Tuesday, March 22, 2022

Renungan 22 Maret 2022

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Bacaan pertama hari ini adalah doa Azarya kepada Allah saat dia dan beberapa sahabatnya di tengah api karena menentang perintah raja untuk menyembah dirinya selain Allah. Di dalam doanya dikisahkan kondisi saat itu, yaitu bangsa Israel di dalam pembuangan, sehingga segala tata peribadatan Yahudi hancur. Namun di tengah kondisi itu Azarya dan sahabat-sahabatnya tetap beriman kepada Allah yang Maha Esa dan mereka mempersembahkan diri mereka kepada Allah sebagai korban atas ganti ketiadaan korban persembahan kepada Allah. Mereka memohon belas kasihan dari-Nya dalam kesesakan ini.

Bacaan pertama ini entah kenapa membuat aku berpikir seperti ini adalah nubuat, bahwa kelak akan ada masa di mana Gereja mengalami penganiayaan yang hebat sampai kita dipojokkan ke dalam persembunyian dan kita tidak dapat beribadah secara bebas lagi, sehingga kita masuk api seperti Daniel, Azarya, dan sahabat-sahabatnya dan kita harus mempersembahkan diri kita kepada Allah dan memohon belas kasih-Nya kembali supaya kita lepas dari api. Aku menyampaikan peringatan ini karena aku rasa kita tidak banyak memikirkannya, tapi harus ada yang menyampaikan hal ini. Tujuanku bukan untuk menakut-nakuti, melainkan karena aku merasa ini harus disampaikan demi kesadaran kita semua.

Sekarang, menyingkir dari nubuat apokaliptik, rasanya doa Azarya dijawab Yesus beberapa ratus tahun setelah itu. Bukan hanya secara figuratif, bahwa Yesus adalah jawaban Allah terhadap Azarya, tapi juga Yesus mengajar bagaimana kita harus memperoleh belas kasihan Allah. Ajaran Yesus mengikuti ajaran-Nya yang pernah diulas di bagian lain Injil. Ajaran itu ialah kalau kita ingin memperoleh belas kasih Allah, maka kita harus berbelas kasih kepada sesama kita manusia. Dalam bacaan Injil, wujud belas kasih yang diajarkan adalah pengampunan, tapi sebenarnya sama saja.

Logikanya sangat sederhana, menerima belas kasih atau pengampunan dari Allah sama dalam tindakan dengan memberi belas kasih dan pengampunan yang sama kepada sesama kita. Jika kita menolak memberi, maka kita menolak menerima. Sebab kita menerima bukan untuk dimiliki sendiri, tapi kita menerima untuk memberi. Logika kuncinya adalah pertobatan. Kalau kita menolak memberi, artinya kita menolak pertobatan dan artinya kita menolak kasih Allah. Memang hal ini terkesan paradoks, tapi iman kita memang adalah satu paradoks besar, dan ini hanya salah satunya. Namun jika kita mampu menerima dan mempraktikkan paradoks ini, menerima dengan memberi, maka kita akan selamat kepada Allah. Tuhan memberkati.

No comments:

Post a Comment

Dialog Diri 3

 Pengadilan sudah dimulai. Hakim yaitu Allah akan mengadili Ignas sebagai terdakwa. Gugatan hukum yang dilayangkan adalah kehilangan arah da...