Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
Bacaan pertama hari
ini adalah doa Azarya kepada Allah saat dia dan beberapa sahabatnya di tengah
api karena menentang perintah raja untuk menyembah dirinya selain Allah. Di
dalam doanya dikisahkan kondisi saat itu, yaitu bangsa Israel di dalam pembuangan,
sehingga segala tata peribadatan Yahudi hancur. Namun di tengah kondisi itu
Azarya dan sahabat-sahabatnya tetap beriman kepada Allah yang Maha Esa dan
mereka mempersembahkan diri mereka kepada Allah sebagai korban atas ganti
ketiadaan korban persembahan kepada Allah. Mereka memohon belas kasihan dari-Nya
dalam kesesakan ini.
Bacaan pertama ini
entah kenapa membuat aku berpikir seperti ini adalah nubuat, bahwa kelak akan
ada masa di mana Gereja mengalami penganiayaan yang hebat sampai kita dipojokkan
ke dalam persembunyian dan kita tidak dapat beribadah secara bebas lagi,
sehingga kita masuk api seperti Daniel, Azarya, dan sahabat-sahabatnya dan kita
harus mempersembahkan diri kita kepada Allah dan memohon belas kasih-Nya
kembali supaya kita lepas dari api. Aku menyampaikan peringatan ini karena aku
rasa kita tidak banyak memikirkannya, tapi harus ada yang menyampaikan hal ini.
Tujuanku bukan untuk menakut-nakuti, melainkan karena aku merasa ini harus
disampaikan demi kesadaran kita semua.
Sekarang, menyingkir
dari nubuat apokaliptik, rasanya doa Azarya dijawab Yesus beberapa ratus tahun setelah
itu. Bukan hanya secara figuratif, bahwa Yesus adalah jawaban Allah terhadap
Azarya, tapi juga Yesus mengajar bagaimana kita harus memperoleh belas kasihan
Allah. Ajaran Yesus mengikuti ajaran-Nya yang pernah diulas di bagian lain
Injil. Ajaran itu ialah kalau kita ingin memperoleh belas kasih Allah, maka
kita harus berbelas kasih kepada sesama kita manusia. Dalam bacaan Injil, wujud
belas kasih yang diajarkan adalah pengampunan, tapi sebenarnya sama saja.
Logikanya sangat
sederhana, menerima belas kasih atau pengampunan dari Allah sama dalam tindakan
dengan memberi belas kasih dan pengampunan yang sama kepada sesama kita. Jika
kita menolak memberi, maka kita menolak menerima. Sebab kita menerima bukan
untuk dimiliki sendiri, tapi kita menerima untuk memberi. Logika kuncinya
adalah pertobatan. Kalau kita menolak memberi, artinya kita menolak pertobatan
dan artinya kita menolak kasih Allah. Memang hal ini terkesan paradoks, tapi iman
kita memang adalah satu paradoks besar, dan ini hanya salah satunya. Namun jika
kita mampu menerima dan mempraktikkan paradoks ini, menerima dengan memberi,
maka kita akan selamat kepada Allah. Tuhan memberkati.
No comments:
Post a Comment