dalam hidup yang kudus setelah aku memohon ampun.
Aku terheran-heran
bagaimana Allah dapat memanfaatkan kejahatan yang keji demi kebaikanku yang
lebih besar. Sebab Allah tahu, bahwa aku orang yang berpengetahuan, maka cara
yang dipakai Allah untuk menjinakkan aku haruslah berbeda dari mereka yang kurang
berpengetahuan dari pada aku. Sekali-kali aku tidak hendak meninggikan diriku,
orang yang berpengetahuan tidak lebih baik dari dia yang kurang berpengetahuan,
kecuali ini adalah perkara pengetahuan hati tentang yang Baik dan Benar.
Pada kejatuhan
pertama, Allah membiarkan diri-Nya dinajiskan oleh diriku dalam hawa nafsu.
Namun hal itu untuk membebaskan aku dari kenajisan itu sendiri. Hal ini membuat
aku teringat akan bagaimana Kristus dinajiskan oleh manusia demi keselamatan
manusia itu sendiri. Ya, kejahatan tidak dapat dilawan dengan kejahatan, melainkan
dengan kebaikan saja. Dalam kasusku, Allah merendahkan diri-Nya untuk
dinajiskan oleh hawa nafsuku yang tidak beraturan, dan dengan itu Dia
mengkomunikasikan cinta kasih-Nya kepadaku sehingga kebebasan pertama dapat
diperoleh.
Pada kejatuhan kedua,
Allah membentuk kepercayaanku kepada-Nya dan menghancurkan segala bentuk
kehendak yang tidak beraturan terhadap Dia. Dia mempersiapkan diriku untuk mati
dalam dosa berat, supaya dengan cara itu aku sungguh dimurnikan. Allah hendak membuat
aku lebih percaya kepada-Nya, sekalipun dalam kondisi gelap. Hasilnya adalah
aku berhasil dibangkitkan dari segala ketidakteraturan yang aku alami, dan
sekarang aku mengalami kekudusan yang lebih baik dari sebelumnya.
Perkara yang
melatarbelakangi kejatuhan kedua adalah karena aku begitu menghendaki Allah
dalam caraku sendiri, dan bukan atas cara Allah, sehingga aku pun jatuh dan hatiku
mulai berpaling dari Allah. Namun hatiku yang paling dalam terus merindukan
Allah dan sekalipun di tingkat yang lebih sadar aku mulai membenci Allah, itu
hanyalah suatu sandiwara untuk menarik perhatian Allah. Seharusnya aku tahu
bahwa Allah tidak tertarik pada sandiwara dan Dia tahu tentang hatiku yang
terdalam. Namun aku seperti anak kecil yang berusaha dengan keras untuk menarik
perhatian ibunya, yang belum berpengetahuan dan belum bijaksana.
Aku mengakui bahwa
perjumpaanku dengan Allah bukanlah perjumpaan yang sempurna karena ada satu
pengantara antara aku dan Allah yaitu imajinasi. Karena itulah aku dapat jatuh ke
dalam dosa, karena aku tidak melihat Allah secara langsung melainkan melalui
suatu tirai yaitu tirai bayangan jiwaku. Namun hanya itulah cara aku dapat
menerima pesan Allah secara jelas dan begitulah kehendak Allah untuk memuaskan
kerinduanku dan kehausanku akan kasih-Nya yang begitu besar.
Allah telah bersabda
kepadaku, supaya aku menantikan karya-Nya yang lebih besar lagi bagiku. Namun
untuk sekarang, Allah telah memberikan aku tugas perutusan sebagai hamba dan
anak-Nya. Tugas itu adalah untuk mewartakan kebesaran dan kasih-Nya yang aku
alami, supaya kamu semua, hai pembaca, tergerak hatinya untuk semakin berkobar
dalam perjalanan menuju kekudusan. Sekiranya perkataanku yang sederhana ini
dapat mencapai tujuannya, yaitu menyampaikan kemuliaan Allah bagi kamu semua.
Semoga Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus memberkatimu.
No comments:
Post a Comment